
Dengan tangan gemetar Hilya menepuk punggung bayi yang ada di gendongannya itu. Ia prihatin pada nasib sang bayi yang kehilangan sumber kehidupannya. Bayi yang dilahirkan Lupita beberapa saat yang lalu itu menangis keras seolah mengerti apa yang diucapkan Ersa tadi.
"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ..., malang sekali nasibmu Nak ...," gumam Hilya dengan mata berkaca-kaca.
"Kita ga mungkin menampung bayi ini di sini kan Bu Hilya ?" tanya Ersa tiba-tiba.
"Biar bayi ini istirahat di sini malam ini. Kasian dia. Baru melihat dunia tapi sudah ditinggalkan oleh orang yang membawanya ke dunia. Dasar perempuan egois," sahut Hilya kesal sambil menggelengkan kepala.
Entah mengapa ia tak memiliki rasa simpati pada Lupita. Ia justru kesal dengan cara Lupita menyelesaikan masalah.
Tak lama kemudian Nathan, Fikri dan Ayu datang ke klinik. Mereka baru saja mendengar kabar kecelakaan yang terjadi di depan klinik.
Ketiganya terkejut saat Ersa menceritakan pelaku bunuh diri adalah wanita yang baru saja melahirkan anaknya di Klinik Bersalin Hilya.
"Subhanallah..., kok tega banget dia pergi ninggalin Anaknya begitu aja. Apa dia ga punya kasih sayang sama bayi yang dikandungnya ?. Kan dia membawanya kemana pun selama sembilan bulan, masa ga ada ikatan batin sedikit pun," kata Fikri kesal.
"Aku juga berpikir begitu Bang," sahut Hilya.
"Sekarang dimana bayinya ?" tanya Ayu.
"Ada di box bayi. Baru aja tidur karena kenyang minum susu," sahut Hilya.
Ayu pun masuk ke ruang bayi untuk melihat kondisi bayi yang dilahirkan Lupita itu. Ayu nampak menatap iba kearah sang bayi. Setelah memastikan bayi tidur dengan nyenyak, Ayu pun kembali bergabung dengan yang lain di ruangan Hilya.
"Terus gimana urusan selanjutnya ?. Polisi pasti datang ke sini untuk tanya-tanya kan ?" tanya Ersa cemas.
"Bu Ersa ga usah khawatir. Bilang aja apa yang sebenarnya terjadi.Tunjukin semua bukti yang dia tinggalin termasuk bayi dan amplop besar itu," sahut Nathan.
"Cuma itu Pak ?. Jadi Kami ga akan jadi tersangka kan ?" tanya Ersa.
"Kan Bu Ersa dan Istri Saya cuma membantu korban melahirkan bukan menyuruhnya bunuh diri. Lagian ada kamera CCTV di sini yang akan membuktikan perempuan itu datang ke sini dengan suka rela dan pergi pun diam-diam. Tak ada paksaan sama sekali. Pokoknya Bu Ersa tenang aja ya. Kalo ga bisa jawab lebih baik diam, karena salah jawab juga bikin urusan tambah panjang. Karena biasanya Polisi justru curiga saat berhadapan dengan orang yang gugup," kata Nathan.
Ersa nampak menganggukkan kepala sambil merem*as ujung blouse yang ia kenakan.
__ADS_1
"Kalo Bu Ersa merasa ga nyaman, Bu Ersa boleh pulang sekarang. Biar Saya dan Suami Saya yang ngurus semuanya nanti," kata Hilya kemudian.
Ersa mengangguk cepat. Nampaknya ia memang ingin pulang karena tak sanggup berhadapan dengan polisi.
Setelah berkemas, Ersa pun pamit. Hilya hanya bisa menghela nafas panjang melihat rekan kerjanya pergi karena ketakutan diinterogasi polisi.
"Kayanya Kamu harus berpikir ulang untuk memperpanjang kontrak kerjanya Sayang," kata Nathan.
"Betul Nath. Aku juga merasa Ersa bukan teman yang baik karena meninggalkan Hilya sendirian di saat seperti ini. Untung Kita di sini, kalo ga kan kasian Hilya," sela Fikri.
Hilya nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia memang merasa kecewa melihat reaksi Ersa yang tak mau menemaninya menghadapi polisi. Apalagi sebelumnya Hilya juga merasa tak puas dengan kinerja Ersa.
"Iya. Sekarang Aku punya alasan tepat untuk memutuskan kerja sama," kata Hilya mantap.
Nathan, Fikri dan Ayu pun menghela nafas lega mendengar keputusan Hilya.
\=\=\=\=\=
Sesuai dugaan, polisi mendatangi Klinik Bersalin Hilya. Mereka ingin mengorek informasi dari Hilya tentang Lupita.
"Betul. Dia baru saja melahirkan bayinya setengah jam yang lalu. Kami juga kaget pas tau dia pergi tanpa pamit dan meninggalkan bayinya begitu saja di sini. Apalagi saat Kami denger kabar kalo dia juga meninggal di depan sana karena percobaan bunuh diri," sahut Hilya dengan tenang.
Kemudian Hilya menunjukkan bayi Lupita berikut amplop yang ditinggalkan Lupita di bawah bantal.
Kedua polisi membuka amplop dan menemukan sejumlah uang, ponsel dan sepucuk surat di sana. Polisi menyerahkan uang itu kepada Hilya namun Hilya menolak.
"Kami bermaksud menitipkan bayi ini di sini untuk sementara waktu. Kami akan kerepotan kalo harus mengurus bayi sambil mengurus jenasah Ibunya. Apalagi bayi ini baru lahir, pasti sangat beresiko kalo harus Kami bawa kesana kemari. Maksud Kami, uang ini untuk membiayai kebutuhan bayinya Lupita. Bukan kah dia juga butuh pakaian baru, susu dan diapers ?" tanya sang polisi.
Hilya tertegun sejenak lalu mengangguk saat melihat Nathan memberi kode agar mengiyakan saja permintaan polisi.
"Terima kasih atas bantuannya Bu Hilya. Kalo gitu Kami permisi dulu. Ponsel dan surat ini Kami bawa untuk Kami pelajari isinya," kata sang polisi sambil menjabat tangan Hilya dan Nathan bergantian.
"Baik Pak. Saya tunggu kabar secepatnya ya Pak," kata Hilya.
__ADS_1
"Siap Bu. Selamat malam ...," kata kedua polisi bersamaan.
"Malam ...," sahut Hilya sambil tersenyum.
Tak lama setelah kepergian dua polisi itu, bayi Lupita pun menangis. Hilya sedikit kewalahan menenangkan bayi itu karena ia juga sangat lelah malam itu. Ayu pun datang membantu menggantikan Hilya menggendong bayi itu. Ajaib, saat bayi digendong oleh Ayu, bayi perempuan itu pun berhenti menangis.
"Keliatannya dia menemukan tempat ternyamannya setelah kepergian Ibunya," kata Nathan sambil tersenyum.
"Betul. Aku jadi iri sama Mbak Ayu. Padahal Aku yang membantu kelahirannya tadi, tapi bayi ini malah lebih senang digendong Mbak Ayu daripada Aku," kata Hilya sambil mencibir.
"Bayi kan masih polos Hil. Dia cuma menuruti instingnya aja. Bukan berarti Kamu ga baik, mungkin dia menemukan sesuatu yang membuatnya nyaman di dalam diriku yang mirip sama yang dia temui pada sosok Ibunya. Makanya dia langsung diem waktu Aku gendong," sahut Ayu merendah.
"Bisa jadi dia juga nganggap Mbak Ayu Ibunya," kata Hilya.
"Masuk akal. Sesuatu yang Mbak Ayu bilang tadi cukup jadi sinyal kalo bayi ini maunya dirawat sama Mbak Ayu dan bukan Kamu Sayang," kata Nathan sambil merengkuh bahu Hilya.
Hilya mengangguk sedangkan Ayu nampak tersenyum. Di sisi lain Fikri nampak salah tingkah mendengar pernyataan Nathan tadi. Jujur Fikri tak keberatan jika dititipi bayi itu untuk sementara waktu. Tapi Fikri tak ingin Ayu sakit hati saat bayi itu diambil pihak berwajib nanti.
"Gimana Bi ?. Boleh kan Aku bawa bayi ini ke rumah Kita. Aku cuma mau bantuin Hilya merawat bayi ini sampe Polisi selesai mengusut kasus kematian Ibunya," pinta Ayu sambil menatap sang suami lekat.
"Mmm ..., gimana ya Mi. Aku jadi bingung nih," sahut Fikri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Cuma sebentar kok Bi, ga selamanya. Apa Kamu ga kasian sama dia. Masih kecil tapi harus kehilangan orangtuanya. Di sini bisa aja bayi itu dapatkan semua yang dibutuhkan, tapi ga akan intens karena Hilya juga harus melayani pasien lain. Gimana, boleh ya Bi ...?" pinta Ayu penuh harap.
"Tapi apa Kamu gapapa kalo bayi ini diambil sama Polisi untuk diserahkan ke pihak yang berhak mengasuhnya nanti ?" tanya Fikri.
"Gapapa Bi," sahut Ayu.
"Janji ga bakal sedih dan nangis berhari-hari ya ...," kata Fikri untuk meyakinkan.
"Iya Bi," sahut Ayu cepat hingga membuat Fikri tersenyum.
"Ok, kalo gitu Kita bawa bayi ini ke rumah," kata Fikri hingga membuat semua orang di ruangan itu menghela nafas lega.
__ADS_1
\=\=\=\=\=