
"Tubuh Kakak demam.." Chayra meraba dahi suaminya sore itu. "Bagaimana kita bisa pulang kalau kondisi Kakak kayak gini?"
"Aku baik-baik saja. Aku cuma sedikit pusing."
"Baik bagaimana maksud Kakak? Tubuh Kakak sampai menggigil begini. Padahal tadi pagi baik-baik saja. Malahan bisa maksa aku untuk menidurkan adiknya lagi."
"Mungkin si adik mau lagi makanya demam gini." Berkata sambil menahan senyum.
Chayra menyebikkan bibirnya. "Adiknya tidak bisa berdiri kalau begini keadaannya Kak. Aneh-aneh saja ni orang."
"Punggungku terasa nyeri. Mungkin ini yang menyebabkan kepalaku pusing."
Chayra menautkan alisnya. "Punggung yang bekas operasi itu?"
Ardian mengangguk lemah. "Iya.. kerasa kayak ditusuk-tusuk gitu. Sakitnya nyalur ke kepala aku."
"Kita ke Dokter saja kalau begitu. Pulangnya ditunda besok kalau Kakak sudah sembuh." Mengusap-ngusap kepala suaminya lembut.
"Kamu perhatiannya berlebihan, Chay. Sakit kayak gini sudah biasa aku hadapi. Istirahatnya lebih banyak saja. Pasti pusingnya hilang dengan sendiri."
"Tidak boleh seperti itu, Kak. Aku sudah berulang kali mengatakan sama Kakak. Jangan samakan waktu kakak sendiri dengan sekarang."
"Maafkan aku." Menarik tangan istrinya lalu menciumnya lembut. Memeluk erat tangan itu agar tidak terlepas. "Seharusnya kamu tidak bersikap seperti ini padaku. Aku sangat jahat sama kamu, Chay.." berkata sambil memejamkan mata. Pusing ini benar-benar menyiksanya.
"Kapan Kakak jahat sama aku? Kak Ardian selalu baik kok. Baiknya sampai mau mengalah sama aku. Mau menghadapi Abah juga, walaupun Abah bersikap acuh tak acuh."
Ardian memperhatikan wajah istrinya. "Aku merenggut mimpimu." Berucap dengan ekspresi datar.
Chayra langsung membuang nafas kasar. "Jangan bahas itu lagi. Aku takut mood ku rusak nanti."
"Maafkan aku.."
"Sudah dimaafkan dari dulu. Kalau aku masih marah, aku tidak akan perduli dengan Kak Ardian."
"Hmmm ..."
"Nanti habis Maghrib kita ke Dokter. Aku akan bilang sama Ibu dulu." Menarik tangannya dari pelukan Ardian.
"Nggak usah. Nanti juga aku sembuh sendiri."
"Sssttt... jangan membantah. Ni orang dibilangin juga." Chayra beranjak meninggalkan kamar. Tidak perduli dengan penolakan suaminya.
Ardian kembali memejamkan matanya setelah istrinya berlalu. "Ternyata begini rasanya kalau ada yang perduli. Pusing sedikit aja dielus-elus. Bagaimana kalau sakitnya lebih serius." Bergumam sendiri.
Chayra mendapati ibunya sedang berkemas. Rencananya, sore ini selesai melaksanakan shalat Ashar, mereka akan pulang.
"Ada apa, Nak?" Bu Santi sedang sibuk menata koper kecilnya.
Chayra duduk di sisi ranjang. "Kak Ardian sakit, Bu."
"Loh, sakit apanya?"
"Tubuhnya demam sampai menggigil, Bu. Tapi, dia bersikeras tidak mau dibawa ke Dokter."
Bu Santi menghela nafas berat. "Biar Abahmu yang hadapi dia nanti. Dia tidak akan berani membantah kalau Abahmu yang turun tangan."
__ADS_1
"Ayra nggak mau ngomong sama Abah. Bawaannya pingin kesel aja tu orang." Memanyunkan bibirnya.
"Tidak boleh ngomong gitu, Nak. Bagaimana pun juga, dia bersikap seperti itu karena perduli sama kamu. Dia tidak mau kamu menderita. Itulah mengapa dia berusaha bersikap tegas pada suami kamu."
Chayra hanya terdiam mendengar penjelasan Ibunya.
"Ibu mau menemui Abah kamu dulu kalau begitu. Suruh saja suami kamu bersiap. Biar saat Abah kamu datang, tidak ada yang perlu dipersiapkan lagi."
Usai mendirikan shalat Ashar. Pak Ismail langsung meluncur membawa Ardian ke Dokter kepercayaan keluarganya.
Ardian hanya bisa meringis saat omelan Pak Ismail seperti menusuk-nusuk gendang telinganya. Berulang kali menarik nafas panjang agar dia bisa tenang menghadapi semuanya.
"Kamu dengar kata Dokter tadi. Sering pusing tanpa sebab yang pasti itu bisa menjadi salah satu tanda penyakit serius."
"Iya, Abah."
"Apa kamu tidak pernah periksa ke Dokter sebelum ini?"
Ardian menggeleng. "Aku selalu menahannya kalau aku sakit. Aku sering ditinggal sendiri di rumah. Siapa yang akan membawa aku ke Dokter. Papi dan Mami kebanyakan di luar negeri."
"Kenapa seperti itu?" Pak Ismail melirik Ardian yang duduk di sebelahnya. Kembali fokus menyetir karena yang ditanya tidak berani mengangkat wajahnya. "Tatap lawan bicara, Nak. Kamu terkesan seperti pengecut kalau kamu bersikap seperti ini."
Deg..!
Ardian tersentak mendengar ucapan Pak Ismail. Mengankat wajahnya seraya menatap Pak Ismail.
"Nah, kalau seperti ini kan terlihat lebih baik." Ucap Pak Ismail lagi. "Sejak kapan orang tuamu tinggal di luar negeri?" Melanjutkan pertanyaannya.
"Sejak aku berumur delapan tahun. Mereka sudah sering bolak balik. Terkadang pulang satu atau dua bulan sekali untuk menengok keadaanku."
"Aku.. aku tinggal dengan pelayan, Abah."
Pak Ismail terkejut mendengar pengakuan Ardian. "Orang tua kamu tega membiarkan kamu hidup bersama pelayan di usia kamu yang sangat membutuhkan perhatian orang tua?"
Ardian mengangguk. Sebenarnya dia merasa risih dengan pertanyaan Pak Ismail. Namun, dia harus menjawab pertanyaannya itu, agar Pak Ismail tidak marah lagi padanya.
"Terus untuk sekolah kamu, ngaji kamu, siapa yang urus?"
"Aku hanya disekolahkan, Abah. Untuk mengaji... aku tidak pernah sama sekali. Aku ingin seperti teman-temanku yang tinggal se komplek dengan aku. Setiap sore habis shalat Ashar, mereka beriringan berangkat mengaji. Tapi, Mami selalu marah kalau aku ingin mengikuti teman-temanku."
Pak Ismail menghela nafas berat. "Jadi, kamu tumbuh menjadi bocah tengil itu semua karena orang tua kamu, iya?"
"Aku.. aku tidak bisa menyalahkan mereka untuk semua keburukan ini. Aku tumbuh menjadi seperti ini karena aku yang tidak pandai bergaul." Ardian akhirnya menceritakan semuanya pada Pak Ismail.
"Maafkan Abah yang bersikap kasar sama kamu." Pak Ismail menepuk pelan pundak Ardian seraya membuang nafas kasar.
Ardian menatap Pak Ismail heran. Baru saja Pak Ismail berkata ketus padanya. Tiba-tiba, sekarang suaranya melemah seperti orang yang bersalah setelah mendengar ceritanya.
"Kamu membutuhkan didikan agama mulai dari dasarnya. Biar Zidane ikut dengan kalian nanti. Dia yang akan Abah tugaskan menjadi guru agama kamu."
Ardian mengerjap-ngerjap tidak percaya. Menatap Pak Ismail dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Kita sudah sampai. Kamu akan tumbuh menjadi orang baik seandainya kamu di didik dengan baik." Pak Ismail kembali menepuk pundak Ardian. "Turunlah! kita sudah sampai rumah. Kalian bisa pulang sekarang karena Zidane yang akan ikut bersama kalian."
Ardian masih tidak percaya dengan semua ucapan Pak Ismail. Dia masih saja menatap Pak Ismail dengan heran.
__ADS_1
"Ayo turun. Kamu makan dulu sekarang, baru setelah itu minum obat. Nanti habis shalat Maghrib kalian bisa berangkat pulang."
"T.. terimakasih, Abah."
"Hmm.." Pak Ismail masuk duluan ke dalam rumah.
*********
Sepanjang perjalan, kepala Zidane masih dipenuhi dengan tanda tanya. Apa gerangan yang membuat Abahnya secepat ini berubah sikap.
Karena tidak tahan, dia akhirnya membangunkan Ardian yang duduk di sebelahnya. Hanya tangan kirinya yang berusaha menggapai tubuh Ardian. Sedangkan tangan kanannya dia pakai untuk mengendalikan kemudi.
"Ardian, Ardian, bangun.." Tangannya berhasil menepuk-nepuk paha Ardian. Karena tubuh Ardian condong dan bersandar di pintu mobil.
"Eh, iya ada apa, Kak?" Ardian mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
"Kamu jangan tidur biar aku tidak mengantuk. Kita sudah setengah perjalanan ini." Ucap Zidane. Namun, matanya masih fokus menyetir.
"Eh, oh, iya, maaf.." Mengucek-ngucek matanya agar tidak ngantuk lagi.
"Kamu masih pusing?"
"Mmm.. alhamdulilah, sudah lebih baik sekarang." Memijit-mijit kepalanya pelan. "Mm.. Kak Zidane mau tukar posisi?"
"Nggak usah. Aku cuma butuh teman. Aku takut jadi ngantuk kalau tidak ada teman ngobrol."
"Mm.. aku boleh bertanya?"
"Bertanya saja. Kenapa harus minta izin segala."
Ardian tersenyum meringis. "Apakah Kak Zidane mau mengajarkan aku ilmu agama?"
"Tentu saja, kenapa bertanya begitu?"
"Abah bilang mau mengutus Kak Zidane menjadi guru agamaku."
Zidane mengangguk. "Itulah mengapa aku ikut kamu sekarang. Aku juga menyimpan pertanyaan untukmu."
"Mm.. pertanyaan apa?"
"Apa yang membuat Abah tiba-tiba berubah sikap padamu? Tidak mungkin kan, Abah berubah karena kamu sakit tadi?"
Ardian tersenyum kecil. "Abah bertanya tentang kehidupan yang aku jalani sebelum ini. Abah juga bertanya kenapa aku tidak pernah ke Dokter. Jadi, mau tidak mau akhirnya aku menceritakan kisah hidupku padanya."
"Semiris apa kisah hidupmu sehingga Abah langsung berubah total?"
Ardian melirik Zidane. "Aku hanya berselimut materi. Itulah bedanya kehidupan yang aku jalani dengan anak jalanan. Aku sama seperti anak yatim piatu yang tidak memiliki orang tua. Tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang perduli, tidak ada yang menegur kalau aku berbuat salah. Itulah mengapa aku butuh guru agama sekarang. Aku ingin memperbaiki diri yang sudah terlanjur berselimut dosa ini."
"Kita akan saling membimbing ke depannya." Zidane menepuk pelan pundak Ardian.
"Terimakasih, Pak Guru."
Mereka berdua tertawa bersama. Membuat penumpang yang duduk dibelakang terbangun karena suara tawa mereka.
"Apa yang terjadi?" Chayra mengusap-usap wajahnya untuk mengusir kantuk.
__ADS_1
********