
Fikri mengira akan sulit membujuk Ayu untuk menjalani ruqyah. Ternyata Ayu dengan cepat menyetujui permintaan suaminya karena ia merasa membutuhkannya saat ini.
Karena penasaran, Fikri pun bertanya apa sebabnya Ayu menuruti sarannya.
"Aku merasa ada yang aneh sama diriku Bi," kata Ayu.
"Aneh, apanya ?" tanya Fikri sambil menatap istrinya lekat.
"Mmm ..., tiap hari Aku punya keinginan yang kuat untuk menemui Nira anaknya Nicko. Dan Aku juga sering merasa iri melihat wanita hamil di sekelilingku. Aku ga tau kenapa. Tapi dua-duanya bikin Aku inget sama Arafah. Padahal kan Aku janji untuk mengikhlaskan Arafah," sahut Ayu gusar.
"Oh ya. Apalagi yang Kamu rasain Mi ?" tanya Fikri.
"Cuma itu sih. Tapi dua rasa itu seolah mendesak di dalam dadaku dan memaksa untuk dituntaskan. Biasanya setelah melihat Nira perasaanku akan berangsur membaik. Tapi saat pulang ke rumah dan ngeliat Mbak Vira, tetangga Kita yang lagi hamil besar itu, perasanku jadi kacau lagi. Bahkan kadang-kadang Aku bisa marah-marah tanpa sebab. Aku jadi mikir jangan-jangan Aku emang belum ikhlas melepas kepergian Arafah dan Adiknya," sahut Ayu sambil membuang pandangannya kearah lain.
Fikri tersenyum. Ia terharu mendengar pengakuan istrinya itu. Fikri pun meraih tangan Ayu lalu menggenggamnya erat hingga membuat Ayu menoleh kearahnya.
"Kenapa ga cerita sama Aku Mi ?" tanya Fikri lembut.
"Aku cuma ga mau mendramatisir aja Bi. Awalnya Aku kira ini cuma perasaan biasa. Tapi Aku merasa ini hal yang ga biasa sejak Aku ga bisa lagi ketemu Nira," sahut Ayu ragu.
"Maksud Kamu gimana sih Mi ?" tanya Fikri pura-pura tak mengerti.
"Ehm, begini. Dua hari yang lalu Aku mampir lagi ke rumah Nicko. Maaf ya Bi, Aku terpaksa bohong sama Kamu waktu itu. Tapi Aku cuma merasa kangen sama Nira dan pengen ngeliat sebentar. Aku niat langsung pulang setelah ngeliat bayi itu kok. Sayangnya Dhanti lagi ga di rumah. Dan kejadian itu terulang lagi sampe hari ini. Entah kenapa Aku merasa kecewa banget saat ga bisa ketemu Nira. Harusnya kan biasa aja ya Bi. Apalagi Dhanti juga ga ngelarang Aku untuk jengukin bayinya tiap hari kok. Nah perasaan kecewa yang terlalu dalam ini yang bikin Aku ga nyaman Bi," kata Ayu gusar.
"Jadi ... Kamu setuju untuk diruqyah besok ?" tanya Fikri sekali lagi.
"Iya. Dimana Bi, di rumah atau di klinik ?" tanya Ayu antusias.
"Di klinik aja ya Mi. Di sana kan ruangannya memang didesign kedap suara, jadi sekencang apa pun menjerit ga akan terdengar dari luar," sahut Fikri.
"Emangnya kalo diruqyah pasti menjerit Bi ?" tanya Ayu penasaran.
"Ga juga sih Mi. Kadang malah ada yang santai atau diam aja ga bersuara. Tapi setelah menjalani proses ruqyah, kondisi mentalnya jauh lebih baik," sahut Fikri sambil tersenyum.
Ayu pun mengangguk paham. Ia ingin segera bisa segera 'sembuh' dari perasaan aneh yang terus mendesaknya selama ini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Sesuai kesepakatan, Ayu pun diruqyah di klinik ustadz Zulkifli. Fikri dan ustadz Zulkifli lah yang maju untuk meruqyah Ayu.
Saat itu Fikri sengaja tak memberitahu Bayan atau pun Anna karena tak ingin merepotkan mereka. Tapi Fikri berencana memberitahu mereka usai Ayu diruqyah dan dinyatakan sembuh nanti.
"Udah siap kan Ayu ?" tanya ustadz Zulkifli.
"Insya Allah siap Ustadz," sahut Ayu mantap.
Ustadz Zulkifli pun tersenyum lalu mulai membaca ayat-ayat ruqyah. Di sampingnya Fikri ikut membantu membaca ayat Al Qur'an yang dihapalnya di luar kepala.
Menit pertama tak ada reaksi apa-apa. Ayu nampak duduk dengan tenang sambil sesekali ikut melafashkan bacaan yang dibaca suaminya.
Namun memasuki menit ke tujuh Ayu mulai terlihat gelisah. Wajahnya yang semula tenang pun perlahan menegang. Bibirnya yang semula komat kamit mengikuti bacaan suaminya pun nampak tersenyum tipis. Namun sesaat kemudian senyum itu menghilang dan berganti dengan seringai marah.
Nafas Ayu yang semula tenang pun nampak mulai memburu. Kepalanya yang disentuh oleh Fikri tampak bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri seolah ingin menjauh dari jangkauan tangan Fikri.
Sikap Ayu yang perlahan berbeda karena menunjukkan sisi lainnya itu membuat ustadz Zulkifli dan Fikri saling menatap penuh arti.
Dan keduanya nampak mengangguk saat Ayu mulai mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya.
Fikri tak menggubris keluhan istrinya. Ia kembali menjangkau kepala Ayu lalu menekannya sedikit hingga Ayu sedikit gemetar dengan kedua mata yang mendelik ke atas.
"Lepaaasss ... kaaannn ... sia*aaannnn ...!" maki Ayu lantang lalu menangkap telapak tangan Fikri yang sedang menekan kepalanya.
Setelahnya Ayu berusaha memuntir tangan Fikri berharap pria itu tak lagi menyentuhnya.
Fikri memang urung menyentuh Ayu karena Ustadz Zulkifli lah yang menggantikannya. Tangan sang ustadz yang terbungkus sarung tangan berwarna hitam itu nampak menyentuh kepala Ayu dengan lembut. Hanya gerakan lembut namun menimbulkan efek yang dahsyat.
Bagaimana tidak. Saat telapak tangan ustadz Zulkifli menyentuh kepalanya, Ayu merasa ada benda berat yang dibebankan di atas kepalanya. Selain berat, beban itu juga terasa panas membara layaknya api. Dan itu membuat buat Ayu menjerit sekencang-kencangnya.
Di saat Ayu menjerit, kesadaran wanita itu pun lenyap. Tubuhnya kini dikuasai oleh makhluk halus yang menyusup dalam raganya.
Ustadz Zulkifli dan Fikri pun memperkeras lantunan ayat suci yang mereka baca hingga membuat Ayu menggelepar kesakitan lalu menggeliat di lantai begitu saja.
__ADS_1
"Siapa Kamu ?!" tanya ustadz Zulkifli lantang.
"Untuk apa bertanya padaku. Siapa Aku apa itu penting untukmu ?!" kata Ayu lantang sambil menatap marah kearah ustadz Zulkifli.
Dari jawaban yang dilontarkan Ayu sudah bisa ditebak jika saat itu Ayu bukan lah Ayu karena ia sedang dirasuki oleh makhluk halus. Karena biasanya Ayu akan bicara santun dan tak berani menatap mata ustadz Zulkifli.
"Aku bertanya karena tak suka melihatmu menempati tubuhnya. Sekarang pergi lah atau Kamu akan menyesal !" kata ustadz Zulkifli.
"Ha ha ha ...! kalo Aku ga mau pergi bagaimana ?. Apa Kamu akan melakukan sesuatu ?" tantang makhluk dalam tubuh Ayu.
"Tentu saja Aku akan mengusirmu pergi !" kata ustadz Zulkifli sambil melemparkan tasbih kebanggaannya ke atas tubuh Ayu yang menggelepar di lantai.
Ayu menjerit kesakitan saat bulir tasbih menyentuh tubuhnya. Jeritannya terdengar mengerikan karena melolong bak serigala lapar. Setelah melolong panjang, Ayu pun jatuh pingsan.
Untuk sejenak suasana di dalam ruangan itu menjadi hening. Fikri pun mengulurkan tangannya untuk memastikan kondisi sang istri yang belum siuman setelah beberapa saat menunggu.
"Jangan Fikri !. Dia hanya berpura-pura pingsan. Makhluk itu sedang berusaha mencari tempat baru. Walau Aku yakin Kamu ga akan mudah dirasuki, tapi alangkah baiknya jika tetap waspada !" kata ustadz Zulkifli.
"Baik Ustadz," sahut Fikri cepat.
Kemudian ustadz Zulkifli mendekati Ayu lalu menekan titik di pertengahan kedua alis hingga Ayu membuka matanya.
"Katakan siapa Kamu sebenarnya !" kata ustadz Zulkifli sambil menatap tajam kearah kedua manik mata Ayu.
Dengan terbata-bata makhluk dalam tubuh Ayu pun menjelaskan siapa dia sesungguhnya.
Ternyata makhluk itu adalah hantu perempuan yang ada di makam Arafah. Dia mengikuti Ayu sejak wanita itu memasuki area pemakaman di hari pemakaman Arafah yang pertama.
Rasa sedih Ayu yang melampaui batas itu adalah pemicunya. Meski pun saat itu Ayu berusaha tegar, namun sisi rapuhnya lah yang mendominasi dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh makhluk itu.
Di pemakaman Arafah yang pertama makhluk itu gagal merasuki tubuh Ayu. Namun di pemakaman Arafah yang kedua, saat itu lah makhluk itu berhasil merasuki Ayu dan mengikutinya hingga sekarang.
Ustadz Zulkifli menghela nafas panjang mendengar pengakuan makhluk itu, begitu pun Fikri. Kemudian ustadz Zulkifli melakukan sesuatu yang membuat makhluk yang bersemayam di dalam tubuh Ayu itu pergi begitu saja.
Suara rintihan Ayu terdengar sesaat setelah makhluk itu pergi. Fikri segera membantu istrinya untuk bangkit dan duduk lalu menyodorkan sebotol susu madu untuk memulihkan kondisi sang istri. Ayu pun meneguknya hingga tandas dan itu membuat Fikri tersenyum senang.
__ADS_1
"Alhamdulillah ...," kata ustadz Zulkifli dan Fikri bersamaan sambil saling menatap.
\=\=\=\=\=