
Chayra terdiam setelah mereka sampai di tempat tujuan. Hanya matanya yang tidak henti-hentinya menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya. Setiap kali bertanya, Ardian hanya menanggapi dengan senyuman.
"Mas, ini.. ini kita sudah sampai atau bagaimana?"
Ardian menatap istrinya lalu tersenyum. Ini adalah hal yang dia lakukan untuk yang kesekian kalinya. Hanya memberikan jawaban dengan senyuman.
"Mas ... ngomong dong. Dari tadi kalau aku nanya kamu senyum terus. Bilang apa kek, biar aku nggak kebingungan kayak gini." Chayra melengos seraya mengalihkan pandangannya. "Jadi makan hati deh kalau kayak gini."
"Jangan ngambek, Chay. Kamu lagi hamil loh, nggak baik kalau ngambek saat hamil."
"Kamunya menyebalkan, Mas. Siapa coba yang nggak kesel." Chayra hanya melirik kesal suaminya.
"Ayo turun dulu. Kita sudah sampai."
"Nggak mau. Aku mau diam disini. Kamu menyebalkan dari tadi." Chayra malah membalik posisinya membelakangi Ardian.
Ardian melongo menatap istrinya. Dia hampir lupa kalau istrinya sedang hamil. Menghadapi wanita hamil pasti membutuhkan kesabaran yang ekstra. Apalagi istrinya memang lebih sensitif dari kemarin. Dengan menarik nafas dalam, ia memberanikan diri menyentuh pundak Chayra. "Sayang ..."
"Nggak usah panggil-panggil sayang, Mas. Bilang sayang kalau ada maunya saja"
"Eh, kapan aku kayak gitu?"
Tidak ada jawaban. Hanya tangan Chayra yang bergerak menurunkan tangan Ardian dari pundaknya.
"Ayo kita masuk."
"Aku nggak mau, Mas. Aku cuma mau pulang."
Ardian kembali menarik nafas dalam. Ia harus menambah stok kesabarannya agar tidak habis. "Sayang, aku sudah mempersiapkan tempat ini dari beberapa hari yang lalu."
"Aku nggak minta, Mas. Kami kan cuma mau ngajak aku makan malam, ngapain harus dipersiapkan sampai membutuhkan waktu beberapa hari?!" Chayra berucap sinis.
"Ya Allah, Astagfirullahal'adzim ..." Ardian mengusap wajahnya kasar. "Acara ini sangat berarti untukku, Chay. Malam ini aku ..." Ardian kembali mengusap wajahnya.
Chayra melirik suaminya, Ardian sedang menatapnya dengan tatapan sendu. "K.. kenapa kamu menatapku seperti itu, Mas?" Akhirnya dia membalik tubuhnya dan menatap suaminya.
"Apa kamu benar-benar tidak mau turun, Chay. Apa kamu benar-benar tidak mau makan malam bersamaku di tempat yang sudah aku persiapkan untukmu?"
"Mas ..."
"Aku akan turun untuk makan sendirian kalau kamu tidak mau." Bersikap lebih tegas mungkin itu bisa merubah sikap istrinya.
"Mas ..." Chayra menarik tangan suaminya lalu memeluknya. "Maaf, aku.. aku cuma kesel sama kamu. Kamu sih, kenapa nggak pernah mau menjawab pertanyaanku dari tadi."
Ardian mengusap-usap kepala istrinya lembut. "Aku kan sudah bilang, acara ini sangat penting untukku. Nanti juga kamu akan tau sendiri, betapa berharganya malam ini untuk aku." Ardian menunduk lalu kembali menatap istrinya. "Dan juga untuk kamu, Sayang." Tangannya kini beralih mengusap-usap pipi istrinya.
"Maafkan aku, Mas." Chayra menggenggam erat tangan Ardian.
__ADS_1
Ardian tersenyum lembut. "Sekarang kamu mau masuk kan?"
Chayra mengangguk. Hal itu membuat raut wajah Ardian langsung berubah. Ia bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Tangannya terulur untuk membantu wanitanya itu keluar dari mobil. Dia juga tertawa dalam hatinya. Tumben istrinya sampai lupa anniversery mereka kali ini. Ini adalah tahun ke kelima pernikahan mereka.
Chayra menautkan alisnya sambil menahan senyum. Dia semakin penasaran. Entah apa yang sudah disiapkan suaminya di dalam sehingga pria itu sampai seperti ini.
Tidak ada yang terlihat spesial setelah dia masuk ke dalam tempat itu. Banyak orang yang sedang makan malam. Tapi, mereka terlihat biasa-biasa aja. Bahkan terkesan cuek saat dirinya masuk.
Bibir Chayra mengulas senyum saat melihat pertunjukan drama live di atas panggung. "Mas, mereka terlihat sangat serasi ya..?"
"Kamu kagum pada mereka?"
"Tentu saja, Mas. Maha sempurna Allah yang telah menyatukan pasangan itu."
"Memangnya kamu merasa tidak serasi denganku?"
Chayra sedikit terkejut mendengar pertanyaan suaminya. "Siapa bilang, Mas?"
"Habisnya kamu muji orang terus dari tadi. Aku jadinya merasa nggak serasi berdampingan dengan kamu." Ucap Ardian mencoba menggoda sang istri.
"Huh, kamu ini ada-ada aja deh, Mas." Chayra menarik tangan suaminya seraya menggenggamnya erat. Matanya masih fokus ke panggung menyaksikan drama yang sepertinya mirip dengan kisah pernikahannya dengan Ardian.
"Chayra Azzahra ..."
"Eh," Chayra terkejut saat mendengar Ardian menyebut nama lengkapnya. Tangan yang tadi digenggamnya kini berbalik menggenggam tangannya. "A ... ada apa, Mas?"
Ardian mengangkat tangan istrinya lalu menciumnya lama. Beratus-ratus pasang mata kini fokus ke arah pasangan itu. Chayra mengedarkan pandangannya. Dia sungguh terkejut saat mendapati tempat disekitarnya berubah menjadi gelap. Hanya lampu tamaran yang menjadi penerang di sekitarnya. Sedangkan meja yang dia tempati bersama suaminya berubah menjadi tempat yang istimewa. Chayra menatap suaminya dengan bibir merekah. Begitu juga dengan Ardian. Pria itu tidak henti-hentinya menatap istrinya dengan tatapan yang entah, hanya dia dan Tuhan yang tau.
"Mas ..."
"Aku hanya ingin kamu selamanya, Sayang. Tidak ada yang akan mampu menggeser apalagi sampai menggantikan posisi kamu di hati ini. Hanya kamu ... iya, cuma kamu."
Ucapan terakhir Ardian langsung disambung oleh musik di atas panggung. "Mm.. aku ke belakang sebentar."
"Eh, kamu mau ..." terlambat, Ardian sudah pergi. Chayra akhirnya terdiam dalam perasaan yang campur aduk. Pikirannya melayang-layang tak karuan.
"Ehem...!"
Chayra tersentak saat mendengar suara suaminya. Kepalanya langsung menoleh ke sumber suara. "Hah..?" ia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya. Ardian sudah duduk di atas panggung di depan piano yang tadinya dimainkan oleh orang lain.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh... maaf, saya mengganggu waktu makan kalian. Saya hanya ingin membuat kejutan kecil untuk istriku tercinta. Dia lupa kalau hari ini adalah anniversery kami yang kelima. Terdengar aneh kalau seorang wanita yang lupa, karena biasanya laki-laki yang lupa."
"Astagfirullahal'adzim ..." Chayra langsung menelunkupkan wajahnya di atas meja karena malu. Terdengar riuh tawa dari para penonton yang hadir, membuatnya hanya bisa menggigit bibirnya.
Alunan musik berganti lagi. Hal itu membuat Chayra mengangkat wajahnya perlahan.
Teruntuk kamu wanitaku ... tetaplah menjadi pendamping terbaikku ...
__ADS_1
Aku bukanlah laki-laki yang sempurna. Akan tetapi, berkat kesabaranmu menghadapiku membuatku sadar, kalau dirimu adalah wanita yang patut diperjuangkan.
Aku akan tetap bersamamu walaupun dunia dan isinya sekalipun menolak kebersamaan kita ...
Alunan musik kembali berubah. Begitu juga dengan alunan kata-kata indah yang dirangkai Ardian untuk istrinya, kini berganti dengan sebuah lagu. Ardian akan menyanyikan lagu papa mama larang milik Judika.
Separuh nafasku.. ku hembuskan untuk cintaku...
Biar rinduku.. sampai kepada bidadari ku..
Kamu segalanya ... tak terpisah oleh waktu...
Biarkan bumi menolak.. ku tetap cinta kamu..
Biar mantanmu tak suka.. mantanmu juga melarang..
Biar dunia menolak ku tak takut ... tetap kukatakan ku cinta dirimu ...
Karena kamu.. bintang di hatiku..
Tak akan ada yang lain.. mampu goyahkan rasa cintaku ... padamu ...
..............(Sampai selesai)
Adzra yang digendong Bian di tempat khusus keluarga melihat papanya. Anak itu bertepuk tangan sambil memanggil-manggil papanya.
Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Tapi, tidak sedikit juga yang tertawa mendengar kata papa mama yang diganti dengan kata mantan oleh Ardian.
Semua lampu kembali dinyalakan setelah Ardian turun dari panggung. Ia kembali duduk di hadapan Chayra. Bibirnya mengulas senyum saat melihat istrinya terharu.
"Mas ..."
"Mm..."
"Kok kamu nggak bilang kalau kamu mau nyanyi. Lagunya dalam gitu lagi, aku pingin nangis tadi,tau nggak.."
"Suaraku jelek ya.."
"Eh, ng..nggak, Mas. Bukan begitu maksud aku.."
Tiba-tiba uluran tangan dari sisi kiri Ardian dan sisi kiri Chayra membuat pasangan suami istri itu mendongak menatap siapa dua orang yang mengulurkan tangan itu.
"Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian yang kelima. Aku berjanji, kedepannya aku tidak akan pernah mengganggu kebahagiaan kalian ..."
Riuh tepuk tangan kembali memenuhi ruangan. Ghibran berlalu setelah menjabat tangan Ardian.
Sementara itu wanita yang berdiri disisi kiri Chayra menggenggam tangan Chayra. "Maaf atas kejahatan ku di masa lalu. Aku juga berjanji tidak akan pernah mengusik kalian lagi. Kini aku sadar, kalau yang aku lakukan dulu adalah kebodohan terbesar dalam hidupku." Amira mencium pipi kiri Chayra. Keadaannya yang sedang hamil tua membuatnya berjalan tertatih. Husein suaminya, dengan sigap merangkul pinggang istrinya dan membawanya menjauh dari Chayra dan Ardian.
__ADS_1
Setelah dua orang itu ikhlas dengan pernikahan Chayra dan Ardian, tidak akan ada lagi yang mengusik kebahagiaan pasangan itu.
...TAMAT...