
Nathan mengurai pelukannya lalu menatap Hilya penuh cinta. Kedua matanya nampak berkaca-kaca saking terharunya mengetahui Hilya tengah hamil sekarang.
"Jadi beberapa hari ini Kamu kesel sama Aku gara-gara Kamu hamil Sayang ?" tanya Nathan.
"Iya, maaf ...," sahut Hilya lirih sambil membuang tatapannya kearah lain.
Nathan menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Gapapa. Kalo hanya sementara dan ga selamanya Aku bisa maklum kok," kata Nathan mencoba santai.
"Oh ya, Kamu yakin bisa maklum ?" tanya Hilya tak percaya.
"Insya Allah. Tapi tolong bilang sama Anak Kita di dalam sana ya. Tolong jangan benci Aku. Gini-gini kan Aku Papanya," kata Nathan sambil tersenyum penuh makna.
Bukan senyuman yang didapat oleh Nathan. Tapi cubitan keras dan tatapan tajam lah yang Hilya berikan. Nathan pun meringis menahan panas di pinggang akibat cubitan yang dilayangkan sang istri.
"Liat Bund. Bang Nathan tuh nyebelin banget kan. Jadi wajar dong kalo Aku kesel sama dia," kata Hilya sambil melirik kearah Anna.
Anna tertawa mendengar ucapan menantu cantiknya itu.
"Kayanya hormon kehamilan Kamu berbeda sama yamg lain ya Hil. Kalo Ibu hamil pada umumnya suka bermanja sama Suaminya, tapi Kamu justru ngajakin Suamimu ini perang terus," kata Anna sambil menggelengkan kepala.
"Iya nih Bund. Mudah-mudahan ngidamnya juga ga aneh-aneh nanti," sahut Nathan sambil berusaha menjauh dari jangkauan Hilya.
Anna pun kembali tertawa bahagia. Rasa cemasnya jika Nathan akan sulit memperoleh keturunan pun lenyap sudah. Kini ia merasa lebih tenang mengetahui Nathan dan Hilya akan segera memiliki anak.
\=\=\=\=\=
Kabar kehamilan Hilya dengan cepat menyebar diseantero Klinik Bersalin Hilya. Semua orang bahagia dan turut memberi ucapan selamat pada Hilya.
"Masya Allah. Kebahagiaan Kita hampir sempurna ya Bund. Sebentar lagi Kita bakal nambah Cucu," kata Bayan antusias.
"Iya. Tapi Aku kasian sama Nathan Yah," kata Anna.
"Kok kasian. Emangnya Nathan kenapa Bund ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Kayanya bayi di kandungan Hilya ga suka sama Ayahnya. Buktinya Hilya terus menjauh dan bersikap keras sama Nathan, padahal biasanya kan ga gitu," sahut Anna prihatin.
Bayan tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia mengerti bagaimana perasaan Nathan saat 'dimusuhi' istrinya.
__ADS_1
"Kita ga bisa apa-apa selain menasehati mereka Bund. Biar aja, yang penting Hilya masih ngasih kesempatan Nathan buat nengokin Anaknya sesekali," kata Bayan sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck, Kamu tuh Yah. Bukan cari solusi malah mikir ke sana sih," sahut Anna sambil cemberut.
"Lho, itu kan solusi Bund. Pasangan Suami Istri di belahan dunia mana pun kalo lagi bertengkar, cara gencatan senjata terbaiknya ya melakukan itu. Iya kan ?" tanya Bayan.
"Iya iya, terserah Ayah deh mau ngomong apa," sahut Anna sambil berlalu.
Bayan pun tertawa sambil menatap punggung Anna yang kian menjauh. Sesaat kemudian tawa Bayan terhenti saat Fikri datang menghampirinya. Wajah Fikri nampak kacau dan itu membuat Bayan bertanya-tanya.
"Ada apa Fik. Kenapa wajahmu kusut kaya gitu ?" tanya Bayan.
Fikri menoleh ke kanan dan ke kiri seolah khawatir apa yang akan ia bicarakan didengar oleh orang lain. Apalagi saat itu mereka masih ada di Klinik Bersalin Hilya karena Ayu masih membutuhkan perawatan usai melahirkan.
"Kamu cari siapa ?" tanya Bayan.
"Ga cari siapa-siapa Yah. Aku cuma khawatir apa yang mau Aku omongin ini kedengeran sama orang lain," sahut Fikri sambil berbisik.
"Emangnya Kamu mau ngomongin apa Fik ?" tanya Bayan penasaran.
"Mmm ..., tentang kuyang Yah," sahut Fikri cepat.
"Ok. Kita cari tempat lain untuk bicara nanti. Sekarang Kamu temani Ayu dulu ya. Jangan biarin dia sendirian. Nanti kalo udah ada yang bersedia jagain Ayu dan bayimu, Kita baru bicara," kata Bayan.
"Baik Yah," sahut Fikri lalu kembali ke kamar untuk menemani Ayu yang sedang istirahat.
Bayan mengepalkan tangannya karena iba dengan nasib Fikri.
"Aku kira udah selesai, tapi ternyata masih berlanjut. Kasian Fikri," gumam Bayan sambil menggelengkan kepala.
\=\=\=\=\=
Bayan dan Fikri nampak duduk berhadapan di sebuah kafe tak jauh dari klinik Hilya. Keduanya sama-sama menghadapi secangkir kopi. Yang membedakan hanya lah wajah keduanya yang berbeda ekspresi. Jika Bayan nampak tenang, Fikri justru terlihat gelisah.
Tiba-tiba Nathan datang menghampiri mereka lalu duduk di samping sang ayah.
"Maaf terlambat. Aku harus bujuk Hilya untuk makan dulu tadi," kata Nathan sambil menghela nafas panjang.
"Gapapa. Kami juga baru sampe kok. Iya kan Yah ?" kata Fikri yang diangguki Bayan.
__ADS_1
"Syukur deh," sahut Nathan sambil tersenyum.
Kemudian Nathan menjentikkan jarinya untuk memanggil pelayan kafe. Setelah memesan secangkir kopi dan makanan ringan, Nathan pun mengamati Fikri.
"Ada apa Bang ?, apa ada hal penting yang harus diomongin ?" tanya Nathan.
"Iya Nath. By the way selamat ya atas kehamilan Hilya. Abang belum sempat nemuin Hilya untuk ngucapin selamat karena masih harus nemenin Ayu tadi," kata Fikri.
"Oh iya Bang, makasih. Kami maklum kok," sahut Nathan sambil tersenyum.
Kemudian mengalir lah cerita dari mulut Fikri tentang pengalamannya bertemu hantu kuyang di ruang bersalin. Nathan sangat terkejut dan tak menyangka jika klinik yang dikelola sang istri diserang oleh siluman kuyang. Tapi saat Fikri berusaha meyakinkan, Nathan pun akhirnya percaya.
"Gila ya siluman itu. Kenapa makin ke sini makin berani," kata Nathan kesal.
"Mereka kan memang terkenal berani dan nekat Nath, makanya Kita harus bergerak cepat sebelum mangsa lain berjatuhan," sahut Bayan.
"Iya Yah. Tapi kira-kira siapa orang yang udah menjelma jadi kuyang Yah. Selama ini Kita ga pernah denger ada kejadian apa pun saat Hilya membantu persalinan para pasiennya," kata Nathan gusar.
"Itu yang masih Ayah pikirin. Andai makhluk itu ada di sekitar Klinik, kenapa pas Anaknya Fikri yang lahir makhluk itu baru bergerak. Jangan-jangan Anaknya Fikri adalah mangsa pertamanya ?" tanya Bayan sambil menatap Nathan dan Fikri bergantian.
Nathan dan Fikri saling menatap sejenak kemudian menggelengkan kepala karena mereka tak punya jawaban dari pertanyaan sang ayah. Dan untuk sejenak suasana kembali hening. Ketiganya nampak berpikir keras.
"Tapi bukannya Abang bilang sempet melukai makhluk itu pake untaian tasbih kemarin ?" tanya Nathan tiba-tiba.
"Iya. Tapi Abang ga yakin itu melukai dia Nath. Kan Kamu tau sendiri kondisi siluman kepala itu saat jadi kuyang," sahut Fikri ragu.
"Tapi paling ga ada bekasnya di wajahnya kan Bang. Ya, semacam luka gores atau sejenisnya. Iya ga sih ?" tanya Nathan.
"Masuk akal. Kalo gitu Kita akan amati pergerakan semua orang di sana. Amati betul-betul bagian leher dan wajahnya. Mudah-mudahan Kita segera dapat petunjuk," kata Bayan.
"Baik Yah," sahut Nathan dan Fikri bersamaan.
"Pesan Ayah, kerjakan dengan hati-hati. Jangan sampe makhluk itu tau kalo Kita mengawasinya. Biarkan mahkluk itu merasa aman dan menjadikan Klinik Hilya sebagai surganya untuk mendapatkan mangsa. Saat waktunya tiba, Kita akan hancurkan dia sampe ga bisa menitis lagi meski pun di keturunannya yang ke tujuh," kata Bayan dengan mimik wajah kesal.
"Siap Yah," sahut Nathan dan Fikri lagi.
Kemudian ketiganya melanjutkan pembicaraan mereka untuk beberapa waktu sambil menikmati kopi yang mulai dingin itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1