Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
219. Di Tempat Yang Sama


__ADS_3

Dalam keadaan pingsan dan terluka Rosi dibawa ke Rumah Sakit yang menjadi tujuannya tadi. Luka parah di sekujur tubuhnya membuat Rosi kritis dan hampir meninggal dunia. Tapi karena ada darah siluman dalam dirinya membuat Rosi bisa bertahan meski pun sempat koma beberapa hari.


Rosi membuka mata dan terkejut mendapati dirinya ada di sebuah ruangan. Rosi tahu dirinya kini tengah berada di salah satu ruangan di Rumah Sakit.


Perlahan Rosi menggerakkan tangannya. Ia melihat beberapa selang menempel di tubuhnya dan itu membuatnya tersenyum. Namun karena merasa tak nyaman saat tersenyum, Rosi pun tergerak untuk menyentuh wajahnya. Dan Rosi terkejut bukan kepalang saat ujung jarinya menyentuh perban yang menutupi semua wajahnya.


"Alhamdulillah ..., udah sadar rupanya. Gimana Bu, apa yang Ibu rasain sekarang ?" sapa seorang perawat dengan ramah.


"Mmm ..., mmm ...," sahut Rosi sambil menggerakkan tangannya hingga membuat perawat bernama Harni itu terkejut.


"Ibu ... bisu ?. Maaf, maksud Saya Ibu bisa bicara ga sebelumnya ?" tanya Harni hati-hati.


Belum sempat Rosi menjawab pertanyaan sang perawat, tiba-tiba masuk lah seorang wanita yang kemudian diketahui sebagai dokter ke dalam ruangan itu.


Harni memberitahu sang dokter bagaimana kondisi Rosi saat pertama kali membuka mata. Sang dokter nampak mengangguk lalu mulai mengecek Rosi dengan seksama.


"Keliatannya ada luka di pita suara pasien yang bikin pasien kesulitan bicara," kata dokter.


"Oh gitu. Terus wajahnya gimana dok ?" tanya Harni.


"Lukanya terlalu parah Sus. Walau pun bisa dibantu dengan operasi plastik, rasanya sulit mengembalikan wajahnya seperti semula," sahut sang dokter prihatin.


Rosi tertegun mendengar pembicaraan dokter dan perawat di hadapannya. Meski pun tak menyangka jika dirinya akan cacat, tapi entah mengapa Rosi merasa bahagia. Ia merasa menemukan 'wajah baru' yang bisa membawanya keluar dari masalah yang sedang ia hadapi.


\=\=\=\=\=


Kehamilan Hilya kian mendekati masa persalinan. Kondisi ketiga bayi di dalam rahimnya dinyatakan sehat dan siap untuk dilahirkan.


"Tapi besar bayi Kita beda-beda ya Sayang. Yang satu besar yang dua kecil-kecil," kata Nathan sambil menatap layar monitor.


Saat itu Hilya tengah menjalani pemeriksaan USG empat dimensi menjelang persalinan yang akan dilaksanakan lusa.


"Yang penting mereka tumbuh dengan normal dan lengkap. Insya Allah Kita bisa kejar ketinggalannya nanti," sahut Hilya sambil tersenyum.


"Betul. Kalo dipaksa dibesarin di dalam, Saya khawatir perut Mbak Hilya ga akan cukup menampung tiga bayi sekaligus," gurau dokter Abraham.

__ADS_1


Ucapan sang dokter membuat Nathan dan Hilya tertawa. Anna dan Nenek Hilya yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa.


"Jenis kelaminnya gimana dok ?" tanya nenek Hilya tak sabar.


"Masih sama Nek. Dua laki-laki dan satu perempuan," sahut dokter Abraham sambil tersenyum.


"Alhamdulillah ..., udah ga sabar nih mau gendong tiga buyutku," kata nenek Hilya.


"Emangnya Mak kuat gendong tiga bayi sekaligus ?. Jangan lupa, Mak kan udah tua sekarang," goda Anna sambil mencibir.


"Eh, jangan sembarangan Kamu An. Tua-tua gini Aku kuat ngangkat beban puluhan kilo. Cuma tiga bayi aja mah kecil," sahut nenek Hilya sambil memperlihatkan kedua lengannya yang keriput itu.


Tawa pun kembali terdengar usai nenek Hilya mengatakan itu.


Tak lama kemudian Hilya dibawa kembali ke ruang rawat inap menggunakan brankar. Nathan, Anna dan Nenek Hilya mengikuti dari belakang sambil terus bersenda gurau.


"Wah, sebentar lagi Mas Nathan bakal jadi Ayah beneran nih !" sapa dokter Yusuf dengan lantang saat melihat Nathan mendorong brankar.


"Eh, dokter Yusuf. Ngeledek aja nih, jadi malu kan Saya," gurau Nathan sambil pura-pura menutupi wajahnya.


"Jadi kapan waktunya ?" tanya dokter Yusuf sambil melirik kearah Hilya yang tengah berbaring itu.


"Insya Allah rencananya lusa mau diCaesar aja. Kata dokter Abraham terlalu beresiko kalo melahirkan normal," sahut Nathan sambil tersenyum.


"Betul itu. Melahirkan tiga Anak sekaligus bukan lah hal yang mudah. Walau pun Ibu-ibu di jaman dulu sanggup melakukannya tapi ga dianjurkan untuk Ibu di jaman sekarang. Terlalu besar resikonya. Bukan cuma untuk Ibu tapi juga bayinya," kata dokter Yusuf.


Nathan, Anna dan nenek Hilya pun mengangguk tanda setuju dengan ucapan dokter Yusuf.


Nathan masih berbincang di koridor dengan dokter Yusuf, sedangkan Anna dan Nenek Hilya melanjutkan perjalanan hingga masuk ke ruang rawat inap Hilya.


Hilya pun berusaha bangkit karena merasa tak nyaman terlalu lama berbaring. Perawat dengan sigap membantunya meletakkan bantal di punggung Hilya agar wanita itu merasa lebih nyaman.


"Gimana Bu, udah enakan ?" tanya sang perawat.


"Iya, cukup Suster. Makasih ya," kata Hilya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama Bu. Sekarang Saya tinggal dulu ya. Kalo ada apa-apa bisa panggil Saya nanti," kata sang perawat sebelum berlalu.


Hilya, Anna dan Nenek Hilya mengangguk mengiyakan. Setelahnya mereka lanjut berbincang banyak hal. Hanya hal ringan agar Hilya merasa relaks. Sesekali Anna dan Nenek Hilya tersenyum melihat wajah Hilya yang berbinar bahagia menjelang persalinan.


"Semoga persalinan nanti berjalan lancar ya Hil," kata nenek Hilya sambil mengusap perut Hilya yang membuncit itu.


"Aamiin ...," sahut Hilya lirih.


"Sebaiknya Kamu tidur Hil. Jangan khawatir, Bunda sama Nenek bakal terus di sini nemenin Kamu," kata Anna sambil membantu Hilya berbaring.


"Iya Bund," sahut Hilya lalu mulai memejamkan mata.


Meski kedua matanya terpejam tapi Hilya tak benar-benar tidur. Ia sibuk berdzikir dalam hati untuk menekan rasa cemasnya.


Sementara itu di luar sana Nathan dan dokter Yusuf masih berbincang santai. Mereka membahas tentang Rosi yang raib entah kemana.


"Hebat banget dia bisa sembunyi di tempat yang ga terdeteksi. Padahal wajah dan ciri-cirinya udah disebar di media massa. Aneh juga kalo ga ada seorang pun yang bisa nemuin dia. Entah dia yang hebat atau Kita yang ga peka," kata dokter Yusuf sambil menggelengkan kepala


"Iya dok. Papa Avin juga berkali-kali nanyain keberadaan Bu Rosi. Di khawatir Bu Rosi mencelakai Anak lain nanti," kata Nathan gusar.


"Wajar dia khawatir. Anaknya adalah bukti nyata sebagai korban kejahatan Bu Rosi. Selain itu Istrinya sekarang juga sedang hamil calon Adik Avin. Makanya kekhawatiran jadi doble," sahut dokter Yusuf.


"Oh ya ?. Wah, bakal tambah rame kalo Bu Rosi tau tentang ini. Dia pasti ga akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memangsa Adik Avin dan Anak-anak Saya," kata Nathan gusar.


"Insya Allah ga akan terjadi apa-apa sama bayimu dan Adiknya Avin. Kita akan berjuang bersama untuk menghadapi siluman itu nanti. Kali ini jangan kasih kesempatan dia untuk lari ya Mas," kata dokter Yusuf sambil menatap Nathan lekat


Nathan pun mengangguk lalu menepi saat seorang perawat melintas sambil mendorong sebuah kursi roda. Nathan sempat mengerutkan keningnya saat melihat kondisi pasien yang duduk di kursi roda itu.


Seolah mengerti apa yang ada di benak Nathan, dokter Yusuf pun menjelaskan jika pasien adalah korban kecelakaan lalu lintas yang mengalami luka parah.


"Jadi dia harus menjalani operasi plastik untuk memulihkan lukanya dok ?" tanya Nathan.


"Iya. Sayangnya operasi plastik ga akan bisa mengembalikan wajahnya seperti sedia kala," sahut dokter Yusuf prihatin.


Tanpa Nathan dan dokter Yusuf sadari, pasien di atas kursi roda itu tersenyum. Ternyata pasien itu adalah Rosi. Ia dirawat di Rumah Sakit yang sama dimana Hilya akan menjalani operasi Caesar untuk melahirkan ketiga bayinya itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2