Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
198. Interogasi


__ADS_3

Penyelidikan tentang kematian janggal yang terjadi di kamar mandi Klinik Bersalin Hilya pun dilakukan secara marathon. Nampaknya polisi tak ingin mengulur waktu dengan membiarkan berita tentang kasus ini berkembang lebih liar. Polisi melakukannya demi menjaga keamanan lingkungan klinik yang didominasi wanita dan bayi itu.


Kamera CCTV pun disita untuk mengetahui apa yang terjadi. Beberapa karyawan di klinik kembali diinterogasi. Hilya pun sebagai pemilik sekaligus pengelola klinik dimintai keterangan.


Didampingi Nathan, Hilya berangkat ke kantor polosi untuk menjalani serangkaian interogasi. Bukan tanpa alasan polisi mencurigai Hilya. Karena menurut polisi alibi Hilya sangat tak masuk akal. Dan berdasarkan catatan kepolisian, sebelumnya Hilya juga punya rekam jejak buruk di masa lalu dimana dia juga pernah dijadikan tersangka atas kasus kematian bayi di Rumah Sakit. Meski pun sangkaan itu tak terbukti namun tetap membuat Hilya tak nyaman.


"Kenapa Aku harus selalu dilibatkan dengan kematian orang-orang di sekelilingku. Padahal Aku ga kenal sama mereka dan ga tau apa yang mereka lakukan sampe meninggal begitu," kata Hilya gusar.


Saat itu Nathan dan Hilya baru saja tiba di kantor polisi dan sedang berada di parkiran.


"Sabar ya Sayang. Ini cuma interogasi biasa kok. Jawab apa adanya dan selesai," kata Nathan sambil merengkuh bahu Hilya.


"Aku tau ga mungkin sesimple itu Sayang. Aku ngomong gini karena Aku kan pernah ada di posisi yang sama dulu. Kamu ga lupa kan kalo Aku pernah dituduh membunuh bayi di Rumah Sakit ?. Untungnya Kamu dan Ayah juga yang datang menyelamatkan Aku dulu," sahut Hilya.


"Iya. Dan Kamu ga usah khawatir. Aku akan pastikan polisi juga ga akan bisa menyentuh Kamu kali ini. Banyak saksi dan bukti. Jadi Kamu ga perlu khawatir ya," kata Nathan sambil memeluk Hilya erat.


Hilya mengangguk lalu membalas pelukan Nathan. Ia membenamkan wajahnya di pelukan suaminya itu dan mencoba mencari kedamaian di sana.


Setelah merasa cukup kuat, Hilya mengurai pelukannya. Nathan tersenyum lalu mendaratkan kecupan sayang di kening Hilya.


"Ayo Kita hadapi semuanya bersama. Dan semoga setelah ini Kita ga perlu ke sini lagi karena Aku yakin Kamu ga bersalah," kata Nathan menyemangati.


"Aamiin. Tapi kenapa Kamu percaya banget sama Aku. Gimana kalo dugaan Polisi tentang Aku yang melakukan kejahatan itu benar ?" tanya Hilya.


Nathan tersenyum lalu meraih jemari Hilya dan menggenggamnya erat.


"Aku percaya sama instingku karena selama ini instingku ga pernah salah. Sejak awal Aku yakin Kamu adalah jodoh yang Allah kirimkan untukku. Dan Aku bahagia karena ternyata jodoh pilihan Allah ini adalah wanita yang hebat plus cerdas. Jadi mana mungkin Kamu melakukan hal bodoh yang bisa menjatuhkan reputasimu itu," kata Nathan tegas.


Hilya mengangguk sambil tersenyum dengan jantung yang berdebar. Entah mengapa ucapan Nathan membuatnya bahagia. Ia pun mengeratkan genggaman tangannya saat Nathan membawanya melangkah.


Polisi yang kemarin ditemui Nathan nampak tersenyum menyambut kehadiran Nathan dan Hilya. Mereka saling berjabat tangan dan tertawa. Pengacara yang diutus Bayan untuk membantu Hilya pun tampak telah hadir di sana.

__ADS_1


"Selamat pagi Mas Nathan, Mbak Hilya," sapa Alex ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi Pak Alex," sahut Nathan dan Hilya sambil tersenyum.


"Saya diutus Pak Bayan untuk mendampingi Mbak Hilya menyelesaikan masalah ini," kata Alex.


"Iya Pak, Saya tau. Ayah udah bilang kemarin," sahut Nathan.


"Wah Saya senang ngeliat Kalian di sini. Kalo semua orang punya sikap seperti Pak Nathan dan Istri, Saya yakin pekerjaan Polisi akan lebih ringan dan cepat selesai," kata sang polisi sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kami hanya ingin menunjukkan itikad baik Kami sekaligus membuktikan jika Istri Saya ga bersalah. Itu sebabnya Kami datang lebih awal Pak," sahut Nathan sambil tersenyum.


"Ok. Kita langsung ke ruangan aja ya Pak," kata sang polisi sambil tersenyum.


Nathan mengangguk lalu membawa Hilya melangkah tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Kemudian sesi interogasi pun dilakukan. Hilya mampu menjawab semua pertanyaan dengan lancar. Alex membantu Hilya menjawab beberapa pertanyaan jebakan yang membuat Hilya bingung.


Saat polisi menanyakan pendapat Hilya tentang kondisi jenasah wanita yang kemudian diketahui bernama Endah itu, wajah Hilya mendadak memucat. Bahkan Hilya nampak akan muntah.


Nathan yang siaga nampak bergegas membantu sang istri. Ia membawa Hilya ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan. Tak lama kemudian terdengar Hilya muntah hebat di sana.


"Maafkan Mbak Hilya ya Pak. Beliau sedang hamil muda sekarang. Mungkin pertanyaan tadi membuatnya mual karena teringat dengan kondisi korban yang mengenaskan dan berlumuran darah itu," kata Alex.


"Oh gitu, gapapa Pak. Tapi Saya harus dapat jawaban Bu Hilya. Pendapatnya mengenai kondisi korban sangat penting karena ini bisa membuktikan Bu Hilya terlibat atau tidak," sahut sang polisi.


"Saya paham itu. Tapi bisa kan pertanyaannya diubah. Saya ga mau Mbak Hilya sakit karena dipaksa mengingat sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Apalagi dia sedsng hamil sekarang," pinta Alex.


Polisi nampak menghela nafas panjang kemudian mengangguk. Meski sedikit terganggu dengan permintaan Alex namun sang polisi nampaknya juga tak ingin kedatangan Hilya berakhir sia-sia.


Nathan dan Hilya kembali beberapa saat kemudian. Alex nampak iba melihat wajah Hilya yang pucat.

__ADS_1


"Apa Mbak Hilya masih kuat. Kalo ga sanggup, Kita lanjutkan besok aja," kata Alex.


"Gapapa Pak Alex. Saya cuma mual aja tadi. Saya juga ga tau kenapa, tapi sejak hamil Saya justru ga suka ngeliat darah dan membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan darah. Untung ada rekan Saya Intan yang membantu Saya menangani persalinan pasien," sahut Hilya sambil tersenyum kecut.


"Jadi tugas Bu Hilya apa dong. Kan Bu Hilya Bidan utama yang harus membantu persalinan," kata sang polisi sambil menatap Hilya.


"Saya hanya mengecek kondisi kehamilan pasien Pak. Mulai dari detak jantung Ibu dan bayinya, mengecek kondisi bayi di dalam rahim melalui USG dan melayani konsultasi pasien. Saya juga menangani bayi yang menjalani imunisasi. Pokoknya asal itu ga berkaitan dengan darah Saya masih bisa bekerja sama. Yah walau kadang mual ga bisa ditahan juga," sahut Hilya.


"Boleh tau berapa usia kehamilan Bu Hilya ?" tanya sang polisi.


"Hari ini masuk minggu ke sembilan. Kenapa ya Pak ?" tanya Hilya sambil mengerutkan keningnya.


"Oh gapapa Bu Hilya. Ini untuk catatan aja kok," sahut sang polisi sambil tersenyum.


Hilya pun mengangguk karena tak merasa ada yang aneh dengan pertanyaan itu.


Dan interogasi berakhir setengah jam kemudian. Nathan, Hilya dan Alex pun keluar dari kantor polisi bersama-sama. Mereka berencana melanjutkan pembicaraan di sebuah restoran sekaligus makan siang.


Pada kesempatan itu Alex memastikan jika tadi adalah interogasi pertama dan terakhir yang harus Hilya jalani. Tentu saja itu membuat Nathan bahagia.


"Kenapa Pak Alex yakin banget kalo Hilya ga akan dimintai keterangan lagi nanti ?" tanya Nathan.


"Karena Polisi udah nemu kunci jawaban dari sekian pertanyaan yang mereka ajukan tadi," sahut Alex sambil tersenyum.


"Apa pun itu Saya tetap bersyukur Pak. Rasanya Saya emang ga sanggup kalo harus menjalani sesi interogasi kaya tadi. Terkesan santai padahal tekanannya luar biasa," sela Hilya hingga membuat Nathan dan Alex tertawa.


"Iya Mbak Hilya, Saya paham apa yang Mbak Hilya rasakan," sahut Alex bijak.


Dan pembicaraan mereka masih berlanjut untuk beberapa waktu. Meski pembicaraan mereka kerap diwarnai aksi Hilya yang mual-mual, namun semua berjalan lancar hingga akhir.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2