Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Semangkuk bubur


__ADS_3

"Kamu makan ya.. kasihan aku melihat bubur itu diaduk-aduk. Udah lembek semakin lembek."


"Bubur kan memang lembek, Kak."


"Iya makanya. Sini, aku suapin ke mulut kamu."


Chayra menggeleng seraya menutup mulutnya. "Nggak enak, rasnya hambar."


"Eh, nggak boleh ngomong gitu, Sayang." Ardian diam berbalik menatap sekitar. Takut kalau ucapan istrinya didengar oleh orang lain atau membuat tukang bubur ayam di belakangnya tersinggung.


Benar saja, cewek hitam manis pedagang bubur langsung tersenyum pada Ardian


"Maaf, Kak. Sini tak tambahin gula atau garamnya kalau memang tidak ada rasa."


"Eh, nggak usah, Dek. Istri saya memang lagi hamil. Buburnya enak kok. Cuman, mulut orang hamil kan terkadang aneh-aneh."


Chayra menepis lengan suaminya. "Kenapa ngomong gitu sih?"


"Daripada adiknya tersinggung. Kan kasihan, Chay." Bisik Ardian. "Sini, biar aku suapin. Siapa tau kalau sudah pindah ke tangan aku, rasanya akan kembali enak."


"Emangnya bisa kayak gitu?!"


"Bisa..." Ardian mengusap-usap kepala istrinya. Memperhatikan wajah wanita itu dalam diam. Wanita yang telah berhasil meluluhkan hati batu miliknya menjadi hati selembut kapas.


"Mm... Chay.."


Chayra melirik suaminya. "Apa..?"


"Lihat aku, Sayang. Kenapa kamu seperti menghindari tatapanku. Apa kamu masih marah karena aki tidak bisa menemani kamu tadi."


"Tidak, Kak. Aku cuma senang menatap orang yang lalu-lalang di hadapan kita ini."


"Apa menatap mereka lebih menyenangkan daripada menatap suami kamu sendiri?"


Chayra menyebikkan bibirnya. "Aku lihat Kak Ardian setiap hari. Ya... bagaimana ya. Aku tetap senang melihat Kakak walaupun terkadang tingkah Kakak membuat aku jengkel."


"Apa sekarang kamu juga sedang jengkel padaku?"


"Sedikit, karena kesalahan tadi."


"Mmm... apa aku boleh bertanya?"


"Menanyakan apa?"


"Mm.. tadi pas aku mencari kamu ke Klinik, ada seorang Ibu yang cerita padaku kalau kamu nangis saat keluar dari ruang periksa. Apa semuanya......" Ardian menghentikan ucapannya saat jari telunjuk Chayra menempel di bibirnya.


"Sssstttt... Kakak terlalu mudah percaya ucapan orang lain. Aku nggak pernah nangis. Aku cuma cemberut tadi karena Kakak nggak kunjung menampakkan diri."

__ADS_1


Ardian menarik nafas lega. Ternyata ucapan orang tadi hanya menambah kepanikannya.


Flashback on..


Ardian Pov...


Aku benar-benar panik saat tidak menemukan Chay di Klinik. Perasaanku semakin campur aduk saat aku bertanya dan mendapatkan jawaban yang membuatku semakin merasa menjadi suami yang tidak berguna.


Aku berulang kali memukul setir kemudi ku. Dalam hatiku, aku menyalahkan diriku yang terlalu meladeni keinginan Papi dan Mami. Mami seperti sengaja membuang-buang waktuku agar aku tidak cepat pulang. Sikap mereka juga sedikit berbeda setelah aku terlihat lebih mementingkan istriku daripada pekerjaan.


Hatiku semakin resah saat Chay tidak menjawab panggilan dariku. Setelah lima kali mencoba tetapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya aku mencoba menghubungi nomor handphone mertuaku. Ibu juga tidak menjawab panggilanku. Aku akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang. Harus bisa berpikir positif. Selama ini Ibu tidak pernah mengabaikan panggilanku semarah apapun dia padaku. Dia itu adalah Ibu yang paling baik yang pernah aku temui.


Aku mengirim beberapa pesan pada keduanya. Insya Allah, jika Chay memang marah padaku, maka pasti Ibu yang akan membalas pesanku.


Lama menunggu tidak ada jawaban, aku akhirnya memilih untuk menghubungi Bian. Walaupun sebenarnya aku malas. Anak itu sering mengajak bercanda disaat yang tidak tepat. Akan tetapi, terkadang juga keberadaannya di sekitarku cukup berguna.


Anak itu menjawab panggilan dariku pada panggilan kedua. Suara khasnya langsung terdengar di telingaku.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokaatuh.."


"Wa'alaikumsalam, Bi. Apa kalian sudah pulang?"


"Eh, ni orang belum jawab salam dengan sempurna main nyosor aja bertanya."


Huh, aku langsung mendelik kesal. Ni anak benar-benar deh. "Aku sedang nggak mood bercanda. Aku serius bertanya. Aku masih di Klinik nih, mencari keberadaan kalian."


Bian langsung mengeluarkan fatwa panjang. Telingaku sampai berdenging mendengar ocehannya. Aku berulang kali menarik nafas panjang.


Maaf, Nak. Ibu dan istri kamu baru selesai shalat Maghrib. Pulang saja, nanti di rumah kamu bicara baik-baik sama istri kamu. Ibu akan membujuknya agar dia tidak marah sama kamu. Dia cemberut terus dari tadi. Benar-benar mengharapkan kehadiran kamu kayaknya.


Aku menghela nafas berat membaca pesan itu. Aku lanjutkan baca pesan kedua.


Istrimu tidak mau pulang. Dia mau ke Alun-alun kota. Aku sudah membujuknya untuk memaafkan kamu. Kamu saja yang menjemputnya nanti. Katanya, dia sudah berangan-angan akan makan bakso bersama kamu jika kamu datang tadi. Coba kamu menanyakannya itu nanti. Siapa tau dia masih menginginkannya. Ibu akan pulang dengan Bian duluan.


Alhamdulillah, gumamku pelan. Aku langsung meluncur ke tempat yang dimaksud mertuaku.


Aku berjalan mendekati Chay saat melihat Bian berdiri di belakangnya. Bian yang sudah menyadari keberadaanku mengisyaratkan padaku agar aku lebih mendekat. Dia terlihat mengatakan sesuatu pada Chay lalu berlalu begitu saja.


Melihat istriku duduk sendirian sambil mengaduk-aduk semangkuk bubur dengan tatapan kosong membuatku merasa kasihan padanya. Akhirnya aku mendekat dan menyapanya. Melihat senyumannya membuat rasa resahku yang sedari tadi sirna seketika.


Flashback off..


Tanpa sadar, Chayra menghabiskan semangkuk bubur yang tadi hambar katanya.


"Tuh kan, buburnya habis. Tadi terasa hambar karena hatimu yang sedang hambar." Ardian mengelap bibir istrinya yang sedikit belepotan. Menatapnya tanpa berkedip.


"Terimakasih, jangan menatapku seperti itu. Ini tempat umum. Tatapan itu hanya boleh Kakak keluarkan ketika kita sedang berdua di kamar." Menurunkan tangan suaminya dan segera memperbaiki cadarnya.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ardian terpaksa menurunkan tangannya.


Lama mereka diam dalam pikiran masing-masing. Ardian beberapa kali menatap istrinya yang terlihat bengong menatap lalu-lalang orang-orang yang semakin ramai.


"Mm... Chay.."


"Iya.."


"Bagaimana keadaan anak kita. Kamu belum memberitahuku hasil pemeriksaan hari ini."


"Alhamdulillah baik semua, Kak. Tapi, berat badannya masih kurang dari yang seharusnya. Aku di suruh menambah lagi porsi makan oleh Bu Dokter. Aku bilang, kalau aku bahkan sangat lahap kalau makan. Bu Dokter malah bilang, mungkin aku terlalu banyak pikiran. Disuruh hindari stres dan selalu jaga suasana hati agar selalu bahagia."


Ardian menghela nafas berat. "Maafkan aku, Sayang. Mungkin ini semua terjadi karena aku yang terlalu sibuk dan kurang perhatian sama kamu akhir-akhir ini."


"Jangan saling menyalahkan. Kita harus introspeksi diri sendiri. Ini demi kebaikan kita kedepannya."


"Iya, Sayang. Maafkan aku." Ardian menarik istrinya ke dalam pelukannya. Tiba-tiba Ardian mengingat pesan yang dikirim mertuanya tadi, kalau istrinya ingin makan bakso. Sebenarnya perutnya sedikit kenyang. Untung saja dia menekan porsi makannya saat makan malam bersama orang tuanya tadi.


"Mm.. Chay aku lapar."


Chayra langsung menarik diri. "Loh, bukannya Kakak sudah makan malam bersama Papi dan Mami?"


"I.. iya sih, tapi aku nggak selera makan tadi. Pikiranku ngambang kemana-mana. Mikirin kamu lah yang masih menunggu aku. Sedikit jengkel juga karena Mami sengaja mengulur-ulur waktu biar aku nggak pulang cepet."


"Mungkin Mami ingin Kakak pulang ke rumah, makanya dia bersikap seperti itu. Namannya juga seorang Ibu, Kak. Dimana-mana pasti ingin lama-lama sama anaknya. Apalagi seperti Kak Ardian yang anak semata wayang. Kenapa nggak nginap di rumah barang satu atau dua malam. Kan kasihan Mami sama Papi. Kata Ibu, Mami dan Papi mau ke Amerika lagi."


"Iya. Tapi aku merasa nggak enak kalau harus menginjakkan kaki lagi di rumah itu. Aku merasa diriku seperti orang asing yang tidak pantas masuk ke rumah itu lagi."


Chayra membuang nafas kasar. "Sudahlah, kita nggak usah mengingat-ingat masa sulit itu lagi. Aku mau makan saja sekarang. Kakak mau makan apa?"


"Mm..." Ardian pura-pura berpikir. "Makan bakso kayaknya enak, Sayang. Apalagi ini gerimis, dingin-dingin kayak gini kan, enaknya makan yang hangat-hangat."


Mata Chayra berbinar senang. "Kok sama, Kak. Aku juga dari tadi siang berangan-angan ingin makan bakso. Tadi juga berniat mau pergi sendiri kalau Kakak nggak mau makan."


"Maafkan aku. Ayo, kita pergi sekarang."


"Tunggu Ibu dan Bian dulu. Ibu ke toilet tadi. Kalau Bian, eh, dia menunggu di dalam mobil." Menunjuk ke arah parkiran.


"Nggak usah ditunggu. Mereka sudah nggak disini lagi."


"Maksud Kakak?" Chayra menautkan alisnya heran.


"Ibu dan Bian sudah pulang, Chay."


"Kok bisa kayak gitu?"


"Aku yang menyuruh mereka pulang. Kalau mereka masih disini, aku tidak bisa dong berduaan dengan kamu."

__ADS_1


"Huh, banyak tingkah. Pantas saja mereka belum juga kembali dari tadi."


Ardian hanya tersenyum meringis. Dia hanya bersyukur istrinya tidak ngambek.


__ADS_2