Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
204. Kekejaman Rosi


__ADS_3

Sedikit lagi Rosi akan mencapai tubuh Suro yang terbaring di lantai, namun tiba-tiba sesuatu pun terjadi.


Rosi berhenti melangkah karena merasa sakit dan panas di lehernya. Rosi melirik ke jendela dan terkejut melihat bulan purnama yang bertengger cantik di langit sana.


"Kenapa harus sekarang. Aarrggghhh ...," geram Rosi sambil menggeliat dan memutar kepalanya.


Di lantai Suro nampak mengamati Rosi dengan seksama. Ia ikut menatap ke jendela saat Rosi melirik ke jendela tadi. Senyum pun terbit di wajah Suro saat melihat bulan purnama penuh yang menghias langit.


"Ini kebetulan sekali," gumam Suro sambil menyeringai.


Dalam hitungan detik tubuh Rosi yang semula berdiri menjulang di hadapan Suro pun ambruk ke lantai. Kondisi wanita itu tampak mengenaskan. Selain tubuhnya mengejang hebat, Suro melihat tangan Rosi nampak memegangi lehernya yang berwarna merah kehitaman. Wajah Rosi pun nampak pucat pasi.


Suro menelan salivanya saat kedua mata Rosi menatap kearahnya. Suro tak pernah takut apa pun, tapi melihat sorot mata Rosi kali ini membuat Suro gentar juga. Apalagi saat menyaksikan kepala Rosi perlahan terlepas dari tubuhnya lalu melayang di udara dengan organ dalam yang menyertainya.


"Ku-kuyang ...," gumam Suro lirih sambil berusaha menjauh dari tubuh tanpa kepala milik Rosi.


Siluman kuyang jelmaan Rosi nampak melayang mengelilingi kamar. Ada gurat kemarahan di wajahnya dan itu membuat nyali Suro menciut padahal ini bukan kali pertama ia melihat wujud lain Rosi.


Suro meringis saat rasa panas dan perih akibat cambukan Rosi kembali mendera. Dan suara desis kesakitan yang keluar dari mulut Suro menarik perhatian kuyang yang tengah melayang itu.


Dengan tatapan beringas kuyang itu mendekati Suro. Tentu saja pria itu panik.


"Ja-jangan ke sini. Aku bukan mangsamu Rosi. Per-pergi lah. Aku janji tak akan mengganggumu lagi nanti," kata Suro terbata-bata.


Siluman kuyang jelmaan Rosi nampak mengibaskan kepalanya hingga cairan yang melekat di organ dalamnya itu muncrat kemana-mana dan sebagian mengenai Suro. Pria tua itu nampak bergidik jijik saat cairan itu mengenai wajah dan sebagian tubuhnya.

__ADS_1


Siluman kuyang jelmaan Rosi nampak marah melihat reaksi Suro. Ia menggeram marah lalu bersiap menyerang Suro. Namun tiba-tiba kuyang jelmaan Rosi menghentikan aksinya saat aroma bayi mengusik hidungnya.


Bersamaan dengan itu suara wanita terdengar memanggil Suro di luar kamar. Suro terkejut karena mengenali suara wanita yang memanggil namanya. Wanita itu adalah Minar, istri kelima Suro yang saat ini tengah mengandung anaknya.


"Pak !. Bapaakk ...!. Keluar Pak, ini Aku, Minar !" kata Minar sambil mengetuk pintu kamar dengan keras.


"Maaf Bu Minar. Bapak baru aja masuk. Keliatannya Bapak lagi istirahat," kata seorang pelayan wanita mencoba menenangkan Minar.


"Apa-apaan sih Kamu. Aku ke sini karena mau jemput Suamiku. Bayi dalam kandunganku ini kangen sama Bapaknya makanya Aku nyusulin ke sini. Lagian Bapak ga mungkin marah karena Aku melakukannya demi bayiku !" kata Minar marah.


Ucapan Minar membuat siluman kuyang jelmaan Rosi meneteskan air liur. Suro yang melihatnya pun panik karena tahu jika siluman kuyang itu mengincar bayinya.


"Kumohon jangan Rosi. Jangan sakiti mereka. Tolong ampuni Aku kali ini saja. Aku janji akan membiarkanmu pergi setelah ini," pinta Suro menghiba.


"Aaarrggghhh ... arrrgghh ...," kata siluman kuyang sambil menggelengkan kepala.


"Ini kan yang Kau mau. Ambil lah !" kata Suro lantang lalu melempar benda itu secara asal.


Siluman kuyang nampak menggeram marah lalu mengejar benda kecil berwarna kuning gading itu. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Suro untuk lari menuju pintu kamar lalu bergegas membuka pintu kamar.


Namun sayang, saat Suro membuka pintu bertepatan Minar yang juga tengah mendorong pintu. Alhasil Minar jatuh tertelungkup ke dalam kamar sedangkan Suro terjengkang di lantai.


Suara gaduh pintu yang terbuka serta jatuhnya Suro dan Minar membuat siluman kuyang itu menoleh. Dengan kekuatannya kuyang itu berhasil menutup pintu hingga kini Suro dan Minar terperangkap di dalam kamar.


Minar yang tak menyadari apa yang terjadi nampak berusaha bangkit. Saat menatap ke depan, ia terkejut melihat kondisi Suro yang berlumuran darah. Apalagi saat itu Suro hanya mengenakan bawahan selutut dan bertelan**ng dada.

__ADS_1


"Bapak, apa yang terjadi. Kenapa Bapak ...," ucapan Minar terputus karena Suro memotong cepat.


"Lancang !. Ngapain Kamu ke sini Minar. Aku sudah melarangmu datang kan ?!" kata Suro marah.


"Ma-maaf Pak. Aku ... maksudku Anakku kangen sama Bapak. Bukannya Bapak bilang Aku boleh menemui Bapak kapan pun dan dimana pun ?" tanya Minar sedikit merajuk.


"Tapi bukan di sini Minaarrr ...!" kata Suro lantang.


Minar terkejut dan hampir menangis. Hal itu membuat Suro iba sekaligus panik. Apalagi saat itu siluman kuyang telah melayang di atas kepala Minar dan tengah menatap lapar kearahnya.


"Tolong jangan Rosiii ... Aku mohon jangaaann ...," kata Suro sekali lagi sambil menatap ke belakang kepala Minar dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


Sikap dan ucapan Suro membuat Minar cemburu. Ia penasaran seperti apa wanita yang telah membuat suaminya rela meninggalkannya saat hamil besar hanya karena ingin 'dimanja' oleh wanita itu. Dengan cepat Minar menoleh kearah yang ditatap Suro dan terkejut bukan kepalang.


Minar melihat sosok hantu kepala tanpa tubuh yang melayang di belakang kepalanya. Hantu kepala tanpa tubuh itu nampak menyeringai memperlihatkan isi mulutnya yang basah, berlendir dengan gigi yang tajam mencuat. Saat itu Minar ingin menjerit tapi tak bisa. Tatapan siluman tanpa kepala itu seolah membiusnya dan membuatnya tak berkutik.


Selagi Minar tak berdaya, siluman kuyang jelmaan Rosi melesat cepat kearah perutnya. Kemudian siluman kuyang itu mengoyak perut Minar dengan taringnya dan memakan janin yang ada di dalam rahimnya itu dengan rakus.


Minar tak bisa berbuat apa-apa saat bayi dalam rahimnya dimangsa oleh siluman kuyang. Hanya air mata yang mengalir deras di wajahnya. Sedangkan di hadapannya Suro menjerit menyaksikan bayi dalam kandungan Minar dibetot keluar dengan paksa dan dikunyah sedemikian rupa.


"Berhenti Rosiiii ...!. Jangan ambil dia, jangan ambil Anakku !" jerit Suro sambil menangis.


Siluman kuyang jelmaan Rosi tak peduli dengan tangis Suro. Dengan lahap ia memangsa sang bayi sambil menatap Suro dengan tatapan mengejek.


Karena tak sanggup menyaksikan kekejaman Rosi, Suro pun jatuh pingsan. Disusul Minar yang jatuh tersungkur persis di hadapan Suro tak lama kemudian.

__ADS_1


Menyaksikan Suro dan Minar jatuh tergolek di lantai membuat siluman kuyang itu menggeram keras. Bukan karena marah tapi karena puas. Setelahnya siluman kuyang itu melayang di langit-langit kamar beberapa saat lalu melesat cepat menghampiri tubuhnya sendiri.


\=\=\=\=\=


__ADS_2