Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
101. Calon Pengantin


__ADS_3

Moment lamaran antara Nathan dan Mia pun digelar dua hari kemudian.


Acara berlangsung khidmat. Dua pihak keluarga hadir untuk menyaksikan lamaran resmi Nathan pada Mia.


Saat Nathan berdiri untuk menyampaikan pinangannya, air mata nampak mengalir di wajah cantik Mia. Gadis itu sangat bahagia karena bisa maju selangkah ke tahap berikutnya.


"Almia, mau kah Kamu menjadi pendamping hidupku. Menjadi istriku, menjadi Ibu dari Anak-anakku, menjadi partner sejati di dalam hidupku yang akan selalu menemaniku dalam suka dan duka ?" tanya Nathan setelah beberapa kalimat pembuka yang dia ucapkan tadi.


Suara riuh pun terdengar usai Nathan mengucapkan kalimat romantis itu. Semua mata kini menatap kearah Mia seolah menunggu jawaban sang calon mempelai wanita.


Mia nampak berusaha menguasai diri karena air mata bahagia yang mengalir di pipinya. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, Mia pun menjawab permintaan Nathan.


"Iya Aku bersedia jadi pendamping hidupmu, jadi Istrimu, jadi Ibu dari Anak-anak Kita dan jadi partner sejati hidupmu. Aku janji akan selalu menemanimu dalam suka dan duka, selamanya ...," kata Mia dengan suara bergetar.


Jawaban Mia membuat Nathan tersenyum bahagia. Sesaat kemudiam tepuk tangan pun terdengar menyambut jawaban Mia tersebut.


Kemudian Nathan dan Mia diminta maju ke depan didampingi ibu mereka masing-masing. Anna menyerahkan seuntai kalung bertahtakan berlian sebagai bentuk 'pengikat' yang diberikannya kepada Mia. Lalu Anna dan istri Marco bersama-sama mengenakan kalung itu di leher Mia.


Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan saat Mia dan Nathan berdiri berdampingan dengan senyum bahagia.


\=\=\=\=\=


Setelah pertemuan kembali antara Mia dan Rosiana, keduanya sepakat untuk bertukar nomor telephon. Mereka mulai saling mengabari kegiatan masing-masing dan membuat janji bertemu di kesempatan lain.


Nathan tak keberatan sama sekali karena melihat Mia bahagia saat bersama Rosiana. Meski pun ia sedikit tak nyaman dengan tatapan Rosiana yang mengintimidasi saat mereka bertemu.


Menyadari sikap Nathan yang tak nyaman saat ia berdekatan dengan Rosiana, Mia pun mencoba memberi pengertian.


"Aku sama Oci ga berteman dekat dulu. Kami cuma menyapa ala kadarnya aja. Tapi bertahun-tahun ga ketemu, Aku rasa ada yang berubah sama dia. Kalo dulu Aku merasa Oci adalah sosok yang cuek dan ga bersahabat. Tapi pas ketemu lagi dan ngobrol sebentar waktu itu, Aku merasa nyaman. Dan Aku merasa penilaianku sama Oci kalo dia orang aneh dan nyebelin itu salah. Mungkin dulu Aku yang terlalu sibuk menyapa teman di luar sana dan mengabaikan teman sekelasku sendiri. Kamu tau kan kalo Aku cewek populer di sekolah dulu," kata Mia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aku ga masalah Kamu dekat sama siapa pun termasuk Rosiana. Buatku selama itu bukan cowok, ya silakan," sahut Nathan santai.


"Makasih Sayang, Aku pastikan pertemananku sama dia aman kok," kata Mia sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang tunangan.


Nathan pun tersenyum lalu mengecup kening Mia hingga membuat Mia ikut tersenyum.


\=\=\=\=\=


Sejak mengetahui anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja adalah calon suami temannya membuat Rosiana sedikit over acting. Rosiana kerap melintas di sekitar Nathan hanya untuk menyapanya.


Awalnya Nathan tak peduli karena mengira apa yang dilakukan Rosiana adalah hal yang biasa. Namun Nathan benar-benar terkejut saat Rosiana masuk ke divisi di bawah kendalinya dan mulai menjalin hubungan dengan karyawannya. Otomatis Nathan akan sering melihat Rosiana di sekitarnya.


Apalagi belakangan ini Mia kerap ngambek karena mengira Nathan menjalin hubungan dengan wanita lain di kantor.


"Kenapa Kamu nuduh Aku punya cewek lain sih ?. Padahal kan Kamu tau Aku kerja di sini, benar-benar kerja dan bukan tebar pesona seperti yang Kamu bilang tadi," kata Nathan berusaha sabar.


Nathan terkejut karena merasa Mia sedikit berlebihan. Dia memang sibuk tapi itu masih di batas wajar karena saat ini dia masih menjabat sebagai manager personalia yang memiliki jam kerja normal. Hal sebaliknya justru terjadi pada Mia. Jabatan sang kekasih sebagai wakil direktur pasti menyita lebih banyak waktu dibanding dirinya.


"Kamu ... ngomong gini bukan karena terpengaruh sama omongan orang lain kan Sayang ?" tanya Nathan hati-hati.


Pertanyaan Nathan membuat Mia terkejut. Ia terdiam sebentar lalu menggelengkan kepala.


"Kamu pikir Aku orang yang gampang dipengaruhi Nath ?" tanya Mia dingin.


Gantian Nathan yang terdiam. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Biasanya Mia adalah sosok wanita yang manis dan menyenangkan. Tapi kali ini Nathan seolah menemukan sisi lain Mia yang tak pernah ia ketahui.


"Kamu pikir Aku ga tau pergerakanmu yang sedang berusaha meruntuhkan kepercayaanku Nathan ?" tanya Mia sambil menatap Nathan lekat.


"Kamu memata-matai Aku Mi ?" tanya Nathan tak percaya.

__ADS_1


"Terserah apa katamu. Aku pulang. Ga usah diantar, Aku bisa sendiri," kata Mia sambil melangkah meninggalkan Nathan di ruangannya.


Nathan menatap punggung sang kekasih dengan perasaan kalut. Ia ingin memeluk Mia dan menenangkan gadis itu lalu mengatakan hal-hal manis. Namun sikap dingin Mia membuat Nathan mengerti jika saat ini Mia sedang tak ingin diganggu.


Mia berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya karena sedang berada di luar ruangan Nathan. Saat itu Mia memang sengaja berkunjung ke perusahaan Bayan untuk bertemu Nathan.


Kemudian Mia melangkah perlahan meninggalkan ruangan. Mia pun tersenyum ramah saat karyawan perusahaan Bayan menyapanya.


Saat tiba di loby Mia berpapasan dengan Bayan, Rama dan Riko. Ia pun mencium punggung tangan ketiganya dengan takzim hingga membuat mereka tersenyum.


"Kok sendiri. Mana Nathan ?" tanya Bayan sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


"Masih sibuk Yah, ada kerjaan," sahut Mia cepat.


"Biar sibuk kan bisa ditinggal sebentar. Masa dia biarin calon Istrinya keluar sendirian sih," kata Bayan dengan mimik wajah kecewa.


"Bukan salah Nathan Yah. Aku yang emang ga mau diantar. Aku juga harus buru-buru karena harus ikut Papa ketemu kliennya. Kalo diantar sama Nathan bikin Aku jadi malah ga mau pisah sama dia nanti. Dan Ayah tau pasti kan gimana Papa kalo Aku ga tepat waktu," gurau Mia hingga membuat Bayan, Rama dan Riko tertawa.


"Ya ya, Papa Kamu emang orang yang serius. Ayah udah bilang supaya relaks sedikit tapi dia cuma bilang ga bisa terus," sahut Bayan.


Ucapan Bayan mau tak mau membuat Mia tertawa. Ia membenarkan ucapan Bayan karena sikap kaku sang papa juga kerap membuatnya kesal.


"Kalo gitu hati-hati ya. Ga usah ngebut dan jangan lupa berdzikir. Calon pengantin itu biasanya banyak gangguan. Kalo bukan gangguan eksternal, bisa jadi justru datang dari lingkungan internal. Jadi tetap waspada dan jangan kepancing sama sesuatu yang belum tentu kebenarannya ya Mi," kata Bayan sambil mengusap kepala Mia dengan lembut.


"Iya Yah," sahut Mia.


Tak lama kemudian Mia nampak telah berada di perjalanan menuju kantor sang papa. Mia nampak termenung mengingat nasehat sang calon mertua tadi. Mia merasa Bayan tahu apa yang tengah ia rasakan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2