Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
107. Panggil Abang Aja ...


__ADS_3

Mak Ejah nampak berusaha mengatur nafasnya. Usai melihat seseorang di dalam mobil tadi, ingatannya melayang pada sosok pria yang telah membuatnya mengenal arti cinta dan sakit di waktu bersamaan. Ternyata pria itu adalah suami mak Ejah. Masih disebut suami karena hingga detik ini pria itu tak pernah menceraikannya.


"Aku lah yang pergi meninggalkanmu dulu. Tapi Aku juga yang sakit. Melihatmu baik-baik saja sekarang, kenapa Aku merasa lebih sakit. Ternyata Bapak benar. Harusnya Aku ga usah datang lagi ke kota ini. Karena di sini hanya bikin luka yang udah lama sembuh kembali berdarah dan sakit," gumam mak Ejah sambil mengusap air matanya.


Setelah puas menangis, Mak Ejah pun mengusap wajahnya. Air mata tak lagi terlihat pertanda mak Ejah sudah kembali tenang.


Perlahan mak Ejah merubah posisi tubuhnya dari berbaring jadi duduk. Ia berusaha menguatkan diri karena ingat apa tujuannya datang ke kota ini. Ada Rosiana yang memerlukan kehadiran dan suportnya. Dan saat mengingat Rosiana, mak Ejah pun tersenyum.


Tiba-tiba Usman masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebotol teh manis. Usman menyodorkan kearah mak Ejah yang langsung meneguk isinya dengan cepat.


"Makasih ya Man," kata mak Ejah.


"Sama-sama Mak. Apa Mak masih kuat ketemu sama Oci ?" tanga Usman hati-hati..


"Insya Allah kuat kok," sahut mak Ejah cepat hingga membuat Usman tersenyum.


Kemudian Usman dan mak Ejah menoleh saat seorang polisi wanita mengantarkan Rosiana masuk ke dalam ruangan.


Rosiana langsung menghambur ke pelukan mak Ejah dan menangis di sana. Sedangkan Usman nampak menatap Rosiana dengan tatapan penuh rindu.


"Apa kabar Ci ?" tanya Usman saat Rosiana mengurai pelukannya.


"Aku baik Man, seperti yang Kamu liat. Terima kasih udah nganterin Mak ke sini. Aku seneng ngeliat Mak dan Kamu datang ke sini," sahut Rosiana sambil tersenyum.


Ucapan Rosiana membuat hati Usman membuncah bahagia. Mak Ejah yang melihat kedua sejoli di depannya salah tingkah pun ikut tersenyum.


"Jadi gimana, apa kasusnya berlanjut ?. Apa Bos Kamu ga mau memaafkan Kamu ?" tanya Usman kemudian.


"Aku ga tau Man. Tadi Pak Nathan datang ke sini sama Ayahnya. Aku udah jelasin semuanya dan mohon sama mereka agar mencabut laporan dan menyelesaikan ini secara kekeluargaan. Tapi ...," ucapan Rosiana terputus sesaat.


"Tapi kenapa Ci ?" tanya Usman tak sabar.


"Keliatannya Pak Nathan masih sulit memaafkan Aku walau Ayahnya keliatan lebih legowo dan mau maafin Aku tadi," sahut Rosiana gusar.


"Yang sabar ya Ci. Kasih mereka waktu untuk berpikir sebentar lagi. Mudah-mudahan mereka mau memaafkan Kamu nanti," kata Usman.


"Iya Man. Walau mereka maafin Aku, tapi sayangnya Polisi menemukan bukti kejahatanku di jasad Mia. Kalo udah kaya gini Aku cuma bisa pasrah karena Aku kan tetap harus menjalani hukuman atas kejahatanku yang menyebabkan Mia meninggal," sahut Rosiana sedih.

__ADS_1


Untuk sejenak suasana di ruangan itu menjadi hening. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Apa Kamu masih mau nunggu Aku Man ?" tanya Rosiana tiba-tiba sambil menatap Usman lekat.


Usman menganggukkan kepalanya hingga membuat Rosiana terharu.


\=\=\=\=\=


Bayan, Anna dan kedua anak mereka sedang berada di rumah Marco. Mereka sedang menghadiri tahlilan untuk mengenang dan mendoakan almarhumah Mia.


Pada kesempatan itu Nathan berkali-kali mengusap wajahnya karena kembali teringat dengan Mia. Nathan juga ingat jawaban Rosiana saat diinterogasi polisi.


Setelah Rosiana berhasil ditangkap, polisi menanyai motif wanita itu mencelakai Mia. Dalam keterangannya Rosiana bersumpah berkali-kali dan mengatakan ia tak berniat membunuh Mia. Rosiana mengatakan hanya ingin memberi Mia pelajaran karena telah menyakiti harga dirinya.


"Kalo cuma mau memberi pelajaran, kenapa Anda meminta Saudari Mia memutuskan hubungannya dengan Pak Nathan ?" tanya polisi kala itu.


"Masa gitu aja Bapak ga ngerti sih. Pak Nathan kan keren, ganteng, kaya, baik hati. Cewek mana sih yang ga kepincut sama Pak Nathan," sahut Rosiana malu-malu.


Jawaban Rosiana membuat Nathan yang saat itu mengamati dari ruangan sebelah pun menggelengkan kepala. Ia tak mengerti mengapa ia disangkut pautkan dalam permintaan aneh Rosiana.


"Tapi dia juga minta hal yang sama waktu Saya datang ke rumahnya Pak," kata Nathan hingga membuat polisi menoleh kearahnya.


Kemudian Nathan kembali mengusap wajahnya saat ingatannya tentang Rosiana berakhir.


"Abang gapapa kan ?" tanya Nicko setengah berbisik.


Saat itu Nicko berada tepat di samping Nathan. Sejak tadi ia tahu jika sang kakak gelisah dan tak nyaman berada di ruangan itu.


"Abang gapapa Nick. Cuma rasanya Abang perlu bantuan supaya lebih tenang dan ga gelisah terus. Abang juga ingin bisa melepas Mia dengan ikhlas, tapi bingung gimana caranya," sahut Nathan.


"Mungkin ada baiknya Abang diruqyah lagi. Bukannya Abang bilang enakan abis diruqyah waktu itu ?" tanya Nicko.


"Oh iya. Kalo gitu kapan-kapan tolong anterin Abang ke kliniknya Ustadz Zul ya Nick," pinta Nathan.


"Insya Allah. Kalo ga besok lusa Kita ke sana ya Bang," kata Nicko sambil tersenyum.


"Ok," sahut Nathan cepat.

__ADS_1


Kemudian Nathan dan Nicko kembali fokus mengikuti tahlilan.


\=\=\=\=\=


Nicko menepati janjinya mengantar Nathan ke klinik Thibun Nabawi Ustadz Zul dua hari kemudian. Kali ini mereka hanya berdua tanpa Bayan dan Anna.


Tiba di sana mereka disambut oleh ustadz Fikri karena kebetulan ustadz Zul sedang tak ada di tempat.


"Kapan Ustadz Zul pulang ?" tanya Nicko.


"Insya Allah setelah urusannya selesai, sekitar seminggu lagi Mas," sahut ustadz Fikri.


"Wah lama banget ya," kata Nicko sambil menatap Nathan sekilas.


"Maaf kalo lancang. Apa ada yang bisa Saya bantu Mas ?" tanya ustadz Fikri hati-hati.


Nicko menoleh kearah Nathan untuk minta persetujuan. Saat Nathan mengangguk, Nicko pun mengiyakan pertanyaan ustadz Fikri.


Kemudian Nicko menjelaskan apa yang tengah dialami sang kakak. Ustadz Fikri nampak mendengarkan dengan seksama. Sesaat kemudian sang ustadz nampak mengangguk paham. Setelahnya ia mengatakan jika dirinya bersedia membantu meruqyah Nathan. Karena pernah mendengar ustadz Zulkifli memuji kemampuan ustadz Fikri, Nathan pun tak keberatan.


Proses ruqyah pun berjalan lancar. Usai diruqyah Nathan terlihat lebih tenang sekarang. Nicko yang melihat kondisi sang kakak lebih baik pun ikut senang.


"Makasih Ustadz. Saya liat Bang Nathan lebih tenang sekarang. Kalo boleh tau, apa yang menyebabkan Bang Nathan gelisah Ustadz ?" tanya Nicko.


"Mas Nathan hanya belum bisa menerima takdir. Usia tunangannya memang Allah takdirkan hanya sampai di sini. Hanya jalannya atau caranya saja yang mungkin terlihat tragis. Bertawakal, jangan meratapi kepergiannya, doakan dia agar mendapat terbaik di sisi Allah. Terakhir, coba buka lembaran baru walau Saya tau itu sulit," kata ustadz Fikri bijak.


Entah mengapa ucapan ustadz Fikri mengena di hati Nathan. Ia nampak bisa tersenyum lebih lebar dan lebih tulus dari sebelumnya.


"Maaf kalo lancang. Berapa usia Ustadz Fikri sekarang ?. Kenapa bisa tampil sedewasa ini dalam berpikir dan bersikap ?" tanya Nathan.


"Usia Saya lima tahun lebih tua dari Anda Mas Nathan," sahut ustadz Fikri sambil tersenyum.


"Masih muda dong. Boleh ga kalo Kita panggil Bang Fikri aja biar lebih akrab ?" tanya Nicko yang diangguki Nathan.


"Tentu saja boleh. Saya justru senang karena akhirnya punya dua Adik laki-laki yang sudah besar dan ngerti cewek cantik," gurau ustadz Fikri.


Jawaban ustadz Fikri membuat Nathan dan Nicko tertawa lepas. Kemudian ketiganya sepakat untuk menjalin silaturrahim dan saling bertukar informasi. Nampaknya Nathan dan Nicko benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengan ustadz Fikri.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2