
Tiba di luar UGD Rama pun menghubungi Bayan. Ia menceritakan apa yang terjadi dan meminta Bayan membantunya mencari Kayla. Bayan mengiyakan meski pun ia belum tahu harus mencari kemana.
Setelah menyerahkan pencarian Kayla pada Bayan, Rama pun memilih pergi ke kantin Rumah Sakit untuk membeli kopi. Ia berharap setelah meneguk kopi pikirannya akan lebih jernih.
Sementara itu kedua orangtua Dita masih duduk menunggui putrinya hingga siuman. Mereka tersenyum saat melihat Dita menggeliat dan membuka mata setelah mereka menunggu dua jam lebih.
"Dita ...," panggil ibu Dita.
Dita menoleh lalu tersenyum. Namun senyumnya memudar saat ia teringat anak semata wayangnya.
"Kayla. Dimana Kayla. Bu, mana Kayla ?!" tanya Dita sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Ibu ga tau. Waktu ke sini Ibu juga ga liat Kayla. Suamimu juga lagi nyariin Kayla sekarang. Mungkin sebentar lagi Kayla ke sini," sahut ibu Dita ragu.
Ucapan sang ibu membuat Dita sedikit tenang, tapi hanya sesaat. Karena beberapa detik kemudian Dita ingat apa yang menyebabkan ia terbaring di Rumah Sakit itu. Dan tiba-tiba Dita kembali menjerit histeris hingga mengejutkan semua orang. Tepat di saat bersamaan Rama juga sedang melangkah menuju ruang UGD setelah menikmati segelas kopi tadi. Rama pun mempercepat langkahnya saat mendengar jeritan Dita.
Melihat Dita yang meronta sambil menjerit itu membuat Rama bingung. Apalagi saat itu Dita terus memanggil nama anak mereka berulang kali. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Kayla, Rama pun maju ke depan lalu menanyai Dita.
"Kamu manggilin Kayla terus daritadi. Emangnya Kayla dimana, bukannya Kamu bawa Kayla tadi ?!" tanya Rama sambil memegang tangan Dita.
"Kayla hilang. Dia hilang !" jerit Dita hingga membuat semua orang terutama Rama terkejut bukan kepalang.
"Hilang gimana sih maksud Kamu. Kok bisa hilang ?" tanya Rama tak percaya.
Dengan terbata-bata Dita menceritakan apa yang ia alami tadi. Tak ada satu pun yang terlewat. Mendengar cerita Dita yang tak masuk akal membuat Rama marah. Ia yakin jika kelalaian Dita menyebabkan anak mereka jatuh atau diculik. Dita menyangkal dan mengulangi ceritanya dengan air mata berderai. Tapi cerita Dita justru membuat Rama makin marah. Ia bahkan hampir memukul Dita saking marahnya. Beruntung kedua orangtua Dita berhasil mencegah aksi main tangan Rama hingga tak menjadi kasus KDRT.
Dengan geram Rama keluar dari ruangan lalu menghubungi Bayan. Ia tak ingin sang sahabat melakukan hal sia-sia karena harus mencari Kayla yang katanya raib entah kemana.
__ADS_1
"Lo dimana Yan ?" tanya Rama.
"Lagi di jalan nih, udah deket kok sama rumah Lo," sahut Bayan.
"Pulang aja Yan," kata Rama.
"Eh, maksudnya gimana ya. Gue pulang ke rumah Gue gitu ?. Emangnya Kayla udah ketemu ?" tanya Bayan bingung.
"Kata Dita Kayla ilang, percuma Lo nyari di sana juga," sahut Rama kesal.
"Ilang diculik atau ...."
"Ga tau !. Pokoknya Dita bilang Kayla ilang dari gendongannya. Ga jatuh apalagi diculik. Karena pas kejadian tempat itu sepi ga ada siapa-siapa," sahut Rama gusar.
Jawaban Rama mengejutkan Bayan. Ia merasa prihatin dengan musibah yang menimpa Rama. Bayan pun bergegas membelokkan arah mobil menuju Rumah Sakit dimana Dita dirawat.
"Rama !" panggil Bayan sambil menghambur memeluk sang sahabat.
Rama pun balas memeluk Bayan. Ia tak kuasa lagi menahan tangis yang sejak tadi ingin meledak. Bayan menepuk punggung Rama untuk menenangkannya. Beberapa saat kemudian Rama pun berhasil menguasai diri hingga Bayan bisa melerai pelukan.
Kemudian Bayan dan Rama duduk untuk bicara. Namun tiba-tiba ayah Dita memanggil Rama dan mengatakan jika Dita bisa dipindahkan ke ruang rawat inap setelah Rama menyelesaikan biaya administrasi. Saat menyadari kehadiran Bayan di sana, ayah Dita nampak tersenyum lalu menyapa Bayan dengan hangat.
" Kalo gitu Gue urus Dita dulu ya, Lo di sini aja sama Bapak," kata Rama.
Bayan mengangguk lalu menoleh kearah mertua Rama. Kemudian terjadi lah perbincangan antara Bayan dan mertua Rama.
Bayan menyarankan untuk melaporkan kasus hilangnya Kayla ķe polisi namun Ayah Dita menolak. Hal itu membuat Bayan bingung karena tak mengerti dengan jalan pikiran mertua Rama itu.
__ADS_1
"Saya ga mau mempermalukan diri sendiri Mas Bayan," kata ayah Dita.
"Mempermalukan diri gimana maksudnya Pak. Kan Cucu Bapak hilang, jadi wajar dong kalo lapor Polisi. Kalo ditangani Polisi insya Allah Kayla cepet ketemu karena Polisi punya cara tersendiri buat nyari Kayla. Banyak juga anak hilang yang berhasil ditemuin sama polisi meski pun udah berbulan-bulan hilang lho Pak," kata Bayan.
"Andai Kayla hilang dengan cara yang wajar mungkin Saya adalah orang pertama yang melaporkan ke Polisi. Tapi sayangnya Kayla hilang secara misterius Mas. Saya aja ragu sama cerita Dita yang bilang anaknya hilang diambil setan. Saya khawatir Polisi malah menertawakan Kami nanti," sahut ayah Dita sambil tersenyum kecut.
Ucapan ayah Dita mengejutkan Bayan. Dalam hati ia percaya namun ia ingin mendengar langsung dari mulut Dita tentang apa yang terjadi.
\=\=\=\=\=
Malam itu Bayan menemani Rama di Rumah Sakit. Bayan sengaja mengajak Rama duduk di luar ruangan karena ingin meredakan amarah Rama yang selalu memuncak tiap kali melihat Dita. Sementara itu kedua orangtua Dita sibuk menenangkan anaknya.
"Lo denger sendiri kan apa yang Dita bilang tadi Yan. Mustahil kan Kayla ilang diambil setan. Lagian kenapa sih Dita pake ngambek dan minggat segala, akhirnya malah Kayla yang jadi korban kan. Andai Dita mau nunggu Gue pulang dan ngomongin semuanya baik-baik, pasti ga akan kaya gini jadinya !" kata Rama kesal sambil mengusak rambutnya dengan kasar.
"Udah jangan ngomel mulu Ram. Tenangin diri Lo. Sebaiknya Lo dzikir dan doa, minta petunjuk sama Allah. Mudah-mudahan warga yang sekarang lagi bantu nyari di tempat ilangnya Kayla bisa nemuin petunjuk dimana Kayla berada," kata Bayan.
"Tapi perasaan Gue bilang kalo Gue ga bakal ketemu lagi sama Kayla, Yan. Gue ....,"
"Hush !. Jangan pesimis dong Ram. Kalo Lo nyerah, gimana yang lain. Lo kan Ayahnya Kayla, orang pertama yang bakal Kayla andalkan untuk menghadapi semua masalah. Kalo Lo lemah, Kayla pasti sedih !" sentak Bayan untuk menyadarkan Rama.
Rama pun mengusap wajahnya. Ia terdiam mendengar ucapan Bayan. Namun jauh di lubuk hatinya Rama merasa telah benar-benar kehilangan Kayla.
Rasa yang sama juga dialami Bayan. Ia merasa jika Kayla telah pergi untuk selamanya karena dimangsa oleh makhluk malam yang sedang berusaha ia hindari.
Entah mengapa Bayan yakin jika makhluk malam berwujud kuyang itu sedang berusaha menyakitinya. Dengan mengincar keluarganya berarti mahkluk itu berniat memutus keturunan yang ia miliki dengan menyerang istri dan anak-anaknya. Dan kini mahkluk itu sudah 'menyentuh' orang terdekatnya dan itu membuat Bayan gusar.
Sejujurnya Bayan tak mengerti mengapa makhluk malam berwujud kuyang itu terus mengikutinya seolah memiliki dendam yang tak ada habisnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=