
Chayra POV...
Aku tersenyum melepas kepergian Ardian. Entah kenapa, hatiku terasa tenang saat bertatapan dengannya. Laki-laki itu, laki-laki yang telah merenggut kehormatanku, laki-laki yang sangat membenciku di awal-awal pertemuan kami. Bukan hanya dia saja yang membenciku, tetapi aku juga risih saat bertemu dengannya. Tapi, saat ini hati dan perasaan kami seperti saling melengkapi dan saling membutuhkan. Kami saling merindukan saat saling berjauhan. Ini adalah takdir cinta dari Allah untukku dan untuknya. Rasa benci yang dulu ada adalah cara Allah memperkenalkan kami satu sama lain.
Aku masuk setelah mobil Mas Ardian hilang dari pandangan. Aku ada niat untuk menjenguk Alesha yang melahirkan satu minggu yang lalu. Ya Allah... kenapa sampai lupa minta izin tadi. Aku mengusap wajahku dengan kasar. Pasti ada saja yang terlupakan.
Saat aku melintas di ruang tamu, aku melihat Bi Idah sedang mengepel. "Bi, Adzra mana?"
"Eh, anu tadi.. Tuan kecilnya tidur, jadi Bibi tidurkan di kamarnya."
Hahahah... aku tertawa renyah mendengar ucapan Bi Idah. Kok kedengarannya lucu menyebut anakku dengan Tuan kecil. Aku melanjutkan langkahku untuk ke lantai atas.
Aku duduk di sisi tempat tidur sambil mengedarkan pandangan. Hal yang biasa aku lakukan kalau suamiku sudah berangkat kerja. Hah, benar-benar terasa sepi. Aku baru sadar, kalau tidak ada Mas Ardian di rumah, maka rumah ini akan terasa sepi, karena yang selalu membuat keramaian adalah pria itu.
Aku meraih handphone milikku yang aku letakkan di atas kasur saat mengantar Mas Ardian tadi. Aku mengetik pesan untuk menanyakan posisinya.
Sudah sampai mana, Mas? Pesan terkirim dan langsung terbaca. Aku menunggu jawaban sambil memperhatikan wajah tampan pria itu di layar handphoneku.
Masih dalam perjalanan menuju Kantor. Udah kangen ya, makanya mengirimkan pesan? Emot malu-malu ia kirim untuk melengkapi pesannya.
Huh, dasar... senangnya menggoda istri. Aku cuma mau minta izin untuk ke rumah Kak Zidane, Mas. Barusan pas berangkat aku lupa makanya minta izin sekarang.
Tidak mau diintrogasi ya, makanya minta izin pas aku udah berangkat.
Aku memutar bola mataku. Bukan begitu, aku memang lupa saja.
Bercanda, Sayang. Pergi saja, tapi kamu harus sudah di rumah saat aku pulang kerja nanti. Aku tidak mau di sambut Bi Idah.
Aku langsung tersenyum membaca pesannya. Terimakasih suamiku... emot tersenyum lebar diiringi dengan emot cium aku kirim banyak-banyak.
Mas Ardian kembali menjawab pesanku. Coba nanti kalau aku pulang kerja itu dipraktekkan ya.. Soalnya hal yang seperti itu harus dipraktekkan agar suaminya tetap segar bugar.
Aku hanya tertawa melihat pesan itu. Eh, astagfirullah.. aku kenapa asyik berkirim pesan, sampai lupa kalau suami aku sedang membawa kendaraan. Aku letakkan kembali handphone itu. Pesan ini harus diakhiri agar suamiku tidak terganggu konsentrasinya. Kebetulan juga, terdengar suara tangis Adzra dari kamar sebelah. Aku segera bangkit untuk memastikan. Sejak bisa merangkak, aku tidak berani terlalu lalai dalam menjaganya.
************
Malam harinya, Ardian pulang dengan wajah kusut. Terpampang jelas kalau dia memang kecapekan.
__ADS_1
"Kamu pulangnya jam berapa dari rumah Kak Zidane?" Ardian bertanya saat istrinya sedang mempersiapkan makan malam.
"Aku pulang habis shalat Ashar, Mas. Aku segera pulang soalnya khawatir kalau kamu pulang cepat. Eh, tau-taunya malah pulang sampai jam sembilan malam."
Ardian menghela nafas dalam. "Pak Randi kecelakaan, Chay. Aku yang ditunjuk untuk menggantikan posisinya sementara waktu."
"Astagfirullahal'adzim, kecelakaan dimana, Mas?"
"Di jalan Xx.. mobilnya ditabrak dari belakang. Dia itu orangnya sangat berhati-hati dalam membawa kendaraan."
"Terus bagaimana keadaannya?"
"Dia mengalami patah tulang lengan. Besok akan di lakukan operasi. Mudah-mudahan beliau cepat pulih. Tanggung jawab pekerjaannya itu lo... aku pasti kewalahan menghadapi situasi ini."
"Kenapa kamu tidak menolak kalau memang tidak mampu?"
"Aku nggak enak. Sebenarnya, aku hanya diminta untuk menggantikan Pak Randi untuk menghadiri rapat dengan beberapa investor yang sudah tidak bisa diundur atau dibatalkan. Tapi, itupun harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Do'aksn saja semoga aku bisa, Chay. Belum menjalani saja aku sudah pusing kayak gini." Ardian memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Jalani saja, Mas. Nanti juga pasti terbiasa. Kamu juga kan sudah sering ikut rapat dengan Pak Randi pas jadi Asistennya dulu"
"Makanya dijalani saja, Mas. Nanti akan terasa indah pada waktunya."
Ardian menarik nafas panjang lalu menyuapkan suapan terakhir ke mulutnya. "Tapi, ada baiknya juga, karena aku tidak akan terlalu sering berinteraksi dengan Anita."
"Terus pekerjaan kamu siapa yang handle, Mas?"
"Aku juga, Sayang. Itu makanya, pekerjaan aku jadi menumpuk sekarang. Kayaknya aku bakalan pulang malam terus deh. Kamu juga harus selalu kasih aku servis yang baik setiap hari biar aku nggak gampang emosian."
Chayra melotot menatap suaminya. "Kamu yang dapat tugas double kok aku juga yang kena imbasnya."
"Kalau tidak di servis dengan baik nanti olinya naik ke otak. Kamu tau kan, itu adalah hal yang sangat berbahaya."
Chayra melengos seraya meneguk segelas air putih di depannya. "Itu mah, harus aku yang minum vitamin setiap hari biar bertambah stamina untuk memberi Mas Ardian servis yang baik. Bukan hanya barang yang diservis yang harus bertambah baik, tetapi tukang servisnya juga harus diberi vitamin yang cukup."
"Hahahaha..." Ardian tertawa lepas mendengar ucapan istrinya. Menjahili istrinya saat lelah seperti ini bisa menjadi obat lelah setelah bekerja seharian. "Kamu mau vitamin apa, Sayang. Mm... mau vitamin Jalan-jalan ke Mall. Mm... mau vitamin jalan-jalan ke pantai atau vitamin kemping di depan rumah."
Chayra kembali melengos. "Jangan sombong menawarkan vitamin jalan-jalan ke Mall atau ke pantai, Mas. Itu aja kemping di depan rumah kalau bisa terwujud. Apalagi kan kerjaan kamu double sekarang. Boro-boro bisa di ajak ke pantai yang menghabiskan waktu seharian. Untuk menggendong Adzra sebentar saja kamu nggak ada waktu."
__ADS_1
"Eheheh..." Ardian mengusap-usap tengkuknya. "Insya Allah, kalau Pak Randi sudah sembuh nanti, aku akan mengajukan cuti satu atau dua hari agar kita bisa menghabiskan waktu bersama."
"Perlu itu, Mas. Jangan terlalu fokus kerja. Umur kamu belum aja tiga puluh tahun udah terlihat kerutan di ujung mata." Chayra mengusap ujung mata Ardian yang memang terlihat ada kerutan.
"Sebentar lagi mau tiga puluh kok. Tinggal beberapa bulan saja."
"Tetap saja itu namanya penuaan dini. Makanya jadi orang itu sering-sering beramah tamah biar tidak cepat tua. Rajin-rajin menebar senyum biar dapat pahala. Kalau tidak bisa sedekah dengan harta, setidaknya bisa sedekah dengan senyuman atau do'a."
"Kalau di Kantor aku malas senyum, Chay." Ardian mencomot sepotong puding yang disiapkan istrinya. Menikmati rasa asin manis yang terasa segar di mulutnya.
"Kenapa malas.. justru di Kantor kamu harus rajin senyum biar Karyawan yang lain tidak ilfil saat bertemu kamu."
"Kalau sama karyawan sih, aku selalu beramah tamah. Cuman, aku nggak tau kenapa jadi malas senyum kalau sudah berhadapan dengan Asisten aku. Nggak tau aja, kenapa bawaannya pingin kesel aja kalau ngomong sama dia. Mungkin gaya bicaranya yang sok manja," Ardian bergidik ngeri membayangkan lenggak-lenggok gaya berjalan dan gaya bicara Anita saat jam makan siang tiba. "Udah ah, malas aku bahas Asisten. Lebih baik kita masuk sekarang. Berikan aku servis yang baik biar mood selalu baik."
"Adzra belum mimik, Mas. Mau nanti diganggu saat servis sedang berlangsung?"
"Ya udah, kamu isikan Adzra bensin dulu biar dia off sampai kita selesai nanti. Bekas makan biar aku yang bereskan sendiri nanti."
"Beneran nih?!" Chayra melirik suaminya.
"Iya, Sayang.. kamu kan capek seharian urus Adzra. Sekarang harus kerja lagi ngurus aku."
"Mmm.... terimakasih kalau begitu." Chayra berlalu meninggalkan suaminya.
Ardian tersenyum menatap kepergian istrinya. Setelah pudingnya habis, ia bangkit untuk menaruh piring kotor ke wastafel. Tetapi....
"Astagfirullah, Bi..." Ardian terkejut saat mendapati Bi Idah duduk di depan kulkas. "Bibi sejak kapan disini?"
"Mmm... anu Tuan, Bibi mau mengambil minum tadi, tapi... ikut hanyut mendengar percakapan Tuan dengan Nona..."
"What...?!" Ardian melototkan matanya seraya menelan ludahnya. "Bibi menguping pembicaraan aku dengan Chay?"
"Ehehehe.... i.. iya... Tuan.."
Ardian berusaha menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. "Bibi...."
Hayo... Ardian ketahuan minta servis sama Bi Idah. Makanya lain kali kalau ngomong begituan, intip dulu ke dapur apa ada yang nguping atau tidak. Wkwkwk....
__ADS_1