Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
47. Coretan Tangan Nicko


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Bayan pun menepati janjinya. Ia mendaftarkan Nicko untuk ikut kelas melukis. Meski pun Bayan mampu untuk memanggil seorang guru melukis ke rumah, namun Bayan lebih memilih anaknya yang keluar untuk belajar daripada sang guru yang datang ke rumah.


Saat mendengar sang ayah telah mendaftarkan nya ke kelas melukis, Nicko bersorak gembira. Ia senang karena minatnya didukung oleh kedua orangtuanya. Bahkan setelahnya sang ayah juga mengajaknya membeli perlengkapan melukis. Dan sore ini Bayan membawa keluarganya jalan-jalan usai membeli perlengkapan melukis untuk Nicko.


"Nicko udah ikut kelas melukis, kalo Kamu mau ikut apa Bang ?" tanya Anna sambil menoleh kearah Nathan.


"Mmm ... Aku bingung Bund. Aku belum pengen ikut apa-apa," sahut Nathan sambil menggaruk kepalanya.


"Gapapa, nanti di SMP juga bakal banyak pilihan extra kurikuler. Abang boleh pilih satu atau dua yang penting sekolah Abang ga keganggu," sela Bayan sambil terus mengemudi.


"Emang pilihannya apa aja Yah ?" tanya Nathan.


"Yang Ayah tau di SMP Kamu nanti ada extra kurikuler taekwondo, Paskibra, silat, basket, sepak bola, PMR. Kamu pilih satu dulu biar ga kecapean. Nanti kalo udah bisa ngatur waktu, Kamu boleh ikut kegiatan yang lain," sahut Bayan sambil menoleh kearah Nathan.


"Kayanya Aku mau ikutan Paskibra Aja Yah, Aku suka baris berbaris," kata Nathan antusias.


"Itu juga bagus. Yang penting jangan melalaikan pelajaran ya Nak. Extra kurikuler dan kelas melukis ini hanya sampingan. Tugas utama Kalian tuh belajar. Ingat itu !" kata Bayan tegas.


"Siap Yah !" sahut Nathan dan Nicko bersamaan hingga membuat kedua orangtuanya tersenyum.


\=\=\=\=\=


Selama libur sekolah Nicko mulai mengikuti pelajaran melukis. Nicko bahagia karena memperoleh teman baru dan pengalaman baru.


Karena tak punya kesibukan, Nathan pun kerap ikut mengantar dan menunggui Nicko belajar melukis. Biasanya Nathan akan menunggu di kantin bersama sang bunda.


"Apa Bunda bakal nganterin Nicko tiap belajar melukis Bund ?" tanya Nathan.


"Ga juga. Kalo Nicko udah lebih besar sedikit, mungkin Nicko bakal berangkat sendiri pake sepeda. Kenapa Bang, Kamu iri ya ?. Udah gede kok masih ngiri aja sih," kata Anna sambil mengusak rambut Nathan dengan gemas.

__ADS_1


"Ga sih Bund. Aku cuma kasian sama Bunda. Pasti capek kan kalo harus antar jemput Nicko tiap hari," sahut Nathan memberi alasan.


"Bunda capek tapi seneng kok. Kan nganterin anak belajar biar pinter itu sebuah kebanggaan lho. Dulu juga Bunda anterin Kamu tiap hari. Setelah Kamu kelas empat, Bunda baru percaya ngelepasin Kamu sekolah naik sepeda. Nah Nicko juga gitu. Pas dia kelas empat, Bunda udah ga nganterin lagi. Jadi Kamu ga usah khawatir ya," kata Anna sambil tersenyum.


Nathan pun mengangguk setuju. Ia memang tak ingin sang bunda kelelahan karena mengurus dia dan adiknya. Nathan ingat ibu temannya yang sakit karena kelelahan lalu meninggal dunia karena terlambat mendapat pertolongan.


Sebelumnya Nathan sudah mengatakan itu pada temannya yang bernama Galih itu tentang kondisi ibunya yang tampak tak sehat.


"Ah siapa bilang. Mamaku sehat kok. Buktinya masih bisa anter jemput Aku ke sekolah," kata Galih kala itu.


"Kenapa harus dianter jemput sih. Kamu kan bisa naik sepeda," kata Nathan tak mengerti.


"Ya daripada Mama bengong di rumah, lebih baik Mama anter jemput Aku kan," sahut Galih.


"Mama Kamu ga mungkin bengong dong, kan Kamu punya Adik bayi juga dua Adik lain yang harus diurus. Kalo ga anter jemput Kamu kan Mama Kamu bisa istirahat di rumah. Apa Kamu ga kasian sama Mama Kamu. Liat tuh, mukanya udah pucet gitu," kata Nathan gusar.


Nathan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban Galih. Dan dua hari setelah percakapan mereka, kekhawatiran Nathan pun terbukti. Ibu Galih dikabarkan dirawat di Rumah Sakit usai terjatuh di kamar mandi. Setelah dua hari dua malam dirawat di Rumah Sakit, ibu Galih pun dinyatakan meninggal dunia.


Saat Nathan dan teman-temannya serta guru di sekolahnya melayat ke rumah Galih, saat itu terlihat Galih tengah menangis di depan jasad ibunya. Nathan juga mendengar jika Galih berjanji tak akan merepotkan sang Mama lagi jika sang Mama mau membuka mata.


"Aku janji ga bakal paksa Mama buat anter jemput Aku ke sekolah biar Mama ga kecapean. Mama boleh kok nemenin Adik-adik di rumah," rengek Galih sambil berurai air mata.


"Terlambat," gumam Nathan kesal.


Setelah mengatakan itu Nathan pun keluar dari rumah duka dan duduk menunggu di luar bersama pelayat lainnya.


Sambil duduk menunggu para guru selesai berdoa, Nathan pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Saat itu tak sengaja Nathan melihat sosok aneh yang melayang di atap rumah Galih. Saat Nathan mencoba menajamkan penglihatannya, ia pun terkejut. Ia melihat sosok kepala berambut panjang tanpa tubuh sedang melayang di udara. Meski pun tanpa tubuh tapi semua organ dalamnya nampak menggantung di bawah kepalanya seolah mengikuti kemana pun sosok itu bergerak. Nathan tahu itu adalah organ dalam tubuh manusia karena ada mata pelajaran yang mempelajari tentang organ tubuh manusia di sekolah.


Seolah sadar dirinya tengah diamati, kepala tanpa tubuh itu pun menoleh kearah Nathan lalu menyeringai. Nathan pun terkejut lalu memalingkan wajahnya kearah lain dengan jantung yang berdetak cepat. Kemudian Nathan mencoba berdzikir seperti yang diajarkan gurunya di TPQ. Dan beberapa saat kemudian Nathan memberanikan diri menatap ke atap rumah Galih lagi. Ia pun menghela nafas lega karena tak melihat sosok kepala tanpa tubuh itu lagi di sana.

__ADS_1


Usai melihat penampakan sosok menyeramkan itu, Nathan percaya jika ibu Galih meninggal karena dimangsa oleh sosok itu. Karenanya Nathan tak ingin sang bunda tewas dimangsa makhluk menyeramkan itu karena kelelahan.


Lamunan Nathan buyar saat mendengar langkah kaki Nicko yang berlari kearahnya. Ia menoleh lalu tersenyum lebar saat melihat wajah kecewa Nicko. Rupanya sang adik berniat mengejutkannya tadi tapi gagal karena Nathan terlanjur menoleh kearahnya.


"Abang ga seru iihhh ...!" kata Nicko sambil cemberut.


"Makanya kalo mau ngagetin jangan bersuara. Ketauan kan !" kata Nathan sambil tertawa.


Anna yang melihat tingkah kedua anaknya pun ikut tertawa. Namun tawa Anna terhenti saat melihat sslembar kertas terjatuh dari tas Nicko. Yang mengejutkan karena gambar di kertas itu adalah gambar kartun yang menyeramkan menurut Anna.


"Ini punya Kamu Nak ?" tanya Anna sambil meraih kertas yang terjatuh di dekat kaki Nicko.


"Oh Iya Bund. Itu punya Aku !" sahut Nicko cepat.


"Ini ... Kamu gambar apa sih Nak ?" tanya Anna sambil mengerutkan keningnya.


Pertanyaan Anna membuat Nathan penasaran. Ia pun ikut mengamati hasil karya sang adik dan terkejut. Bagaimana tidak, gambar kartun yang digambar Nicko menyerupai penampakan sosok yang diyakini Nathan sebagai sosok pemangsa ibu Galih.


"Ini apa Nick, Kamu kok bisa gambar ini sih ?!" tanya Nathan.


"Ga tau Bang. Aku sih cuma coret-coret aja tadi. Pas udah selesai, eh taunya jadi gambar itu," sahut Nicko santai.


"Guru Kamu tau ga Kamu gambar ginian ?" tanya Anna.


"Ga tau Bund. Kata Pak guru, coret-coretnya diterusin di rumah aja karena jam belajarnya udah selesai. Di pertemuan berikutnya harus dibawa lagi dan dikumpulin," sahut Nicko.


Jawaban Nicko membuat Anna terpaksa menelan salivanya dengan sulit. Ia memang tak pernah melihat sosok kuyang selain hanya cerita dari Bayan dan teman-temannya. Namun melihat coretan tangan Nicko itu membuat Anna takut. Ternyata sosok yang digambar Nicko mirip dengan yang dikatakan Rama dan Riko dulu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2