Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
83. Gumpalan Kertas


__ADS_3

Meski pun telah membuat laporan orang hilang ke kantor polisi, Ferdi dan Mario tetap membantu mencari Iis.


Dan seminggu setelah membuat laporan, tak ada kabar apa pun dari pihak kepolisian. Hal itu tentu saja membuat Atik dan teman-teman satu kostnya makin khawatir sekaligus takut.


Atik dan teman-temannya khawatir jika Iis mengalami kecelakaan dan dirawat di suatu tempat. Tapi karena tak ada yang mengenalnya Iis ditelantarkan dan dibiarkan meninggal tanpa sempat diobati. Mungkin akan lain ceritanya jika Iis dirawat di Rumah Sakit. Mereka yakin pihak Rumah Sakit pasti akan menghubungi pihak kepolisian untuk menemukan identitas Iis berdasarkan sidik jarinya.


Selain kekhawatiran Iis mengalami kecelakaan, Atik dan teman-temannya juga sedang didera rasa takut. Karena setelah membuat laporan orang hilang ke kepolisian, mereka kerap mendengar suara benda bergeser atau benda jatuh di kamar Iis. Saat mereka mengecek ke kamar Iis, semua benda masih dalam posisi yang sama. Tak ada yang bergeser atau jatuh.


Atik yang masih menjalin komunikasi dengan Ferdi dan Mario pun menyampaikan keluhan teman-temannya itu.


"Masa sih ?" tanya Mario tak percaya saat ia, Ferdi dan Nathan berkunjung ke kost tempat Atik tinggal malam itu.


"Terserah kalo ga percaya. Tapi emang gitu kok kenyataannya," sahut Atik kesal.


Jawaban Atik membuat Ferdi, Nathan dan Mario saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Atik yang baru kali pertama melihat Nathan dari dekat pun bertanya.


"Maaf, Mas ini siapa ya. Kayanya pernah liat tapi lupa dimana," kata Atik sambil menatap Nathan lekat.


Nathan tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


"Saya memang pernah tinggal satu kost sama Ferdi dan Mario Mbak. Kenalin Saya Nathan," kata Nathan.


"Nathan ..., mmm ... yang pacarnya Ira bukan ?" tanya Atik hati-hati.


"Mantan pacar Mbak. Saya putus sama Ira jauh hari sebelum Ira meninggal. Setelah putus, Saya pindah ke tempat lain. Tapi Saya kadang suka main ke sini ngunjungin temen-temen," sahut Nathan menjelaskan.


"Oh gitu. Pantesan kaya pernah ngeliat. Terus Kamu kenal dong sama Iis ?. Kan Ira sering nemuin Iis buat ngasih oleh-oleh atau sekedar main aja di sini," kata Atik yang diangguki Nathan.

__ADS_1


Kemudian pembicaraan pun berlanjut. Nathan hanya menjadi pendengar yang baik saat Ferdi dan Mario bertanya banyak hal layaknya detektif. Sambil mendengarkan pembicaraan Ferdi, Mario dan Atik, Nathan pun mengamati sekelilingnya. Ini kali kedua ia masuk ke rumah kost itu. Nathan ingat pertama kali ke sana adalah saat menjemput Ira.


Tiba-tiba Nathan melihat sosok Iis berdiri di taman persis di dekat pintu samping. Saat Nathan menajamkan penglihatannya, sosok mirip Iis itu pun menghilang.


"Maaf kalo Saya potong. Di dekat pintu itu ada apa ya Mbak Atik ?" tanya Nathan sambil menunjuk pintu besi berwarna hitam.


"Itu pintu penghubung antara rumah kost ini sama rumah pemilik kost Mas. Kalo ada perlu sesuatu Kami tinggal bilang dan masuk lewat pintu itu," sahut Atik.


"Oh gitu. Kalo boleh tau, siapa aja yang tinggal di rumah itu Mbak ?" tanya Nathan.


"Kok nanyanya detail amat sih Nath. Lo ga lagi curiga sama keluarga pemilik kost itu kan ?" tanya Mario setengah berbisik.


Nathan mengabaikan pertanyaan Mario dan lebih fokus mendengarkan penjelasan Atik.


Dari penjelasan Atik diketahui jika pemilik kost memiliki tiga anak lelaki. Dua diantaranya kuliah di luar negeri dan yang satunya bekerja sebagai pilot.


Nathan pun menganggukkan kepalanya usai mendengar penjelasan Atik.


"Apa dia juga ga tertarik sama Diana ?. Kan Diana cantik dan punya tubuh yang lumayan bagus ?" tanya Mario penasaran.


"Mungkin khusus untuk Diana sedikit berbeda Mas. Yudha keliatan tertarik. Bahkan Saya juga pernah ngeliat Yudha ngajak Diana ngobrol saat Diana melaporkan keran kamar mandi yang rusak," sahut Atik.


"Tuh kan, siapa sih yang bisa nolak pesonanya Diana. Karena selain cantik, Diana itu juga pinter. Nyambung kalo diajak ngomong apa pun. Pilot itu pasti juga kesengsem deh sama Diana," kata Mario hingga membuat Ferdi dan Nathan tertawa.


"Terus mereka jadian dong Mbak," kata Ferdi dengan nada cemburu.


"Kami juga ngarepin itu tapi sayangnya ga ada apa-apa antara Diana dan Yudha," sahut Atik hingga membuat Ferdi menghela nafas lega.

__ADS_1


"Kenapa Lo keliatan seneng gitu Fer ?. Takut kalah saing ya sama pilot itu ?" sindir Nathan sambil mencibir.


"Iya lah. Kirain Diana nolak Gue sama Mario karena Kami cuma mahasiswa perantau yang kere. Ga taunya Diana juga nolak Yudha yang tajir dan punya kerjaan keren. Itu artinya Diana bukan cewek matre yang nilai cowok dari harta dan jabatannya aja," sahut Ferdi santai.


Ucapan Ferdi membuat Atik tersenyum. Ia senang karena Ferdi mempunyai kesan baik pada mendiang Diana.


"Sebentar Mbak Atik. Apa pemilik kost, maksud Saya orangtua Yudha tau kalo anaknya naksir sama Diana ?" tanya Nathan.


"Kayanya sih tau Mas. Bahkan beberapa kali Saya liat Diana ngobrol sama Bapaknya Yudha. Mungkin Diana lagi ditanyain sesuatu, ya semacam keseriusannya menjalin hubungan sama Yudah," sahut Atik.


"Ngobrolnya dimana Mbak ?" tanya Nathan.


"Kadang di dekat pintu, kadang di teras. Tapi sedikit aneh karena selama ngobrol Bapaknya Yudha selalu nengok ke belakang kaya khawatir ketauan anak atau Istrinya," sahut Atik.


Jawaban Atik membuat Nathan, Ferdi dan Mario curiga. Mereka tak mengerti mengapa ayah Yudha harus takut ketahuan saat sedang berbincang dengan Diana. Nampaknya ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayah Yudha dan Diana.


Pertanyaan itu terus terbawa hingga mereka keluar dari pekarangan rumah kost berwarna orange itu.


Sambil melangkah menyusuri jalan menuju Rumah kost, Nathan, Ferdi dan Mario terus berpikir. Dan tiba-tiba Nathan berhenti melangkah saat sesuatu jatuh di dekat kakinya. Saat diamati dengan seksama, ternyata itu adalah gumpalan kertas.


Nathan menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari seseorang yang melemparkan benda itu. Nihil, tak ada siapa pun di sana selain dia, Ferdi dan Mario.


Nathan pun membungkuk untuk meraih gumpalan kertas itu lalu membukanya dan membaca tulisan yang tertera di sana.


"Rahasiakan kehamilanmu. Aku akan menanggung semuanya nanti. Jika tidak, maka Aku tak akan segan lagi !"


Nathan mengerutkan keningnya saat membaca tulisan itu. Tiba-tiba kertas berisi tulisan itu terenggut dengan paksa oleh sebuah kekuatan tak kasat mata. Nathan menatap gumpalan kertas yang melayang itu dengan intens. Dan ia terkejut saat gumpalan kertas itu berhenti melayang karena mendarat di tanah persis di depan sosok perempuan bergaun kuning.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2