
Tepat jam delapan malam Bayan, Riko dan Rama baru bisa bernafas lega karena telah menyepakati sebuah kerja sama baru.
Sesuai janjinya, Bayan pun menghubungi Anna untuk sekedar menyapanya. Kali ini bahkan Bayan juga memberitahu tentang keberhasilannya menandatangani proyek baru.
Melihat Bayan yang berulang kali menghubungi istrinya membuat Riko dan Rama tertawa geli. Bayan menjelaskan jika itu adalah permintaan mertuanya agar Anna tak mengalami syndrom baby blues.
"Masa sih Yan. Gue baru denger cara menghindari supaya Istri ga kena syndrom baby blues ya harus sering nelephon dia," kata Rama di sela tawanya.
"Terserah Lo mau percaya atau ga. Mungkin khusus untuk Istri Gue ya emang begitu caranya," sahut Bayan sambil meneguk kopinya.
"Tapi masuk akal juga sih Yan," kata Riko.
"Masuk akal dimananya sih Rik?" tanya Rama tak mengerti.
"Istri yang baru melahirkan biasanya kan sensitif. Dia merasa ga cantik lagi karena biasanya saat hamil kan bobot badannya bertambah, wajahnya kusut ga terurus karena sibuk ngurusin persiapan bayi plus ngidam yang kadang aneh. Nah biasanya kebawa juga sampe dia selesai melahirkan. Dan itu bikin dia insecure, khawatir suaminya kepincut cewek lain. Kalo Suami sering nelephon itu artinya Suami masih care sama dia dan itu bikin Istri senang. Dia jadi lebih tenang mengasuh bayinya karena yakin suaminya ga macam-macam di luar sana," kata Riko panjang lebar.
Mendengar ucapan Riko, membuat Rama dan Bayan saling menatap sejenak kemudian mengangguk.
"Lagian ga ada ruginya sering nelephon Istri. Kan dapat doa juga. Buktinya Kita bisa deal sama perusahaan rekanan tadi," kata Riko menambahkan.
"Lo bener Rik. Tapi Gue liat Lo daritadi ga nelephon Mona. Kenapa, musuhan Lo ?" tanya Rama.
"Ga juga. Kalo Gue kan ga punya Anak, beda sama Lo berdua. Mona juga bukan type cewek posessif yang harus tau kegiatan pasangan tiap detik," sahut Riko santai.
Bayan dan Rama kembali saling menatap dengan tatapan yang sulit terbaca. Bayan dan Rama tahu betul jika Riko dan Mona menikah tanpa restu orangtua masing-masing. Mereka nekad menikah tanpa restu karena tak ingin dijodohkan dengan pilihan orangtua. Nampaknya mereka masih menunggu restu itu turun hingga saat ini. Mungkin itu sebabnya Riko dan Mona sengaja menunda memiliki keturunan karena tak ingin anak-anak mereka lahir di tengah keluarga besar yang tak menerima kehadiran mereka.
"Emangnya Lo ga pengen punya Anak Rik ?" tanya Bayan setelah terdiam beberapa saat.
"Pengen lah Yan. Tapi Lo tau kan kenapa Gue sama Mona menunda memiliki momongan ?" tanya Riko gusar.
"Tapi Gue pikir dengan Lo punya anak siapa tau justru bisa meluluhkan hati orangtua dan mertua Lo Rik," kata Bayan yang diangguki Rama.
__ADS_1
"Emang bisa begitu Yan ?" tanya Riko tak percaya.
"Insya Allah bisa. Orangtua emang bisa kesel dan ngambek sama Anaknya bertahun-tahun. Tapi kalo sama Cucu tuh beda Rik. Bahkan pernah kejadian, sama Anak menantu masih kesel dan pasang wajah garang, tapi ngeliat Cucu mah langsung meleleh. Bahkan mereka bisa ada di satu ruangan yang sama. Walau ga saling bertegur sapa, tapi mereka momong satu anak kecil yang sama. Kebayang kan gimana absurdnya suasana saat itu," sahut Bayan dengan mimik wajah serius.
Ucapan Bayan mau tak mau membuat Riko berpikir untuk mencoba memiliki anak agar bisa meluluhkan hati orangtua dan mertuanya.
\=\=\=\=\=
Malam itu Bayan, Rama dan Riko memutuskan mencari penginapan untuk beristirahat. Mereka khawatir akan membahayakan jiwa jika memaksa pulang dalam kondisi lelah dan mengantuk.
Setelah makan malam ketiganya pun berpisah dan masuk ke kamar masing-masing.
Setelah membersihkan diri Bayan mencoba menghubungi Ustadz Mustafa dan berhasil. Setelahnya ia membuat janji untuk bertemu keesokan harinya.
Setelah sholat Subuh berjamaah di musholla penginapan, Bayan memutuskan pulang ke Jakarta. Kali ini Bayan lah yang mengemudi karena Rama dan Riko masih kelelahan dan mengantuk. Keduanya bahkan tertidur hingga tiba di Jakarta.
Setelah mengantar Rama dan Riko pulang ke rumah masing-masing, Bayan langsung meluncur menuju Rumah ustadz Mustafa. Tiba di sana ia disambut anak sulung sang ustadz yang bernama Mirza.
"Jadi ini yang namanya Mas Bayan," kata Mirza setelah mempersilakan Bayan duduk.
"Ada Mas. Tapi Bapak sedang sakit. Kayanya beliau ga bisa membantu Mas Bayan," sahut Mirza sambil melirik kearah kamar yang tertutup.
"Sakit ?, sejak kapan ?. Semalam waktu Saya telephon Ustadz Mustafa baik-baik aja kok. Bahkan Beliau yang nyuruh Saya ke sini hari ini," kata Bayan tak mengerti.
"Bapak sakit udah setahun belakangan ini Mas. Ga tau nama penyakitnya apa. Tapi kondisi Bapak bisa dibilang ga stabil Mas. Kadang sehat wal Afiat dan ingat semuanya, tapi di jam berikutnya Bapak lupa semua yang terjadi termasuk yang dia omongin tadi. Mungkin saat Mas Bayan telephon, kondisi Bapak lagi sehat. Makanya Beliau minta Mas ke sini siang ini," kata Mirza tak enak hati.
Ucapan Mirza membuat Bayan terkejut. Jika kesehatan ustadz Mustafa tak stabil, itu artinya ia harus mencari orang lain yang bisa membantunya menetralisir aura negatif yang melingkupi istrinya dan rumah mereka.
Melihat kegelisahan Bayan membuat Mirza iba. Untuk membuktikan ucapannya, Mirza pun membawa Bayan masuk ke dalam kamar ustadz Mustafa.
Saat pintu kamar terbuka Bayan bisa melihat ustadz Mustafa yang terbaring lemah di atas tempat tidur sedang menatap ke satu titik dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Mirza pun menepi lalu memberi kode pada Bayan agar masuk ke dalam kamar dan menyapa ayahnya. Bayan mengangguk lalu perlahan duduk di samping ustadz Mustafa.
Dari jarak sedekat itu Bayan bisa melihat kondisi ustadz Mustafa yang mengenaskan. Namun di balik kondisinya yang memprihatinkan itu Bayan melihat tatapan mata tajam sang ustadz seolah menyimpan sesuatu.
"Assalamualaikum Pak Ustadz," sapa Bayan hati-hati.
Sapaan Bayan membuat ustadz Mustafa menoleh lalu tersenyum.
"Wa alaikumsalam. Siapa ya ?" tanya ustadz Mustafa.
"Saya Bayan Ustadz. Apa Ustadz masih inget sama Saya ?" tanya Bayan.
"Bayan ?. Rasanya pernah denger nama itu, tapi lupa dimana," sahut ustadz Mustafa sambil melengos.
Sikap dan jawaban ustadz Mustafa membuat Bayan putus asa. Ia nampak berpikir sebelum mengungkapkan kegelisahannya.
Mirza yang mengerti jika Bayan butuh ruang privacy pun pamit undur diri. Ia tak ingin mendengar curhatan Bayan karena nampaknya Bayan malu saat rahasia kecilnya diketahui orang lain termasuk dirinya.
Setelah Mirza keluar dari kamar ustadz Mustafa, Bayan pun mencondongkan tubuhnya agar posisinya bisa lebih dekat dengan sang ustadz.
"Saya Bayan, Suami Senja. Wanita jelmaan kuyang yang pernah Ustadz tolong dulu. Apa Ustadz inget sama Saya," bisik Bayan di telinga ustadz Mustafa.
Suara Bayan membuat ustadz Mustafa terkejut. Ustadz Mustafa nampak menoleh cepat lalu menatap wajah Bayan dengan seksama.
"Titisan kuyang itu belum pergi. Dia masih berkeliaran dan ingin memanfaatkan keadaan di sekitarmu. Hati-hati lah," bisik ustadz Mustafa.
Tentu saja jawaban ustadz Mustafa mengejutkan Bayan.
"Jadi Ustadz tau apa tujuan Saya datang ke sini. Apa itu artinya Ustadz mau membantu Saya lagi ?!" tanya Bayan penuh harap.
"Tapi Aku ga bisa seperti dulu Bayan. Aku sudah tua, tubuhku pun mulai melemah. Orang-orang di sekitarku mengira Aku sakit, padahal Aku ga sakit. Kalo Kamu mau bersabar, temui Aku lusa di Rumah Sakit J. Itu waktunya keluargaku membawaku check up rutin. Kita bisa bicara di sana karena biasanya keluargaku hanya mengantar Aku, meninggalkanku saat therapy dan menjemputku setelah Aku selesai menjalani therapy sore harinya. Gimana, Kamu mau kan ?" tanya ustadz Mustafa.
__ADS_1
Bayan pun mengangguk mengiyakan. Meski pun ia belum mengerti apa yang terjadi, tapi Bayan tak punya pilihan lain. Setelah membuat janji baru dengan ustadz Mustafa, Bayan pun pamit pulang.
\=\=\=\=\=