Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
210. Siapa Di Ruang Bersalin


__ADS_3

Pagi di sebuah kamar.


Rosi tampak mengamuk karena gagal mendapatkan mangsanya. Ia menghancurkan benda apa pun yang ada didekatnya. Melemparkannya ke lantai hingga kini lantai dipenuhi pecahan barang.


"Sia*an !. Kurang ajar !. Siapa mereka sebenarnya. Kenapa mereka ada di sana dan menaburkan cairan sia*an itu !. kata Rosi marah.


Rosi memang tak bisa mengenali Bayan dan Nathan karena saat itu ia tengah fokus untuk mendapatkan mangsanya.


Rosi menoleh ke cermin dan menggeram saat melihat pantulan wajahnya di sana. Saat itu wajah Rosi terlihat pucat dan sedikit membiru. Rambutnya kusut dengan ruam kemerahan di kulit wajah dan lehernya. Ruam kemerahan itu terasa gatal dan panas. Rosi berkali-kali menggaruknya namun itu tak mampu menepis rasa gatal dan panas yang mendera.


" Ssshhh ..., apa lagi ini. Kenapa rasanya gatal dan panas," kata Rosi sambil terus menggaruk.


Rosi pun refleks meraih sisir lalu menggaruk kulitnya. Kedua mata Rosi terpejam saat ujung sisir mengenai kulitnya. Ia baru membuka mata dan berhenti menggaruk saat rasa gatal itu hilang dan berganti dengan rasa perih.


Rosi membelalakkan matanya saat melihat kulit wajah dan lehernya tergores. Ada luka gores memanjang di sana dan itu membuat Rosi bertambah kesal. Ia membuang sisirnya ke sembarang arah karena menganggap sisir itu lah yang telah melukainya.


Setelahnya Rosi melempar pandangan keluar jendela. Ia tersenyum saat mendengar celoteh anak-anak di luar sana. Rosi bergegas menuju jendela untuk melihat keluar. Senyum nampak menghias wajahnya saat melihat sekelompok anak balita sedang bermain.


"Hmmm ..., nampaknya darah mereka cukup untuk menggantikan darah bayi itu," gumam Rosi sambil membasahi bibirnya dengan ujung lidah.


Setelah mengatakan itu Rosi menutup gorden jendela. Ia menatap kamarnya sejenak. Menimbang apakah akan membereskan kamar itu atau menuntaskan hasratnya lebih dulu.


Sesaat kemudian Rosi nampak menganggukkan kepalanya. Ia tak ingin membuat gaduh dengan menyerang anak-anak itu sepagi ini.


Setelah berpikir sejenak, Rosi memutuskan akan menyapa anak-anak itu nanti. Mencoba mengenal mereka dari dekat agar bisa memangsa mereka perlahan. Selain itu Rosi berharap mendapatkan bonus dari usaha pendekatannya nanti.


"Siapa tau ada bayi juga di sekitar sini yang bisa Aku manfaatkan," gumam Rosi sambil tertawa.


\=\=\=\=\=


Nathan sedang berdiri mengawasi kegiatan renovasi Klinik Bersalin Hilya. Nathan sengaja menutup semua 'celah' setelah berhasil mengusir siluman kuyang kemarin malam. Ia tak mau siluman itu datang lagi dan mengganggu ketentraman klinik.


Musang adalah alasan tepat untuk Nathan merenovasi Klinik Bersalin Hilya hingga tak seorang pun curiga akan keputusannya.


"Jangan sampe ada celah sedikit pun ya Pak. Saya ga mau musang itu mengganggu pasien nanti. Kasian mereka kalo tiba-tiba ngeliat musang di kamar. Apalagi ada bayi juga di sana," kata Nathan.

__ADS_1


"Siap Mas !" sahut para tukang bersamaan.


Riza yang bertugas siang itu pun nampak menggelengkan kepala melihat bagaimana ketatnya Nathan mengawasi para tukang yang sedang bekerja.


"Dibikin rapet banget ya Mas. Kayanya kecoa aja ga bisa masuk saking rapetnya," gurau Riza.


Ucapan Riza membuat Nathan tertawa keras. Kemudian Nathan menjelaskan upayanya bersama Bayan dan security yang bertugas malam itu saat mengejar musang.


"Segede apa sih musangnya ?" tanya Riza penasaran.


"Kalo ga salah sebesar bola sepak, mungkin lebih besar lagi," sahut Nathan cepat.


"Musang kok bulat ?" tanya Riza sambil mengerutkan keningnya.


"Musang ga bulat dong Riz. Waktu Saya liat, musangnya lagi ngeringkuk gitu. Mungkin lagi makan sesuatu," sahut Nathan asal.


"Oh gitu. Kirain musangnya bulat, makanya Saya heran," kata Riza sambil nyengir.


Nathan pun tersenyum dan menoleh saat melihat Esih melangkah kearahnya. Esih adalah wanita yang menggantikan tugas Rosi. Wanita itu nampak tersenyum saat melihat Nathan.


"Gapapa Bi. Makasih ya," sahut Nathan sambil tersenyum.


Esih mengangguk lalu ikut mengamati pekerjaan para tukang. Wajahnya menyiratkan sesuatu dan Nathan melihatnya dengan jelas.


"Kenapa Bi Esih ?. Apa ada yang mau diomongin ?" tanya Nathan.


"Mmm ..., Saya khawatir yang Saya omongin ga masuk akal Mas. Ntar Mas Nathan malah ngetawain Saya," sahut Esih malu-malu.


"Ga masuk akal gimana maksud Bi Esih ?. Soalnya Saya ngerenovasi Klinik ini karena alasan ada musang juga dianggap ga masuk akal sama sebagian orang. Kan katanya musang ga suka hidup di kota besar yang rame kaya gini," kata Nathan santai.


"Betul tuh Mas. Cerita aja lah Bi, siapa tau Mas Nathan bisa bantu. Dan kalo itu berkaitan sama gedung klinik kan bisa sekalian diperbaiki mumpung ada tukang," sela Riza yang diangguki Nathan.


Esih pun mengangguk lalu mulai menceritakan apa yang dilihatnya malam itu. Ternyata saat siluman kuyang jelmaan Rosi berkeliaran di atas klinik, saat itu Esih masih terjaga. Bahkan saat siluman kuyang memaksa menerobos masuk melalui celah di dinding kamarnya, Esih juga tahu.


Tentu saja cerita Esih mengejutkan Nathan. Ia tak menyangka jika ada orang lain yang mengetahui kedatangan siluman kuyang itu.

__ADS_1


"Masa sih. Bi Esih yakin kalo itu kepala orang ?" tanya Riza setengah berbisik.


"Yakin Riz. Saya kan masih melek waktu itu," sahut Esih mantap.


"Wujudnya beneran kepala atau ...," ucapan Nathan terputus karena Esih memotong cepat.


"Beneran kepala orang Mas. Mukanya serem banget. Saya takut tapi ga berani keluar karena khawatir diserang," kata Esih sambil bergidik.


"Wah, mungkin itu pencuri Bi. Sengaja naik ke atas karena mau masuk lewat belakang. Mungkin dia kira di belakang ga ada orang. Kan sejak Bu Rosi pergi, kamar belakang kosong. Makanya pas tau di belakang ada penghuninya dia kaget dan mencoba menakuti Bi Esih," kata Riza.


"Ya Allah, Saya jadi beneran takut nih sekarang. Untung kemarin dia ga berhasil masuk. Tapi kalo suatu saat dia balik lagi sambil bawa temen gimana dong ?!" kata Esih panik.


"Bi Esih tenang aja. Tukang-tukang ini di sini kan karena mau nutup semua lubang biar ga ada celah untuk para pencuri masuk ke dalam klinik," sahut Riza menenangkan Esih.


Pembicaraan Riza dan Esih membuat Nathan lega. Ternyata kedua orang di hadapannya sama sekali tak menyadari jika kepala orang yang mereka bicarakan adalah wujud asli siluman kuyang.


Nathan menyingkir diam-diam lalu kembali mengamati semua sudut di klinik. Ia tak ingin membiarkan siluman kuyang masuk melalui celah sekecil apa pun di sana.


Saat sedang mengamati dinding, tak sengaja Nathan melihat seorang wanita yang mirip Rosi menyelinap masuk ke ruang bersalin. Nathan bergegas mengejarnya namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan seorang perawat.


"Pak Nathan ?" sapa sang perawat dengan wajah bingung karena melihat Nathan berdiri di depan ruang bersalin.


"Iya Suster. Maaf Saya mau tanya, apa di ruang bersalin ada orang ?" tanya Nathan.


"Ruang bersalin kosong Pak. Belum ada jadwal melahirkan hari ini. Kenapa Pak ?" tanya sang perawat.


"Gitu ya. Tapi Saya ngeliat seorang wanita masuk ke sana Sus," kata Nathan.


"Masa sih, itu kan ga boleh Pak. Ga ada yang boleh masuk ke sana selain yang berkepentingan karena di sana kan tempat yang steril Pak," kata sang perawat.


"Coba dicek aja Sus," pinta Nathan yang diangguki sang perawat.


Kemudian Nathan dan sang perawat bergegas melangkah ke ruang bersalin. Sang perawat nampak membuka pintu yang terkunci itu dengan anak kunci yang dibawanya. Dan saat pintu ruang bersalin terbuka, Nathan dan perawat nampak membeku di tempat masing-masing karena melihat sesuatu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2