
Keesokan harinya Nathan menemui Hilya di kafe. Mereka berbincang banyak hal siang itu. Sesekali tawa menghiasi obrolan santai mereka.
"Maaf ya udah gigit Kamu semalam. Gimana sakit ga, ada bekasnya ga ?" tanya Hilya sambil mengamati lengan Nathan yang saat itu tertutup lengan kemeja.
"Ga kok santai aja. Gigitan Kamu mah ga berasa apa-apa," sahut Nathan sambil menepuk lengannya yang digigit Hilya itu beberapa kali.
"Oh jadi gitu. Sini Aku gigit lagi biar Kamu tau gimana rasanya digigit dengan kekuatan penuh," kata Hilya sambil membuka mulutnya dan memperlihatkan giginya.
Nathan tertawa sambil mendorong dahi Hilya dengan jarinya agar menjauh. Aksi Nathan itu membuat Hilya kesal. Ia memukul Nathan karena tak suka diperlakukan seperti itu.
"Iya iya maaf. Abisnya Kamu mau nyosor aja sih. Kan ga enak diliatin orang. Kalo mau nyosor jangan di sini, di tempat sepi aja," gurau Nathan sambil tertawa.
"Siapa yang mau nyosor sih. Kepedean banget jadi orang," sahut Hilya sambil mendengus kesal.
Nathan pun kembali tertawa melihat tingkah Hilya. Sadar dengan tingkahnya yang konyol Hilya pun ikut tertawa.
Nathan pun menatap Hilya dengan tatapan tak terbaca. Entah mengapa, semakin ingin menjauh dari Hilya ternyata ia selalu kembali bertemu dengan gadis itu.
Pada kesempatan itu Hilya menjelaskan mengapa ia menangis semalam. Ternyata Hilya merasa senasib dengan tiga anak perempuan yang dilahirkan Intan sebelumnya. Hilya juga diabaikan oleh keluarga ayahnya hanya karena dia perempuan.
"Orangtuaku bercerai karena Ibuku hanya bisa melahirkan Aku yang anak perempuan. Sedangkan Ayahku dituntut oleh keluarganya untuk memberi Cucu laki-laki. Katanya sih dia terpaksa mendua karena Ibuku gagal melahirkan Anak laki-laki. Ibuku meninggal setelah mengalami sakit hati berkepanjangan. Karena Aku ga diterima keluarga Ayah, makanya Aku tinggal sama Kakek dan Nenek sekarang. Kakek dan Nenek juga yang membiayai kuliahku sampe selesai. Aku merasa berhutang budi dan tetap tinggal bersama mereka untuk menemani mereka nanti. Selain itu Aku juga harus mengawasi tiga sepupuku yang punya nasib sebelas dua belas denganku," kata Hilya panjang lebar.
Nathan mendengarkan dengan seksama sambil terus menatap Hilya.
"Tapi Aku ga sama kaya Ayahmu atau Suaminya Kak Intan lho," kata Nathan tiba-tiba.
Intan balas menatap Nathan sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Maksud Kamu gimana ya ?" tanya Hilya tak mengerti.
"Kalo Kita menikah nanti, Aku ga bakal menuntut Kamu untuk melahirkan Anak dengan jenis kelamin tertentu. Buatku Anak laki-laki dan perempuan itu sama aja. Tinggal gimana cara Kita mendidik mereka nanti supaya jadi anak yang taat sama Allah dan RosulNya juga menghormati kedua orangtuanya," kata Nathan mantap.
Wajah Hilya tampak datar saja mendengar ucapan Nathan. Jika gadis lain akan tersipu-sipu dengan rayuan Nathan tadi, hal berbeda justru ditunjukkan Hilya.
"Ga usah ngebahas hal yang ga penting. Aku ga tertarik untuk menikah dalam waktu dekat. Fokusku saat ini adalah tiga sepupuku yang mirip berandalan daripada ABG labil itu," kata Hilya ketus.
Nathan terkejut mendengar jawaban Hilya. Bukan kali ini saja ia mendengar ucapan Hilya yang ketus. Tapi mendengar ucapan gadis itu barusan membuatnya sadar jika Hilya baru saja menolaknya !. Nathan tak menyangka jika Hilya adalah gadis tangguh yang tak suka bergantung pada orang lain apalagi pada seorang pria seperti dirinya. Dan Nathan merasa Hilya tak percaya padanya.
Suasana hening pun menyelimuti keduanya untuk sejenak. Nathan pun berdehem untuk menetralisir rasa kacaunya akibat ditolak oleh Hilya.
"Ehm. Udah berapa lama Kamu kerja di Rumah Sakit itu ?" tanya Nathan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Mmm ... jalan dua tahun atau lebih kali," sahut Hilya ragu.
"Ck, Aku ga punya waktu untuk itu. Hal begitu kan cuma dilakukan oleh cewek yang punya banyak waktu senggang, beda sama Aku. Pulang kuliah atau kerja Aku harus berhadapan dengan tiga berandalan cilik itu dengan segudang masalahnya. Jadi mana sempet inget hal sepele kaya gitu," sahut Hilya.
Lagi-lagi jawaban Hilya membuat Nathan terkejut.
"Terus selama kerja di Rumah Sakit pernah ga nemuin hal aneh ?" tanya Nathan.
"Nemuin hal aneh apaan?" tanya Hilya.
"Ya yang ga wajar gitu lah," sahut Nathan asal.
"Yang ga wajar ya. Ada. Belakangan ini ruang bersalin lagi diterror sama hantu," sahut Hilya cepat.
__ADS_1
"Hantu ?" tanya Nathan tak percaya.
"Iya," sahut Hilya sambil menganggukkan kepala.
"Hantu apaan ?" tanya Nathan penasaran.
Kemudian Hilya pun mulai menjelaskan kejadian aneh yang terjadi di ruang bersalin dan ruang bayi beberapa hari yang lalu.
Malam itu seorang pasien wanita datang dalam kondisi kontraksi hebat. Saat dibawa ke ruang bersalin terjadi sedikit masalah, rupanya wanita itu juga mengalami kejang-kejang karena kesurupan alias ketempelan.
Usut punya usut ternyata wanita itu kejang karena ketakutan. Dugaan sementara wanita itu kerasukan saat dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.
Rupanya perjalanan dari rumah wanita itu menuju Rumah Sakit harus melintasi kebun kosong. Di sana lah wanita itu melihat sesuatu yang membuatnya takut hingga ia menjerit histeris. Semua orang menduga ia menjerit karena kesakitan tapi ternyata mereka salah. Saat tiba di Rumah Sakit kondisi wanita itu memburuk. Dan saat akan dibawa ke ruang bersalin pun wanita itu kembali menjerit hingga membuat semua orang sibuk.
Setelah disuntik dengan obat penenang akhirnya wanita itu bisa tenang. Karena kondisi bayi sungsang maka diputuskan untuk segera ditindak melalui operasi Caesar.
Bayi berhasil dilahirkan namun kondisi sang ibu kritis. Saat perawat lain sibuk menangani bayi yang baru saja dilahirkan, tiba-tiba suara jeritan membahana di ruangan itu. Dari bagian bawah tubuh wanita itu keluar sosok kepala yang dikira dokter dan perawat adalah bayi lain yang lahir melalui jalan lahir. Tapi tak lama kemudian sosok kepala itu melesat cepat ke atas hingga membuat semua orang yang ada di sana menjerit ketakutan.
"Jadi itu apaan ?" tanya Nathan.
"Hantu berwujud kepala manusia. Kata orang sih itu kuyang. Karena Aku ga liat langsung jadi Aku ga bisa cerita gimana wujudnya," sahut Hilya.
"Astaghfirullah aladziim ...," kata Nathan sambil menggelengkan kepalanya.
"Dan setelah kejadian itu beberapa kali hantu kuyang itu terlihat di sekitar ruang bayi. Untung ada yang ngerti cara menghadapi hantu kuyang itu. Jadi setiap jendela dikasih bawang putih untuk mencegah kuyang masuk ke dalam ruangan," kata Hilya kemudian.
Nathan pun menghela nafas panjang. Ia berharap kuyang itu tak memakan korban lagi. Nathan tak bisa membayangkan rasa sakit yang ditanggung oleh bayi-bayi tak berdosa yang dimangsa oleh hantu kepala tanpa tubuh itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=