
Jenasah Serena dibawa pulang oleh kedua orangtuanya untuk disemayamkan di rumah. Bayan, Fikri dan Intan ikut melepas kepergian keluarga Serena hingga ke halaman klinik.
"Maaf Saya ga bisa nganter ke rumah karena pasien lagi banyak sekarang. Insya Allah Saya ke sana besok ya Bu," kata bidan Intan sambil memeluk Mama Serena.
"Iya Bu Bidan, makasih. Kalo sekiranya repot, ga usah memaksa Bu Bidan. Kami maklum kok," sahut Mama Serena.
"Iya," kata bidan Intan sambil mengusap lengan Mama Serena dengan lembut.
Setelahnya mobil yang membawa jenasah Serena nampak bergerak perlahan meninggalkan Klinik Bersalin Hilya.
"Jadi Ayah tau ulah siapa ini ?" tanya Fikri usai bidan Intan pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Iya Nak. Ciri-ciri yang dialami Serena bisa dipastikan sebagai korban kuyang," sahut Bayan cepat hingga membuat Fikri berdecak kesal.
"Terus apa yang mau Ayah lakukan ?" tanya Fikri.
"Mengejar ke sana dan menghentikannya sebelum dia meraja lela," sahut Bayan.
"Kapan Yah ?" tanya Fikri.
"Secepatnya. Tapi sebelumnya Ayah harus siapin amunisi dulu," sahut Bayan.
"Aku ... boleh ikut ga Yah ?" tanya Fikri ragu.
"Kita liat sikonnya dulu ya Nak. Diantara Kamu dan Nathan, Ayah belum tau siapa yang harus stay di rumah dan siapa yang ikut. Yang penting mulai sekarang Kita persiapkan semuanya dengan matang biar siluman itu ga punya kesempatan lagi buat lari. Dan Ayah mau keluarga Kita berkumpul di satu tempat saat Ayah pergi menumpas siluman itu. Tujuannya supaya Ayah lebih fokus dan tenang karena dia ga akan mengancam Cucu Ayah," kata Bayan.
"Iya, Aku paham maksud Ayah," sahut Fikri sambil mengangguk.
Setelahnya Bayan mengajak Fikri pulang. Nampaknya Bayan ingin segera mempersiapkan amunisi yang dimaksudnya tadi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Keesokan paginya.
Kediaman orangtua Serena dipadati warga yang ingin bertakziah. Diantara mereka terlihat Rosi yang nampak duduk sambil memasang wajah sedih di depan jenasah Serena yang berbaring.
Seorang wanita yang anaknya seusia Serena nampak datang sambil menggendong sang anak. Ia mendekati jasad Serena yang tertutup selimut lalu membuka penutup wajahnya.
"Liat tuh Vin. Rena udah ga ada, udah pergi. Besok Avin ga boleh nyariin Rena lagi yaa ...," kata wanita itu dengan suara bergetar.
"Nena ... Nena apa Ma ?" tanya anak laki-laki yang dipanggil Avin itu bingung.
"Iya Nak. Renanya capek, makanya bobok dan ga bakal bangun lagi. Avin janji ga boleh nangis ya biar Renanya ga sedih," kata wanita itu sambil menatap sang anak dengan lembut.
Avin mengangguk lalu mengulurkan tangannya kearah Serena. Saat tangan mungil Avin menyentuh pipi Serena yang telah dingin itu, batita lucu itu sigap menarik tangannya. Ia sedih karena Serena tak merespon aksinya.
"Nena bobok Ma. Avin au bobok uga ...," kata Avin lalu menghambur ke pelukan ibunya.
Ibu Avin mengangguk lalu menggendong putranya.
Ucapan batita itu membuat semua orang terharu dan kesedihan kian bertambah. Semua orang di sana tahu jika Serena dan Avin berteman dekat. Mereka kerap main bersama karena usia mereka sebaya.
"Dadah Nenaaa ..., Avin uwang yaa ...," kata Avin sambil tersenyum.
Lagi-lagi ucapan Avin membuat semua orang terharu. Mereka yakin jika ruh Serena masih di sana dan sedang mengucapkan salam perpisahan pada sahabat ciliknya itu.
Melihat kepergian Avin membuat Mama Serena kembali menangis. Ia tak kuasa menahan sedih menyaksikan buah hatinya pergi dengan cara tak lazim.
"Sabar Bu, jangan tangisi kepergian Rena. Kasian dia," bisik Rosi mencoba menenangkan Mama Serena.
"Siapa yang ga sedih Bu, Rena itu sehat kok. Dia cuma demam biasa. Tapi kenapa meninggal," rintih Mama Serena sambil menangis.
"Udah Ma. Ikhlasin Rena ya. Jangan terus disesali karena itu memberatkan langkahnya," kata papa Serena.
__ADS_1
Ucapan sang suami membuat Mama Serena sadar lalu berusaha menghentikan tangisnya walau pun sulit. Beberapa warga yang hadir juga berusaha menghibur dan menenangkan Mama Serena.
Melihat bagaimana kesedihan keluarga itu membuat Rosi tak nyaman. Diam-diam Rosi keluar dari rumah duka untuk sekedar melepas penat.
Di luar rumah Rosi melihat para wanita yang sedang berkumpul. Rosi pun bergabung dengan para wanita yang sedang meronce bunga untuk pemakaman Serena.
"Sebenernya kematian Serena ini agak ga masuk akal. Iya ga sih Ibu-ibu," kata seorang wanita membuka percakapan.
"Ga masuk akal gimana maksudnya Mbak ?" tanya wanita lain tak mengerti.
"Ya ga masuk akal dong. Serena itu kan sehat wal Afiat. Diantara semua batita di sini kan dia yang paling gemoy dan pinter. Ga ada tanda ngidap sakit tertentu kok tiba-tiba meninggal. Aneh kan ...?" tanya wanita itu sambil melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari dukungan.
"Tapi bisa jadi Rena emang sakit Bu. Cuma penyakitnya belum diketahui karena terlambat dideteksi. Pas terdeteksi eh jutru terlambat," kata seorang wanita yang diangguki beberapa wanita lainnya.
"Rena itu cuma demam biasa Bu. Mamanya sendiri yang bilang kalo Anaknya itu ga ada penyakit apa pun. Lagipula Rena ga sendiri kok. Temannya yang lain juga demam kaya dia, tapi mereka masih baik-baik aja sampe sekarang," sahut wanita itu berkeras.
"Wah kalo kaya gitu harus manggil team kesehatan buat ngecek. Siapa tau ada wabah penyakit tertentu yang cuma nyerang Anak batita kaya Serena," kata seorang warga tiba-tiba.
Semua wanita yang ada di sana menoleh dan melihat kearah seorang pria perlente yang baru saja datang.
"Mas Gani. Bisa-bisanya bilang ada wabah di kampung Kita. Apa ga berlebihan ya Mas," kata seorang wanita sambil menahan tawa.
Ucapan wanita itu justru disambut tawa para wanita termasuk Rosi. Bukan tanpa alasan mereka tertawa. Rupanya ucapan itu keluar dari mulut seorang pria yang konon katanya pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena gangguan mental.
Mereka masih tertawa saat Gani mengemukakan alasannya. Dalam hati Rosi bersorak gembira karena saran Gani tak dituruti oleh warga.
"Bisa gawat kalo warga benar-benar manggil team kesehatan ke sini. Kalo mereka nemuin sesuatu yang aneh dari kematian Serena, habis lah Aku. Kemana lagi Aku bisa dapatkan mangsa dengan mudah," batin Rosi gusar.
Saat sedang bermonolog dalam hati, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menyapa. Rosi kenal suara itu lalu menoleh kearah sumber suara. Ia terkejut saat melihat bidan Intan ada di sana dan sedang bertanya dimana rumah orangtua Serena.
Beberapa wanita yang mengenal bidan Intan pun bangkit lalu mengantar wanita itu ke rumah duka. Diam-diam Rosi menyingkir dari tempat itu karena ia khawatir bidan Intan mengenalinya dan bertanya macam-macam nanti.
__ADS_1
Tanpa Rosi sadari Bayan dan Nathan tengah mengamatinya dari jauh. Rupanya ayah dan anak itu juga datang untuk bertakziah ke rumah duka.
\=\=\=\=\=