Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
160. Nujuh Hari


__ADS_3

Malam itu suasana hening dan gelap menyelimuti sebuah tempat datar nan luas.Terlalu hening hingga rasanya hembusan nafas sendiri pun bisa terdengar dengan jelas. Namun suasana hening itu terusik dengan kehadiran sosok bayangan hitam menyerupai wujud wanita dewasa melintas cepat di sana. Saking cepatnya wanita itu seolah melayang dan tak menapak tanah.


Wanita itu berhenti di suatu tempat lalu memutar kepalanya seolah sedang mencari sesuatu. Ia menyeringai saat menemukan apa yang dicarinya.


Dengan sigap wanita itu mendekat ke tempat dimana sesuatu yang dicarinya itu berada. Ia tersenyum dengan wajah yang sumringah. Kemudian wanita itu memejamkan mata seolah sedang merapal mantra. Setelahnya ia membuka mata dan tersenyum.


Tak lama kemudian wanita itu melesat pergi begitu saja dan tanpa menoleh lagi.


\=\=\=\=\=


Malam pengajian peringatan tujuh hari kematian Arafah yang digelar di rumah Fikri berjalan lancar. Suasana kali ini terlihat jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Senyum dan tawa sesekali terdengar menghiasi rumah yang dipadati warga itu. Diantara para warga terlihat Hilya yang sibuk membantu Ayu menyajikan hidangan.


Dari semua pria yang hadir, seorang pria nampak tak pernah lepas memandangi Hilya. Dia adalah Nathan yang nampak terkagum-kagum melihat penampilan Hilya yang anngun dengan gamis dan kerudung panjangnya.


"Jangan diliatin aja Bang, bantuin dong," bisik Nicko dari samping Nathan.


Nathan pun mengangguk lalu bangkit untuk membantu Hilya meletakkan hidangan di depan para tamu.


Tak lama kemudian warga pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Ustadz Zulkifli dan istrinya yang juga hadir saat itu ikut pamit karena malam mulai larut.


"Terima kasih ya Abi, Umma. Maaf udah ngerepotin," kata Fikri sambil mencium punggung tangan ustadz Zulkifli dan istrinya bergantian.


Sejak Nicko menikahi anak perempuan ustadz Zulkifli, sejak itu lah panggilan Fikri pada ustadz Zulkifli berubah. Kini ia memanggil ustadz Zulkifli dan istrinya seperti Ramadhanti memanggil kedua orangtuanya yaitu Abi dan Umma. Kini hubungan mereka makin erat layaknya orangtua dan anak.


"Sama-sama Fikri. Sekali lagi Ane dan Ummi Dhanti ikut berbela sungkawa atas meninggalnya Arafah. Yang sabar dan tawakal ya. Yakin lah kalo Allah punya rencana yang jauh lebih baik nanti. Mungkin saat ini Antum sedih, tapi ga lama lagi Antum bakal tertawa bahagia. Ingat, Antum udah punya dua tabungan di sisi Allah berupa Anak-anak yang meninggal sebelum baligh lho," kata ustadz Zulkifli mengingatkan.


"Iya Bi. Saya dan Ayu udah ikhlas kok. Kami juga yakin, menitipkan Anak-anak Kami di sisi Allah adalah hal yang terbaik," sahut Fikri sambil tersenyum.


"Masya Allah, bagus itu. Oh iya, Antum ga usah pikirin klinik ya. Istirahat aja dulu di rumah untuk menenangkan diri dan Istri. Urusan klinik mah gampang, Ane masih bisa urus nanti," kata ustadz Zulkifli sambil menepuk bahu Fikri.


"Siap Bi. Makasih sekali lagi," sahut Fikri sambil tersenyum.


"Iya iya. Kami pulang dulu ya. Assalamualaikum ...!" kata ustadz Zulkifli setelah bersalaman dengan semua pria di ruangan itu.

__ADS_1


"Wa alaikumsalam ...," sahut semua orang bersamaan.


Fikri, Ayu dan Nicko pun mengantar ustadz Zulkifli dan istrinya hingga keluar rumah. Sedangkan Bayan dan keluarganya menemani beberapa warga yang masih bertahan di sana.


Tak lama kemudian Fikri, Ayu dan Nicko kembali ke dalam rumah. Saat itu semua tamu telah pergi. Hanya Bayan dan keluarganya plus Hilya yang masih bertahan di sana.


Kini semua duduk di karpet sambil menikmati hidangan berupa kopi dan makanan ringan.


"Mau makan malam sekarang ga Yah ?" tanya Anna tiba-tiba.


"Boleh Bund. Apa Kalian ga mau makan malam juga ?" tanya Bayan sambil menatap semua orang bergantian.


"Nanti aja Yah, Aku masih kenyang," sahut Nathan cepat.


"Kenyang ?, kapan Kamu makan. Perasaan Bunda daritadi Kamu cuma makan kue-kue aja Nath," kata Anna sambil menyiapkan sepiring nasi dan lauk pauknya untuk sang suami.


"Masa Bunda ga ngeh juga sih. Abang kenyang karena ada Kak Hilya di sini. Rasa lapar dan dahaga tuh lenyap seketika saat Kita bersama orang yang Kita sayangi. Gitu lho Bund," sela Nicko sambil membaringkan kepalanya di pangkuan Ramadhanti.


Ucapan Nicko membuat semua orang tertawa. Sedangkan Hilya nampak menunduk karena malu.


"Udah nganggap calon Istri, emangnya Hilya mau jadi Istri Kamu Nath ?" tanya Fikri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Pertanyaan sederhana Fikri seolah menyadarkan Nathan dan Hilya jika sudah saatnya mereka membahas hal itu. Keduanya nampak tersentak kaget lalu saling menatap sejenak.


"Gimana Yang ?" tanya Nathan yang masih terdengar jelas di telinga semua orang.


"Apanya ?" tanya Hilya.


"Kita ditantangin nikah sama Bang Fikri. Apa Kamu masih ga mau mengiyakan permintaanku itu ?" tanya Nathan.


"Permintaan apa sih, Aku ga ngerti," sahut Hilya salah tingkah.


"Ck, permintaan untuk menikah dong Sayang. Masa ga paham juga. Kan selama ini Kamu selalu ngeles kalo diajak ngomongin pernikahan," kata Nathan gemas.

__ADS_1


"Oh itu. Aku sih terserah Kamu aja. Kapan pun Kamu mau ngelamar, Aku siap kok," sahut Hilya malu-malu.


"Beneran nih, Kamu udah siap sekarang ?" tanya Nathan antusias.


"Iya," sahut Hilya mantap.


Jawaban Hilya membuat Nathan bersorak gembira dan semua orang pun tertawa bahagia.


Namun tawa mereka terhenti saat bel pintu berbunyi.


"Biar Aku yang buka," kata Fikri sambil bangkit dari duduknya.


"Aku temenin ga Bi ?" tanya Ayu.


"Ga usah Mi. Kamu di sini aja," sahut Fikri sambil melangkah keluar.


Suara seorang pria terdengar menyapa saat Fikri keluar rumah. Fikri pun mengajak orang itu masuk ke dalam rumah.


"Kebetulan Pak Adang datang. Mari masuk Pak, Kami baru aja selesai ngadain pengajian nujuh hari untuk Arafah," kata Fikri sambil membuka pintu pagar.


"Maaf Mas. Tapi Saya cuma sebentar kok. Ada hal penting yang harus Saya sampein," sahut Adang.


"Iya Saya tau. Tapi Kita ngobrolnya di dalam aja ya Pak. Ada keluarga Saya juga lagi ngumpul. Ngobrol sekalian ngopi kan enak tuh. Ga usah khawatir, stock kopi masih banyak, masih anget. Jadi Pak Adang ga ngerepotin sama sekali," gurau Fikri.


Karena tak enak hati menolak Fikri yang bersikap setengah memaksa itu, Adang pun mengekori Fikri masuk ke dalam rumah.


Bayan yang mengenal Adang pun tampak menyapa sambil tersenyum lalu menjabat tangannya.


"Mari silakan duduk Pak Adang. Kita ngobrol sambil ngopi ya," kata Bayan sambil menyodorkan teko berisi kopi dan gelas kosong kearah Adang.


"Makasih Pak," sahut Adang yang diangguki Bayan.


Kemudian Ayu datang dan meletakkan sepiring makanan ringan di hadapan Adang hingga membuat pria itu kembali tersenyum.

__ADS_1


Ayu yang juga mengenal Adang sebagai pengurus makam Arafah nampak sedikit terusik dengan kehadiran Adang. Namun ia berusaha tenang karena mengira Adang datang untuk membicarakan masalah dokumen pemakaman Arafah yang belum mereka lengkapi.


\=\=\=\=\=


__ADS_2