
Kemudian ustadz Zulkifli mengajak Bayan, Nathan dan Nicko ke sebuah ruangan. Anna yang mengamati dari jauh nampak menganggukkan kepala saat Bayan memberi kode padanya.
Anna memilih tak ikut masuk ke dalam ruangan karena segan dengan ustadz Zulkifli yang berpenampilan layaknya ulama besar. Saat itu Ustadz Zulkifli mengenakan jubah mirip daster berwarna abu-abu lengkap dengan topi taliban hitam di kepalanya.
Ustadz Zulkifli adalah pria keturunan Arab yang bermukim di satu tempat di bilangan Jakarta Pusat. Keluarganya tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Ustadz Zulkifli juga pemilik klinik Thibun Nabawi itu. Ia mengenal Bayan saat mereka sholat Dzuhur berjamaah di masjid dekat kantor.
Setelah perkenalan itu mereka intens menjalin komunikasi. Hingga akhirnya Bayan memutuskan mengajak keluarganya ke klinik sang ustadz.
Di dalam ruangan nampak Bayan dan kedua anaknya duduk berhadapan dengan ustadz Zulkifli. Sebelumnya ustadz Zulkifli meminta mereka berwudhu di kamar mandi yang tersedia di ruangan itu.
"Sebenernya sekali liat aja Ana tau kalo Anak sulung Antum sedang bermasalah. Ada hal mistis yang mencoba mempengaruhinya untuk melakukan sesuatu yang buruk," kata ustadz Zulkifli setengah berbisik.
"Betul Ustadz. Saya juga merasa begitu. Saya emang ga tau apa dan gimana kejadiannya. Saya liat dia gelisah tanpa sebab, sering melamun dan keliatan gugup saat diajak ngomong. Saya inget kalo itu sesuai banget sama ciri-ciri orang yang dipengaruhi ilmu hitam seperti yang pernah Ustadz bilang dulu. Makanya Saya buru-buru bawa dia kemari biar segera diobati ssbelum terlambat," sahut Bayan.
"Insya Allah bisa segera teratasi karena keliatannya ini belum lama dan mengendap kok. Lain ceritanya kalo kondisi kaya gitu udah bertahun-tahun tapi diabaikan dan ga segera diobati," kata ustadz Zulkifli hingga membuat Bayan mengangguk senang.
Tak lama kemudian Nathan dan Nicko kembali usai berwudhu. Ustadz Zulkifli meminta Bayan dan kedua anaknya menunaikan sholat sunah dua rokaat terlebih dulu. Setelahnya mereka dimnta berdzikir dan berdoa memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala sesuatu yang membahayakan.
"Duduk di sini Nak. Ana akan bacakan beberapa ayat Al Qur'an nanti. Antum bertiga juga berdzikir ya. Kalo memang ada sesuatu yang negatif di dalam tubuh Nathan, maka akan terjadi sesuatu nanti. Karena itu Ana minta Kalian berdua siaga," kata ustadz Zulkifli.
"Baik Ustadz," sahut Bayan dan kedua anaknya bersamaan.
Kemudian ritual ruqyah secara syar'i pun dimulai. Saat ustadz Zulkifli membacakan ayat-ayat Al Qur'an, wajah Nathan tampak memerah. Selain itu tubuh Nathan pun bergetar hebat dengan kedua mata yang menatap nanar ke sekelilingnya. Perlahan namun pasti, kesadaran Nathan pun menghilang.
Nathan yang semula diam kini mulai meracau. Ia mengucapkan kalimat asing yang tak dimengerti oleh Bayan dan Nicko. Meski matanya terpejam tapi Nathan terus bicara.
"Siapa ini, apa yang Antum lakukan di dalam tubuh Anak ini ?!" tanya ustadz Zulkifli.
Ucapan ustadz Zulkifli yang lantang dan tegas itu sempat mengejutkan Nicko hingga membuatnya terlonjak kaget. Namun saat melihat sang ayah memegangi tangan sang kakak, Nicko pun turut membantu.
Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat Nathan mulai mengerang lalu menyentak tangan Bayan dan Nicko.
__ADS_1
"Percuma Antum datang ke sini karena yang Antum inginkan ga akan terwujud. Ana ga akan pernah mengabulkan keinginan Antum selamanya !" kata ustadz Zulkifli sambil menggelengkan kepala.
"Panas ... panaaasss !" jerit Nathan sambil menggeliat kesakitan.
"Kalo Antum keluar dari tubuh Anak ini, insya Allah Antum ga sakit lagi. Tapi kalo Antum milih bertahan di sana, jangan salahin Ana karena Ana akan bikin Antum menjerit kesakitan dengan ayat Al Qur'an yang Ana baca. Gimana ?, mau pergi atau bertahan ?" tanya ustadz Zulkifli.
Tiba-tiba Nathan menjerit. Kedua matanya mendelik ke atas. Saat itu di depan Nathan terlihat sebuah pemandangan tak patut yang memperlihatkan dirinya tengah bercinta dengan Mia. Dalam peristiwa itu terlihat Mia tergolek pasrah seolah tak berdaya sedangkan Nathan meronta tapi sesuatu menguasai tubuhnya. Hingga meski pun Nathan tak ingin, tapi sesuatu berwujud asap hitam memaksanya melakukan itu. Nathan tersentak kaget lalu membuka matanya saat mendengar Mia menjerit dan menangis mendapati kesuciannya direnggut oleh Nathan.
"Istighfar Nathan !. Istighfar !" kata ustadz Zulkifli dengan lantang tepat di telinga Nathan.
"Astaghfirullah aladziim ..., Astaghfirullah aladziim ...," kata Nathan berulang-ulang.
Setelah mendengar Nathan mengucap istighfar berulang kali, Bayan dan Nicko pun melepaskan cekalan mereka di tangan dan kaki Nathan.
Nathan nampak mengusap wajahnya yang berkeringat itu dengan telapak tangannya. Setelahnya ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang berusaha mengingat dimana dirinya berada sekarang.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuk lah seorang pria mengenakan setelan gamis dan peci. Pria itu menyapa semua orang lalu bertanya apa kah ustadz Zulkifli butuh bantuannya.
"Alhamdulillah udah selesai kok Fik. Antum lanjutkan aja pekerjaan Antum," kata ustadz Zulkifli sambil tersenyum.
"Iya silakan," sahut ustadz Zulkifli sambil mengusap wajahnya.
"Siapa itu Ustadz ?" tanya Bayan.
"Oh itu therapys bekam, namanya Fikri. Beliau Ustadz lulusan pesantren. Beliau membantu Saya di sini sejak klinik ini berdiri," sahut ustadz Zulkifli.
"Oh gitu ...," kata Bayan sambil mengangguk.
"Kenapa, apa Antum kenal sama Ustadz Fikri?" tanya ustadz Zulkifli.
"Ga juga. Cuma Saya merasa wajahnya familiar. Saya seperti pernah mengenalnya tapi ga tau dimana," sahut Bayan jujur.
__ADS_1
"Mungkin Antum pernah ketemu saat sholat di salah satu masjid di luar kantor. Soalnya Ustadz Fikri ini juga mengajar di sebuah SMP sebagai guru Agama. Kan Kita juga ga sengaja ketemu di masjid dulu," sahut ustadz Zulkifli.
"Iya mungkin juga. Terus gimana keadaan Anak Saya Ustadz?" tanya Bayan sambil menoleh kearah Nathan yang kini sedang meneguk air minum yang disodorkan Nicko.
"Coba Kita tanya dulu sama Nathan," sahut ustadz Zulkifli yang diangguki Bayan.
Kemudian ustadz Zulkifli bertanya beberapa hal pada Nathan. Tentang apa yang dilihatnya saat diruqyah tadi juga tentang perasaannya sebelum dan sesudah diruqyah.
Nathan menjawab dengan lugas semua pertanyaan ustadz Zulkifli hingga membuat sang ustadz tersenyum.
"Jadi siapa gadis itu ?" tanya ustadz Zulkifli.
"Dia anak Bos Saya Ustadz. Saya dipilih oleh Bos Saya langsung untuk mengawal Anaknya kemana pun dia pergi," sahut Nathan.
"Apa ada seseorang yang keliatan ga menyukai keputusan Bos Antum memilih Antum menjadi pengawal gadis itu ?" tanya ustadz Zulkifli.
"Ada. Emang kenapa Ustadz ?" tanya Nathan cemas karena bisa menebak siapa yang dimaksud ustadz Zulkifli.
"Soalnya Antum ada menyebut nama seseorang sekilas tadi. Mungkin mereka tak menyadari itu tapi Ana mendengarnya dengan jelas," sahut ustadz Zulkifli sambil tersenyum penuh makna.
"Terus Saya harus gimana Ustadz ?" tanya Nathan panik.
"Jangan lengah !. Kerjakan sholat lima waktu di awal waktu, baca lah Al Qur'an, jangan lupa sedekah dan biasakan berdzikir di setiap saat. Insya Allah dengan begitu Antum akan terlindung dari maksud jahat orang yang tak bertanggung jawab," sahut ustadz Zulkifli sambil tersenyum.
"Terus orang yang udah niat menyakiti Saya gimana Ustadz ?" tanya Nathan penasaran.
"Lupakan dia. Tak perlu mendendam jika Antum tau siapa orangnya. Biar Allah saja yang akan membalasnya nanti. Hidup lah sesuai tuntunan agama supaya Antum selamat di dunia dan akhirat,' sahut ustadz Zulkifli bijak.
Nathan mengangguk mengiyakan ucapan sang ustadz.
Sementara itu di tempat lain terlihat Haris yang memegangi perutnya. Wajahnya terlihat pucat. Ada darah di sekitar mulutnya. Rupanya Haris baru saja muntah hebat. Namun yang mengejutkan karena yang ia muntahkan adalah darah merah kehitaman disertai potongan tubuh ular yang telah mati.
__ADS_1
Haris terlihat kepayahan karena sakit yang ia rasakan di sekitar perut dan dadanya. Nampaknya Haris sadar telah terjadi sesuatu pada salah satu korbannya.
\=\=\=\=\=