Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Harta tidak akan dibawa mati


__ADS_3

Ardian masih menatap mobil papinya sampai mobil itu hilang dari pandangan. Perasaannya campur aduk saat ini. Antara rasa kasihan, rasa kesal dan rasa berdosa karena menentang permintaan orang tuanya. Tapi, dia harus melakukannya agar kedepannya Pak Sucipto bisa bersikap lebih bijak.


"Kenapa Papi pulang sangat cepat, Mas?" Ucap Chayra seraya menepuk pundak suaminya dari belakang. Ardian terkejut dan spontan langsung berbalik. Dia belum mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Chayra. "Mm.. Papi.. Papi.. sedang ada masalah, Sayang. Kita masuk yuk.." Ardian merangkul pundak istrinya.


Chayra menautkan alisnya melihat tingkah suaminya. Ia menghentikan langkahnya, mendongak menatap suaminya tepat di matanya.


Ardian berusaha bersikap normal, walaupun terlihat sedikit khawatir. Entah kenapa dia sangat sulit mengendalikan apapun itu jika berhubungan dengan istrinya. "K... kenapa kamu berhenti, Sayang?"


Chayra menarik nafas panjang. "Apa yang terjadi, Mas? Sikap kamu terlihat aneh sekali. Kamu tidak biasanya seperti ini."


"Mm... nanti aku jelaskan di kamar. Ada Bi Idah di sini. Takutnya dia melapor ke Kakek nantinya."


Chayra mengerutkan keningnya tetapi kembali melanjutkan langkahnya. Hidungnya kembang kempis karena mulai kesal dengan sikap suaminya.


"Nggak usah ngambek, Sayang. Aku akan menceritakan semuanya nanti." Ardian mencubit pelan pipi istrinya.


"Kamu ini, Mas. Pantesan sikapnya aneh dari kemarin."


"Bukan masalah serius, Sayang." Ardian meraih tangan Chayra lalu menciumnya lembut.


"Tapi tetap saja aku nggak suka kamu main kucing-kucingan kayak gini." Timpal Chayra. Ia langsung duduk di sisi ranjang begitu masuk ke kamar. "Ceritakan langsung sekarang, Mas. Kalau ditunda kamu pasti ngelak nanti."


Ardian tersenyum seraya duduk di sampin istrinya. Kembali mencium tangan Chayra yang masih digenggamnya.


Chayra menarik tangannya dengan kasar. "Jangan merayu dulu sebelum kamu mengatakan yang sebenarnya."


"Eh, sadis amat kamu.. Aku cuma kasih ciuman sayang aja tadi. Takutnya kamu terlalu serius dan marah nantinya sama aku."


"Walaupun kamu kasih seribu ciuman sayang, kalau kasusnya menguras emosi jiwa, ciuman itu tidak akan mempan."


Ardian akhirnya menghela nafas berat. Sepersekian detik menatap istrinya sebelum akhirnya mulai bicara. "Aku... aku mengancam Papi, Chay."


Chayra terdiam menunggu kelanjutan ucapan suaminya.


"Aku mengancam akan mengundurkan diri kalau Papi terus-terusan melakukan yang dia lakukan tiga bulan ini."


"K.. kenapa kamu melakukan itu, Mas?" Chayra mendongak menatap Ardian.

__ADS_1


"Aku harus melakukannya ini, Chay. Papi itu punya sifat yang kamu sendiri tidak akan mengerti. Dia merasa berjasa karena menyekolahkan aku sampai selesai S2, walaupun sebenarnya itu adalah kewajiban orang tua pada anaknya. Dan di akhir pendidikanku dia mengusirku disaat aku membutuhkan dukungan dari mereka."


"Maksudnya apa, Mas?"


"Papi ingin agar aku membayar semua biaya yang sudah dia keluarkan untuk menghidupiku."


Chayra menelan ludahnya seraya menatap mata suaminya. "Seorang anak tidak akan pernah bisa membayar jasa kedua orang tuanya, Mas." Ucapnya dengan bibir bergetar.


"Aku tau itu. Tapi, itulah kenyataan yang aku dengar dari mulut Papi sendiri. Dia bilang aku harus mengganti uangnya. Itulah tujuannya mengambil gajiku setiap bulan. Jika tidak bisa mengganti semuanya, maka Papi ingin aku membayar setengahnya."


"Memangnya kamu tau berapa jumlah uang yang sudah dikeluarkan Papi?"


Ardian mengangkat bahunya. "Siapa yang akan bisa menghitung biaya hidupnya sendiri sejak dari buaian, Sayang. Aku juga tidak mengerti dengan kemauan Papi. Salah aku apa coba? Aku hanya menanyakan kenapa gajiku semakin banyak terpotong."


"Aku sudah memperingatkan kamu untuk tidak memperpanjang masalah itu, Mas."


"Aku ingin melakukannya, Chay, tapi aku tidak bisa. Papi itu terlalu serakah dan akan semakin menjadi-jadi kalau terus dibiarkan. Padahal untuk apa dia mengumpulkan harta kalau pada akhirnya dia akan mati juga."


"Astagfirullah, Mas.." spontan Chayra menepis lengan suaminyam. "Terus kamu kenapa menuntut mendapat gaji penuh kalau pada akhirnya kamu akan mati juga."


Ardian terdiam beberapa saat. "Aku memang akan mati, Sayang. Tapi untuk saat ini tanggung jawabku terlalu besar. Aku berkewajiban untuk menafkahi kamu dan Adzra. Terus masih banyak lagi yang harus aku penuhi di sisa usiaku yang entah sampai kapan ini. Sedangkan Papi, dia tidak memliki tanggung jawab lagi. Aku tau harta tidak akan dibawa mati, tapi saat hidup kita membutuhkannya untuk kelangsungan hidup."


"Aku sudah pasti melakukan itu, Sayang. Tapi aku butuh waktu untuk itu. Aku ingin menata hati agar bisa dengan ikhlas menerima semuanya." Ardian meraih tubuh istrinya lalu menjatuhkannya ke dalam pelukan. "Kamu adalah partner hidup yang paling sempurna, Sayang. Tidak salah aku mengikuti bisikan takdir untuk menuruti keinginanmu waktu itu."


"Mmm..." hanya itu jawaban Chayra. Tangannya semakin erat memeluk pinggang suaminya.


"Aku mencintaimu, Chay. Jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan aku saat berbuat salah. Aku tau kamu tidak suka dengan keputusanku ini. Tapi, aku harus melakukannya untuk kebaikan kita ke depannya. Aku tidak mungkin terus-terusan bergantung pada keluarga."


"Sudah Mas, jangan diperpanjang. Intinya kamu sudah menyadari kesalahan kamu."


"Aku akan minta maaf setelah aku mengundurkan diri."


Chayra melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Kamu benar-benar akan mundur, Mas. Jabatan yang kamu pegang ini baru seumur jagung."


"Aku tidak perduli, Sayang. Intinya aku mau kerja sesuai dengan kemampuanku dan mendapatkan upah sesuai dengan k eja kerasku juga."


"Bukannya kamu sudah cerita kalau Papi akan memasukkan namamu ke dalam daftar hitam."

__ADS_1


"Ngapain kamu mengkhawatirkan hal itu, Sayang. Kan cabang Perusahaan Kakek masih banyak. Belum lagi Ibu sedang membutuhkan Manager keuangan. Aku bisa kerja di tempat Ibu."


"Kamu akan mendapatkan gaji dan jabatan yang tidak sesuai, Mas kalau di tempat Ibu."


"Siapa bilang begitu. Aku kan sudah bilang kalau aku akan bekerja sesuai dengan kemampuanku."


Chayra akhirnya menarik nafas panjang. Memperdebatkan masalah pekerjaan dengan suaminya tidak akan ada ujungnya kalau dia tidak mengalah. "Sekali lagi.. terserah kamu, Mas. Aku tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam dunia bisnis." Ia berlalu meninggalkan suaminya saat melihat Adzra duduk di atas kasur.


*********


Ardian menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Ia tersenyum mantap melihat penampilannya. Rambut kinclong disisir rapi ke belakang. Gaya rambut seperti itu membuatnya terlihat lebih tua tiga empat tahun dari usianya. Tapi, gaya rambutnya itu dia pakai hanya ketika pergi ke Kantor. Hal itu membuatnya terlihat lebih tegas dan berwibawa. Sesuai dengan jabatan yang dia pegang saat ini.


Lamunannya buyar ketika istrinya tiba-tiba mengacak-acak rambutnya.


"Astagfirullah, Sayang.. apa yang kamu lakukan." Ardian menatap istrinya kesal.


"Siapa suruh senyum-senyum sendiri tidak jelas seperti itu. Kamu sudah lima belas menit berdiri di depan cermin tanpa alasan yang jelas, Mas."


Ardian melongo. Masa iya dia sudah lima belas menit di depan cermin. "Aku.. aku cuma sedang melihat penampilanku, Sayang."


"Kamu sudah tampan, Mas. Jangan terlalu lama di depan cermin, nanti cahaya ketampanannya hilang. Sini, aku perbaiki rambut kamu." Chayra menarik paksa suaminya untuk duduk di sisi tempat tidur.


"Eh, nggak usah aku bisa melakukannya sendiri."


"Sini ah, jangan banyak membantah." Chayra tetap kekeh. Tangannya mulai menggerakkan sisir di kepala suaminya. "Gaya rambutnya jangan gitu-gitu aja dong, Mas. Harus diganti-ganti biar bervariasi."


Ardian hanya diam membiarkan istrinya melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Tumben sekali istrinya mengurus gaya rambutnya seperti tidak ada kerjaan yang lain. Biasanya istrinya itu akan berubah menjadi wanita yang paling sibuk kalau di pagi hari.


Sekitar dua menit sibuk dengan kepala suaminya..


"Nah, ini baru keren, Mas."


Ardian mendongak sambil menahan senyum menatap istrinya sebelum ke depan cermin untuk melihat hasil kerja keras sang istri.


Ardian melototkan matanya. "Sayang... aku mau pergi kerja, bukan mau main ke pantai. Kalau kayak gini yang ada para gadis di loby akan berjatuhan air liur nanti. Soalnya Bos mereka terlihat semakin tampan saja."


Chayra langsung melengos. Mulutnya komat-kamit ngedumel tidak jelas.

__ADS_1


*********


__ADS_2