
Dengan lidah kelu Fikri mempertegas kata yang diucapkan Bayan tadi.
"Jadi ... Ibuku pembunuh. Siapa yang dibunuh Yah ?" tanya Fikri dengan suara tercekat.
"Wanita dan bayi ...," sahut Bayan lirih namun berhasil membuat Fikri terlonjak kaget.
"Apa salah mereka. Apa karena Ibuku teringat dengan Anak yang dia lahirkan, makanya dia jadi stress. Terus Ibu mengambil bayi orang lain dan ketauan. Saat ketauan Ibu panik lalu membunuh mereka," kata Fikri gusar.
"Kamu salah. Mereka ..., maksud Ayah wanita dan bayinya itu ga salah apa-apa. Bahkan mereka ga kenal sama Ibumu begitu pun sebaliknya. Bukan hanya satu tapi ada beberapa, itu pun yang Ayah tau. Selebihnya Ayah ga tau siapa aja mereka. Bisa jadi ada belasan atau bahkan puluhan wanita dan bayinya yang dihabisi oleh Ejah," kata Bayan.
"Jadi begitu ...," sahut Fikri dengan dada sesak karena terkejut dengan cerita Bayan.
Fikri terdiam karena sulit mengusai emosinya saat itu. Rasa rindu, kecewa, marah dan terbuang, membuat kepalanya hampir pecah.
Karena tak mendengar suara apa pun dari Fikri membuat Bayan iba. Ia tahu jika keponakan yang sudah dianggap anaknya itu mengalami shock saat mendengar informasi yang dia sampaikan tadi. Namun Bayan juga tak ingin menunda lagi karena ia khawatir Mak Ejah akan meraja lela di luar sana jika tak segera dihentikan.
"Fikri ...," panggil Bayan.
"Maaf Yah. Tolong kasih Aku waktu buat mencerna semuanya. Aku ... Aku mendadak merasa ga siap ketemu Ibu. Aku khawatir kelepasan tangan dan memukulnya nanti," kata Fikri dengan suara bergetar.
"Ayah tau Nak. Tapi satu hal yang perlu Kamu tau. Ibumu itu sebenarnya ...," ucapan Bayan terputus karena Fikri menggelengkan kepalanya.
"Maaf Yah. Aku ga siap nerima kabar buruk lainnya sekarang. Aku ...," Fikri menjeda kalimatnya karena tak kuasa menahan air mata yang meluncur di pipinya.
Entah mengapa Fikri merasa kehidupannya justru lebih baik saat di panti asuhan dan bersama orangtua angkatnya. Setidaknya mereka adalah orang 'lurus' yang menjalani hidupnya sesuai norma yang Allah tetapkan. Fikri kecewa mengetahui ibu kandungnya adalah seorang pembunuh.
Awalnya Fikri mengira jika perpisahan orangtuanya karena masalah ekonomi yang biasa dihadapi oleh pasutri muda. Tapi mengetahui ibunya adalah pembunuh kejam yang menghabisi wanita dan anak-anak membuat Fikri bersyukur karena dibuang oleh wanita itu.
Akhirnya pembicaraan itu pun berakhir begitu saja. Nampaknya Bayan harus bersabar sedikit lagi jika ingin mengungkap jati diri Ejah yang sebenarnya.
Karena kondisi Fikri yang tampak linglung membuat Bayan khawatir. Ia bergegas membawa Fikri pulang. Bukan ke rumah yang ditempati Ayu dan Arafah tapi pulang ke rumahnya.
Saat tiba di depan rumah Bayan memanggil Yunus untuk membantunya.
"Lho, Mas Fikri kenapa Pak ?. Kenapa ga diantar pulang aja ke rumahnya, kan Bapak lewatin rumahnya tadi ?" tanya Yunus tak mengerti.
"Saya ga mau Ayu cemas. Kasian, Ayu kan masih dalam masa pemulihan usai keguguran beberapa bulan yang lalu. Saya ga mau dia panik dan berakibat mengganggu proses program bikin Adiknya Arafah nanti," sahut Bayan asal.
__ADS_1
Yunus pun mengangguk tanda mengerti. Lalu dengan sigap ia memapah Bayan keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Anna dan Nathan yang sedang duduk di ruang depan pun terkejut melihat kehadiran Fikri yang dipapah oleh Yunus.
"Bang Fikri kenapa Pak ?" tanya Nathan sambil membantu memapah Fikri.
"Saya ga tau Mas. Bapak yang bawa Mas Fikri pulang," sahut Yunus.
"Bawa aja ke kamarmu Nath. Keliatannya Abang Kamu perlu istirahat !" kata Bayan dari ambang pintu.
" Iya Yah," sahut Nathan tanpa membantah.
Sstelah membaringkan Fikri di tempat tidur, Nathan dan Yunus pun memilih keluar karena tak ingin mengganggu Fikri.
Setelah Nathan dan Yunus keluar dari kamar Fikri pun membuka mata lalu menangis.
Di luar kamar tampak Bayan sedang menjelaskan apa yang terjadi. Anna, Nathan dan Yunus pun mengangguk paham.
"Jangan kasih tau Ayu dulu kalo Fikri ada di sini ya Nus," kata Bayan.
"Siap Pak. Sekarang Saya balik ke depan ya Pak," kata Yunus.
Kemudian Bayan, Anna dan Nathan duduk di ruang keluarga sambil menunggu Fikri keluar dari kamar.
\=\=\=\=\=
Dua hari kemudian Bayan kembali mengajak Fikri bertemu secara khusus. Kali ini ia ingin menuntaskan informasi yang ingin diberikan. Awalnya agak sulit karena ternyata Fikri sulit menerima kehadiran ibu kandungnya yang pembunih itu.
Tapi karena paksaan Bayan dan karena menghormati paman yang seperti ayahnya itu, akhirnya Fikri bersedia datang. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini justru Fikri yang datang terlambat.
"Kita hampir ga punya waktu Fikri. Ibumu di luar sana tengah berkeliaran mengancam nyawa wanita dan bayi-bayi lainnya !" kata Bayan tak sabar saat dilihatnya Fikri berjalan santai kearahnya.
Ucapan Bayan membuat Fikri terkejut. Kardnanya ia melangkah lebih cepat kearah Bayan yang nampak menanti dengan wajah tegang.
"Apa maksud Ayah ?. Apa Ibuku sedang berusaha membunuh orang lagi ?!" tanya Fikri panik.
"Iya. Kita bisa mencegahnya kalo Kamu datang lebih awal tadi !" sahut Bayan kesal.
__ADS_1
"Maaf Yah. Aku ...," ucapan Fikri terputus karena Bayan memotong cepat.
"Kita bahas itu nanti Fikri. Sekarang Kamu ikut Ayah !" kata Bayan sambil membalikkan tubuhnya.
"Kita mau kemana Yah ?" tanya Fikri sambil mengekori Bayan.
"Mencegah aksi gila yang akan Ejah lakukan !" sahut Bayan cepat sambil memaaang seat belt.
Melihat ketegangan di wajah Bayan membuat Fikri cemas. Ia khawatir jika calon korban ibunya kali ini adalah orang yang dia kenal.
Sepanjang perjalanan Fikri hanya diam dambil berdzikir dalam hati. Ia berharap seseorang yang akan ia temui nanti masih mau mendengar nasehat Bayan atau dirinya.
Saat Bayan memperlambat laju mobilnya, Fikri pun mengerutkan keningnya. Ia bingung karena Bayan membawanya masuk ke ssbuah tempat yang agak terpencil dan jauh dari keramaian. Meski pun mereka masih ada di kota yang sama, namun kondisi tempat yang mereka datangi kali ini bisa dibilang jauh dari kata layak.
"Ini kan kamp para tuna wisma Yah. Apa Ibuku tinggal di tempat ini ?. Jadi kehidupan Ibuku ga baik-baik aja ...," kata Fikri ragu.
"Jangan bayak tanya dulu Fikri. Kamu ikut Ayah dan jangan banyak komentar nanti. Ngerti kan ?" tanya Bayan tegas.
"Baik Yah," sahut Fikri sambil mengangguk.
Tak lama kemudian Bayan turun di tempat yang agak terlindung dari sorot lampu jalan raya. Ia memberi kode agar Fikri mengikutinya. Sesekali Bayan menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya pertanda Fikri tak boleh bersuara.
Bayan berhenti tepat di depan sebuah rumah kumuh yang berdinding tumpukan kardus dan karung plastik. Melihat pemandangan di depannya membuat Fikri hampir menangis. Ia tak menyangka jika kehidupan ibunya sangat memprihatinkan. Karena tak tahan Fikri hampir menghambur masuk dan memanggil perempuan yang ia yakini sebagai ibunya itu. Tapi sebelum Fikri melakukannya, Bayan segera menarik tubuhnya lalu membekap mulutnya.
"Kenapa Yah ?. Aku mau ketemu Ibu," kata Fikri saat Bayan melepaskan bekapan di mulut Fikri.
Belum sempat Bayan menjawab, sebuah benda melayang cepat keluar rumah kumuh itu lalu melesat ke angkasa. Setelahnya benda yang merupakan potongan kepala milik mak Ejah melesat cepat lalu menghilang di kegelapan malam.
"Kita terlambat. Kenapa Kamu jadi ga sabaran gitu sih Fik ?. Gara-gara Kamu Kita gagal menangkap basah perempuan itu !" kata Bayan kesal.
"Kita terlambat gimana maksud Ayah ?" tanya Fikri tak mengerti.
"Ibumu baru aja pergi," sahut Bayan sambil menatap ke langit.
"Aku ga liat siapa pun keluar tadi. Kenapa Ayah bisa bilang Ibuku pergi. Dan kenapa Ayah ngeliat ke atas langit, emangnya Ibuku ada di sana Yah ?" tanya Fikri.
Seolah menyadari sesuatu, usai mengatakan kalimat itu kedua mata Fikri membulat. Dan sesaat kemudian tubuhnya merosot jatuh ke tanah. Rupanya Fikri mengira ibunya telah meninggal dan pergi ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa di ketinggian sana.
__ADS_1
\=\=\=\=\=