Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
104. Dendam Rosiana


__ADS_3

Saking terkejutnya mendengar ucapan Nathan membuat Rosiana mundur beberapa langkah ke belakang. Karenanya Nathan bisa lebih jelas melihat isi di dalam rumah Rosiana.


Nathan nampak mengerutkan keningnya melihat hiasan di ruang tamu rumah Rosiana itu. Sebuah foto seukuran kertas A4 yang bertengger manis di dinding menarik perhatian Nathan. Rupanya Nathan juga pernah melihat foto serupa di rumah Mia.


Yang membedakan adalah karena foto di ruang tamu rumah Rosiana tampak dilingkari spidol merah di beberapa tempat seolah menandakan sesuatu. Nathan membulatkan matanya saat mengetahui salah seorang yang ditandai dengan spidol merah itu adalah Mia.


Tanpa sadar Nathan melangkah masuk ke ruang tamu rumah Rosiana. Dan gadis itu nampak tersenyum penuh makna.


Saat kedua kaki Nathan telah berada di ruang tamu, tiba-tiba Rosiana menutup pintu hingga membuat Nathan terkrjut dan membalikkan tubuhnya.


"Apa-apaan Kamu, buka pintunya Rosiana !" kata Nathan marah.


"Saya akan buka pintu ini asal Pak Nathan janji satu hal sama Saya," kata Rosiana menciloba bernegoisasi.


"Janji apa ?. Kamu bukan siapa-siapa, jadi Saya ga punya kewajiban untuk memberi Kamu sesuatu !" kata Nathan kesal.


"Terserah Pak Nathan, Saya bisa lakukan apa pun yang Saya mau karena ini rumah Saya dan area kekuasaan Saya !" sahut Rosiana cepat.


Melihat situasi yang tak berpihak padanya membuat Nathan terpaksa mengiyakan permintaan Rosiana. Wanita itu tampak tersenyum licik. Dia maju mendekati Nathan, namun Nathan bergeser menjauh.


"Apa maumu ?" tanya Nathan.


"Nikahi Saya. Hanya itu," sahut Rosiana sambil menatap Nathan lekat.


"Kamu gila ya ?!. Saya ini masih berduka setelah kematian Mia. Bisa-bisanya Kamu minta Saya nikahi Kamu. Meski dalam keadaan tak berduka pun Saya ga mungkin pilih Kamu buat jadi Istri Saya. Jangan mimpi Rosiana !" kata Nathan marah.


Ucapan Nathan yang mengatakan Mia meninggal dunia membuat Rosiana terkejut. Ia mengira Mia hanya cacat akibat kecelakaan itu. Dan niat Rosiana menikahi Nathan juga karena dia ingin menyakiti Mia.


"Apa ?!. Mia ... meninggal ?" tanya Rosiana tak percaya.


Sikap Rosiana membuat Nathan tersenyum sinis. Ia menduga wanita itu hanya berpura-pura.


"Iya. Kamu senang kan sekarang. Keinginanmu untuk menyingkirkan Mia terwujud. Walau Saya ga mengerti dendam apa yang membuatmu tega menyakiti Mia, tapi Kamu sudah berhasil menghancurkan hati banyak orang karena ulahmu itu Rosiana !" kata Nathan sambil menatap Rosiana lekat.


Rosiana nampak terpukul dengan ucapan Nathan. Ia memang membenci Mia. Ia hanya ingin memberi Mia pelajaran dan bukan membunuhnya.

__ADS_1


Rupanya Rosiana sedikit lengah karena baru saja mendengar berita kematian Mia. Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Nathan. Ia mendorong Rosiana ke samping lalu bergegas keluar dari rumah itu. Rosiana nampak marah namun ia tak kuasa mengejar Nathan yang telah berjalan cepat meninggalkan rumahnya karena kondisinya yang tak memungkinkan saat itu.


Rosiana mendengus kesal lalu membanting pintu. Ia kesal karena niatnya memikat Nathan gagal. Bahkan kini ia terancam penjara karena Nathan tahu dirinya terlibat dengan kecelakaan Mia yang berakhir dengan kematian Mia.


"Sia*an !. Gue harus kabur sekarang. Kalo ga, dia pasti ga bakal biarin Gue hidup tenang. Apalagi Mia mati gara-gara kecelakaan itu," gumam Rosiana sambil bergegas mengemasi barang-barangnya.


Setengah jam kemudian Rosiana telah meninggalkan rumahnya. Kini dia berada di dalam Taxi menuju ke sebuah tempat. Ingatannya mengembara pada waktu belasan tahun lalu.


Saat itu Rosiana masih duduk di bangku SMA. Ia gadis biasa saja yang mencoba peruntungan dengan masuk ke sebuah sekolah elit dengan bekal prestasi yang ia miliki. Awalnya sangat sulit karena ternyata sekolah itu didominasi oleh anak-anak orang kaya yang mengedepankan penampilan daripada kemampuan berpikir. Rosiana hampir tak terlihat karena ia bukan berasal dari keluarga berada. Namun Rosiana mampu menyelesaikan pendidikannya hingga tamat di SMA tersebut.


Diantara teman sekelasnya ada yang mencuri perhatian Rosiana. Dia adalah Almia yang kemudian Kita kenal sebagai Mia. Seorang gadis yang populer karena kecantikan dan kemampuan otaknya yang lumayan. Dan Rosiana menjadikan Almia sebagai pesaing berat dalam mengejar nilai akademik. Sayangnya Almia tak menyadari hal itu.


Nilai Rosiana dan Almia menempati level yang sama. Meski pun bukan yang terbaik, tapi Almia dan Rosiana selalu masuk sepuluh besar siswa terpandai di kelas.


Sayangnya lagi-lagi Almia nampak tak peduli dengan siswa lain yang masuk sepuluh besar seperti dirinya. Almia bahkan tak mencoba mencari tahu siapa saja nama mereka. Dan itu membuat Rosiana kesal.


Rosiana merasa usahanya untuk bisa diakui oleh Almia dan teman-temannya gagal karena sikap Almia yang tak peduli itu. Bahkan Almia mengabaikan senyum dan sapaan Rosiana saat mereka bertemu di luar sekolah.


"Dih, ga usah sok kenal deh Lo. Emangnya siapa Lo ?" kata salah seorang teman Almia kala itu.


"Bodo amat. Siapa juga yang mau tau nama Lo. Maksud Gue, emangnya apa yang bisa Lo banggain sampe mau gabung sama Kita. Ga sadar diri amat sih. Ngaca dulu sana !. Punya kaca kan di rumah ?!" kata teman Almia yang lain.


Rosiana sakit hati mendengar ucapan kedua sahabat Almia itu. Apalagi saat itu Almia nampak tak peduli dan sibuk membalas sapaan para pria sebaya yang menyapanya.


Sejak saat itu Rosiana membenci Almia. Ambisinya untuk mengalahkan Almia makin tinggi. Namun apalah daya, meski pun nilai akademik Rosiana lebih tinggi dari Almia toh semua orang tak peduli padanya.


Dan di hari kelulusan, saat Rosiana menerima penghargaan sebagai salah satu siswa yang mendapat nilai tertinggi dari tiga siswa terbaik, saat itu lah Almia baru menyadari kehadirannya. Almia mendatangi Rosiana dan memberinya ucapan selamat. Sikap Almia sudah tentu diikuti semua teman-temannya termasuk oleh pria yang diam-diam disukai Rosiana. Pria bernama Adi itu ikut memberi ucapan selamat kepada Rosiana bahkan menepuk pundaknya dengan lembut.


Aksi Almia dan teman-temannya tak membuat Rosiana bangga. Bahkan rasa benci di hati Rosiana makin besar karena ia merasa Almia mempermainkannya.


Dendam itu dibawa Rosiana hingga sekarang. Rosiana merasa keberuntungan sedang berpihak padanya saat ia jatuh hati pada Nathan yang merupakan anak pemilik perusahaan.


Dan karena sering mengikuti Nathan, akhirnya Rosiana tahu jika Nathan menjalin hubungan dengan Almia. Rosiana marah. Kebenciannya pada Almia makin besar. Tapi Rosiana sadar, ia tak mungkin menyentuh Almia secara langsung. Jadi yang Rosiana lakukan adalah membuat Nathan dan Almia berpisah secara perlahan dengan menghembuskan berita bohong. Ia tak menyangka jika trik yang ia gunakan berhasil membuat Almia meragukan kesetiaan Nathan hingga mereka kerap bertengkar.


Tapi harapan Rosiana agar hubungan Almia dan Nathan berakhir tak terwujud. Rupanya cinta diantara Almia dan Nathan terlalu kuat. Bahkan saat ia dan Almia bertemu, gadis itu mengatakan niatnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Nathan. Dan itu membuat Rosiana kecewa.

__ADS_1


"Kenapa Gue harus mundur. Gue cinta sama Nathan, dan setelah Gue pikir-pikir, gosip itu ga benar kok. Gue rasa ada orang yang ga suka aja ngeliat Gue dan Nathan bahagia," kata Almia sambil mengemudi.


"Maksud Lo siapa Mi, Gue ?" tanya Rosiana yang saat itu duduk di samping Almia.


"Mungkin. Who knows ?" sahut Almia cuek sambil menggedikkan bahunya.


Ucapan Almia membuat Rosiana kesal. Kebencian yang selama ini ia pendam pun meluap.


"Bagus deh kalo akhirnya Lo sadar. Gue emang sengaja bikin berita bohong supaya Lo sama Nathan putus," kata Rosiana hingga mengejutkan Almia.


Gadis itu menghentikan mobilnya lalu menatap Rosiana.


"Kenapa Ci ?. Apa salah Gue sama Lo ?" tanya Almia tak mengerti.


"Lo tau kok apa salah Lo," sahut Rosiana ketus.


Almia mengangguk lalu kembali melajukan mobilnya.


"Gue minta maaf ya Ci. Gue emang keterlaluan dulu. Tapi kalo inget itu Gue nyesel banget. Lo mau kan maafin Gue ?" tanya Almia sambil terus mengemudi.


"Ok. Tapi ada syaratnya," sahut Rosiana.


"Apa ?" tanya Almia sambil menoleh kearah Rosiana.


"Tinggalin Nathan. Suruh dia nikahin Gue," sahut Rosiana sungguh-sungguh.


Almia menggelengkan kepala. Ia tak mau pria yang dicintainya terlibat dalam masalah yang dibuatnya.


Gelengan kepala Almia membuat Rosiana kesal. Ia menjambak rambut Almia hingga gadis itu kehilangan kendali penuh pada kemudi karena kedua tangannya refleks memegangi kepalanya. Saat Almia menginjak pedal rem, Rosiana justru mengarahkan kakinya agar menginjak pedal gas.


Dan benturan pun tak terelakkan. Saat mobil akan membentur dinding pembatas jalan, Rosiana sempat melompat ke kursi belakang sambil berpegangan pada syal yang melilit leher Almia. Hingga saat mobil berhenti, kondisi Almia sangat mengenaskan. Tubuh terhimpit di bangku kemudi, leher terlilit syal dan wajah terkena pecahan kaca.


Rosiana terkejut melihat kondisi Almia. Dengan susah payah Rosiana keluar dari mobil lalu menghentikan Taxi yang melintas lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dari dalam Taxi ia menyaksikan warga berdatangan untuk menyelamatkan Almia.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2