
Upaya Bayan melindungi anaknya dari kejaran kuyang itu nampaknya membuahkan hasil. Setelah beberapa waktu Nathan tinggal di rumah Riko, mahkluk berwujud kepala tanpa tubuh itu pun tak berkeliaran lagi di sekitar rumah. Bayan tahu itu dari security di rumahnya yang tak lain adalah Yunus.
Malam itu Bayan baru saja pulang. Meski belum terlalu larut namun suasana di sekitar rumah sudah tampak sunyi dan mencekam. Bayan pun mendesis sambil mwngusap lengannya yang terasa tak nyaman.
"Ini perasaan Saya aja atau emang suasana malam ini yang ga enak ya Nus," kata Bayan saat baru saja turun dari mobil.
"Emang malam ini beda kok Pak. Rasanya sama persis sama malam-malam dimana ada makhluk yang mengintai rumah ini," sahut Yunus sambil menutup pintu pagar.
Ucapan Yunus membuat Bayan terkejut. Ia berhenti melangkah lalu menoleh kearah Yunus. Sedangkan Yunus masih melanjutkan tugasnya dengan mengunci pintu pagar. Gantian Yunus yang terkejut saat melihat Bayan menatapnya dengan tajam.
"Astaghfirullah aladziim. Maaf Pak, Saya kira Bapak udah masuk ke dalam rumah tadi. Apa ada yang ketinggalan Pak ?" tanya Yunus sambil menepuk dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.
"Kamu bilang apa tadi Nus ?" tanya Bayan.
"Eh, bilang apa ya Pak ?" tanya Bayan sambil menggaruk kepalanya dengan bingung.
"Yang tadi. Kamu bilang ada makhluk yang mengintai rumah ini ?" tanya Bayan sambil mwnatap Yunus lekat.
"Oh itu. Iya Pak. Suasana malam ini emang sama persis kaya malam-malam dimana ada makhluk berwujud kepala tanpa badan yang melayang di atas sana sambil mengintai rumah ini. Bukannya gara-gara itu Bapak mengungsikan Mas Nathan ya ?" tanya Yunus tak enak hati.
Bayan nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Yunus. Sejujurnya Bayan tak menyangka jika Yunus akhirnya tahu apa yang terjadi di rumah itu.
Kemudian Bayan menjelaskan apa yang terjadi. Dimulai dari ketakutan istrinya, lalu terror yang menyertai Arti dan Yumi dulu, hingga yang terakhir wujud kuyang yang terang-terangan mengikuti Nathan.
Yunus nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia tak menyalahkan Bayan karena belum mempercayainya setelah bertahun-tahun ia mengabdi di rumah itu.
"Jadi itu alasan kenapa Bapak cuma minta Saya kerja di waktu malam aja Pak," kata Yunus.
"Iya. Tapi Saya ga mau orang lain tau karena Saya yakin ga akan ada yang percaya sama cerita ini. Daripada jadi bahan ejekan, lebih baik menyimpannya dengan rapat. Bukan begitu Yunus ?" tanya Bayan.
"Iya Pak," sahut Yunus cepat.
__ADS_1
"Jadi sejak kapan Kamu menyadari ada yang aneh di rumah ini ?" tanya Bayan.
"Sejak pertama kali Bapak ngajak Saya ke sini, Saya udah nyium gelagat aneh Pak. Waktu itu Saya malah ngeliat sesuatu yang sembunyi di balik pohon seolah sedang mengawasi Kita. Apalagi waktu ada tetesan darah di ventilasi jendela dan teras samping. Saya makin yakin kalo ada yang ga wajar yang mengejar keluarga Bapak. Belakangan akhirnya Saya tau kalo itu adalah makhluk kepala tanpa badan yang suka menyerang wanita hamil dan bayi. Tapi ngeliat usaha Bapak untuk melindungi keluarga Bapak bikin Saya kagum. Karena sejak Mas Nathan diungsikan sementara waktu, makhluk kepala tanpa badan itu ga lagi berkeliaran di sekitar rumah ini," kata Yunus panjang lebar.
"Apa Kamu juga bisa ngeliat makhluk itu dengan jelas Nus ?" tanya Bayan.
"Bisa Pak," sahut Yunus cepat.
"Kamu ga takut ?" tanya Bayan.
"Awalnya takut Pak. Tapi pas Ibu Saya bilang makhluk itu cuma menyerang wanita hamil dan bayi, Saya ga takut lagi. Kan Saya cowok tulen yang ga bisa hamil dan Saya juga bukan anak bayi. Tapi Bapak ga usah khawatir, Saya ga bilang kalo makhluk itu ada di sekitar sini karena Saya juga ga mau Ibu Saya khawatir," kata Yunus hingga membuat Bayan tersenyum lega.
"Jadi menurut Kamu, kenapa kuyang itu mengikuti Nathan ?" tanya Bayan.
"Mungkin Mas Nathan menyimpan sesuatu yang disukai atau bahkan yang dibenci sama makhluk itu Pak," sahut Yunus.
"Masuk akal juga sih. Tapi itu udah ga penting lagi. Sekarang Saya lega karena makhluk itu ga berkeliaran lagi di sekitar sini. Mungkin dalam waktu dekat Saya bakal jemput aNathan pulang ke rumah. Kasian Ibu sama Nicko, kayanya mereka sedih banget saat berjauhan sama Nathan," kata Bayan.
"Aamiin. Makasih ya Nus. Kalo gitu Saya masuk dulu," kata Bayan sambil menepuk bahu Yunus.
"Baik Pak, selamat malam," kata Yunus yang diangguki Bayan.
Dan malam itu untuk pertama kalinya setelah Nathan diungsikan di rumah Riko, Bayan bisa tidur dengan nyenyak
\=\=\=\=\=
Setelah memastikan situasi aman, Bayan pun menjemput Nathan dari rumah Riko.
Sebelumnya Bayan sengaja tak memberitahu Anna dan Nicko jika hari itu Nathan akan kembali ke rumah. Ia ingin memberi kejutan dan berharap semuanya gembira nanti.
Rama dan Riko yang juga diikutsertakan dalam aksi kali ini pun nampak telah bersiap. Nathan pun nampak tersenyum bahagia karena akan kembali berkumpul dengan keluarganya.
__ADS_1
Saat sedang bersiap di kamar, tiba-tiba Nathan dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kamar. Nathan menoleh dan tersenyum melihat Alika berdiri di ambang pintu yang terbuka itu.
"Eh, Alika. Kenapa, kok berdiri aja di situ ?" tanya Nathan sambil menutup koper.
"Abang mau kemana ?" tanya Alika sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
"Abang mau pulang," sahut Nathan.
"Pulang kemana, bukannya ini rumah Abang juga ?" tanya Alika tak mengerti.
"Iya. Ini emang rumah Abang untuk sementara waktu. Tapi sekarang Abang harus pulang ke rumah Abang yang sebenernya, kumpul sama orangtua dan Adik Abang, sama kaya Alika kumpul sama orangtua Alika," sahut Nathan.
Mendengar ucapan Nathan membuat Alika menangis. Gadis kecil itu bahkan menjerit lalu berlari keluar kamar. Riko dan Mona pun terkejut namun mengerti setelah Nathan menjelaskan semuanya.
Kemudian Mona membujuk Alika agar mau membiarkan Nathan kembali pada keluarganya. Awalnya agak sulit. Nampaknya Alika terlanjur terbiasa dengan kehadiran Nathan di rumah itu. Selama dua bulan lebih tinggal bersama, Alika sudah menganggap Nathan sebagai kakaknya. Namun setelah Mona berjanji akan membawa Alika menemui Nathan lebih sering ke rumahnya nanti, Alika pun berhenti menangis. Apalagi Nathan juga berjanji akan mengunjungi Alika nanti.
Setelah mendengar janji Mona dan Nathan, Alika pun kembali tertawa. Bahkan kini Alika nampak memeluk Nathan dan bersenda gurau lagi seperti biasa.
Bayan dan Rama yang juga ada di sana dan ikut menyaksikan interaksi Nathan dan Alika pun terharu karenanya.
"Sekarang Alika siap-siap dulu yuk. Kita kan mau anter Abang pulang ke rumah," kata Mona.
"Aku ganti baju lagi Ma ?" tanya Alika.
"Iya. Soalnya Om Bayan juga bikin acara untuk ngerayain ulang tahunnya Bang Nicko. Masa hadir ulang tahun bajunya kotor kaya gini," kata Mona sambil menunjuk noda es krim di pakaian Alika.
"Bang Nicko siapa Ma ?" tanya Alika.
"Bang Nicko itu Adiknya Bang Nathan. Mungkin Alika lupa ya. Tapi gapapa, sebentar lagi Kita bakal ketemu sama dia," sahut Mona sambil mengikat rambut Alika dengan karet warna warni.
Setelahnya Mona menggamit tangan Alika lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
\=\=\=\=\=