
Sesuai perintah Bayan, sore harinya Yunus sengaja menunggu sang bos di loby. Bayan memang sedikit terlambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan tadi. Hingga saat ia tiba di loby, jam telah menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Wah Saya minta maaf ya karena udah bikin Kamu nunggu, Nus. Harusnya kalo kelamaan nunggu tanpa kepastian, Kamu bisa pulang duluan tadi," kata Bayan saat keluar dari lift.
"Oh gapapa Pak. Saya maklum kalo Bapak sibuk, pekerjaan Bapak pasti juga banyak. Saya ga keberatan nunggu di sini kok sampe Bapak kasih perintah Saya pulang," sahut Yunus sambil berdiri.
"Ok, Saya salut sama sikap Kamu. Yuk Kita pergi sekarang," ajak Bayan.
"Siap Pak," sahut Yunus.
Tak lama kemudian mobil Bayan nampak telah meluncur di atas jalan raya. Bayan harus sedikit bersabar karena terjebak macet, situasi yang biasa terjadi di Jakarta saat sore hari di hari kerja.
Bayan sempat menepikan mobilnya di pinggir jalan karena harus menunaikan sholat Maghrib berjamaah di salah satu musholla yang mereka temui. Setelahnya Bayan kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di depan rumah.
Saat itu jam menunjukkan pukul tujuh kurang. Yumi dan Arti yang membuka pintu pun langsung diperkenalkan dengan Yunus.
"Ini Yunus, dia yang akan jadi security di sini mulai besok. Nah ini Yumi, yang ini Arti," kata Bayan.
Yunus, Yumi dan Arti pun saling berjabat tangan sambil tersenyum. Setelahnya Bayan mengajak Yunus masuk ke dalam rumah. Bayan juga mengajak Yunus berkeliling ke sekitar rumah dan memberi tahu titik mana saja yang terbilang rawan di sekitar lingkungan rumah.
Saat Bayan mengajak Yunus ke samping rumah, tepat di dekat jendela kamarnya, wajah Yunus nampak berbeda. Bayan yang tak menyadari perubahan wajah Yunus pun terus saja bicara.
Yunus merasa aura di tempat itu sedikit berbeda dengan tempat lain di rumah Bayan. Namun karena tak ingin dicap sok tahu, maka Yunus pun menyimpan semuanya dalam hati.
" Untuk sementara waktu, jam kerja Kamu mulai jam enam sore sampe jam enam pagi ya. Dan besok pagi Kamu ga usah ke kantor lagi, biar Saya yang urus semuanya ke personalia jadi Kamu ga perlu khawatir," kata Bayan saat mengantar Yunus hingga ke pintu pagar.
"Baik Pak, makasih. Kalo gitu Saya pulang sekarang ya Pak. Assalamualaikum," pamit Yunus.
"Wa alaikumsalam," sahut Bayan sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Setelah makan malam Bayan memilih duduk di ruang tengah. Wajah Bayan saat itu tampak berbinar bahagia. Sambil menonton tayangan berita di televisi, kedua mata Bayan sesekali melirik kearah ponselnya. Rupanya Bayan baru saja usai menghubungi Anna melalui sambungan video call.
Anna menceritakan tentang tumbuh kembang kedua anak mereka, Nathan dan Nicko, selama beberapa hari ini. Cerita Anna tentu saja membuat Bayan bahagia.
Selain itu Anna juga menanyakan kapan dia dan anak-anak bisa kembali ke rumah. Anna mengatakan sangat merindukan suasana rumah. Bayan tahu apa maksud sang istri. Karenanya Bayan berjanji akan menjemput mereka begitu semua masalah teratasi.
Tak lama kemudian ponsel Bayan kembali berdering. Bayan bergegas meraih ponselnya dari atas meja dengan senyum terkembang karena mengira Anna yang menghubunginya. Namun senyum Bayan memudar saat melihat nama Rama di layar ponselnya. Dengan enggan Bayan menerima panggilan telepon itu.
"Assalamualaikum Yan !" sapa Rama saat telepon tersambung.
"Wa alaikumsalam. Kenapa Ram ?" tanya Bayan.
"Gue lagi di rumah Riko nih. Tapi dia ga di rumah. Tetangganya bilang, Riko lagi nemenin Mona di Rumah Sakit. Katanya sih Mona mengalami kecelakaan kerja," sahut Rama hingga mengejutkan Bayan.
"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Terus gimana keadaan Mona sekarang, parah ga lukanya, dia dirawat di Rumah Sakit mana ?" tanya Bayan beruntun.
Rama tertawa mendengar pertanyaan Bayan yang beruntun itu. Dengan sabar Rama menjelaskan semuanya. Rama juga mengatakan jika ia baru saja berhasil menghubungi Riko untuk memastikan benar tidaknya berita itu.
\=\=\=\=\=
Rama dan Bayan tiba di Rumah Sakit saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Kedatangan mereka disambut Riko yang memang menunggu di loby Rumah Sakit.
Setelah saling memeluk, Riko pun mulai menjelaskan kronologi kecelakaan kerja yang menimpa Mona.
Riko mengatakan jika Mona jatuh pingsan di dekat mesin pemotong kain. Kondisi Mona hari itu memang lemah dan kurang sehat. Bahkan sebelumnya ia sudah meminta Mona istirahat di rumah, namun Mona menolak.
Mona bekerja di sebuah pabrik produsen kain yang terkenal di pinggiran Jakarta. Mona menjabat sebagai supervisor dan bertugas mengawasi kain yang telah selesai digulung dengan mesin.
Saat kejadian Mona sedang bekerja di shift tiga. Hal yang sudah lama tak Mona lakukan sejak ia menikah dengan Riko. Karena biasanya Mona hanya mau bekerja di jam wajar yaitu antara jam tujuh pagi hingga jam sebelas malam.
Perusahaan tempat Mona bekerja memang memiliki waktu kerja yang dibagi menjadi tiga shift. Mengingat tingginya permintaan di pasaran memaksa Mona harus mengalah dan ikut kerja lembur shift ke tiga hari itu.
__ADS_1
Sebelum kejadian sebenarnya Mona memang terlihat tak sehat. Bahkan sejak malam ia mengeluhkan kepalanya yang terasa sangat sakit. Saat rekan kerjanya mengingatkan agar Mona istirahat di klinik perusahaan, Mona pun setuju. Namun sebelum ia tiba di klinik, Mona telah tersungkur jatuh di lantai. Posisi jatuh Mona adalah kepalanya lebih dulu mencium lantai. Akibatnya kening Mona terluka karena terbentur body mesin tadi.
Beruntung ada karyawan lain yang melihat Mona tergeletak di lantai. Jika tidak, mungkin Mona akan tetap di sana hingga shift ketiga berakhir.
"Gimana keadaan Mona sekarang ?" tanya Rama kemudian.
"Parah," sahut Riko singkat.
"Maksudnya parah gimana ?" tanya Bayan tak mengerti.
"Iya. Selain luka robek di pelipis sampe dahi, tulang dahinya juga sampe retak. Keliatannya Mona juga mengalami penganiayaan semacam pemukulan dengan benda tumpul sebelum dia jatuh pingsan," sahut Riko gusar.
Jawaban Riko tentu saja membuat Bayan dan Rama terkejut. Keduanya saling menatap sejenak dengan tatapan yang tak terbaca.
"Maksud Lo Mona dipukul atau disakiti seseorang ?" tanya Bayan.
Riko mengangguk lalu menyigar rambutnya ke belakang dengan kelima jari tangan kanannya.
"Terus gimana, apa Lo punya rencana mau nuntut perusahaan itu karena udah bikin Istri Lo jatuh dan terluka kaya gitu ?" tanya Rama.
"Gue belum tau Ram. Kalo nurutin emosi sih pengennya kaya gitu. Tapi Gue ga bisa gegabah kan. Gue juga masih harus nunggu hasil rontgen, apa dahi Mona beneran retak atau cuma memar aja. Kalo beneran retak, kayanya Gue perlu pengacara buat nanganin kasusnya " sahut Riko sambil mengusap wajahnya.
Untuk sejenak suasana diantara ketiga sahabat itu terasa sunyi mencekam. Nampaknya mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Boleh ga Kita jenguk Mona sekarang ?" tanya Bayan tiba-tiba.
Riko mengangguk lalu mengajak kedua sahabatnya menjenguk Mona di ruang rawat inap kelas dua. Saat pintu kamar terbuka, Bayan dan Rama bisa melihat kondisi Mona yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Kepalanya nampak dibalut perban dan selang infus nampak bergantungan di sekitar Mona.
Namun Bayan sedikit menyipitkan mata saat melihat letak luka yang diderita Mona. Ia seperti ingat sesuatu dan itu membuatnya gelisah.
\=\=\=\=\=
__ADS_1