Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
171. Maafkan Ayah ...


__ADS_3

Hilya tersentak saat Nathan menyentuh pinggangnya dan memanggil namanya dengan lembut.


"Sayang, kok diem aja sih. Ayah nyapa Kamu lho barusan," kata Nathan.


"Oh, eh i-iya. Ha-hai Ayah. Apa kabar ?" tanya Hilya gugup sambil tetap berdiri tegak tanpa menyambut uluran tangan Heri.


Heri nampak tersenyum kecut menyadari uluran tangannya tak bersambut. Ia pun menurunkan telapak tangannya yang menggantung di udara sesegara mungkin lalu tersenyum.


"Ayah baik-baik saja Hilya. Ayah senang melihatmu bahagia. Semoga terus seperti ini ya Nak. Kamu berhak mendapatkannya," kata Heri dengan suara bergetar.


"Iya, makasih ...," sahut Hilya dengan enggan.


Melihat ketegangan diantara Hilya dan mertuanya membuat Nathan tak nyaman. Ia pun meminta Hilya menemani Heri sebentar karena ia yakin ada yang harus mereka selesaikan.


"Aku ga mungkin pergi ninggalin Kamu sendirian di sini Sayang. Tamu Kita masih banyak lho," kata Hilya sambil berbisik.


"Aku tau. Tapi coba Kamu liat Ayahmu. Apa Kamu ga bisa menangkap kegelisahan di matanya ?. Ayah kangen sama Kamu. Dan keliatannya ada yang mau diomongin sama Kamu. Aku tau Kamu masih marah karena ditelantarkan Ayahmu. Tapi bisa kan Kamu melupakan sejenak kemarahanmu itu dan mendengar apa yang mau Ayahmu sampaikan ?. Coba lah berdamai dengan masa lalumu agar Kamu bisa menyongsong masa depan dengan hati yang lapang. Ayo lah Sayang. Lakukan demi Aku ya, please ...," pinta Nathan sungguh-sungguh.


Hilya mende*sah kesal mendengar ucapan Nathan. Tapi ia juga tak ingin mengecewakan pria yang sekarang berstatus suaminya itu. Dengan enggan Hilya mengangguk lalu membawa sang ayah turun dari pelaminan menuju ke suatu tempat.


Semua mata menatap Hilya dengan tatapan tak mengerti. Namun saat MC mengatakan jika sang pengantin wanita akan ke toilet, para tamu pun mengangguk maklum. Apalagi saat turun Hilya dibantu oleh dua orang karyawati WO. Gaun pengantin bergaya Eropa yang Hilya kenakan cukup menyulitkan hingga ia memerlukan bantuan saat melangkah.


Perlahan Hilya pun melangkah ke bagian samping gedung dan berhenti melangkah saat tiba di teras. Angin malam yang berhembus dingin bertambah dingin untuk Hilya.


"Tinggalkan Saya di sini ya Mbak. Saya mau bicara sebentar sama Ayah Saya," kata Hilya pada dua karyawati WO yang membantunya.


"Baik. Kalo udah selesai, Mbak Hilya bisa panggil Kami ya," sahut salah seorang karyawati WO dengan ramah.


"Ok, makasih ...," kata Hilya dengan tulus.


"Sama-sama," sahut dua karyawati WO sambil berlalu.


Untuk sejenak tak ada pembicaraan apa pun antara Hilya dan ayahnya. Keduanya membisu seolah sedang menyusun rangkaian kata di kepala mereka agar bisa dikeluarkan menjadi kalimat yang indah dan layak didengar.

__ADS_1


Hilya yang berdiri membelakangi ayahnya akhirnya mengalah dan membuka percakapan lebih dulu.


"Aku senang Ayah mau datang ke pernikahanku. Aku pikir Ayah udah ga ingat kalo punya Anak perempuan bernama Hilya di sini," kata Hilya setelah mengumpulkan keberanian.


"Tentu saja Ayah ingat denganmu Hilya. Kamu adalah satu-satunya Anak yang Kumiliki. Maafkan Ayah karena datang terlambat," kata Heri lirih.


Ucapan Heri membuat kedua mata Hilya membelalak tak percaya. Sebab seingatnya sang ayah memiliki tiga anak laki-laki dari wanita yang dinikahinya setelah sang ibu.


Hilya membalikkan tubuhnya agar bisa menatap sang ayah. Saat itu Hilya berusaha mengendalikan amarahnya karena tak ingin membuat keributan di pesta pernikahannya itu.


"Ga usah drama Yah. Gimana bisa Ayah bilang cuma punya Aku sebagai Anak Ayah. Padahal jelas-jelas Istri Ayah itu berhasil melahirkan tiga Anak laki-laki dalam pernikahan Kalian !" kata Hilya kesal.


"Tapi mereka bukan Anakku dan bukan Saudaramu Hilya !. Wanita itu selingkuh dengan beberapa pria hingga menghasilkan tiga Anak laki-laki yang wajah dan kulitnya juga berbeda satu sama lain. Aku paham akhirnya bagaimana ketiga Anakku tak mirip sama sekali denganku. Sayangnya Aku terlambat tau dan sekarang Aku menyesal," sahut Heri dengan suara bergetar.


"Menyesal karena diselingkuhi atau ...," ucapan Hilya terputus.


"Menyesal karena meninggalkan Ibumu dan menuruti keinginan keluargaku. Andai saat itu Ayah bertahan, mungkin saat ini Ayah akan jadi orang paling bahagia di dunia ini karena memiliki Anak perempuan secantik dan sepintar Kamu Hilya," kata Heri dengan nada menyesal.


"Maafkan Ayah ya Nak. Maaf ...," kata Heri sambil terisak.


"Kenapa Ayah jahat banget sama Aku dan Ibu. Kenapa Yah ?. Padahal Aku dan Ibu ikhlas jika Ayah ingin menikah lagi. Tapi kenapa Ayah justru pergi dan menceraikan Ibu ?" rintih Hilya sambil menangis.


Heri pun memberanikan diri memeluk Hilya. Awalnya ia ragu. Namun saat tak mendapat penolakan dari Hilya, Heri pun mempererat pelukannya.


Setelah beberapa saat memeluk Hilya, Heri pun mengurai pelukannya. Ia menatap Hilya dengan tatapan yang dalam dan penuh rasa rindu.


"Ayah mohon maafkan Ayah ya Sayang. Ayah menyayangi Kamu Hilya. Sungguh. Udah lama Ayah ingin ketemu dan ngobrol banyak sama Kamu," kata Heri lirih.


"Ayah tau dimana Aku tinggal dan bekerja. Kenapa ga mendatangiku ?. Jangan bilang Ayah takut sama wanita itu makanya Ayah ga pernah mau menemuiku selama ini ?" tanya Hilya sedih.


"Ayah ... hanya takut Kamu tolak Hilya. Ayah telah membuat hatimu terluka. Pasti sulit untukmu menerima Ayah kembali," sahut Heri sambil tersenyum getir.


"Tapi akhirnya Ayah datang juga hari ini," kata Hilya cepat.

__ADS_1


"Ini pengecualian. Karena ini adalah untuk memenuhi sumpahku sendiri," sahut Heri.


"Sumpah ?" ulang Hilya tak mengerti.


"Iya. Ayah pernah bersumpah akan datang di pernikahanmu Hilya. Meski pun Kamu menolakku atau dunia menentangku, Aku tak peduli. Dan Ayah bahagia melihatmu bersanding dengan pria yang tepat," kata Heri sambil mengusap kepala Hilya dengan sayang.


Ucapan Heri membuat Hilya terharu. Ia pun kembali memeluk sang ayah. Hilya tak mengerti kemana menguapnya semua kebencian yang memenuhi hatinya selama ini. Malam itu Hilya hanya ingin menumpahkan semua rasa rindunya pada sang ayah yang telah lama mengabaikannya itu.


"Ayah rasa ini cukup Hilya. Bukan kah Kamu masih harus menemani Suamimu di pelaminan untuk menyambut para tamu ?" tanya Heri.


Hilya tersentak lalu mengurai pelukannya.


"Astaghfirullah aladziim ..., Aku lupa. Ayo Kita masuk ke dalam Yah," ajak Hilya.


"Masuk lah Hilya. Ayah masih ingin di sini sebentar lagi. Dan bilang sama Suamimu, siapa namanya ?" tanya Heri.


"Nathan Yah," sahut Hilya cepat.


"Ok. Tolong bilang sama Nathan, Ayah percayakan Kamu padanya. Ayah yakin Nathan akan memberimu kebahagiaan yang ga pernah bisa Ayah berikan," kata Heri sambil tersenyum.


Hilya pun mengangguk lalu membalikkan tubuhnya dan bersiap melangkah.


"Aku masih ingin bicara banyak sama Ayah, tapi ga bisa karena Aku harus kembali ke dalam. Aku janji akan siapkan waktu khusus untuk bisa menemui Ayah dan Kita ngobrol lagi nanti," kata Hilya sambil tersenyum sekali lagi kearah Ayahnya.


"Iya Nak," sahut Heri sambil tersenyum.


Kemudian Hilya bergegas melangkah masuk. Di ambang pintu kedua karyawati WO tampak sigap menyambut lalu membantu Hilya kembali ke pelaminan.


Sambil melangkah Hilya menyempatkan diri menoleh ke belakang untuk tersenyum kearah sang ayah. Hilya meminta sang ayah pergi ke sisi lain gedung untuk menikmati hidangan di pesta pernikahannya ini.


Kemudian Hilya kembali ke pelaminan dengan wajah berbinar bahagia. Apalagi Nathan meyambutnya dengan senyuman manis.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2