Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kakek menunjukkan kekuasaan


__ADS_3

Ardian mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras melihat apa yang membuat istrinya sampai berbaring di Rumah Sakit.


"Kamu cari tau orang itu. Tapi berhati-hatilah, jangan sampai Kakek kalian tau hal ini. Kita tidak tau apa yang bisa dilakukan Kakek jika sampai tau masalah ini." Bu Santi memijit pelipisnya. Masalah ini benar-benar menguras energi. Barusan di Toko dia marah-marah gara-gara salah satu karyawannya yang tidak bisa menjaga image Toko. Mencaci orang belanja gara-gara orang itu menego harga barang. Sampai rumah, dia kembali pusing karena terkejut putrinya yang sedang hamil tua tiba-tiba dibawa ke rumah sakit karena serangan vertigo.


"Telinga dan mata Kakek ada dimana-mana, Bu. Bian yakin, tidak akan lama lagi Kakek akan menghubungi kita. Sudah berapa kali ada masalah dan Kakek pasti akan menghubungi kita. Pura-pura tidak tahu dengan banyak bertanya yang ujung-ujungnya kita akan bicara jujur padanya tanpa dia minta secara terang-terangan."


Bu Santi menghela nafas. Dia sudah memperkirakan hal itu. Mertuanya itu masih terus mengawasi kehidupan Santi dan kedua anaknya. Rasa tanggung jawab yang begitu besar pada Santi dan kedua anaknya karena putranya begitu cepat diambil sang Pencipta.


"Coba saja kamu cari tau terlebih dahulu, Nak."


Ardian mengeratkan giginya menahan kesal. "Aku yakin kalau ini semua pasti perbuatan Amira. Tidak ada yang senekat ini selain wanita sialan itu."


"Istighfar, Nak. Allah sangat tidak suka pada hambanya yang prasangka buruk pada saudaranya."


Ardian mengusap wajahnya kasar seraya beristighfar.


"Jangan menyalahkan siapapun sebelum kamu mendapatkan bukti yang jelas siapa pelakunya."


"Kakak bisa melacak pemilik nomor telepon itu." Timpal Bian.


"Kakak sudah pasti akan melakukan itu, Bi." Ardian mengacak-acak rambutnya frustasi. Saat satu masalah sudah berhasil dia lewati, pasti akan muncul masalah baru dan hal itu pasti datang dari masa lalunya.


"Aku mau shalat Isya dulu, Bu." Ardian bergegas meninggalkan ruang perawatan istrinya. Ada perasaan bersalah yang sangat mendalam mengingat semua masalah yang tercipta berasal dari dirinya.

__ADS_1


Ardian berdiam diri di Musholla Rumah Sakit. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Ingin kembali ke ruangan tempat istrinya dirawat, tetapi rasa malu lebih besar menyelimuti perasaannya. Air mata tiba-tiba jatuh dari matanya. Tangannya masih menengadah berdo'a. "Ya Allah sehina apa hamba ini sehingga Engkau tidak henti-hentinya memberikan cobaan pada pernikahan kami ini. Apakah setidak pantas ini hamba mendampingi wanita baik itu sehingga Engkau menegur hamba lewat cobaan yang tidak ada henti-hentinya ini. Hamba tau hamba bukanlah orang baik Ya Allah.. tapi apa salah, jika hamba mengharapkan dia untuk menjadi pendamping hidup hamba selamanya. Hamba malu padanya ya Allah.. Terlalu banyak luka yang aku torehkan pada hatinya yang lembut itu. Hamba menyesal telah melukai dirinya ya Allah. Izinkan hamba memperbaiki diri agar pantas bersanding dengannya ya Allah." Ardian menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Hari ini, hidupnya seperti rollercoaster, malamnya dia bisa memeluk hangat tubuh istrinya, paginya dia bisa tertawa bersama istrinya. Tetapi, saat sore menjelang, dirinya seperti terhempas ke bagian terbawah karena istrinya ternyata harus menghadapi penyakit gara-gara foto masa lalu dirinya dengan Amira di tempat hiburan malam. Dirinya yang sedang melakukan tindakan tidak pantas bersama kekasihnya dengan disaksikan berpuluh-puluh pasang mata yang mengagumi keberaniannya mencium sang kekasih di tempat terbuka. Beberapa kali Ardian mengusap wajahnya untuk melampiaskan perasaan yang entah apa namanya.


Dia sudah merasa tidak yakin saat merasa jatuh cinta pada Chayra istrinya. Dirinya yang berlumur dosa, dirinya yang penuh dengan masa lalu yang kelam, bahkan dirinya yang menghancurkan masa depan indah yang sudah direncanakan wanita itu. Begitu kejam dirinya membuatnya malu ketika jatuh cinta pada seorang Chayra Azzahra.


Ardian kembali setelah lewat jam sepuluh malam. Sampai di depan ruangan, dirinya dikejutkan oleh kehadiran sang Kakek disana. Matanya melihat isi ruangan dari kaca kecil di pintu ruangan. Seberapa luas kekuasaan laki-laki itu sehingga kejadian yang terjadi tadi siang sudah sampai di telinganya malam ini.


Ardian ragu untuk membuka pintu, tetapi dorongan kuat dari hatinya yang memintanya untuk masuk, akhirnya membuat tangannya mendorong pintu. Dengan perasaan was-was dia mengucap salam.


"As.. assalamualaikum.." Ardian menunduk sambil menutup pintu perlahan.


"Wa'alaikumsalam.. sini duduk kamu." Pak Akmal berucap tanpa melihat orang yang diajaknya bicara. Matanya hanya fokus pada Chayra yang berbaring lemah dengan rasa iba. "Kemana saja kamu kenapa baru kembali?"


Ardian mengurungkan niatnya untuk duduk. Melirik Pak Akmal dengan takut. "Aku.. aku di Musholla, Kek."


"Alhamdulillah.." Ardian berkata lirih hampir tak terdengar. Matanya menatap ke arah istrinya disertai dengan senyuman lemah, menandakan betapa dirinya tidak bisa menjaga istrinya dari orang yang membenci hubungan mereka.


"Pelakunya sedang dalam pencarian. Orang suruhan kakek sudah menemukan orangnya, tetapi mereka belum menangkapnya."


Ardian langsung menatap fokus pada Pak Akmal. Tatapan matanya menunjukkan betapa kagum dirinya pada sang Kakek yang bisa bergerak secepat ini.


"Kamu memang tidak salah dalam hal ini, Ardian. Tapi Kakek tetap akan menyalahkan kamu. Kakek sudah peringatkan berulang kali padamu untuk bersikap tegas pada wanita itu. Pembuat onar dalam hubungan kalian itu cuma satu orang. Tetapi orang itu terlalu berani sehingga terus-terusan mengganggu kalian. Kalau memang kamu merasa tidak bisa atau tidak mampu membahagiakan cucu Kakek, silahkan kamu lepaskan dia dari ikatan suci ini."


"Kakek....!" Serentak Bu Santi, Chayra, Alesha, Zidane dan Bian berucap. Chayra bahkan langsung memejamkan matanya karena pelipisnya berdenyut keras saat berteriak tadi.

__ADS_1


"Kenapa Kakek berkata begitu..?" Zidane menggeleng-geleng pelan, tidak menyangka kalimat itu yang akan diucapkan kakeknya dalam situasi genting seperti ini.


"Istighfar, Abi.." Santi ikut menimpali.


Pak Akmal membuang nafas kasar. "Saya hanya menggertak agar dia bisa bersikap lebih tegas kedepannya. Kakek sudah muak dengan perbuatan orang dimasa lalunya yang masih menganggapnya berharga." Pak Akmal melengos, persis seperti anak yang kesal karena tidak didengarkan ucapannya.


"M.. maafkan Ardian, Kek. Maafkan Ardian yang belum bisa membahagiakan Chay sampai sekarang. Terlalu banyak luka yang Ardian buat untuk cucu Kakek. Tapi, Ardian mohon sama Kakek. Jangan meminta Ardian untuk melepaskannya, Kek. Sungguh Ardian sangat mencintainya."


"Buktikan kalau kamu mencintainya. Kakek tidak akan percaya dengan hanya mendengarkan ucapan kamu. Lidah manusia itu bercabang, Ardian. Apalagi lidah manusia seperti kamu."


Zidane hanya bisa membuang nafas kasar mendengar semua ucapan kakeknya. Orang tua yang satu ini sering tidak lihat kondisi jika sudah marah.


"Izinkan Ardian menyelesaikan masalah ini, Kek."


Pak Akmal fokus menatap layar ipad di tangannya. "Baik.. tapi karena Kakek sudah menangkap pelakunya untukmu. Kamu tinggal mencari cara, bagaimana agar wanita itu jera dan tidak berulah lagi kedepannya. Kakek tidak ada toleransi lagi kalau kedepannya dia berulah."


"Insya Allah, Ardian akan lakukan itu demi Chay, Kek." Sebenarnya Ardian terkejut. Baru beberapa menit yang lalu Pak Akmal mengatakan kalau orang yang dimaksud masih dalam pencarian. Tiba-tiba sekarang dia mengatakan kalau sudah menangkap pelakunya. Apa dari tadi Pak Akmal menatap layar iPad di tangannya karena memantau informasi dari orang suruhannya. Berbagai pertanyaan melintas di kepala Ardian.


"Huh, pakai memanggil nama cucuku dengan sebutan yang berbeda lagi. Seharusnya kamu bisa melindungi cucu Kakek jika kamu sudah punya panggilan khusus untuknya. Kamu kayak laki-laki cengeng, baru digertak sudah keluar air mata."


Lamunan Ardian langsung buyar, semakin dalam menunduk. Ini mata juga kenapa tidak bisa diajak kompromi. Dia mengusap air matanya yang tidak ia sadari kapan keluarnya. Memang omongan Kakek yang terlalu tajam sampai ngena ke hati. Jantungnya langsung berpacu kencang saat Kakek memintanya untuk melepas Chayra. Ardian menarik nafas panjang untuk mengurangi tekanan perasaan yang campur aduk.


Perempuan itu ada di sebuah rumah di jalan Xx blok Z. Ada tiga orang yang menjaga rumah itu. Ada satu lagi wanita di dalam rumah itu. Tapi, dia adalah penghuni rumah itu. Kakek membayarnya agar rumah itu selalu terjaga kebersihan dan keasriannya. Tiga pria disana berotot kawat, tapi kamu jangan khawatir mereka semua dibawah kendali Kakek. Kamu tinggal bilang kalau kamu disuruh Kakek menemui wanita di dalam rumah. Kakek tidak melakukan kekerasan pada wanita itu. Dia hanya terkunci di dalam kamar tanpa diikat sama sekali. Kakek ini orang baik itu yang perlu kamu tau. Bukan seperti kamu yang menyekap cucu Kakek dulu dengan meninggalkan banyak luka memar. Bahkan satu luka yang kamu renggut dan tidak bisa kamu kembalikan," Pak Akmal menatap tajam ke arah Ardian. Yang ditatap tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun. "Kamu sudah merenggut kehormatannya."

__ADS_1


Ardian hanya bisa menelan ludahnya yang terasa sulit ditelan karena terasa tercekat di tenggorokan. Ucapan Pak Akmal seolah-olah membuka kesalahan dimasa lalu yang sepertinya sudah dimaafkan tapi tidak akan bisa dilupakan.


__ADS_2