
Malam itu, Pak Sucipto dan Bu Renata datang setelah shalat Isya. Bu Santi pun menunggu sampai besannya datang. Takutnya saat dia pulang duluan, besannya malah tak jadi datang dan putrinya kembali begadang. Adzra memang dinyatakan sembuh, tetapi dia masih rewel karena efek sakitnya yang kemarin.
Saat makan malam bersama, Chayra bersikap datar pada suaminya. Dia memang melayani suaminya di meja makan seperti mengambilkan nasi dan lauk. Tapi tidak ada senyuman yang dia tampakkan. Hal itu tentu saja mengundang perhatian yang lain. Terutama Bian, anak itu langsung curiga dengan sikap kakaknya. Ia hanya menyebikkan bibirnya sambil melengos. Heran dengan sikap pasangan suami istri yang satu itu. Selalu berantem tak jelas. Sering berdebat, tapi terkadang menyebalkan karena sering memamerkan kemesraan di sembarang tempat.
Ardian yang melirik tingkah adik iparnya hanya bisa menghela nafas berat, karena sudah tau arti tatapan Bian. Tinggal menunggu interogasi nanti lewat pesan.
Ardian POV...
Aku terus menatap Chay yang mengambilkan makanan untukku. Aku kira saat dia mendiami aku, aku akan melakukan segalanya sendirian. Tetapi, ternyata dia masih tau batasan dalam marah. Huh, rasanya kok gini ya, didiaminya. Selama pernikahan kami memang jarang seperti ini. Berdebat sih sering, tapi sampai harus saling mendiami tidak pernah terjadi.
Usai makan malam, semua bubar barisan. Ibu dan Bian pamit pulang. Bian menatapku tajam seolah minta penjelasan. Anak ini benar-benar deh, aku nggak bisa bohong sama dia.
Papi dan Mami langsung berebut menggendong Adzra. Mereka terlihat seperti ingin muda lagi.
"Ayra, malam ini Adzra tidur sama Mami ya.. Kamu tinggal pompakan ASI saja. Mami sudah bawakan alatnya tadi. Nanti ASI-nya Mami simpan di kulkas terus di rendam pakai air hangat pas Adzra lapar."
Chay malah bengong. "Aku nggak ada pengalaman dengan pompa ASI, Mi." Jawabnya polos. Huh, gemes aku lihat ekspresinya. Ingin rasanya aku mencubit pipinya.
"Nanti Mami yang instruksikan. Mami dulu sering kayak gitu pas suami kamu masih minum ASI. Mami kan kerja, jadi tidak bisa menyusui dia langsung."
Chay memberikan senyuman tipis pada Mami. Dia terlihat masih bingung. Mami langsung membawa kabur Adzra ke lantai atas. Suasana langsung berubah canggung. Chay ikut naik ke atas seolah sengaja menghindariku. Huh, kok rasanya sakit gini ya diabaikan istri. Dari dulu Chay selalu mengalah jika kami berdebat. Tapi, saat ini dia seperti benar-benar sedang marah. Aku mengekor di belakangnya. Eh, dia malah sengaja berlari kecil. Ternyata benar kalau dia menghindar. Apakah aku akan benar-benar puasa satu minggu ke depan. Padahal dari kemarin aku sudah menghayal akan mencubunya.
Aku berhenti di depan pintu kamar saat dia menutup pintu dengan keras. Aku mundur beberapa langkah karena sepertinya dia tidak ingin diganggu. Aku memilih duduk di sofa depan kamar sambil menunggu suasana cair.
Sekitar setengah jam menunggu, tapi Chay tidak keluar lagi. Aku bangkit dan memilih untuk mengetuk pintu. "Chay, aku mau ganti baju. Aku boleh masuk nggak."
Hening, Tidak ada suara dari dalam kamar. Aku kembali memanggilnya. "Chay, aku mau ganti baju, bukakan pintunya."
__ADS_1
Cklek.. ceklek..
Eh, pintunya malah terbuka sendiri saat aku memutar kenop nya. Jadi malu sendiri aku, teriak-riak manggil Chay ternyata pintunya tidak terkunci. Aku berjalan masuk sambil menggaruk-garuk kepalaku.
Ya Allah... apa-apaan ini.. Aku menghentikan langkahku serta menelan ludah saat melihat istriku duduk di depan meja rias. Dia sedang menyisir rambut sebahunya dengan gaya elegan. Aku menelan ludahku sambil menatapnya tanpa berkedip. Itu.. baju yang dipakainya kenapa modelnya kayak gitu. Katanya dia mau menghukum ku, tetapi kenapa dia seolah-olah menguji keimananku. Sepertinya dia sengaja memakai lingerie untuk menggangguku. Baru seperti ini saja batinku terasa terusik. Bagaimana kalau kami berdekatan tidur nanti. Aku jamin mataku tidak akan bisa terpejam. Aaarrggghhh... aku mengacak-acak rambutku prustasi. Aku duduk di sisi ranjang sambil menatapnya yang masih duduk di depan meja rias. Dia malah bangkit, berjalan dengan gaya elegan membuka lemari pakaian. Eh, dia malah nungging, menampakkan pahanya yang mulus tanpa noda.
Aku kembali menelan ludahku. Sebentar lagi pertahanan ini sepertinya akan runtuh. Jika aki tidak kuat lagi, aku pasrah walaupun dia mengatakan apapun padaku. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Tangan ini sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Aku menarik nafas panjang sambil bangkit. Aku harus segera menghindar untuk mempertahankan harga diriku.
Aduuuhhh... kepala atas dan kepala bawah ternyata tidak sinkron. Si adik sudah berdiri tegak minta jatah karena lapar. Beberapa hari libur tentu saja membuatnya sangat lapar. Aku bergegas keluar kamar lalu menghempaskan tubuhku di sofa depan kamar. Ada Mami berjalan mendekat dengan menggendong Adzra. Aku kembali menarik nafas panjang untuk menenangkan otak bawah yang masih saja berdiri tegak.
"Kenapa duduk di sini, Ar? Ayra mana. Apa ASI untuk Adzra sudah siap?"
"Chay di dalam, Mi. Mami coba tanya dia. Aku sedang menyelesaikan pekerjaanku."
"Kerja kok di sofa. Kamu kan punya ruang kerja. Manfaatkan ruangan sesuai dengan peruntukannya."
Author POV...
Bu Renata menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Ardian. Ia berlalu masuk ke dalam kamar. "Ayra... susu untuk Adzra sudah siap?"
"Kan Mami belum mengajarkan aku cara memakai alat ini." Chayra mengacungkan pompa ASI manual yang dibawakan mertuanya tadi.
"Oh iya, Mami kok lupa Sayang. Keasyikan main sama Adzra sampai lupa kebutuhan wajib si gembul." Bu Renata mendudukkan Adzra di atas kasur. mengambil alih pompa ASI dari tangan Chayra. "Bagian yang ini ditempelkan di PD. Terus tinggal di tekan-tekan pompanya biar ASI-nya keluar."
"Kok mudah banget, Mi."
"Itu makanya Mami menyuruh kamu biar Adzra tidak terlalu bergantung sama kamu. Kamu bisa jalan-jalan dan tidak bosan di rumah terus walaupun ada kewajiban untuk menyusui anak. Mami tau kamu pasti tidak nyaman kalau harus memberikan putra kamu ASI di sembarang tempat."
__ADS_1
"Aku kasih langsung aja dulu, Mi. Biar yang dipompa untuk cadangan kalau dia bangun tengah malam nanti."
"Ide bagus, Sayang." Bu Renata baru memperhatikan lingerie yang dipakai Chayra. "Ehemmm... kayaknya kamu juga mau menghabiskan malam dengan suami kamu ya.. Wuuiihh... menantu Mami seksi gini. Si Ardian mana bisa ngedip nanti kalau melihat kamu."
"Eh, ng... b.. bukan begitu, Mi. Aku... aku..." belum sempat Chayra menyelesaikan kalimatnya, Bu Renata malah memotongnya.
"Hahahaha... kenapa harus malu, Nak. Toh itu juga kewajiban kamu melayani suami dengan sepenuh hati. Ayo cepetan kasih Adzra mimik biar Mami bisa cepat membawanya pergi dari sini. Suami kamu juga butuh dibuai, bukan cuma anak saja."
Chayra hanya tersenyum meringis mendengar ucapan sang mertua. Niat hati ingin memberi pelajaran untuk suami malah kepergok mertua memakai lingerie.
"Mami keluar sebentar. Nanti Mami kembali lagi untuk mengambil Adzra. Pokoknya Mami mau menghabiskan waktu malam ini dengan cucu Mami satu-satunya ini." Bu Renata mencolek pipi cucunya sebelum keluar dari kamar.
Chayra POV...
Niat hati ingin menghukum suami malah ketahuan Mami. Aduh, malunya kok sampai nusuk-nusuk hati gini. Aku menarik nafas panjang setelah Mami keluar dari kamar. Sayup-sayup, aku dengar suara Mami bicara dengan Mas Ardian.
"Ar, kalau pekerjaan kamu sudah selesai, antar Adzra ke kamar Mami ya, Nak. Mami mau menghubungi seseorang sebentar. Sekalian bawakan juga cadangan ASI untuknya."
"Iya, Mami nanti aku antar." Ternyata Mas Ardian kabur ke depan tadi. Hahaha.... tau rasa si Abang. Makanya jangan suka macam-macam kalau imannya tidak kuat di suruh puasa.
Belum tau kemampuanku ternyata. Aku sengaja melakukan ini untuk membuatnya jera. Tapi, aku kok malah kasihan saat melihat ekspresinya tadi. Aku memang tidak melihatnya langsung. Tapi, wajahnya terpampang jelas di cermin. Hahaha... kok wajahnya terlihat memprihatinkan sekali.
Rasa kesal mendengar pengakuannya yang menuduh aku selingkuh masih melekat di hati. Aku menghargai kejujurannya walaupun hal itu malah membuat aku sakit hati.
Aku sengaja melakukan ini untuk melihat sejauh mana dia bisa bertahan. Sebenarnya, kalaupun Mas Ardian meminta itu, aku tidak bisa menolak karena aku takut dosa. Tapi, aku mau melihat dulu sejauh mana dia mampu bertahan. Apakah pertahanannya akan runtuh atau bagaimana kita lihat saja nanti.
**********
__ADS_1