
Karena tak mungkin memperlihatkan kondisi Rosi pada khalayak ramai, maka Nathan memutuskan mengendarai mobilnya memasuki tanah kosong itu untuk menjemput Bayan dan Rosi.
Melihat sang anak kembali Bayan pun tersenyum.
"Ayah kira Kamu ga akan berani masukin mobil ke sini Nath," kata Bayan.
"Ck. Aku juga ga mau bikin warga panik Yah. Bayangin gimana reaksi mereka saat melihat Bu Rosi kaya gini. Aku aja yang biasa ngeliat siluman dan setan kaget waktu pertama kali liat Bu Rosi tadi, apalagi mereka. Bisa-bisa mereka menjerit dan malah menarik perhatian warga lainnya. Ujung-ujungnya pasti Kita juga yang bakal repot nanti," sahut Nathan panjang lebar.
Jawaban Nathan mau tak mau membuat Bayan tertawa. Kemudian Bayan membuka pintu belakang mobil lebar-lebar. Setelahnya ia mendekati Rosi yang masih berbaring di tanah itu.
"Tadi Kamu tanya dimana Senja kan ?. Aku bakal kasih tau Kamu dimana Senja. Sekarang Kamu ikut Aku ya," kata Bayan sambil menatap Rosi lekat.
Di luar dugaan, Rosi mengangguk mengiyakan ajakan Bayan begitu saja. Meski pun sedikit bingung karena Rosi dengan mudah menuruti permintaannya, namun Bayan tak ingin membuang waktu. Dia bangkit lalu memberi kode pada Nathan agar membantunya menggotong Rosi ke dalam mobil.
Nathan mengangguk cepat lalu membantu sang ayah menggotong tubuh Rosi.
Semula ayah dan anak itu terlihat santai karena melihat tubuh Rosi yang berukuran standart itu. Namun saat keduanya berusaha mengangkat tubuh Rosi mereka terkejut. Tubuh Rosi terasa berat, tak sepadan dengan ukuran tubuhnya yang seperti manusia pada umumnya.
"Ya Allah, apa-apaan ini. Masa berat banget Yah. Ini perasaan Aku aja atau emang badannya Bu Rosi yang berat sih ?" tanya Nathan sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Ayah juga kaget Nath. Ga nyangka badannya bisa seberat ini," sahut Bayan bingung.
"Maaf kalo lancang. Apa dulu badannya Mama Senja juga berat kaya gini Yah ?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Ya beda dong Nath !. Mama Kamu itu ringan dan harum. Ga berat dan busuk kaya gini," sahut Bayan cepat.
Seolah tersadar ucapannya bisa menyinggung perasaan Rosi, Bayan pun refleks menutup mulutnya hingga membuat Nathan tertawa. Mungkin untuk orang lain apa yang Bayan lakukan terlalu berlebihan karena masih menjaga perasaan wanita siluman seperti Rosi. Tapi itu adalah sisi baik Bayan sebagai pria yang bijaksana.
Rosi yang juga mendengar ucapan Bayan tadi dan masih terbaring di tanah nampak tersenyum mendengar pengakuan Bayan.
Rosi ingat jika Senja memang memiliki aroma tubuh yang khas. Sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan, Senja memang berbeda dari anak lainnya.
Aroma Senja memang menenangkan dan membuat Rosi alias Rusti sebagai ibunya pun menyukainya. Semarah atau selelah apa pun Rosi saat menghadapi masalah kehidupan, semua akan sirna jika ia telah memeluk Senja. Namun ia tak mungkin menahan Senja agar terus berada di sisinya karena Senja juga punya kehidupannya sendiri.
Namun saat Rosi merenunginya sekarang, ia paham sesuatu. Bahwa aroma Senja yang berbeda itu karena ternyata Senja memang mengemban kutukan yang sama dengan dirinya. Rosi pun memejamkan matanya karena tak sanggup membayangkan penderitaan yang Senja rasakan.
Saat itu Rosi mengira jika Senja juga sama seperti dirinya yang menjauh dari tempat umum dan tinggal menyendiri di suatu tempat. Karenanya saat Bayan mengajaknya ke suatu tempat Rosi langsung setuju.
"Mau ga mau Kita seret Nath. Ayah juga ga mau jadi sakit gara-gara mengangkat beban berat di usia Ayah yang ga muda lagi," sahut Bayan.
Ternyata jawaban Bayan diangguki oleh Rosi. Wanita itu tak keberatan jika Bayan dan Nathan menyeret tubuhnya ke dalam mobil yang berada tepat di sampingnya.
Tak lama kemudian mobil nampak melaju cepat di atas jalan raya. Bayan yang duduk di samping Nathan nampak gelisah dan berkali-kali mengusap wajahnya. Saat itu perasaan Bayan memang sedang berkecamuk karena dipaksa kembali ke tempat dimana dia 'memakamkan' Senja dulu.
Setelah menempuh perjalanan yang menegangkan akhirnya mereka tiba di peternakan milik keluarga Bayan. Disebut menegangkan karena di sepanjang perjalanan Bayan dan Nathan harus tetap waspada terhadap Rosi yang bisa kapan saja menyerang mereka.
Sedangkan di kursi belakang Rosi nampak duduk bersandar sambil memejamkan mata. Dalam hati ia terus memanggil nama sang anak. Ia bertekad untuk meminta maaf pada Senja dan pergi selamanya setelah Senja memaafkannya.
__ADS_1
Rosi membuka matanya saat mobil berhenti di suatu tempat. Rosi mengedarkan pandangan saat Bayan membuka pintu mobil. Meski saat itu gelap namun cahaya bulan sabit di langit dan pendaran cahaya lampu di kejauhan cukup menerangi tempat itu.
"Kita udah sampe dan Kamu bisa keluar. Perlu dibantu lagi atau ...," ucapan Bayan terputus saat Rosi melambaikan tangannya di depan wajahnya seolah ingin mengatakan tidak.
Bayan pun mengangguk lalu mundur beberapa langkah untuk memberi ruang kepada Rosi.
Dengan susah payah Rosi keluar dari mobil. Melihat kondisinya saat berusaha keluar membuat Nathan meringis. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang mendera leher Rosi saat itu. Tapi saat melihat Rosi tak terganggu dengan luka itu Nathan pun hanya bisa menghela nafas panjang.
Saat Rosi berhasil keluar dari mobil wajahnya nampak sedih. Sambil berpegangan pada body mobil Rosi mengamati sekelilingnya sambil menghirup nafas dalam-dalam.
Meski pun telah puluhan tahun berlalu, ternyata Rosi masih bisa mengenali aroma khas Senja. Ia mencium aroma Senja yang pekat di sana. Itu menandakan jika Senja memang sering berada di sana dulu dan itu membuat Rosi menitikkan air mata.
"Kita ke sebelah sana. Mobil ga bisa ke sana karena tanahnya berundak-undak," kata Bayan sambil menunjuk ujung pertenakan yang tanahnya sedikit menanjak.
Rosi mengangguk lalu mulai melangkah. Bayan dan Nathan terpaksa berjalan di sampingnya karena khawatir wanita itu jatuh tersungkur. Saat berjalan kondisi Rosi benar-benar mirip zombie karena berjalan oleng dengan kepala yang tersampir di bahunya. Luka di lehernya kian menganga. Ada darah yang merembes lalu mengalir perlahan membasahi pakaiannya.
Jika tak menyaksikan sendiri rasanya Nathan tak ingin percaya. Namun semua yang tersaji di depan matanya adalah nyata dan Nathan harus menerimanya.
Rosi berhenti melangkah saat mendapati sebuah nisan bertuliskan nama Senja. Rosi tak percaya jika Senja telah pergi. Dia menoleh kearah Bayan untuk memastikan dugaannya. Saat Bayan mengangguk, Rosi pun menjerit histeris lalu jatuh bersimpuh di depan makam Senja.
Aksi Rosi membuat Bayan dan Nathan panik. Mereka bergeser menjauh karena tak ingin menjadi pelampiasan kemarahan dan kesedihan Rosi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1