
Melihat ketegangan antara Bayan dan ibunya membuat Fikri tak enak hati. Ia menarik tangan mak Ejah agar bergeser menjauh dari Bayan dan Nathan.
"Tolong jangan marah sama Ayah. Aku yang memaksanya untuk mempertemukan Kita," kata Fikri.
"Ayah. Kamu memanggilnya Ayah ?" tanya mak Ejah tak mengerti.
"Iya. Karena Aku ... Aku menemukan sosok Ayah dalam diri Ayah Bayan. Bukan kah wajar jika Aku memanggilnya Ayah karena beliau kan saudara kembar Ayah kandungku ?" tanya Fikri sambil menatap mak Ejah dengan tatapan lembut.
Mak Ejah nampak terdiam karena terharu mendengar ucapan anaknya. Ia mengangguk perlahan lalu tersenyum.
Melihat senyum di wajah sang ibu membuat Fikri ikut tersenyum.
Pembicaraan antara ibu dan anak pun berlanjut. Meski pun beberapa kali mak Ejah nampak menghapus air matanya karena tak kuasa menahan haru dan bahagia di saat bersamaan. Fikri pun berkali-kali memeluk sang ibu dengan erat sambil mengecup kepala wanita itu dengan penuh kerinduan. Nathan dan Bayan sengaja berdiri agak jauh karena tak ingin mengganggu moment kebersamaan Fikri dan ibu kandungnya itu.
"Tolong beritau Aku dimana Ibu tinggal sekarang. Biar Aku bisa jemput Ibu pulang ke rumahku dan Kita bisa tinggal sama-sama," kata Fikri penuh harap.
Ucapan Fikri mengejutkan Bayan. Ia khawatir dengan keselamatan Fikri dan keluarganya jika mak Ejah tinggal bersama mereka. Tapi sebelum Bayan menyampaikan keberatannya, mak Ejah sudah lebih dulu menolak keinginan Fikri.
"Maaf Saba. Ibu ga bisa ...," kata Mak Ejah.
"Kenapa Bu ?" tanya Fikri.
"Ki-Kita baru aja ketemu setelah puluhan tahun berpisah. Rasanya ga nyaman aja kalo harus tinggal bersama. Mmm ... Ibu pikir, Ibu masih perlu waktu untuk bisa menerima perubahan ini," sahut mak Ejah sambil membuang pandangannya kearah lain.
Fikri nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Baik lah. Tapi bisa kan Ibu kasih tau Aku dimana Ibu tinggal sekarang ?" ulang Fikri.
"Maaf. Ibu khawatir membuatmu malu karena Ibu tinggal di tempat yang ga layak. Gimana kalo Kita atur pertemuan di tempat lain secara rutin. Pelan-pelan Kita bisa mulai belajar saling mengenal. Dengan begitu kan bikin Kita jadi lebih dekat dan akrab," sahut mak Ejah lirih.
"Baik lah kalo itu mau Ibu. Ketemuan di luar juga boleh kok, seru juga keliatannya," kata Fikri antusias hingga membuat mak Ejah tersenyum.
"Karena ini udah larut, Ibu pulang dulu ya. Kalo Kamu kangen sama Ibu, Kamu tunggu aja di sini. Setiap hari Ibu pasti lewat sini kok," sahut mak Ejah sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Iya, Aku setuju. Tapi jangan ingkar janji ya Bu," pinta Fikri.
"Ibu ga bakal ingkar janji Nak. Puluhan tahun mencarimu dan akhirnya bisa ketemu kaya gini mana mungkin Ibu lari. Rasanya mati sekarang pun Ibu rela. Apalagi mendengarmu memanggilku Ibu, rasanya Aku tak ingin apa-apa lagi di dunia ini," kata mak Ejah dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Ucapan mak Ejah membuat Bayan terbatuk-batuk sedangkan Nathan dan Fikri hanya membisu sambil saling menatap bingung. Mak Ejah nampak menatap kesal kearah Bayan karena yakin Bayan tengah mengejeknya.
Perlahan Fikri melepaskan genggaman tangannya kemudian meraih dompet dari saku jaketnya. Kemudian Fikri memberikan beberapa lembar uang kepada Mak Ejah. Awalnya mak Ejah ragu menerima pemberian Fikri. Namun karena Fikri memaksa, wanita itu pun mau menerimanya.
"Aku tunggu di sini besok ya Bu. Tolong tepati janjimu," kata Fikri saat mak Ejah mulai melangkah meninggalkannya.
Untuk beberapa saat Fikri masih terdiam sambil menatap mak Ejah yang kian menjauh. Nathan pun mendekati Fikri lalu menepuk bahunya.
"Kita pulang sekarang yuk Bang," ajak Nathan.
"Iya," sahut Fikri dengan enggan.
Kemudian Bayan, Nathan dan Fikri pun berjalan bersama meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
"Kenapa Kamu meminta Ibumu tinggal bersamamu. Apa Kamu ga memikirkan nasib Anak dan Istrimu ?!" tanya Bayan saat ia bertemu Fikri keesokan harinya.
"Aku cuma basa-basi Yah," sahut Fikri cepat.
"Jangan gegabah Fikri !. Ini menyangkut nyawa Arafah dan Ayu. Gimana kalo Ibumu menerima tawaranmu itu lalu membahayakan mereka nanti ?!" tanya Bayan gusar.
"Masalah ini bukan sesuatu yang bisa Kamu anggap remeh Fikri !. Jangan kasih kesempatan siluman itu dekat dengan keluargamu, kalo Kamu ga mau menyesal nanti," kata Bayan sambil berlalu.
Fikri terdiam sejenak lalu segera mengejar Bayan yang melangkah cepat.
"Maafkan Aku Ayah. Aku lupa kalo Ibuku punya jiwa siluman di dalam dirinya. Aku ...," ucapan Fikri terputus saat Bayan mengembangkan telapak tangannya ke hadapan Fikri.
"Lupakan !. Mungkin Aku yang terlalu berlebihan. Terus jam berapa Kamu akan menemuinya ?" tanya Bayan.
"Insya Allah jam delapan Yah. Apa menurut Ayah Aku bisa mengajak Ayu dan Arafah untuk bertemu Ibu ?" tanya Fikri.
"Terserah, mereka kan keluargamu. Aku yakin Kamu pasti bisa menjaga mereka dengan baik," sahut Bayan sambil tersenyum tipis.
Setelah mengatakan kalimat itu Bayan masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Fikri yang termangu di pinggir jalan.
Fikri nampak menghela nafas panjang. Entah mengapa ia merasa Bayan mengabaikannya tadi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Fikri mulai menjalin hubungan baik dengan mak Ejah. Mereka bertemu secara rutin di trotoar jalan itu setiap hari berdua saja karena Fikri hanya datang seorang diri. Hingga beberapa kali pertemuan mak Ejah masih enggan bertemu dengan Ayu dan Arafah. Dan itu membuat Fikri bingung.
"Kenapa Ibu ga mau ketemu sama Anak dan Istriku ?" tanya Fikri untuk ke sekian kalinya.
"Maaf Nak. Ibu belum siap," sahut mak Ejah masih dengan jawaban yang sama.
"Ibu ga perlu nyiapin apa-apa. Ibu cukup duduk aja sambil kenalan sama Ayu dan Arafah," kata Fikri dengan sabar.
"Jangan paksa Ibu Saba !. Atau, ini terakhir kali Kita ketemu," ancam Mak Ejah kesal.
Fikri terdiam karena tak menyangka permintaan sederhananya itu membuat sang ibu marah.
Setelah berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya, Fikri pun merengkuh bahu sang ibu.
"Maafin Aku ya Bu. Aku cuma terlalu antusias karena bisa ketemu sama Ibu. Aku ingin membagi kebahagiaanku ini sama orang terdekatku selama ini yaitu Istri dan Anakku. Kalo Ibu belum siap ketemu sama mereka gapapa kok. Aku janji ga akan maksa lagi. Tapi tolong jangan bilang kalo Ibu ga mau ketemu sama Aku lagi ya," kata Fikri.
Mak Ejah membisu. Ia kesal karena terus dipaksa bertemu Ayu dan Arafah. Bagaimana ia bisa bertemu mereka jika di dalam hatinya dihantui rasa penyesalan karena pernah menyakiti menantu dan cucunya itu. Sayangnya Fikri seolah lupa dengan jati diri sang ibu karena terlalu bahagia bisa bertemu dengan ibu kandungnya setelah puluhan tahun berpisah.
Tiba-tiba Mak Ejah menepis tangan Fikri yang ada di bahunya lalu bangkit berdiri. Sikap mak Ejah membuat Fikri kecewa. Namun sesaat kemudian Fikri nampak mengerutkan keningnya karena melihat wajah sang ibu yang pucat.
"Ibu kenapa ?. Apa Ibu sakit ?" tanya Fikri.
"Gapapa Nak. Ibu ... Ibu cu-cuma ga enak badan. Kalo boleh, Ibu mau pulang sekarang ya," sahut mak Ejah.
"Biar Aku anter ya Bu," kata Fikri.
"Ga usah !. Kamu di sini aja Saba. Dan tolong jangan ikuti Ibu. Ibu ga mau Kamu terluka karena ngikutin Ibu nanti," kata mak Ejah sambil membalikkan tubuhnya.
"Tapi Bu ...," ucapan Fikri terputus saat mak Ejah memotong cepat.
"Tetap di sana atau Kita selesai !" ancam mak Ejah lantang sambil berjalan cepat meninggalkan Fikri.
Fikri pun hanya bisa menatap kepergian ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh mak Ejah.
"Apa sekarang waktunya Bu ?" gumam Fikri dengan suara tercekat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=