
Nenek Hilya bergegas melangkah menuju toilet khusus wanita. Bima yang menemani sang nenek pun nampak khawatir jika wanita itu terjatuh karena terlalu cepat melangkah.
"Pelan-pelan aja Nek. Toiletnya ga pindah kok," gurau Bima.
"Nenek tau Bim. Masalahnya bukan toilet yang pindah tapi Nenek udah kebelet nih," sahut nenek Hilya sambil meringis menahan pipis.
"Nenek nih kebiasaan deh. Selalu pipis saat udah kebelet. Harusnya waktu terasa mau pipis ya buruan pipis ga usah nunggu sampe kebelet segala," omel Bima.
"Ck, iya iya. Nenek begini kan gara-gara Ayahnya Hilya. Coba kalo dia ga datang, Nenek udah datitadi pipis," kata nenek Hilya ketus.
"Maksud Nenek, Om Heri ?" tanya Bima.
"Iya. Udah ntar aja ngomongnya. Nenek pipis dulu !" kata nenek Hilya sambil bergegas masuk ke dalam toilet.
Bima nampak menghela nafas panjang melihat sang nenek menyelinap masuk dengan cepat ke dalam toilet wanita. Bima tak bisa ikut masuk dan terpaksa menunggu tak jauh dari toilet.
Tak lama kemudian nenek Hilya pun selesai buang hajat. Wanita itu pun mendekat kearah wastafel untuk cuci tangan sekaligus memperbaiki penampilannya di depan cermin besar di sana.
Setelah mematut diri sebentar, nenek Hilya pun bersiap keluar dari toilet. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Heri berdiri di balik pintu dan tengah menatapnya lekat.
"Astaghfirullah aladziim ... Heri !. Kenapa Kamu berdiri di sana. Ga ada suara, bikin kaget tau ga ?!" kata nenek Hilya sambil memegangi dadanya saking terkejutnya.
"Maaf ..., apa kabar Mak ?" tanya Heri sambil menghampiri nenek Hilya.
"Baik, tapi ketemu Kamu jadi ga baik. Eh, Kamu mau ngapain di sini Her ?. Ini kan toilet perempuan. Ga usah deket-deket ya. Aku teriak lho nanti !" ancam nenek Hilya sambil mundur beberapa langkah ke belakang.
Heri berhenti melangkah lalu menghela nafas panjang.
"Aku cuma mau menyapa Mak aja," kata Heri sedih.
"Udah kan ?. Sekarang Kamu pergi sana. Aku muak ngeliat Kamu !" kata nenek Hilya ketus.
Heri nampak tersenyum getir mendengar ucapan mantan mertuanya itu. Dulu wanita di hadapannya itu adalah wanita yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka dan menyayanginya bak anak kandung. Tapi semuanya berubah sejak ia menghianati istrinya yang notabene adalah anak kandung wanita itu.
"Maaf Mak. Tapi tolong dengerin Aku sebentar aja. Setelah ini Aku janji ga akan nongol dan bikin Mak kesel lagi," kata Heri menghiba.
__ADS_1
Nenek Hilya berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Ok, Kita cari tempat lain untuk ngobrol. Jangan di sini, ga enak kalo ada yang ngeliat nanti. Apa kata orang kalo liat Kamu ada di toilet perempuan kaya gini !" kata nenek Hilya.
"Tapi Aku ga punya waktu Mak. Aku harus pergi setelah ini," kata Heri memaksa sambil mencekal lengan nenek Hilya.
"Kamu takut sama Istrimu ?. Kalo takut ngapain datang ke sini ?. Dan dimana dia, kenapa ga ikut sama Kamu. Padahal dia sesumbar mau datang ke sini. Tapi mana buktinya ?!" kata nenek Hilya kesal.
Heri mengabaikan pertanyaan nenek Hilya dengan menggelengkan kepalanya.
"Tolong denger Aku sebentar aja. Aku cuma mau bilang kalo Aku punya sedikit simpanan di brankas di rumahku yang sengaja Aku siapkan untuk Hilya. Mungkin jumlahnya ga seberapa tapi tolong berikan nanti sama Hilya ya Mak. Nomor sandinya adalah tanggal lahir Mak ...," kata Heri sambil meringis dan memegangi dadanya.
Ucapan Heri mengejutkan nenek Hilya. Ia terharu dan tak menyangka jika mantan menantu kesayangannya itu menjadikan tanggal lahirnya sebagai sandi brankas. Namun nenek Hilya cemas melihat wajah Heri yang memucat usai mengatakan itu.
"Kenapa ga bilang langsung sama Hilya tadi ?" tanya nenek Hilya.
"Aku ga sempet Mak ...," sahut Heri sambil meringis seolah menahan rasa sakit.
"Heri !. Kamu gapapa Her ?. Apa yang sakit, kenapa ga pergi ke Rumah Sakit ?. Kalo sakit tuh harusnya berobat dan bukan keluyuran kaya gini Her !" kata nenek Hilya gusar.
"Aku tau Mak ga bener-bener benci sama Aku. Maafin Aku karena udah bikin Mak sakit hati. Tolong maafin Aku ya Mak ...," kata Heri sambil menangis.
Pertahanan nenek Hilya pun runtuh. Ia ikut menangis sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Iya. Aku sudah maafin Kamu sejak lama Her. Hilya yang memintaku memaafkan Kamu. Bodohnya Kamu karena membuang Anak semanis Hilya. Dia ga pernah membencimu tapi dia jadi sedikit anti sama laki-laki gara-gara Kamu. Untung dia bertemu dengan Nathan yang sabar dan dewasa. Nathan lah yang menyadarkan Hilya bahwa ga semua laki-laki seperti Kamu !" kata nenek Hilya di sela tangisnya.
"Iya Mak. Aku juga bersyukur Hilya menikah dengan Nathan. Sekarang Aku harus pergi ke Rumah Sakit ya Mak. Sekali lagi maafin Aku," kata Heri sambil bergegas keluar dari toilet bersamaan dengan masuknya dua orang wanita ke dalam toilet.
Dua wanita itu nampak terpaku dan saling menatap sejenak. Mereka terkejut melihat nenek Hilya menangis. Mereka pun segera mendekat dan menyapa.
"Nenek, kenapa nangis Nek. Apa Nenek sakit ?" tanya salah seorang wanita.
"Gapapa Nak. Nenek cuma kelilipan aja kok. Apa Kalian ketemu Bima di luar ?" tanya nenek Hilya sambil membasuh wajahnya dengan air.
"Iya. Dia minta Nenek lebih cepet karena dia malu nunggu di depan sendirian," sahut salah seorang wanita sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ck, Anak itu emang selalu ga sabaran. Kalo gitu Nenek duluan ya," kata nenek Hilya.
Dua wanita itu mengangguk lalu melepas kepergian nenek Hilya. Setelahnya mereka masuk ke bilik toilet untuk menyelesaikan keperluan mereka.
\=\=\=\=\=
Pesta pun usai dan semua tamu telah kembali ke rumah masing-masing. Hanya pengantin beserta keluarga dan orang-orang yang berkepentingan yang masih bertahan di gedung itu.
Jika Hilya masih di ruang ganti untuk melepas gaun pengantinnya yang super besar dan mewah itu, maka Nathan nampak duduk bersama keluarganya yang kini jumlahnya pun bertambah karena pernikahannya dengan Hilya.
Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam gedung hingga mengejutkan kakek dan nenek Hilya. Keduanya berdiri lalu menatap pria itu dengan tatapan tajam dan tak bersahabat.
Bayan dan Nathan yang melihatnya pun ikut berdiri karena khawatir akan ada keributan nanti.
"Ada apa Pak. Siapa orang itu ?" tanya Bayan sambil berbisik.
"Dia Bapaknya Heri, Kakek Hilya juga. Saya ga tau dia mau apa. Tapi seingat Saya, Kami ga mengudang dia dan Istrinya ke pernikahan Hilya," sahut kakek Hilya cepat.
Bayan pun mengangguk lalu tersenyum kearah bapak Heri. Bayan bahkan mempersilakan bapak Heri untuk duduk. Karena menghormati Bayan, kakek dan nenek Hilya terpaksa ikut duduk berhadapan dengan mantan besannya itu.
Pembicaraan selanjutnya mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak. Bapak Heri datang membawa kabar duka. Ia memberitahu jika Heri telah meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan tol tadi pagi.
Yang paling shock diantara semua orang yang ada di sana adalah Nathan dan nenek Hilya. Jika Heri sudah meninggal dunia sejak tadi pagi, lalu siapa yang datang dan bicara dengan mereka tadi ?.
Pertanyaan itu terus memenuhi benak keduanya hingga jeritan histeris Hilya terdengar mengejutkan mereka dan semua orang di ruangan itu. Beruntung Nathan sigap menangkap tubuh Hilya yang hampir tersungkur jatuh ke lantai usai mendengar berita buruk yang dibawa bapak Heri.
"Ga mungkin ..., itu bohong kan. Ga mungkin Ayah meninggal. Opa bohong kan ...?!" tanya Hilya dengan suara bergetar.
Bapak Heri yang dipanggil opa oleh Hilya pun nampak menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Opa ga bohong Hilya. Ayahmu ... memang meninggal dunia. Heri ... berniat menghadiri pernikahanmu hari ini. Dia dan Istrinya ... mengalami kecelakaan di jalan tol dan meninggal di lokasi kecelakaan," sahut bapak Heri sambil menangis.
Ucapan sang opa membuat Hilya menjerit sekali lagi lalu jatuh pingsan di dalam pelukan suaminya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1