
Ardian masuk ke dalam kamar setelah cukup lama Bu Renata pergi. Matanya melirik ke arah ranjang tempat istrinya sedang mempraktekkan pompa ASI. Ia duduk di atas sofa, kembali fokus pada iPad di tangannya. Chayra pun tidak menghiraukan keberadaan suaminya. Mereka saling mendiami sampai tiba-tiba Adzra menangis. Chayra yang masih memompa ASI terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ardian yang melihat istrinya kewalahan akhirnya berjalan mendekat.
"Kamu lanjutkan saja, biar Adzra aku yang gendong." Ardian berjongkok meraih putranya di atas pangkuan sang istri.
"Terimakasih, Mas...." Chayra berbisik lembut di telinga Ardian.
Nyeeessssss.....!
Bulu kuduk Ardian langsung berdiri. Ia menelan ludahnya sambil menatap istrinya dengan tatapan memelas. "Sayang....." wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Chayra tersenyum sinis. "Sudah sana, kamu bawa Adzra ke sofa biar aku cepat selesai."
Ardian kembali menelan ludahnya. "Tega kamu, Chay."
Chayra kembali tersenyum sinis. Meraih kembali alat pompa ASI dan melanjutkan aktivitasnya. Ardian berlalu membawa putranya ke sofa tempatnya tadi.
"Adzra, sini sayang. Kita ke kamar Oma ya.." Chayra mendekati sofa setelah selesai memompa ASI. Dua botol penuh ASI yang dia siapkan untuk bekal putranya.
"Biar aku yang antar." Ardian langsung menghentikan pergerakan istrinya. Memindahkan posisi Adzra agar tidak bisa digapai Chayra.
"Aku saja, kamu lanjutkan saja aktivitas kamu. Lagi sibuk main game, kan?"
Ardian menghela nafas berat. "Aku nggak sibuk. Sini ASI-nya, biar aku yang antar." Ardian segera meraih botol susu di tangan istrinya. "Kamu jangan kemana-mana, tunggu di sini."
"Aku mau turun ambil minum, Mas."
"Kita tidak sedang berdua di rumah, Chay. Ada Papi dan Mami juga disini. Kalau mereka melihat kamu keluar dengan pakaian seperti ini..." Ardian menghentikan ucapannya. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ada rasa kesal yang ia rasakan karena tingkah istrinya ini benar-benar menguji imannya.
"Memangnya kenapa, aku kan bisa memakai mukenah untuk turun."
"Aku bilang nggak usah ya nggak usah. Kamu diam di sini. Kaki kamu haram hukumnya menyentuh lantai di depan pintu."
Chayra membulatkan matanya mendengar ucapan Ardian. Giliran dirinya yang tidak bisa berkata-kata. Ludahnya pun terasa tercekat di tenggorokan.
Ardian segera berlalu. Chayra akhirnya memilih untuk duduk di sisi ranjang sambil menunggu suaminya kembali. Ada rasa khawatir karena suaminya terlihat emosi tadi. Apa drama yang dibuatnya terlalu berlebihan sehingga Ardian sampai mengeluarkan kata pamungkas yang tidak bisa ia langgar.
Pukul setengah sepuluh, Ardian masuk kembali ke dalam kamar. Ia mengunci pintu dengan kasar.
__ADS_1
"Apa Adzra bisa tidur, Mas?" Chayra berdiri saat melihat kedatangan suaminya.
Ardian menatapnya dengan tajam. Tetapi terdengar tarikan nafas panjang, lalu tatapan tajam itu perlahan berubah menjadi tatapan lembut. "Dia sudah tidur makanya aku meninggalkannya. Tinggal Papanya yang tidak bisa tidur sekarang. Mamanya menyuruh puasa tapi dia menyuguhkan pemandangan yang meruntuhkan iman."
Chayra menahan senyum. "Maksudnya apa ngomong kayak gitu?! Aku kan biasa tidur kayak gini, Mas. Mas Ardian juga nggak pernah protes sebelumnya. Malahan senang kan, kalau aku kayak gini."
"Hmmm.... itukan beda ceritanya, Sayang. Kalau kemarin kamu kayak gini aku semakin bahagian karena dengan mudah memangsa kamu. Tapi sekarang..." Ardian menghela nafas berat.
"Kamu shalat Isya dulu sana, Mas. Aku mau tidur, awas kalau ganggu." Chayra meraih bantal guling dan meletakkannya di tengah sebagai pembatas. "Ini batas daerah kekuasaan. Mas Ardian tidak boleh melewati batas ini."
"Apa kamu tidak mau ganti baju dulu, Chay?"
Chayra mengernyit. "Untuk apa? Aku nggak mau kegerahan nanti kalau menggantinya. Udah nyaman kayak gini, Mas Ardian jangan banyak protes."
Ardian akhirnya mengalah. Kalau terus berdebat, takutnya dia malah habis kesabaran dan tidak bisa menahan diri.
Usai melaksanakan shalat Ardian merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Tentunya di daerah yang boleh ia tempati. Dua guling menjadi penghalang di antara mereka. Karena matanya tidak bisa terpejam, ia kembali bangkit dan duduk bersandar beralaskan bantal di punggungnya. Berulang kali ia menarik nafas panjang karena perasaannya yang tak menentu saat ini.
Chayra yang berpura-pura tidur akhirnya tidak tahan mendengar nafas panjang-panjang suaminya. "Kamu kenapa sih, Mas. Tidur apa ini sudah malam." Ia membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Kamu tidur saja duluan, aku belum bisa tidur." Jawab Ardian datar.
Ardian terdiam dan hanya melirik istrinya. Melihat tidak ada respon suaminya, Chayra membalik tubuhnya membelakangi Ardian.
Ardian merebahkan tubuhnya kembali setelah lelah menghayal. Chayra sudah tidur dari tadi. Perlahan, ia memindahkan bantal yang menjadi pembatas. Ia merengkuh tubuh istrinya dari belakang. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sangat merindukan tubuh itu. Ia menikmati aroma tubuh istrinya dalam. Dalam dan semakin dalam.
Pergerakan Chayra membuatnya segera melepaskan pelukannya. Wanita itu tiba-tiba berbalik dan memeluk pinggangnya. Ardian memejamkan matanya untuk menahan gejolak yang semakin menjadi-jadi. Ia membuka matanya perlahan dan menatap istrinya dalam diam. Sudah satu minggu dia tidak merasakan pelukan hangat sang istri.
Lama terdiam memperhatikan wajah itu. Satu ciuman mendarat di dahi Chayra. Satu ciuman lagi mendarat di bibirnya. Chayra yang merasa terusik menggeliat. Eh, ia malah menaikkan sebelah kakinya ke kaki suaminya.
Ardian langsung tegang. Bukan saja wajahnya yang tegang. Yang dibawah juga ikut tegang. Ia akhirnya menyerah dengan keadaan. Menarik tubuh istrinya paksa dan memulai aksinya.
Bukannya penolakan yang dia dapatkan. Ternyata sang istri juga merindukannya. Akhirnya, Ardian berbuka puasa karena tidak kuat menahan lapar dan dahaga.
*********
"Mas, bangun... mau ke Masjid nggak?" Chayra menepuk-nepuk pelan pipi Ardian.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Sayang."
"Eh, malah bilang sebentar lagi. Kita belum mandi wajib, Mas. Ini sebentar lagi Adzan."
Mata Ardian mengerjap-ngerjap. Senyumnya mengembang menatap istrinya. "Kamu cantik, Sayang."
"Huh, dasar... yang melanggar aturan karena tidak tahan godaan."
"Salah kamu sendiri yang menggodaku. Coba kamu berpakaian tertutup, aku pasti tahan. I.. insya Allah..."
"Tahan dari Hongkong... Aku mau tidur pakai cadar pun, kamu pasti akan berbuka, Mas."
Ardian tersenyum kecil. "Itu sudah menjadi kelemahan aku, Sayang. Tapi, syukurnya sekarang aku begitu hanya di kamu. Gairahku akan bangkit hanya saat dengan kamu."
Pipi Chayra merona merah mendengar ucapan Ardian. "Sudah ah, kamu mandi duluan sana, biar Subuhnya nggak kesiangan."
"Hahahaha... kamu terlihat makin cantik kalau malu-malu kayak gini. Kita mandi bareng saja ya..." Ardian menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Nggak.. nggak.. nggak. Yang ada bukannya mandi malah nambah berbuka lagi nanti." Chayra langsung mendorong tubuh suaminya menjauh. Segera bangkit untuk menghindari drama yang akan dibuat suaminya. "Huh, semalam ngomongnya kasar-kasar kayak aku istri durhaka aja. Pakai acara mengharamkan aku menginjak depan pintu segala. Eh, sekarang ceritanya malah beda lagi." Chayra mengomel sambil mengambil kain panjang.
"Kamu tau kan aku tidak pernah di servis selama satu minggu. Olinya udah mau naik ke otak saking lamanya tidak di servis."
"Alasan aja. Aku mandi duluan, nunggu kamu kelamaan, Mas." Chayra bergegas ke kamar mandi karena melihat suaminya bangkit.
Ardian tersenyum melihat istrinya berlari ke kamar mandi.
Ardian POV...
Hah, lega sekali rasanya setelah di servis. Aku pikir semalam aku akan menangis dalam meratapi nasibku yang diasinin istri. Ternyata Chay juga merindukan buaianku. Dia menikmati setiap sentuhan yang aku berikan. Dasar wanita, katanya aja yang kuat, tetapi dia juga lemah. Bahkan imannya langsung runtuh saat aku menyentuhnya. Tapi, dia memang terlihat meyakinkan kalau kami adu kuat nafsu. Walaupun nafsu wanita ada sembilan dan laki-laki hanya satu. Tetapi, nafsuku yang satu terlihat lebih dominan daripada nafsu istriku yang sembilan. Dia juga terlihat bertahan andaikan aku tidak mulai duluan. Aku memang tidak bisa menahan diri kalau berdekatan dengannya. Dia terlalu cantik dan menarik kalau hanya dijadikan tontonan. Hah, aku akui kalau aku kalah bertarung dengannya.
"Mas, kita shalat jama'ah di rumah saja ya.."
Lamunanku langsung buyar saat mendengar suara istriku. Ternyata dia sudah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Kamu bilang apa, Sayang?" Aku tidak menyimak apa yang dia katakan tadi. Aku malah fokus pada tubuhnya yang hanya dililit handuk dari dada sampai lutut.
"Kita shalat Subuh di rumah."
"Oh, iya.. iya.. tunggu aku mandi sebentar." Aku langsung bergegas ke kamar mandi karena tidak mau membuat bidadari ku menunggu terlalu lama.
__ADS_1
*********