
"Drama apa yang sedang kalian lakukan?" Suara seseorang dari pintu depan membuat mereka semua terhenyak. Ardian sontak langsung berdiri sambil mengusap air matanya.
"K.. Kakek...?" Chayra tergagap saat melihat kedatangan kakeknya.
"Abi.." Santi berjalan cepat menghampiri mertuanya. Menyalami tangan Pak Akmal bolak balik. "Silahkan masuk, Abi."
"Hhmmm.." jawab Pak Akmal. Namun, dia masih tak bergeming. Berdiri di depan pintu dengan menatap tajam ke arah Ardian.
Ardian menunduk saat menyadari tatapan tajam Pak Akmal. Apakah Pak Akmal akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakuan papinya tadi siang padanya.
"Ardian, Ayra, salim dulu sama Kakek, Nak. Kenapa kalian diam disana?" Santi mencoba memecah keheningan.
"I.. iya, Bu." Chayra berjalan pelan mendekati Kakeknya. Sedangkan Ardian, pria itu masih berdiri di tempat.
Pak Akmal memeluk Chayra saat gadis itu sudah berdiri di depannya. "Apa kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanyanya lembut seraya mencium pucuk kepala cucunya.
"Alhamdulillah, Ayra baik, Kek. Kenapa bertanya begitu, seolah-olah Kakek melihatku sedang terpuruk?"
"Kamu pasti sudah tau maksud Kakek, kan?" Pak Akmal mencubit gemas pipi cucunya.
Chayra tersenyum manja seraya memeluk tubuh Kakeknya. "Ayra baik-baik saja, Kek. Jangan mengkhawatirkan aku."
"Bagaimana Kakek tidak khawatir, Sayang. Laki-laki yang halal tempat kamu bersandar hanya dia." Menunjuk Ardian. "Tiba-tiba saja aibnya menjadi trending topik di media sosial. Lalu dimana kamu akan bersandar saat kamu menangisi kebodohan kamu yang memintanya untuk menikahimu dulu?"
"Aku tetap bersandar di pundaknya, Kek. Aku tetap menjadikannya pelampiasan saat aku marah."
Ardian mengangkat wajahnya. Hanya bisa menelan ludahnya saat melihat keakraban istrinya itu dengan sang Kakek.
"Lalu kenapa kalian bisa ada disini sekarang? Bukanya anak itu harus di rumah orang tuanya. Mengurung diri di dalam kamar karena malu bertemu tetangga.
Chayra menepis lengan Kakeknya. "Kakek kok ngomong gitu, sih?"
Pak Akmal hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Chayra. "Ini yang sering dilakukan Almarhum Bapakmu dulu pada Ibumu. Itulah yang membuat Ibumu jatuh cinta sampai kelepek-kelepek."
"Maksud Kakek?"
"Bapak kamu sering menepuk-nepuk kepala Ibumu. Itu yang membuat Ibumu jatuh cinta."
Santi hanya tersenyum. Dia tau, itu hanyalah basa-basi untuk mencairkan ketegangan di depannya. Dan benar saja, Ardian terlihat menahan senyum. Namun kembali menunduk saat menyadari kalau posisinya belum aman.
Pak Akmal berjalan mendekati sofa dengan menarik tangan Chayra agar mengikutinya.
"Assalamualaikum, Kek." Hanya kata itu yang lolos keluar dari bibir Ardian setelah Pak Akmal duduk di sofa sebelah tempatnya berdiri.
"Duduk!" Perintah Pak Akmal tegas. Mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zidane dan Bian. "Zidan dan Bian mana?" Tanyanya pada Santi yang masih berdiri.
__ADS_1
"Zidane di kamar, Abi. Kalau Bian, dia pergi ngaji diniyah."
"Panggilkan Zidane kemari!" Kembali Pak Akmal memerintah.
Santi langsung gerak cepat agar tidak kena semprotan. Tidak tau suasana hati mertuanya saat ini.
"Abi sudah menyuruh kamu mencari pembantu sejak dulu, Santi. Kamu selalu saja tidak mau. Berapa sih, gaji pembantu setiap bulan yang kamu perhitungkan itu." Ucap Pak Akmal setelah Santi belok arah ke kamar Zidane.
"Ibu tidak ada kerjaan kalau harus membayar orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah, Kek." Bela Chayra. "Ngomongnya juga tadi dong, pas Ibu masih di depan kita."
Pak Akmal menahan senyum melihat ekspresi Chayra. "Kalau tidak ada kerjaan, iya.. tiduran. Gitu aja kok dipusingkan. Lagian kan, masih ada Toko yang seharusnya Ibu kamu itu awasi. Jangan terlalu dipercayakan pada orang lain terus."
"Abi bicarakan hal itu dengan Ibu nanti. Ayra tidak tau menahu. Ayra hanya tau jumlah uang yang ditransfer Ibu ke rekening Ayra setiap bulan."
"Huh, dasar kamu." Pak Akmal menjembel pipi Chayra dengan kedua tangannya.
"Aaa... Kakek, sakit tau.."
Ardian hanya tersenyum lemah. Namun, ia tidak sekalipun berani mengangkat kepalanya. Merasa dirinya seperti lalat pengganggu yang mengganggu kebahagiaan kakek dan cucu itu.
"Lho, Kakek kok bisa ada di sini?" Zidane hampir tidak percaya melihat siapa yang menjadi tamu yang dimaksud Santi.
"Sini, duduk. Kamu disuruh cari informasi aja lelet. Kakek tidak tahan menunggu kamu. Itulah mengapa Kakek ada disini sekarang."
"Pesan itu masuk saat Kakek sudah berdiri di depan pintu."
"Kakek kapan berangkatnya?"
"Jarak kota A dan kota B itu berapa sih? Hanya dua puluh menit terbang saja sampai."
"Hmmm... pakai pesawat ternyata. Pantesan cepat sampai." Ucap Zidane.
"Kalian aja yang menghabiskan waktu menggunakan kendaraan darat. Perjalanan darat itu menghabiskan waktu, menghabiskan tenaga, menghabiskan banyak bahan bakar, menghabiskan kesehatan pula. Yang nyetir pasti merasa tubuhnya tidak fit dan langsung ambruk saat sampai."
Dalam diamnya, Ardian membenarkan semua yang dikatakan Pak Akmal. Dia sendiri merasakan hal itu saat berkunjung ke Pesantren Al-Mukarramah.
Zidane menatap Ardian yang menunduk sejak kedatangannya. "Tersangka sudah ada di depan Kakek. Kenapa Kakek belum juga menginterogasinya?"
"Kakek rencananya mau langsung adu jotos saat bertemu dengannya. Tapi, saat Kakek ke rumahnya, Sucipto tidak mau menemui Kakek. Hanya satpam rumah yang memberitahukan pada Kakek kalau Tuan Muda mereka sudah diusir. Saat sampai disini. Ternyata dugaan Kakek benar kalau dia ada di sini. Tapi, Kakek jadi kasihan saat melihatnya sedang bersimpuh di kaki Santi tadi. Kakek jadi tidak tega kalau harus memukulnya saat kondisinya benar-benar sedang membutuhkan dukungan."
Chayra melirik suaminya sambil menggigit bibir bawahnya. "Kak..." tanyanya pelan.
"Suamimu itu takut sama Kakek makanya tidak berani mengangkat wajahnya."
"Kakek.... jangan membuat Kak Ardian semakin takut dong. Sebenarnya dia tidak takut. Cuman, rasa bersalah itu yang membuatnya sampai malu, walaupun hanya sekedar untuk menatap Kakek.
__ADS_1
Pak Akmal kembali menatap Ardian. "Angkat wajahmu, Nak. Kakek tidak akan marah padamu. Kakek menghargai kejujuran kamu, mau mengakui perbuatan itu tanpa harus berbelit-belit." Ucap Pak Akmal serius. Menyentuh lengan Chayra agar pindah ke samping Ardian.
Pak Akmal beralih menatap Zidane. "Dimana kamu menemukan mereka?"
"Di taman tidak jauh dari rumahnya. Ayra minta dijemput tadi siang. Kebetulan aku sedang bertemu seseorang di dekat tempat itu."
"Papimu itu kurang ajar sekali, Ardian. Anaknya terpuruk, bukannya dikuatkan malah diusir. Sebaik apa sih, nama yang dia jaga itu. Seharusnya dia ngaca dengan perbuatannya sendiri. Anak tidak diurus, mana bisa tumbuh menjadi Ustadz."
Zidane yang penasaran dengan ucapan Kakeknya langsung menyahut. "Tau darimana Kakek?"
"Kakek tumbuh besar bersama Papinya dia. Cuman, usia kami terpaut lima tahun. Kakek lebih tua darinya. Tapi, Kakek tau seluk-beluk keluarga dia. Dia itu orangnya seperti apa juga Kakek tau. Dia juga sulit punya keturunan karena ada masa lalu yang membuatnya hampir menjadi laki-laki mandul."
Ardian tersentak mendengar cerita Pak Akmal. Mengangkat kepalanya perlahan. Untuk pertama kalinya, dia berani menatap wajah Pak Akmal.
"Kamu terkejut, Nak?" Tanya Pak Akmal pada Ardian.
Ardian hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Masa lalu Papi kamu hampir sama dengan masa lalu kamu. Cuman, dia lebih parah. Dia pun, bolak balik rumah Sakit, tanya sini tanya situ. Mami kamu ikut program hamil beberapa kali sebelum berhasil dan mengandung kamu."
Pak Akmal tersenyum kecut. "Setelah kamu besar dan membuat kesalahan, dia malah dengan mudahnya mengusir kamu. Ternyata dia sudah melupakan berapa kerasnya perjuangan dia dulu saat menginginkan hadirnya seorang anak dalam pernikahannya."
Ardian kembali menunduk. Mengusut air mata yang tiba-tiba meng'anak sungai.
"Kakek hanya ingin, kamu buktikan kalau kamu bukan laki-laki pengecut seperti Papi kamu. S1 kamu sudah selesai?"
"Kok, Kakek nanya S1. Kak Ardian sudah lulus S2, Kek. Tinggal menunggu pemindahan kuncir toga nanti."
Pak Akmal tercengang. Dalam hatinya masih tidak mempercayai ucapan Chayra.
"Kalau S1-nya. Kak Ardian wisuda sebelum menikah denganku."
"Astagfirullahal'adzim, maafkan Kakek berprasangka buruk padamu."
Ardian mengangguk lemah. "Tidak apa-apa, Kek. Siapa yang akan mempercayai kalau aku memang akan lulus S2. Melihat kehidupanku yang sangat buruk sebelum ini, tentu orang akan bertanya-tanya."
"Ngajinya juga sudah fasih, Kek." Timpal Zidane. "Sudah banyak hafal hadis pula. Aku sedang mengajarkan dia ceramah. Katanya dia masih sering gerogi saat bicara di depan banyak orang. Tapi, sudah beberapa hari ini dia cuti karena harus mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir.
Pak Akmal manggut-manggut. "Baik... baik... kalau begitu. Kita tunggu keterangan yang akan dibawa Ismail sekarang."
"Keterangan apa?"
"Siapa yang mengedarkan video unfaedah itu. Kita akan tau setelah kedatangan Abah kamu." Menatap Zidane, Chayra dan Ardian secara bergantian.
********
__ADS_1