Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Sentuhan pertama


__ADS_3

Ardian tersenyum lembut saat Chayra mencium tangannya. Ini adalah shalat subuh berjamaah pertama mereka. Ardian berusaha menghafal ayat-ayat pendek agar bisa menjadi imam untuk wanitanya itu.


Chayra membalas senyuman suaminya. Ada perasaan aneh mendesir dalam tubuhnya saat dia mencium tangan pria itu. Walaupun bacaan Ardian tidak merdu. Tapi setidaknya bacaan Al-Qur'an pria itu sudah memenuhi standar untuk menjadi imam.


"Terimakasih sudah sabar membimbingku sampai sejauh ini."


"Jangan katakan itu lagi. Beberapa hari terakhir ini, aku selalu mendengar Kak Ardian mengucapkan itu."


"Kan kamu sendiri yang mengajarkan padaku untuk selalu mengucapkan terimakasih."


"Iya sih. Tapi ini terimakasihnya kebanyakan.


Sudah kehabisan tempat penerimaan."


Ardian tersenyum kecil. "Seindah ini ternyata rasanya mencintai seseorang karena Allah."


Chayra menautkan alisnya. "Maksudnya?"


"Eh, iya.. aku kan mencintaimu karena Allah."


"Terus sebelumnya, wanita-wanita yang pernah bersama Kakak. Kakak mencintai mereka karena apa?"


"Wanita-wanita mana maksud kamu? Yang pernah resmi menjadi pacar aku itu cuma Amira teman kamu. Yang lainnya itu cuma..."


"Apa...?" Chayra melototkan matanya.


"Hehehe..." Ardian menggaruk-garuk tengkuknya. "Iya... cuma sebagai pelampiasan saja." Melirik-lirik takut pada Chayra.


"Huh," Chayra mendengus. "Terus Amira Kakak cintai karena apa?"


Ardian terdiam sejenak. Mencoba memikirkan alasan yang akan bisa diterima Chayra. Entah kenapa, pada gadis itu lidah Ardian seperti tercekat jika akan berbohong.


"Nggak tau.. hehehe.."


"Apa tujuan Kakak saat memintanya menjadi pacar Kakak dulu?"


"Mmmm...." Ardian kembali berpikir. "Dia itu orangnya sangat agresif. Iya, itu satu hal yang menarik perhatianku."


"Terus..."


"Dia kebanyakan nempel di akunya. Awalnya sih tidak ada niat aku untuk menidurinya. Tapi, aku terlalu bejat waktu itu. Aku merasa akan sia-sia memacari wanita yang tidak bisa aku tiduri."


Chayra tersenyum sinis. "Dasar predator s***."


"Ih, jahat amat deh bilang gue predator s***."


"Terus sebutan yang cocok untuk Kakak apa?"


"Aku kan sudah tobat, Sayang. Aku benar-benar ingin berubah sekarang. Aku harus bisa menjadi penerus keluarga yang baik."


"Jangan panggil sayang, ah. Kok aku eneg dengernya."


"Kok eneg? Semua wanita itu suka dipanggil sayang."


"Aku eneg karena pasti banyak wanita yang sudah Kakak panggil dengan sebutan itu. Wanita yang kemarin kita temui saja manggil Kakak dengan sayang. Hiiii..."Chayra bergidik ngeri.


"Hahahaha..." Ardian tertawa melihat tingkah Chayra. Beringsut mendekati Chayra. "Pasti akan terlihat semakin menggemaskan kalau kamu membuka ini." Melepas cadar Chayra dan langsung memasukkan benda itu ke dalam bajunya.

__ADS_1


"Jangan dibuka, aku malu." Chayra menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tangannya mencoba mengambil cadarnya yang di sembunyikan Ardian.


"Malu kenapa? Aku suami kamu, kan? Apa seorang istri wajib menutup auratnya di depan suami atau sebaliknya?"


"Aku belum terbiasa."


"Aku sudah memintamu untuk tidak memakai cadar saat kita sedang berdua. Kenapa kamu masih saja menutupi wajahmu di hadapanku."


Chayra menunduk. "Maaf..." ucapnya lirih hampir tak terdengar.


Ardian mengangkat dagu istrinya perlahan. Lama bibirnya tersenyum menatap bibir ranum wanita itu.


Chayra mulai salah tingkah. Matanya berusaha ia alihkan, menatap ke sembarang arah agar tidak bertatapan dengan suaminya.


Ardian mengusap-usap bibir Chayra dengan jari telunjuknya. Ingin rasanya dia mencium bibir itu. Namun, dia merasa belum pantas melakukan itu. Wanita itu terlalu istimewa kalau hanya disentuh tanpa adanya persiapan.


"Mmm.. aku ingin ini.." ucapnya tiba-tiba. Jari telunjuknya masih terus mengusap-usap bibir istrinya.


"Lakukan saja kalau Kakak mau. Aku tidak bisa menolak sekarang karena itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri."


"Astagfirullah, maafkan aku." Ardian melepaskan dagu istrinya. "Aku.. aku akan melakukan itu, jika aku sudah benar-benar pantas menjadi suamimu."


"Allah yang memantaskan kita, Kak. Jika Allah sudah mengatakan pantas. Maka ucapan manusia tidak akan berguna."


Ardian tertegun beberapa saat. "Apa.. apa aku boleh mencium kamu?"


Giliran Chayra yang tertegun. Padahal dia yang seolah-olah mengizinkan Ardian untuk melakukan apapun tadi. Tapi, setelah pria itu minta izin, kenapa malah berat untuk mengiyakan permintaannya.


"Kenapa kamu diam? Kalau kamu memang belum bisa, aku akan menunggu sampai kamu siap."


Chayra memberanikan diri menatap Ardian. "B.. bukan begitu. Tapi, aku hanya masih ragu. Aku takut trauma itu datang lagi jika Kakak menyentuhku."


Chayra tidak merespon. Dia hanya duduk termenung seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.


"Jangan paksakan diri kalau kamu belum siap." Kembali Ardian menegaskan.


Chayra menatap suaminya. "Lakukanlah, jika Kakak benar-benar menginginkannya."


Ardian tersenyum sumringah. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia akan melakukan ciuman halal. Tiba-tiba saja rasa canggung tercipta diantara mereka. Ardian pun bingung mau mulai darimana.


Perlahan, dia mengangkat dagu istrinya seperti yang dilakukannya tadi. Namun, dia melepasnya lagi. Tangannya berpindah membuka mukenah Chayra. Bibirnya kembali mengulas senyum saat melihat rambut panjang istrinya yang terikat asal.


Chayra hanya diam memejamkan matanya, membiarkan apapun yang dilakukan suaminya.


"Kamu cantik." Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Ardian.


Chayra tersipu. Sepersekian detik mereka bertatapan sampai Ardian benar-benar melakukannya. Ciuman halal pertamanya mendarat mulus di bibir istrinya.


Chayra langsung menunduk setelah suaminya selesai. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Dia benar-benar malu. Mukanya langsung merona merah. Ardian sangat menikmati pemandangan itu. Menyaksikan wanita cantik yang sedang tersipu malu di depannya.


********


"Hei, Bro. Senyum-senyum aja dari tadi." Kate menepuk pundak Ardian saat menemui pria itu. Di kelas tadi mereka tidak bicara karena Kate terlambat datang.


"Itu tandanya gue lagi bahagia. Sirik banget deh jadi orang."


"Lho sih, kalau bahagia bagi-bagi dong. Bahagia kok sendirian aja."

__ADS_1


"Masa gue bahagia bersama istri gue harus bagi-bagi. Nggak ah.."


"Bro, gue mau tanya sesuatu sama lho." Tampang Kate terlihat serius.


"Apa..?"


"Lho apakan si Audy. Tempo hari dia ngamuk di Klub. Dia sampai menanyakan alamat rumah lho sama gue."


"Terus lho kasih tau dia."


"Iya enggaklah. Kalau gue kasih tau. Sudah pasti dia akan datang dan buat onar di rumah lho. Lho jawab jujur, lho apakan anak orang?"


"Gue nggak apa-apain dia. Gue cuma mencuri handphonenya."


"Untuk apa? Nggak ada darah pencuri kan yang ngalir dalam tubuh lho?"


Plak!


Ardian menempeleng kepala Kate.


"Otak lho lagi konslet atau apa? Bisa-bisanya lho berpikir seperti itu."


"Kan lho yang bilang mencuri handphone si Audy tadi."


"Gue ada perlu sama handphone itu, makanya gue curi."


"Cerita sama gue. Bisa-bisanya lho menyembunyikan masalah besar sama gue."


"Si Audy ngancam gue kemarin. Gara-gara gue tidak mau lagi menemuinya."


"Terus..."


"Dia bilang akan menyebarkan video gue yang lagi main sama dia. Kan dia itu orangnya suka iseng dulu, suka merekam aksi kita. Eh, tau-taunya dia malah mengancam gue pakai itu sekarang. Sebenarnya gue tidak takut dengan ancamannya. Tapi, gue memikirkan nama baik orang tua gue."


"Waaahhh.. hebat lho sekarang. Memikirkan nama baik orang tua segala."


"Gue kan udah bilang, kalau gue beneran mau tobat. Gue akan mengembalikan handphone itu kalau gue sudah berhasil menghapus semua barang bukti di handphone itu."


Kate manggut-manggut. "Bini lho mana?"


"Masih di kelas. Yang mengajar dia hari ini si mantan. Sudah pasti akan telat keluarnya kalau dia yang menyampaikan materi."


"Si Ustadz kayaknya gagal move on."


"Jangan dibahas bawaannya pingin kesel aja kalau ada yang nyebut tu Dosen cocok dengan bini gue."


"Baru tau rasanya jatuh cinta yang sebenarnya lho. Untung aja istri lho bisa cuek. Kalau dia merespon tu Ustadz, mampus deh lho."


Plak!


Ardian kembali menempeleng kepala Kate.


"Eh, bini lho datang tu.."


"Mana..?" Ardian berbalik untuk mencari tau. Saat dia berbalik, Kate sudah tidak ada di tempat.


"Set... Astagfirullahal'adzim..." Ardian mengucap wajahnya kasar. "Woi, penipu kemana lho...?!"

__ADS_1


********


__ADS_2