
Anna menatap lekat wajah sang suami dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya nampak bergetar seolah ingin bicara namun tak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya.
"Kok diem sih Bund ?. Mana Bundaku yang super jutek dan cerewet itu. Jangan bilang sekarang Bunda nervous gara-gara ngeliat Ayah yang tambah langsing," goda Nathan disambut tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
Ucapan Nathan membuat Anna tersipu malu. Bayan yang melihatnya pun tersenyum lalu menarik Anna ke dalam pelukannya. Sesaat kemudian Anna nampak terisak sambil membalas pelukan sang suami.
Suasana di dalam ruangan pun dipenuhi keharuan. Tapi sesaat kemudian tawa kembali menggema di ruangan itu.
Seperti janjinya pada sang dokter, Nathan sama sekali tak memberi kesempatan pada semua orang untuk bertanya perihal kondisi Bayan. Nathan selalu berusaha mengalihkan pembicaraan dan itu berhasil.
Bayan hanya boleh berbaring sambil menyimak pembicaraan semua orang. Sesekali ia ikut tertawa melihat tingkah Nathan, Nicko dan Fikri saat berebut untuk menceritakan pengalaman lucu mereka. Di sampingnya Anna nampak setia menemani. Bayan pun menoleh lalu tersenyum saat menyadari Anna tengah menatapnya.
"Makasih untuk semuanya ya Bund. Maafin Ayah karena udah bikin Bunda khawatir," kata Bayan setengah berbisik.
"Sssttt ... jangan ngomong gitu Yah. Bunda ikhlas melakukan semuanya karena Bunda sayang sama Ayah," sahut Anna sambil tersenyum.
"Aku juga sayaaaanngg ... banget sama Kamu, Anna ...," kata Bayan sungguh-sungguh sambil menggenggam jemari sang istri dengan erat.
Tentu saja ucapan Bayan membuat wajah Anna bersemu merah. Wanita itu bahagia bukan kepalang mendengar pernyataan cinta sang suami. Rasanya sama seperti saat Bayan melamarnya dulu.
Anna pun terharu lalu menghambur memeluk suaminya. Mungkin Anna akan terus melakukannya jika Nathan tak mengingatkan dirinya bahwa Bayan juga butuh istirahat.
Setelah Bayan berbaring dan memejamkan mata, baru lah Anna beranjak ke sofa bed dan berbaring di sana. Tak lama kemudian Anna pun tertidur. Sangat nyenyak seolah rasa lelah menanti Bayan siuman selama lima hari itu telah terbayar.
Malam itu Nathan memutuskan pulang ke rumah. Selain rindu dengan istri dan ketiga anak kembarnya, Nathan juga ingin memberi kesempatan pada kedua orangtuanya mengungkapkan kerinduan.
"Pasti banyak hal yang ingin Ayah dan Bunda omongin setelah Ayah ga sadar selama lima hari," kata Nathan saat Hilya bertanya mengapa ia meninggalkan kedua orangtuanya di Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Anna terbangun keesokan paginya dengan tubuh yang lebih segar. Ia tersenyum melihat Bayan masih terlelap di atas tempat tidur.
Anna pun bangkit lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Setelahnya Anna menunaikan sholat Subuh di dalam ruangan seperti biasa.
Saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi, dokter dan perawat masuk ke dalam kamar untuk mengecek kondisi Bayan.
Namun Anna cemas saat melihat ketegangan di wajah sang dokter.
"Ada apa dok, kenapa Suami Saya ?" tanya Anna tak sabar.
"Apa pasien begini sejak Saya tinggalkan semalam Bu ?" tanya sang dokter.
Anna nampak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang dokter. Ingatannya kembali pada saat dokter datang untuk mengecek kondisi suaminya sesaat setelah siuman.
Anna ingat betul jika ia, anak dan menantunya sudah berusaha memenuhi permintaan sang dokter. Mereka menjaga emosi Bayan supaya tetap stabil. Bahkan mereka tak bertanya apa pun pada Bayan tentang penyebabnya pingsan selama beberapa hari ini.
"Bu Anna ...," panggil sang dokter sambil menyentuh lengan Anna dengan lembut.
"I-iya dok. Suami Saya cuma ngobrol ringan aja sama Saya semalam dok. Itu pun beliau lebih banyak mendengarkan daripada bicara. Emang ada apa sih dok?" tanya Anna lagi.
"Dengan berat hati harus Saya sampaikan bahwa sekarang Pak Bayan koma Bu. Dan pasien bisa dalam kondisi seperti ini dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Mungkin bisa lebih lama dari sebelumnya," kata sang dokter dengan hati-hati.
__ADS_1
"Apa ...?!" kata Anna tak percaya.
Meski pun diucapkan dengan hati-hati namun tetap membuat Anna terkejut. Bahkan saking terkejutnya Anna hampir terjatuh. Beruntung perawat sigap menahan tubuhnya hingga wanita itu tak jatuh terhempas ke lantai.
Dan di saat genting itu lah Nathan, Nicko dan Fikri datang. Ketiganya menerobos masuk saat melihat Anna menangis.
"Ada apa Bund. Kenapa menangis ?" tanya Nicko sambil memeluk sang ibu dengan erat.
Anna hanya menggelengkan kepala sambil menunjuk kearah Bayan yang masih berbaring. Kemudian sang dokter menjelaskan apa yang terjadi dan tentu saja itu membuat Nathan, Nicko dan Fikri shock bukan kepalang.
"Tapi Ayah baik-baik aja semalam dok !" kata Fikri histeris.
"Betul Mas. Keliatannya ada pembuluh darah di kepala yang pecah karena tekanan darahnya melebihi ambang normal," sahut sang dokter.
"Tolong lakukan sesuatu dok !" pinta Nathan yang tanpa sadar telah mencekal lengan sang dokter dengan kuat.
"Iya. Tapi Kami juga mohon kerja sama dari pihak keluarga agar tak menghambat dan meragukan kinerja Kami," kata sang dokter sambil menatap keluarga Bayan bergantian.
Ucapan sang dokter membuat Nathan tersadar lalu bergegas mengurai cekalan tangannya.
"Maafkan Saya. Tapi tolong lakukan yang terbaik. Kami akan mendukung sepenuhnya !" kata Nathan sambil melirik kedua saudaranya.
Nathan dan Fikri pun mengangguk cepat hingga membuat sang dokter mengangguk sambil menghela nafas lega.
\=\=\=\=\=
Setahun kemudian.
Bayan terlihat bugar meski harus duduk di kursi roda karena kedua kakinya tak kuat menopang tubuhnya. Sejak siuman sebulan lalu, Bayan masih rutin melakukan therapy. Tapi nampaknya belum membuahkan hasil karena Bayan masih merasa kedua kakinya kebas alias mati rasa.
Bayan tersenyum melihat aktifitas Nathan dan Hilya bersama ketiga anak kembar mereka. Saat itu si kembar sedang belajar berjalan di hamparan rumput yang ada di depan rumah besar.
"Ayo Hilal, Hilman, Hanfa !. Cepetan ke sini. Mama punya sesuatu untuk Kalian ...!" kata Hilya lantang sambil memperlihatkan permen dan coklat kesukaan si kembar di tangannya.
Hilal, Hilman dan Hanfa nampak tertawa sambil saling berlomba untuk mencapai sang mama yang berdiri jauh di depan sana. Hilya pun ikut tertawa melihat ketiga anaknya jatuh bangun mengejarnya.
Jika Hilya sibuk menyemangati si kembar, maka Nathan sibuk merekam aktifitas mereka.
Suara tawa makin riuh terdengar saat Nicko dan Fikri bersama keluarganya ikut bergabung. Anna yang berdiri di belakang Bayan pun ikut tertawa melihat tingkah anak, cucu dan menantunya itu.
Bayan menoleh lalu tersenyum melihat Anna tertawa bahagia.
"Happy anniversary yang ke tiga puluh satu Sayang. Terima kasih untuk semuanya. Maafin Aku karena belum bisa jadi seperti apa yang Kamu mau," kata Bayan sambil menggenggam erat jemari Anna.
"Happy anniversary juga Sayang. Makasih untuk semuanya. Kalo nurutin hati sih emang ga bakal ada kata puas. Tapi Aku belajar mensyukuri semuanya kok," sahut Anna.
"Walau terpaksa," potong Bayan cepat hingga membuat Anna tertawa.
"Yang penting Kamu selalu sehat dan panjang umur. Itu udah cukup," kata Anna sambil mrngecup pipi Bayan dengan lembut.
Bayan tersenyum kemudian menarik Anna ke dalam pelukannya. Ia juga mendaratkan ciuman panjang di kening sang istri.
__ADS_1
"Yang terakhir kayanya ga bakal terwujud deh Bund," sahut Bayan setelah mengecup kening Anna.
"Lho kenapa ?" tanya Anna sambil menatap Bayan lekat.
"A-ku udah dijemput ...," sahut Bayan sambil menatap lurus ke belakang Anna.
Anna menoleh ke belakang dan tak melihat siapa pun di sana.
"Dijemput siapa Yah ?" tanya Anna.
"Senjaaa ...," sahut Bayan lirih sambil menunjuk ke satu titik.
Jawaban Bayan membuat Anna panik dan menjerit histeris. Semua orang terkejut lalu bergegas mendatangi Anna dan Bayan.
Saat tiba di hadapan Anna dan Bayan, mereka melihat Bayan telah duduk bersandar sambil memejamkan mata. Mulutnya nampak bergumam lirih.
"Laa ... ilaha ... ilallah ...," bisik Bayan lalu diam.
Jeritan pun kembali menggema saat kepala Bayan terkulai ke samping. Suara jeritan itu membuat ketiga anak kembar Nathan menangis karena terkejut. Suasana yang semula damai pun berubah jadi kacau.
Di saat genting itu Fikri mengulurkan tangannya untuk mengecek kondisi sang ayah.
"Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun ...," kata Fikri dengan suara bergetar.
Sesaat setelah Fikri menyelesaikan kalimatnya Anna dan anak-anaknya menangis. Sedangkan Hilya, Ayu dan Ramadhanti sibuk menenangkan anak-anak mereka. Air mata nampak berderai di wajah mereka usai menyaksikan 'kepergian' Bayan.
\=\=\=\=\=
Anna masih berdiri di depan makam Bayan. Ia menatap nisan bertuliskan nama Bayan dan Senja bergantian. Ada rasa pedih menyapa hatinya saat menyaksikan makam yang berdampingan itu.
"Akhirnya Kamu bisa bersatu dengan cinta sejatimu Yah ...," gumam Anna sambil tersenyum getir.
"Bunda salah. Cinta sejatinya Ayah ya Bunda. Karena bersama Bunda, Ayah punya Aku dan Nicko. Kebetulan aja Ayah dimakamin di samping makam Mama Senja. Tapi itu kan atas permintaan Bunda juga tadi," kata Nathan mengingatkan.
"Tapi ...," ucapan Anna terputus.
"Meski pun Ayah menyebut nama Mama Senja menjelang akhir hayatnya, tapi percaya lah. Bunda yang memenangkan hati dan tubuhnya selama ini," bisik Nathan sambil merengkuh sang bunda.
Ajaib. Ucapan Nathan membuat Anna tersenyum.
"Kamu benar Nath. Bunda yang memenangkan hati dan tubuh Ayah karena Kami bertahan hingga akhir," kata Anna.
"Betul. Sekarang Kita masuk yuk Bund. Ini udah hampir Maghrib lho," ajak Nathan.
Anna mengangguk lalu melangkah bersisian dengan Nathan.
Sebelum masuk ke dalam rumah Anna kembali menoleh kearah makam dan melihat Bayan berdiri sambil tersenyum kearahnya. Anna juga melihat sosok wanita bergaun kuning pucat di belakang Bayan. Anna yakin itu adalah Senja.
Anna menganggukkan kepala sambil tersenyum pertanda ia telah berdamai dengan perasaannya sendiri. Setelahnya ia menutup pintu rumah rapat-rapat.
Saat membalikkan tubuh Anna dikejutkan oleh suara semua cucunya yang memanggil namanya. Anna tertawa lalu memeluk mereka. Dalam sekejap Anna pun berhasil melewati kesedihan usai ditinggal Bayan pergi selamanya.
__ADS_1
S E L E S A I