
"Kamu istirahat saja, Nak. Muka kamu terlihat lesu sekali. Nggak apa-apa kalau kamu tidak kuat mengikuti acara sampai selesai." Santi berusaha membujuk putrinya untuk istirahat saja karena wajahnya terlihat layu.
Chayra beberapa kali menarik nafas panjang. Mendongak menatap ibunya yang berdiri sambil menggenggam tangannya. "Tidak, Bu. Insya Allah aku kuat kok. Acara baru saja akan di mulai. Aku bahkan belum melihat secantik apa Alesha saat jadi pengantin."
"Ibu antar kamu ke kamarnya sekarang. Alesha ada disana bersama Tina."
"Tapi..."
"Ayo..."
"Mau kemana, Sayang?" Tanya Ardian yang melihat istrinya seperti terpaksa bangkit karena ditarik ibunya.
"Istri kamu sepertinya kurang sehat, Nak. Ibu menyuruhnya untuk istirahat di kamar Alesha. "
"Biar aku yang antar dia, Bu."
Santi langsung menggeleng pelan. "Laki-laki tidak diizinkan menginjakkan kaki di atas."
"Loh kenapa bisa begitu?"
"Sudah diatur seperti itu. Jadi kamu jangan membantah. Apa semua akan baik-baik saja hari ini? Tidak ada yang akan membuat kerusuhan lagi, kan?" Santi menatap sekeliling tempat acara yang sudah mulai dipadati tamu undangan.
"Insya Allah, aman, Bu. Sudah diadakan penjagaan ketat di pintu masuk. Tidak ada jalan untuk menyelundup juga karena banyaknya keamanan yang dikerahkan." Ardian ikut menatap sekeliling. Kembali menatap istrinya yang kembali duduk di tempatnya semula. "Kamu baik-baik saja kan, Sayang?"
"Aku baik-baik saja. Tapi, ibu malah menyuruhku untuk istirahat." Chayra memanyunkan bibirnya.
Ardian tersenyum melihat ekspresi istrinya. Walaupun tersembunyi di balik cadar, tetapi dia sudah hafal dengan raut wajah Chayra yang seperti itu. "Mata kamu memang terlihat sedikit layu, Sayang. Sepertinya kamu kecapekan karena kurang istirahat dari kemarin."
"Ibu tinggal dulu kalau begitu. Istri kamu ini memang keras kepala, Ardian. Kalau sudah bilang tidak dia tidak akan pernah mau bilang iya sekalipun dia salah."
"Aku memang baik-baik saja kok, Bu." Chayra tetap bersikeras.
"Iya makanya. Jaga dia, Nak. Jangan tinggalkan dia sendirian."
"Iya, Bu."
Santi berlalu setelah mendengar jawaban Ardian. Mengambil tempat duduk di tempat yang sudah ditentukan untuk keluarga inti.
"Kita juga harus pindah tempat, Chay. Ini bukan tempat yang disediakan untuk kita."
Chayra bangkit dengan terpaksa. Perutnya yang semakin membuncit membuatnya malas untuk banyak bergerak.
Acara berlangsung Hidmat. Zidane membaca lafadz qobul dalam satu tarikan nafas. Setelah acara akad nikah, acara langsung di sambung dengan acara resepsi.
Chayra memeluk haru tubuh Alesha yang berdiri anggun dengan anggun di samping Zidane kakaknya.
"Kenapa jadi haru-biru gini, Ayra." Alesha menepuk-nepuk punggung Chayra yang masih memeluknya erat.
"Nggak nyangka aja, kalau kamu yang akan menjadi Kakak Ipar aku, Lesha."
"Sudah, Dek... nanti lanjutkan meluk-meluknya kalau sudah di rumah. Malu dilihat tamu undangan. Mereka juga mau kasih selamat ke Kakak." Zidane menarik tangan Alesha.
"Hemmm... takutnya malah nggak kebagian Kak Zidane nanti kalau sudah di rumah. Disini aja sudah main protes, apalagi nanti." Chayra
melepaskan pelukannya perlahan.
__ADS_1
"Kita duduk lagi ayo... kasihan Alesha.." Ardian merengkuh pundak istrinya.
Chayra mengangguk seraya mengikuti langkah suaminya. Duduk sambil makan hidangan yang tersedia. Harus mampu bertahan sampai acara selesai. Itu tekadnya dalam hati.
********
"Mana lagi yang pegel?" Ardian melakukan acara pijit-pijit malam itu. Chayra merasa tubuhnya terasa sakit semua. Entah karena kelamaan berdiri atau memang dia yang kecapekan. Sepulangnya dari acara resepsi, dia langsung mendirikan shalat Ashar lalu ambruk di atas tempat tidur.
"Kamu belum makan malam, Sayang."
"Aku nggak mau makan, Kak. Aku cuma mau istirahat. Tubuhku benar-benar sakit semua ini."
"Ibu sudah menyuruh kamu untuk istirahat, tapi kan kamu yang nolak."
"Iya... aku kan nggak enak sama Alesha, Kak. Acara nikahan dia, masa aku nggak bisa hadir. Ini acara sekali seumur hidup loh."
"Itu makanya kamu keras kepala seperti kata Ibu."
"Iya.. iya.. aku memang keras kepala."
Ardian tersenyum mendengar ucapan Chayra. Menguap lebar karena dia juga ngantuk plus capek. "Kak Zidane sama Alesha lagu ngapain ya..?"
"Eh, kok nanyanya gitu?" Chayra menepis lengan suaminya sambil menahan senyum.
"Iya... aku tiba-tiba kepikiran aja gitu. Kak Zidane itu kan tidak pernah bersentuhan dengan perempuan sebelum ini. Eh, sekarang malah mau tidur sekamar dengan wanita asing. Pasti rasanya aneh. Terus, pas mau menyentuh istrinya, pasti takut-takut."
"Memangnya kalau Kakak bagaimana perasaannya dulu?"
"Mm... kalau aku.. kan sudah banyak pengalaman sebelumnya."
"Eits, tunggu dulu. Aku juga pernah merasakan deg-degan."
"Kapan...?" Chayra bangkit karena penasaran dengan cerita suaminya.
"Mm.. saat menyentuh kamu pertama kali setelah kita halal. Apalagi, aku melakukan itu dengan cinta dan melakukan itu pada orang yang tepat. Mm.. tau nggak?"
"Apa lagi?"
"Aku mau berterima kasih yang sebesar-besarnya pada kamu, Sayang.."
"What for?"
Ardian tersenyum lembut pada istrinya. Memperbaiki posisi duduknya, bersila saling berhadapan dengan Chayra di atas ranjang. Meraih tangan Chayra seraya menggenggamnya erat. Meletakkan tangan itu di dadanya. "Terimakasih sudah menjadikan aku yang pertama dan terakhir untuk kamu. Terimakasih sudah mau mengandung anakku. Terimakasih telah memilih aku dan mau membimbing aku menjadi laki-laki baik selama ini."
Chayra hanya tersenyum sambil memperhatikan wajah suaminya. Menunggu kelanjutan kata-kata yang akan diucapkan Ardian untuknya. Hanya tangannya yang bergerak-gerak di dada Ardian. Karena keberadaan tangan itu bisa merasakan detak jantung suaminya yang berpacu lebih cepat. Seolah-olah membuktikan ucapan yang baru saja diucapkan Ardian untuknya.
"Saat ini, aku bisa merasakan jika kehidupan yang aku jalani saat ini menjadi lebih bermakna. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan. Aku juga merasa bisa mempertanggung jawabkan kehidupan yang aku jalani. Sebenarnya, aku masih sering terbayang masa lalu. Kejahatan yang aku lakukan di masa lalu masih sering datang ke alam mimpiku. Tapi, saat mimpi itu datang, aku akan berusaha untuk bangun untuk mendirikan shalat. Aku hanya menyerahkan hidupku kepada Allah, Sang Pemilik Kekal kehidupan ini."
Chayra tanpa sadar meneteskan air matanya. Kembali memberikan senyuman lalu ambruk memeluk tubuh suaminya.
Ardian tersenyum membalas pelukan itu. Membelai lembut rambut istrinya yang hanya sebahu.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
Chayra melepask pelukannya, menatap suaminya dengan heran. "Menanyakan apa lagi?"
__ADS_1
Ardian membuang nafas kasar. Kembali duduk bersila dan menggenggam tangan Chayra. Menatap Chayra dalam sebelum mengutarakan yang ingin diucapkannya.
"Kenapa masih diam?" Chayra akhirnya tidak tahan karena ditatap terus tanpa ada sepatah katapun yang keluar.
"Aku mau menyelami kedalaman perasaanku untukmu." Ardian menunduk seraya menarik nafas dalam.
"Naik dulu ke permukaan, nanti menyelam lagi." Chayra mengangkat dagu suaminya.
Ardian tersenyum seraya mengalihkan pandangannya. "Apaan sih?"
"Kan katanya tadi lagi menyelam, makanya aku menyuruh Kakak untuk naik dulu ke permukaan." Menangkupkan tangannya di pipi Ardian agar pria itu menatapnya lagi. "Mau menanyakan apa makanya?"
Ardian salah tingkah mendapati perlakuan Chayra yang seperti itu. "Jangan tatap aku seperti itu ah, aku malu.." menarik nafas dalam.
"Kakak ngomongnya lama.."
"Aku... mau menanyakan perasaan kamu untukku, Chay." Melirik Chayra yang masih menatapnya. "Posisi aku di hati kamu itu dimana, Sayang? Apakah sama seperti dulu atau mungkin ada perubahan." Kali ini menatap istrinya tepat di bola matanya.
Chayra tertegun mendengar pertanyaan itu. Lama terdiam saling tatap sebelum akhirnya dia membuang nafas kasar. "Kakak sudah berhasil menggeser nama pria itu dari hatiku. Aku.. mencintai Kak Ardian seperti halnya aku mencintai Kak Ghibran dulu."
Ardian tersenyum mendengar jawaban istrinya. Menarik tubuh istrinya. Memeluknya erat sambil sesekali mendaratkan ciuman di pucuk kepala wanita itu.
"Kak, peluknya jangan terlalu keras, anak kita terjepit."
"Oh, astagfirullah..."
********
Pagi itu...
Keluarga besar Pak Akmal dan Pak Ismail berkumpul di ruang Keluarga rumah Santi untuk mendirikan shalat Subuh berjamaah. Mulanya, mereka akan mendirikan shalat di Musholla. Tapi, jumlah mereka yamg melampaui batas kapasitas Musholla membuat mereka harus memakai ruang Keluarga.
Keluarga besar masih berada di rumah Santi karena acara akad nikah dan resepsi Zidane kemarin. Rencananya hari ini mereka akan kembali ke daerah asal masing-masing. Ada juga yang akan tinggal lebih lama seperti Bu Fatimah. Wanita itu memilih untuk tinggal di rumah menantunya sampai Chayra melahirkan. Dia ingin ikut menyaksikan kelahiran cicit pertamanya.
Usai mendengarkan tausiah singkat ba'da Subuh, mereka berbincang santai untuk lebih mempererat hubungan silaturrahim keluarga besar mereka.
Ketukan di pintu depan membuat mereka terdiam saling pandang.
"Apa Zidane dan istrinya yang datang?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari Bu Ainun. Semalam Zidane menginap di hotel karena ingin menghabiskan banyak waktu dengan istrinya tanpa adanya pengganggu.
"Tidak mungkin, Mbak. Zidane sudah bilang pada kita kemarin kalau dia akan menginap selama tiga malam. Setelah itu dia akan ke Pesantren."
"Lalu siapa yang bertamu sepagi ini?"
"Kalian kenapa saling tanya? Coba kalian bangun lalu buka pintu, kalian tidak akan penasaran lagi." Timpal Pak Akmal kesal.
Santi dan Bu Ainun bangkit bersamaan. Keakraban dua wanita itu tidak pernah kendor meskipun mereka tinggal di tempat yang berjauhan.
"Iya.. tunggu sebentar.." ucap Santi dari dalam rumah karena ketukan itu semakin keras terdengar.
Brak ...!
"Ardian mana...?" Seorang wanita dengan rambut acak-acakan masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan.
********
__ADS_1