
Sebagai ungkapan syukur karena telah berhasil menemukan keluarganya, Bayan dan Anna pun berniat menggelar tasyakuran di rumah mereka.
Meski pun dekorasi ruangan, susunan acara dan hidangan telah diserahkan pada pihak EO, namun Anna tetap sibuk mempersiapkan segalanya. Ia mengajak Ayu ke butik untuk membeli pakaian yang akan mereka kenakan nanti.
"Kami masih punya pakaian yang belum dipake Bund. Jadi Bunda beli buat Ayah, Nathan sama Nicko aja," kata Ayu saat memasuki butik langganan Anna.
"Ga bisa dong Yu. Kita harus pake seragam sebagai bukti kalo Kita ini keluarga. Bunda juga ga sabar pengen liat si kecil pake baju samaan kaya Kita," sahut Anna sambil mengecup pipi Arafah dengan gemas.
Ayu tersenyum melihat kasih sayang tulus Anna pada putrinya. Ayu maklum mengapa Anna bersikeras membelikan ia, suami dan anaknya pakaian baru. Anna terlihat bahagia saat mengetahui Arafah adalah cucu Bayan, itu artinya Arafah juga cucunya. Ia merasa kasih sayangnya pada batita itu selama ini tak sia-sia. Selain itu sejak lama Anna ingin bisa mendandani anak perempuan. Hal yang tak bisa ia lakukan karena ia tak boleh hamil dan melahirkan lagi oleh dokter keluarga.
"Ok deh kalo gitu. Aku ikut aja," kata Ayu kemudian.
Ucapan Ayu membuat wajah Anna berbinar bahagia. Dengan antusias ia mengajak Ayu berkeliling sambil terus menggenggam jemari mungil Arafah.
Dalam hati Ayu merasa bangga dan terharu karena bisa masuk ke dalam keluarga yang hangat itu.
"Nah yang ini gimana Yu ?!" kata Anna sambil memperlihatkan gamis berwarna pink kepada Ayu.
Ayu mengamati sejenak gamis pilihan Anna itu. Gamis itu terlihat manis dengan aksen brukat di sekitar pinggang dan ujung rok. Meski pun sederhana, Ayu tahu jika harga gamis itu sangat mahal. Ayu bahkan harus berpikir ulang untuk membelinya. Karena harga satu gamis itu cukup untuk membeli pakaiannya, Fikri dan si kecil Arafah sekaligus.
"Ayu. Ditanya kok malah bengong. Gimana, bagus ga ?" tanya Anna sambil menepuk bahu Anna dengan lembut.
"Bagus banget Bund. Warnanya juga cantik, Aku suka," sahut Ayu.
"Alhamdulillah kalo Kamu suka. Kita pilih ini aja ya. Kebetulan ada yang ukurannya cocok sama Arafah," kata Anna.
"Terus, yang cowok juga pake warna pink Bund, kan Bunda bilang Kita mau seragaman ?" tanya Ayu.
"Maunya sih gitu. Tapi Bunda yakin mereka bakal protes. Biar aman, Kita pake warna pink dan yang cowok pake merah maroon. Gimana Yu ?" tanya Anna.
__ADS_1
"Setuju Bund. Gradasi warnanya juga nyambung. Bunda nih emang pinter milih baju ya," puji Ayu.
"Kamu bisa aja. Bunda udah biasa kaya gini Yu jadi ga bingung lagi. Soalnya Bunda kan punya Anak cowok dua yang selera dan kemauannya tuh beda banget sama Ayahnya. Kadang Bunda harus sedikit memaksa biar mereka mau pake baju samaan. Kan keliatan bagus pas difoto," sahut Anna sambil tersenyum.
Agu pun ikut tersenyum mendengar cerita Anna. Kemudian Ayu dan Anna bergantian mencoba gamis yang akan mereka beli itu. Saat sedang memakaikan gamis pada Arfah, tiba-tiba ponsel Anna berdering. Ia tersenyum saat melihat nama anak sulungnya di layar ponselnya.
"Assalamualaikum Nak," sapa Anna.
"Wa alaikumsalam. Bunda dimana sekarang ?" tanya Nathan.
"Lagi di butik sama Ayu dan Arafah. Kenapa Nath ?" tanya Anna.
"Tunggu di sana Bund. Aku jemput ya. Aku juga lagi deket butik nih," kata Nathan.
"Oh gitu. Ok, Bunda tunggu ya," kata Anna di akhir kalimatnya.
Tak lama kemudian Nathan datang dan menyapa. Melihat kedatangan Nathan membuat Arafah bahagia. Ia merengek minta digendong sang paman. Dengan sigap Nathan menggendongnya lalu membawa gadis cilik itu berkeliling di luar butik.
Melihat Nathan yang menggendong Arafah, batita yang hampir ia mangsa itu, membuat hati Mak Ejah mencelos. Ada rasa sakit sekaligus rindu menyergap hatinya.
Sejak ia mengetahui Fikri adalah anaknya dan Arafah adalah cucunya, rasa penyesalan terus mengikuti kemana pun Mak Ejah pergi. Berkali-kali ia mencoba menghapus rasa bersalahnya namun gagal.
Mak Ejah yang sengaja menjauh dari jangkauan itu pun mencoba mengalihkan rasa bersalahnya dengan hijrah ke tempat lain.
Namun keanehan pun terjadi. Saat hasrat membunuhnya datang, Mak Ejah akan pergi berkeliling untuk memantau calon korbannya. Setelah memastikan siapa calon korbannya dan situasi di sekitar aman untuknya, maka Mak Ejah akan melancarkan aksinya di malam harinya.
Namun belakangan Mak Ejah merasa tak memiliki selera untuk memangsa korbannya. Karena tiap kali mulutnya terbuka untuk melahap korbannya, saat itu pula bayangan saat ia menyakiti Ayu dan menyerang Arafah melintas di depan matanya. Dan itu membuat Mak Ejah gelisah. Setelahnya Mak Ejah pergi meninggalkan mangsanya begitu saja tanpa sempat menyentuhnya.
"Kalo begitu artinya Kamu harus berhenti memangsa bayi-bayi tak berdosa itu Ejah !" kata Bayan dari belakang Mak Ejah.
__ADS_1
Mak Ejah tersentak lalu menoleh. Ia terkejut melihat Bayan berdiri di belakangnya sambil menatap lekat kearahnya.
"Bayan ...," panggil Mak Ejah lirih.
"Iya, ini Aku. Kemana aja Kamu selama ini Jah. Apa Kamu ga mau mengakui sesuatu sama Fikri ?" tanya Bayan.
"Fikri siapa ?, Saya ga paham maksud Anda Pak Bayan," sahut Mak Ejah sambil bersiap pergi meninggalkan tempat itu.
"Muhammad Fikri Saba bin Alan Bachtiar !" kata Bayan lantang hingga membuat Mak Ejah terpaku di tempatnya.
Mendengar nama lengkap Fikri beserta nama asli Alam, pria yang mengaku bernama Bayan, yang telah menikahinya itu membuat mata Mak Ejah berkaca-kaca. Apalagi saat mendengar nama Bachtiar sebagai nama belakang Alam disebut.
Ingatan Mak Ejah kembali ke pernikahannya dulu. Alam menyebut nama Bayan Bachtiar saat melafalkan ijab kabul dulu. Dan Mak Ejah bahagia karena menyandang status sebagai Nyonya Bayan Bachtiar, walau dia tak tahu seperti apa keluarga Bachtiar itu karena Alan sengaja menyembunyikan pernikahan mereka dari keluarganya.
Dan kini mendengar nama asli suaminya beserta nama lengkap anak mereka disebut membuat hati Mak Ejah berdesir.
"Jadi dia menyematkan nama Saba di belakang namanya," gumam Mak Ejah sambil tersenyum bahagia karena Fikri mau menggunakan nama pemberiannya itu.
"Iya. Dan sekarang jadi Muhammad Fikri Saba Bachtiar karena Aku telah mengakui hubungan keluarga Kami dengannya," kata Bayan.
Mak Ejah mengangguk lalu bergegas menghapus air matanya. Ia gugup saat menyadari tatapan Bayan terhunus kearahnya. Karenanya Mak Ejah berniat pergi meninggalkan Bayan namun langkahnya terhenti saat Bayan mengatakan sesuatu.
"Jadi kapan Kamu akan berhenti Ejah. Apa belom cukup Kamu memangsa bayi di rahim Ayu yang notabene adalah Cucu kandungmu sendiri ?" tanya Bayan sambil menatap Mak Ejah dengan tatapan tak bersahabat.
Mak Ejah nampak menelan saliva nya dengan sulit. Ia tak menyangka jika Bayan tahu dirinya siluman kuyang yang telah memangsa janin Ayu.
Untuk sejenak Bayan dan Mak Ejah saling menatap dalam diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga suara Ayu yang menangis menyadarkan Bayan dan Mak Ejah hingga membuat keduanya menoleh.
Jika Bayan bergegas mendekati Ayu, Mak Ejah justru lari meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=