Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
234. Begitu Mirip


__ADS_3

Mengetahui Bayan keluar, dokter Abraham pun berniat mengejar. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena Nathan menghalanginya.


"Ga usah dikejar dok," kata Nathan.


"Apa Pak Bayan gapapa kalo pergi sendirian Mas ?" tanya dokter Abraham cemas.


"Insya Allah Ayah gapapa dok. Sekarang sebaiknya dokter mengobati luka dokter Yusuf," kata Nathan.


"Hilya juga dok. Saya khawatir ngeliat darah di bajunya. Kayanya lukanya tambah parah deh," sela Anna sambil mengamati darah yang mengotori pakaian Hilya.


Dokter Abraham pun mengangguk lalu melangkah kearah rekannya karena saat itu posisi mereka cukup dekat.


"Jangan Saya dok. Tolong Mbak Hilya aja dulu. Saya masih bisa bertahan kok," kata dokter Yusuf.


"Baik lah," sahut dokter Abraham sambil berbalik arah.


Nathan pun bergegas menghampiri dokter Yusuf lalu memapahnya ke sofa. Ia membantu dokter Yusuf berbaring di sana.


"Ada yang bisa Saya lakukan lagi dok ?" tanya Nathan.


"Iya. Tolong ambil air untuk membersihkan luka Saya. Di nakas itu ada perlengkapan untuk membalut luka. Saya tau dokter Mutia meletakkannya di sana kemarin," sahut dokter Yusuf.


Nathan mengangguk lalu melakukan apa yang diminta dokter Yusuf. Sedangkan di atas tempat tidur, Hilya nampak berbaring sambil meringis menahan sakit saat dokter Abraham membuka perban yang membalut lukanya.


Jika di kamar semua orang sibuk mengobati luka Hilya dan dokter Yusuf, maka di luar sana Bayan nampak tengah berlari tanpa arah.


Bayan berhenti di suatu tempat sambil berusaha mengatur nafasnya. Ia sedang berpikir kemana siluman kuyang dan tubuh tanpa kepala milik Rosi itu pergi.


"Kemana mereka. Dengan kondisi luka kaya gitu mereka ga mungkin bisa lari jauh. Tapi mereka juga ga mungkin sembunyi di sini karena terlalu besar resikonya," gumam Bayan sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


Tiba-tiba Bayan tersenyum saat melihat sebuah pohon mangga yang menjulang tinggi di hadapannya. Bayan mendekati pohon dan mengamati pohon itu sejenak. Pria itu sempat ragu untuk memanjat karena melihat banyak semut rangrang yang melintas di batang pohon itu. Namun sesaat kemudian Bayan memutuskan memanjat dan tak peduli dengan semut rangrang yang mengamuk karena merasa rumahnya diganggu.


Bayan terus memanjat meski ratusan semut rangrang mulai merambati tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk Bayan agar tiba di dahan tertinggi. Dari sana Bayan bisa mengamati keadaan Rumah Sakit.

__ADS_1


Bayan sedikit kesal karena tak melihat apa yang dicarinya. Apalagi saat itu sebagian semut mulai menyusup masuk ke balik pakaiannya.


Bayan pun berniat turun namun urung saat kedua matanya menangkap aktifitas aneh di kejauhan tepatnya di sebuah tanah kosong di samping Rumah Sakit.


Tak ingin membuang waktu, Bayan pun bergegas turun dari pohon lalu berlari ke samping Rumah Sakit. Sambil berlari Bayan terus menepuk tubuhnya dan mengibas tangannya karena merasa tak nyaman dengan gigitan semut rangrang yang sempat menyelinap masuk tadi.


Akhirnya Bayan tiba di lokasi yang dimaksud setelah melewati gerbang Rumah Sakit dan para security. Seorang security yang mengenal Bayan pun menyapa.


"Apa ada jalan masuk ke lahan di samping Mas ?" tanya Bayan.


"Ada pintu kecil di sana Pak. Keluarga pasien juga banyak yang istirahat di sana saat siang hari. Tapi kalo malam begini sih jarang Pak," sahut sang security.


"Oh gitu. Ya udah Saya ke sana dulu ya Mas," kata Bayan sambil berlalu.


"Iya, hati-hati ya Pak !" sahut sang security dan diangguki Bayan.


Bayan tiba di samping Rumah Sakit lalu perlahan masuk ke sana. Tanah kosong nampak remang-remang karena mendapat pencahayaan dari Rumah Sakit yang membias hingga ke tempat itu. Bayan terus melangkah sambil mengamati sekelilingnya. Bayan baru berhenti melangkah saat melihat tubuh tanpa kepala milik Rosi duduk bersandar di sebuah batang pohon berdaun lebat.


"Dimana siluman itu. Harusnya dia ga ada jauh dari tubuhnya sekarang," gumam Bayan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Tiba-tiba sebuah benda jatuh dari atas pohon dan hampir mengenai kepala Bayan. Beruntung Bayan berhasil menghindar dengan cara bergeser ke samping hingga benda itu tak melukai kepalanya.


Bayan membulatkan matanya saat melihat benda yang meluncur jatuh dari atas pohon itu ternyata adalah siluman kuyang yang sedang dicarinya.


Siluman kuyang yang ada di hadapan Bayan sekarang adalah siluman yang sama yang telah menyerang dia dan keluarganya tadi. Tapi entah mengapa Bayan melihat sesuatu yang berbeda pada raut wajah siluman itu. Wajah siluman kuyang itu kini tampak menyedihkan, kedua matanya mendelik ke atas beberapa kali seolah merasa kesakitan yang amat sangat. Ditambah nafas yang terdengar memburu membuat Bayan yakin jika siluman kuyang jelmaan Rosi itu tengah sekarat.


Dengan menguatkan hati dan tetap siaga, Bayan pun membungkuk lalu meraih rambut siluman kuyang itu. Kemudian Bayan mengangkat dan mendekatkan kepala siluman kuyang itu ke tubuh tanpa kepala milik Rosi yang bersandar di batang pohon.


Kedua mata siluman kuyang itu membulat saat menyaksikan darah yang meluap keluar dari perpotongan leher milik Rosi. Namun sesaat kemudian kedua mata itu nampak sayu.


"Begini lah akhirnya. Ilmu hitam yang telah Kau anut selama ratusan tahun itu kini malah membunuhmu," kata Bayan dengan suara serak.


"Arrggghhh ... arrggghhh ...," kata siluman kuyang itu seolah menyahuti ucapan Bayan.

__ADS_1


"Jika Kau tanya kenapa Aku bisa mengenalimu dan memburumu, itu karena Aku pernah punya pengalaman yang menyakitkan dengan makhluk sejenis Kalian," kata Bayan tanpa melepaskan cekalan tangannya pada rambut siluman kuyang itu.


Siluman kuyang nampak memejamkan mata karena bisa menebak kemana arah pembicaraan Bayan. Namun ia sontak membuka mata saat Bayan menyebut sebuah nama.


"Senja ..., namanya Senja. Dia Istriku. Wanita yang paling Aku cintai sebelum Aku mencintai Anna dan Anak-anak Kami sekarang," kata Bayan dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


Usai Bayan menyebut nama Senja, siluman kuyang itu nampak bergerak liar. Padahal sebelumnya siluman itu sempat terlihat lemah dan hampir mati.


Bayan terkejut dan hampir melepaskan cekalan nya pada rambut siluman kuyang itu. Namun seolah mengerti arti tatapan siluman kuyang yang terus terarah pada tubuhnya, dengan hati-hati Bayan meletakkan kepala siluman kuyang itu di atas leher milik Rosi.


Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi saat kepala dan tubuh Rosi menyatu. Bayan menanti dengan jantung berdebar sambil terus mengawasi penyatuan tubuh dan kepala siluman itu. Meski tak sempurna karena terhalang besi dan pecahan kaca, namun Rosi berhasil menyatukan tubuh dan kepalanya.


Bayan iba saat melihat wajah Rosi yang menyeringai kesakitan karena besi dan pecahan kaca di lehernya itu. Kondisi Rosi saat itu memang mengenaskan karena mirip zombie yang sekarat dan tak mendapatkan mangsa. Dengan kulit sepucat mayat yang terkelupas dan berlendir karena mulai membusuk. Ditambah wajah yang menyeramkan dan luka menganga di lehernya yang terus mengeluarkan darah. Bayan hampir muntah melihat pemandangan di depannya.


Namun sesaat kemudian Bayan membeku mendengar Rosi bicara. Apalagi suaranya terdengar seperti suara mesin yang berputar. Terdengar mendengung dan melengking.


"Senjaaaa ... Senjaaa ...," kata Rosi sambil mengulurkan tangannya kearah Bayan.


"Iya, nama Istriku Senja. Apa Kamu mengenalnya ?" tanya Bayan sambil mundur menjauhi Rosi karena khawatir Rosi akan menyerangnya.


Rosi menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Senjaaa ... dia A-nak ... kan-dung-ku !" kata Rosi dengan terbata-bata hingga membuat Bayan terkejut lalu jatuh bersimpuh di tanah.


Untuk sejenak kedua makhluk itu saling bertatapan. Bayan pun tak lagi sanggup menahan air matanya saat mengetahui wanita siluman di hadapannya itu adalah Ibu dari wanita yang dicintainya.


"Pantes Kalian begitu mirip. Ternyata Kalian adalah Ibu dan Anak," gumam Bayan lirih.


Bayan pun menangis dalam diam. Ia menangisi kenyataan yang membuat Senja terenggut darinya dulu.


Namun tiba-tiba Bayan menghentikan tangisnya saat ingat jika nama ibu kandung Senja adalah Rusti bukan Rosi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2