
Hari itu saat waktu makan siang tiba..
"Ardian, ikut aku makan siang di Kafe Xx. Kita harus segera bicara. Sudah berapa kali aku ingin bicara serius sama kamu, tapi selalu saja ada halangan."
"Baik, Pak." Jawab Ardian sambil menundukkan sedikit badannya. Tangannya segera sigap membereskan berkas yang masih berserakan di atas meja kerjanya. Ia menghembuskan nafasnya kasar, tiba-tiba saja jantungnya berdegup lebih kencang. Padahal dia sudah tiga malam ini melakukan shalat istikharah untuk meminta petunjuk, agar diberikan pilihan yang benar dan tepat dalam mengambil keputusan.
Begitu sampai di Kafe, Pak Randi langsung menyodorkan kartu membernya dan dipersilahkan masuk ke ruang VIP. Ardian hanya mengekor dari belakang mengikuti atasannya itu.
Lama mereka terdiam, Pak Randi malah asyik menyeruput secangkir kopi pahit tanpa gula. Hanya matanya sesekali melirik ke arah Ardian yang terlihat sibuk dengan handphonenya.
"Lagi lihat apa kamu?" Pak Randi yang penasaran melihat Ardian yang senyum-senyum sendiri akhirnya bertanya.
"Eh," Ardian mengangkat wajahnya saat mendengar suara berat Pak Randi. "Mm.. ini Pak istri saya mengirim foto anak kami yang sedang tidur siang." Ardian senyum-senyum mesem sambil melirik ke arah handphone-nya.
Pak Randi menautkan alisnya. "Foto? Istri kamu kayak tidak ada kerjaan saja mengirim foto saat suami sedang bekerja."
"Eheheh.. bukan begitu, Pak. Saya yang memintanya untuk mengirim foto. Biasanya kalau saya bawa bekal dan makan di ruangan, saya selalu video call, Pak. Tapi, karena hari ini saya makan siang bersama Bapak, saya memintanya untuk mengirim foto saja. Kalau melihat istri dan anak itu kayak pengobat lelah, Pak. Efeknya pasti akan lebih semangat bekerja nantinya."
"Oh," hanya itu jawaban Pak Randi. Hatinya sedikit tersentil karena dirinya malah tidak suka diganggu anak istri kalau sudah di Kantor. Jika ada masalah pun, istrinya akan bicara jika dirinya sudah pulang ke rumah nanti.
"Oh iya, Pak. Bapak mau membicarakan apa sampai harus empat mata kayak gini?" Ardian akhirnya mencoba untuk membuka. Takutnya obrolan mereka nyeleneh dan tidak jadi membahas hal yang seharusnya dibahas. Sebenarnya dia sudah bisa menebak, tetapi sengaja bertanya untuk basa-basi.
"Apa Pak Sucipto tidak pernah mengatakan apapun padamu?"
Ardian menggeleng. "Saya tidak terlalu dekat dengan Papi saya, Pak. Maksud saya, saya dan Papi itu jarang bertemu, Pak."
"Mm..." Pak Randi hanya manggut-manggut mendengar cerita Ardian.
"Kami hanya bertemu kalau ada acara keluarga."
Pak Randi menatap Ardian. "Pak Sucipto kemarin bilang sama aku kalau kamu diminta oleh Pak Akmal."
__ADS_1
"Loh, Bapak mengenal Kakek istri saya?"
Pak Randi tersenyum. "Siapa sih yang tidak mengenal beliau, Ardian? Kalau orang yang berkecimpung di dunia bisnis tidak akan asing dengan Pak Akmal. Seorang Pebisnis senior dengan segudang prestasi. Dia adalah contoh yang luar biasa untuk calon penerus seperti kita. Tapi, aku baru tau kemarin kalau istri kamu adalah cucu beliau. Beliau tidak pernah mempublikasikan keluarganya. Bahkan istrinya pun, hanya sekali muncul di publik. Sampai sekarang pun, aku tidak tau berapa anaknya atau cucunya." Pak Randi berhenti bicara saat pesanan mereka datang. "Kita makan dulu, nanti kita lanjutkan kalau kita sudah selesai makan."
Ardian mengangguk sambil meraih pastanya lebih mendekat. Pak Randi memesan sup iga dan langsung menuang kuah sup ke piringnya. Ardian menelan ludahnya karena sup itu terlihat sangat menggugah selera. Ada rasa penyesalan kenapa dirinya hanya memesan pasta saja.
"Kita kembali ke Kantor. Nanti kita sambung pembicaraan kita di ruangan saya."
"Baik, Pak."
Akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan di dalam ruangan Pak Randi. Banyak hal yang ditanyakan Pak Randi pada Ardian. Sampai akhirnya Pak Randi menanyakan keputusan Ardian.
"Bagaimana menurut kamu sekarang. Kakek dari istri kamu sangat menginginkan kamu, bukan karena kamu suami dari cucunya. Tapi, beliau menginginkan kamu karena kemampuan kamu memang patut diperhitungkan. Saya memuji kamu bukan karena apa, Ardian. Aku melihat kemampuan kamu dari cara kerja kamu selama ini. Walaupun pada awal-awal dulu kamu sering datang terlambat karena istri kamu sering sakit. Tapi, semakin kesini kamu semakin disiplin. Kamu bahkan selalu datang paling awal. Kamu berani menegur orang yang salah, tidak perduli itu seorang manager atau siapa."
Ardian menunduk malu. Ucapan Pak Randi mengingatkan dia pada kejadian beberapa bulan yang lalu saat dia melabrak manager keuangan karena tidak kunjung datang ke ruangan rapat. Saat dia datangi, ternyata manager itu belum menyiapkan berkas yang akan dibahas dalam rapat. Sontak saja dia langsung marah pada Manager itu.
Pak Randi menghela nafas berat. "Menurut saya, sebaiknya kamu tetap di Kantor ini. Jika jabatan di sana lebih menjanjikan daripada jabatan kamu yang sekarang, aku bisa mengajukan kamu untuk naik jabatan. Kamu bisa menggantikan Bu Dewi menjadi Sekretaris Direksi. Dia bisa dipindah tugaskan. Menurut saya kamu lebih pantas menjadi Sekertaris Direksi. Selain karena kamu putra salah satu dewan Komisaris, kinerja kamu juga sangat baik."
"Eh, dia itu baru kemarin kerja di sini, Ardian. Kayaknya baru tiga tahun kurang lebih. Dia itu terlalu berani sehingga dipercaya menjadi Sekretaris Direksi. Mata saya lama-lama sakit juga melihat dia setiap hari. Mungkin sudah waktunya mata saya insyaf dari melihat yang tidak halal untuk saya."
Ardian hanya tersenyum ditahan mendengar ucapan terakhir Pak Randi. Padahal kalau kemarin-kemarin dia tanya, Pak Randi selalu mengatakan kalau dirinya tidak tertarik dan tidak mau ambil pusing dengan cara berpenampilan Bu Dewi. Tapi, sekarang dia malah meralat ucapannya.
Pak Randi mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Ardian. "Aku percaya, kamu tidak akan menjatuhkan milik kamu sendiri untuk membela yang lain. Perjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Jangan terus-terusan bergantung pada orang lain." Pak Randi menepuk bahu Ardian lalu bangkit. Ia berjalan menuju meja kerjanya meninggalkan Ardian yang masih belum mencerna dengan baik ucapan terakhirnya.
Pak Randi tersenyum menatap Ardian yang masih bengong di sofa. "Sampai kapan kamu mau bengong disitu, Ardian?"
"Eh," Ardian yang gelagapan sontak langsung berdiri. "M.. maaf, Pak. Saya akan kembali ke ruangan saya untuk mempersiapkan berkas yang harus di tandatangani Bapak."
"Oke.. nanti kamu cerna dan pikirkan lagi apa yang aku ucapkan tadi. Maksud aku nanti pas kamu sudah di rumah. Kalau sekarang waktunya kerja." Pak Randi menahan senyum melihat ekspresi Ardian.
"B.. baik, Pak. Saya pamit selamat siang." Ardian bergegas meninggalkan ruangan Pak Randi. Pikirannya masih campur aduk memikirkan ucapan Pak Randi barusan.
__ADS_1
********
Pukul sembilan malam, Bi Idah bergegas membukakan pintu utama untuk tuannya. Biasanya Chayra yang selalu menunggu suaminya pulang. Tetapi, malam ini karena Adzra rewel, ia akhirnya meminta tolong pada Bi Idah untuk menunggu suaminya pulang.
"Assalamualaikum..." Ardian berusaha tersenyum walaupun terlihat lesu saat melihat Bi Idah tersenyum sopan padanya.
"Wa'alaikumsalam, Tuan."
"Chay udah tidur, Bi?"
"Tadi pas Bibi turun sih, Non Chayra belum tidur. Baby-nya rewel terus dari tadi, Tuan."
"Terimakasih sudah menjaga mereka, Bi. Bibi boleh istirahat sekarang."
"Terimakasih, Tuan. Jangan sungkan panggil Bibi kalau ada apa-apa."
"Gih, Bi.."
"Mari, Tuan."
Ardian mengangguk, berjalan menaiki tangga setelah melihat Bi Idah berjalan ke belakang. Saat membuka pintu kamar, Ardian mendapati istrinya tidur bersandar dengan posisi masih menyapih Adzra. Ardian tersenyum seraya berjalan mendekat. "Assalamualaikum, Sayang.."
Chayra mengerjap-ngerjap. "Wa'alaikumsalam, udah pulang, Mas. Maaf tidak bisa menunggu di bawah. Adzra rewel banget tadi. Nggak tau ada apa kenapa dia nangis terus."
"Nggak apa-apa, Sayang. Adzra kayaknya udah selesai mimik itu. Kamu perbaiki posisi, Sayang. Nanti kamu pusing terlalu lama dengan posisi itu."
"Iya, Mas." Chayra menidurkan putranya yang sudah terlelap. "Aku tidur duluan ya, Mas. Ngantuk berat ini."
"Iya, nggak apa-apa. Aku mau mandi dulu." Ardian mencium dahi istrinya sebelum berlalu ke kamar mandi.
Saat keluar, Ardian mendapati Chayra sudah tertidur pulas. Ia tersenyum melihat hal itu. Tak berselang lama, ia ikut merebahkan badannya di samping istrinya. Tidak lupa ia lingkarkan tangannya di pinggang Chayra. Hanya butuh beberapa menit, Ardian ikut terlelap. Bekerja seharian membuatnya tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa terbang ke alam mimpi. Ucapan Pak Randi dia simpan di memory otaknya dan akan dia pikirkan lagi besok pagi.
__ADS_1
********