
Ardian tertawa merasa terhibur melihat tingkah istrinya. Hanya melirik Chayra yang berlalu keluar dari dalam kamar. Ia kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Memperhatikan wajahnya secara seksama selama beberapa menit. "Hmm... aku memang terlihat lebih tampan kalau kayak gini." Ucapnya dengan bangga.
"Nah, itu efek samping terlalu sering bercermin. Sombong melihat wajah sendiri, padahal itu hanyalah titipan Allah." Chayra tiba-tiba kembali masuk masih dengan tatapan kesal.
Ardian tertegun masih menatap dirinya di depan cermin. Mau berkomentar, tetapi takut salah lagi. Ia hanya menatap istrinya dari cermin.
"Eh, malah masih berdiri di situ lagi. Kamu nggak jadi ke Kantor, Mas?"
"Ehehehe... mau pergi, Sayang.." Ardian tersenyum salah tingkah.
"Ayo makanya kamu turun sarapan. Ditunggu-tunggu di bawah eh, ternyata orangnya masih sibuk di depan cermin." Ucap Chayra kembali melengos.
Ardian kembali tersenyum, tetapi kali ini senyumnya terlihat dipaksakan. "Aku akan turun sekarang. Kamu turun saja duluan, aku mau pakai dasi dulu."
Chayra berlalu tetapi baru beberapa langkah ia berbalik lagi. "Oh iya, Mas. Gaya rambut kamu dikembalikan saja kayak semula."
"Loh, kenapa? Kan kamu sendiri yang bilang tadi kalau gaya rambut itu harus bervariasi."
"Aku cabut ucapanku tadi. Aku tidak mau kalau banyak wanita yang melirikmu nanti."
Ardian menahan senyum. "Bilang saja kalau kamu cemburu. Kamu takut ya, kalau nantinya banyak wanita yang melirik aku?"
Chayra mengernyit. "Cemburu darimana, Mas? Yang ada aku takut kalau kamu nantinya membuat orang lain berdosa karena terus menatap kamu."
"Alasan aja, takut dibilang cemburu."
"Yang dikatakan cemburu itu kalau kasusnya sudah nyata, Mas." Chayra langsung keluar setelah selesai bicara. Hal itu membuat Ardian tertawa kecil. Entah kenapa membuat istrinya kesal membuatnya merasa bahagia. Ia memilih membiarkan rambut tatanan istrinya. Menatap kembali pantulan wajahnya sebelum turun untuk sarapan.
Sarapan berlangsung hening karena mood booster Nyonya Besar sedang tidak baik. Chayra hanya melirik beberapa kali ke arah suaminya yang terlihat santai menikmati sarapannya. Ardian justru semakin menikmati suasana itu.
Usai sarapan ia menghampiri putranya yang sedang asyik main dengan robot-robot kecil pemberian Bian. "Adzra sayang, Papa berangkat dulu ya. Mau cari uang biar Adzra dan mamanya Adzra bisa hidup dengan layak ke depannya. Adzra yang belum paham dengan ucapan papanya hanya tersenyum. Ia hanya meraih tangan Ardian yang terulur untuk salim.
Ardian menghampiri istrinya setelah menyelesaikan urusannya dengan Adzra. "Sayang, aku berangkat ya.. jaga diri baik-baik. Kalau aku pulang terlalu malam, kamu istirahat saja tidak usah menungguku."
__ADS_1
Chayra hanya mengangguk tanpa tersenyum sedikitpun. Ardian sudah paham dengan kondisi seperti ini. Istrinya akan baik dengan sendirinya nanti kalau rasa kesalnya sudah hilang. Hanya tangannya yang terulur untuk salim dengan suaminya.
"Mm... aku tidak dibuatkan bekal makan siang ya.."
"Nggak usah. Nanti siang Mas Ardian makan di Kafe kantor saja."
"Mm.. begitu ya.." Ardian terlihat kecewa. "Mm.. aku berharap kalau kamu tidak sibuk, lebih baik kamu yang mengantarkan makan siang untukku nanti. Kita makan bersama di Kantor. Kalau makanannya banyak, nanti kita berbagi dengan Dodit seperti biasa. Atau kalau jadwalku tidak padat, aku yang akan pulang nanti." Ardian mencium dahi istrinya sebelum pergi. "Tidak usah mengantarku ke depan. Adzra sepertinya membutuhkan kamu." Ardian melirik ke arah putranya yang merengek-rengek di dekat kaki istrinya. "Assalamualaikum.."
Sepersekian detik Chayra tidak bisa berkata-kata. Ucapan suaminya seperti menghipnotisnya. "M... Mas.." ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Menjelang siang, Chayra langsung meluncur ke Dapur. Walaupun sempat berperang dengan perasaannya, tetapi dia akhirnya mengalah karena mengingat kata suaminya pagi tadi. Setelah memastikan putranya tidur pulas, ia meninggalkan Adzra untuk turun. Bi Idah juga sudah di Dapur. Wanita paruh baya itu sedang sibuk memotong bumbu dapur. "Bibi kerjain yang lain aja, biar aku yang masak. Mas Ardian nggak bawa bekal tadi. Jadi aku akan mengantarkan makan siang untuknya."
Bi Idah melongo sebelum akhirnya bisa mencerna ucapan Chayra. "Baik, Non." Ucapnya setelah sadar. "Tuan itu tidak pemilih ya orangnya. Malahan nggak seneng dengan makanan luar. Senengnya sama masakan rumahan apalagi yang masak Non Ayra." Si tukang kritik sudah memulai aksinya. Chayra hanya tersenyum menanggapi. Dia tau kalau Bi Idah selalu memperhatikan tingkah lakunya dan suami.
Chayra bergegas naik ke kamarnya untuk membersihkan badan setelah semua beres.
"Bi, jangan lupa tengok Adzra ke atas nanti. ASI-nya ada di atas meja samping tempat tidur." Chayra tidak lupa berpesan sebelum meninggalkan rumah. Biasanya dia di Kantor suaminya sampai satu jam lamanya.
"Iya, Non. Tadi Bu Santi menghubungi Bibi kalau beliau mau datang kemari."
"Baik, Non. Perintah siap dilaksanakan."
Chayra tersenyum melihat tingkah Bi Idah. Ia bergegas pergi karena jam sudah menunjukkan pukul dua belas. Perjalanan Kantor suaminya menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit kalau jalanan lancar.
Sampai Kantor, Chayra langsung menuju lantai lima. Ada beberapa orang di dalam lift. Tetapi, tidak ada yang saling bertegur sapa karena sibuk dengan benda gepeng di tangan masing-masing.
Chayra menarik nafas panjang setelah keluar dari lift. Ia mempersiapkan diri untuk bertemu suaminya siang ini. Karena perdebatan masalah rambut tadi pagi membuatnya merasa sedikit malu saat akan bertemu Ardian sekarang.
"Selamat siang, Bu Ayra." Dodit berdiri menyambut kedatangannya.
"Eh, Pak Dodit. Suami saya ada kan?"
"Pak Ardian masih rapat, Bu, sebentar lagi selesai. Ibu tunggu saja di dalam. Saya akan ke ruang rapat untuk memberitahu beliau."
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot, Pak. Saya akan menunggunya sampai selesai."
"Silahkan masuk, Bu." Dodit membukakan pintu ruangan Ardian. Menutupnya kembali setelah memastikan kalau istri atasannya itu sudah masuk dan duduk di sofa.
Ardian kembali ke ruangannya setelah Dodit memberitahukan kalau Chayra datang.
"Kamu kenapa kesal kayak gitu, Ar. Memangnya ada Manager yang molor lagi ya?'
"Tidak ada, Dit. Tapi.. yang membuat aku kesel itu.. perwakilan dari devisi apa tadi itu.. Dia bukannya mendengarkan arahan dari aku, Eh dia malah memperhatikan gaya rambut aku. Pas aku tanya dengan santainya dia menjawab 'Maaf, Pak. Tidak fokus karena pangling dengan gaya rambut Bapak. Kelihatan semakin tampan dan seger banget' Siapa yang nggak kesel coba?"
Dodit bukannya prihatin dengan cerita Ardian, dia malah tertawa keras sambil membuka handle pintu. "Siapa suruh ke Kantor pakai gaya baru segala. Tahu sendiri kan, kalau di Perusahaan ini, wanitanya kebanyakan belum ada pasangan hidup."
Chayra yang masih duduk di sofa mencoba mencerna ucapan Dodit. Ia menatap tajam ke arah dua pria yang baru masuk itu. "Apa ada masalah, Pak Dodit?"
Dodit tergagap mendengar pertanyaan Chayra. Dia baru sadar kalau sudah masuk ke dalam ruangan. Padahal dia sendiri yang membuka pintu tadi. "Eh.. anu, Bu. Ini Pak Ardian tadi..." Dodit melirik ke arah Ardian yang ternyata sedang melototkan mata ke arahnya. "Anu, Bu tadi.. ada yang gagal fokus melihat gaya rambut Pak Ardian."
"Oh, gitu.. ayo makan dulu, Mas. Pak Dodit gabung juga yuk!"
"Ng.. nggak usah, Bu. Saya makan di Kafe aja. Sekalian mau shalat Zuhur di Musholla. Ada pekerjaan yang harus saya urus juga sebentar. Ibu silahkan makan dengan Pak Ardian saja. Nggak enak terlalu sering ditanggung, Bu."
"Nggak apa-apa, Pak Dodit. Saya malahan sengaja masak banyak biar bisa dinikmati bareng-bareng."
"Mm... terimakasih, Bu. Tapi kali ini saya benar-benar tidak bisa. Lain kali saya tidak akan menolak, Bu. Maaf untuk hari ini. Silahkan dinikmati makan siangnya, Pak, Bu. Saya pamit, assalamualaikum."
Selepas kepergian Dodit, Chayra langsung mempersiapkan makan siang untuk suaminya. Ardian yang melihat sikap istrinya yang terkesan datar akhirnya memilih untuk membuka percakapan terlebih dahulu. "Masih marah ya, karena masalah tadi pagi?"
"Tadi udah nggak lagi, Mas. Tapi rasa kesel datang lagi setelah mendengar cerita Pak Dodit tadi. Pokoknya habis makan, aku akan mengganti model rambut kamu. Kita ke Barber shop sebentar untuk memotong rambut kamu."
"Nggak perlu sampai di potong, Sayang. Aku cukup menyisirnya ke belakang seperti kemarin biar terlihat seperti biasa."
"Aku sudah menyuruh kamu merubahnya tadi pagi, tapi kamu kan yang sengaja membiarkannya. Sekarang sekalian di cukur sampai pelontos, biar tidak ada yang tertarik lagi melihatnya."
Ardian langsung terbatuk-batuk. Matanya melotot karena keselek. Membayangkan dirinya berkepala pelontos membuatnya bergidik ngeri.
__ADS_1
*********