
Ferdi dan Mario menoleh ke belakang saat menyadari Nathan tak berada bersama mereka. Mereka melihat Nathan tengah berdiri sambil menatap kearah pohon sawo yang tumbuh liar di pinggir jalan.
Karena curiga, Ferdi dan Mario pun bergegas menghampiri Nathan.
"Ada apaan Nath ?!" tanya Mario lantang.
"Sssttt ...," sahut Nathan sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Mario dan Ferdi pun mengangguk lalu ikut melihat kearah yang dilihat Nathan. Meski tak ada apa pun di sana, Ferdi dan Mario mencoba bersabar.
Tak lama kemudian Nathan mengusap wajahnya lalu mengajak Ferdi dan Mario meninggalkan tempat itu.
"Ada apaan Nath ?" ulang Mario penasaran.
"Gue baru dapat petunjuk," sahut Nathan cepat.
"Petunjuk apaan ?" tanya Ferdi dan Mario bersamaan.
"Dimana jasad Mbak Iis dikubur," sahut Nathan setengah berbisik.
Walau Nathan mengucapkannya dengan berbisik namun berhasil mengejutkan Ferdi dan Mario.
"Apa ...?!" kata Ferdi dan Mario sambil membelalakkan mata.
"Ck, ga usah teriak bisa ga sih ?!" kata Nathan sambil berdecak sebal.
"Ya Allah, Kita kaget Nath. Makanya Kita teriak," sahut Mario membela diri.
"Jadi dimana jasadnya Mbak Iis Nath ?" tanya Ferdi.
"Kita bahas di tempat lain jangan di sini. Kalo bisa cari tempat yang ga banyak orang," ajak Nathan sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
Mario dan Ferdi saling menatap sejenak kemudian segera mengejar Nathan yang telah menjauh.
Dan dalam waktu singkat mereka bertiga telah ada di satu tempat yang netral sesuai keinginan Nathan.
"Kayanya Kita harus melibatkan Polisi," kata Nathan tiba-tiba.
"Lho kenapa harus pake Polisi segala. Emang Kita bertiga ga cukup kuat buat gali kuburannya ?" tanya Mario.
"Bukan itu masalahnya. Keliatannya Mbak Iis meninggal karena dibunuh. Kalo Kita nekad ngebongkar makamnya, Gue khawatir Kita malah dijadiin tersangka sama Polisi. Karena pasti sidik jari Kita yang bakal ditemuin di lokasi dan menutupi sidik jari penjahat sesungguhnya," sahut Nathan cepat.
__ADS_1
"Betul. Gue setuju sama Lo Nath !" kata Ferdi.
"Iya, Gue juga setuju. Tapi gimana cara bilang sama Polisi supaya Kita ga dijadiin tersangka. Kan sering tuh kejadian kalo orang yang melaporkan kejahatan malah jadi tersangka. Jujur Gue ga siap kalo tiba-tiba dijadiin tersangka kejahatan," kata Mario.
"Lo tenang aja. Gue yang ngomong nanti," kata Nathan.
"Sebentar Nath, jangan gegabah. Lo pikir Polisi bakal percaya sama cerita Lo yang kebanyakan unsur mistisnya itu ?. Kalo Gue sama Mario sih jelas percaya karena Kita kan temen, tapi belum tentu Polisi sama kaya Kita. Lo harus punya bukti Nath," kata Ferdi mengingatkan.
Nathan pun terdiam karena bingung. Tiba-tiba ia teringat gumpalan kertas yang berisi tulisan tadi.
"Gue punya ini. Gue harap ini cukup untuk menyingkap kematian Mbak Iis," kata Nathan sambil memperlihatkan gumpalan kertas dan secarik kain lusuh berwarna kuning.
"Apaan tuh Nath, coba Gue liat !" kata Ferdi penasaran.
"Jangan !" kata Nathan sambil menjauhkan kedua benda itu dari jangkauan tangan Ferdi.
"Pelit banget sih Lo !" kata Ferdi kesal.
"Ini barang bukti yang bakal Gue kasih ke Polisi. Lo ga mau kan kalo sidik jari Lo ada di dua barang bukti ini ?. Gue aja megangnya pake plastik biar meminimalisir jejak sidik jari Gue !" kata Nathan sambil melotot.
Ucapan Nathan mengejutkan Ferdi dan Mario. Keduanya saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Ferdi juga mengurungkan niatnya untuk menyentuh dua barang bukti yang dimiliki Nathan.
"Kalo gitu Kita ke kantor Polisi sekarang. Mudah-mudahan bukti yang Lo bawa cukup buat membantu meringankan pekerjaan Polisi," kata Ferdi kemudian.
\=\=\=\=\=
Di kantor Polisi Mario dan Ferdi kembali bertemu dengan Polisi yang menangani laporan pertama mereka. Polisi yang masih mengenali mereka pun menyapa dengan ramah.
"Lho, Kalian lagi. Ada laporan apa lagi sekarang ?" sapa sang polisi bernama Ahmad setelah mempersilakan Mario, Ferdi dan Nathan duduk.
"Kami mau ngelanjutin laporan yang Kami buat kemarin Pak, bisa ga ?" tanya Ferdi.
"Laporan wanita hilang itu ?" tanya Ahmad.
"Iya Pak," sahut Ferdi cepat.
"Tentu saja boleh. Justru informasi tambahan seperti ini bisa membantu meringankan pekerjaan Kami," kata Ahmad.
Kemudian Nathan pun menyerahkan bukti yang dimilikinya kepada Ahmad. Nathan juga harus menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan sang polisi.
Kemudian Ahmad dan temannya mengeluarkan dua barang bukti yang terbungkus plastik itu setelah mengenakan sarung tangan.
__ADS_1
"Noda di kain kuning ini bisa dipastikan noda darah. Entah darah korban atau justru darah pelaku," kata Ahmad.
"Tulisan tangan ini juga bisa ditelusuri nanti," kata teman Ahmad.
"Ok, terima kasih atas kerja samanya ya Mas. Kami pastikan ga lama lagi teman Kalian yang hilang akan segera ditemukan," kata Ahmad sambil menjabat tangan Ferdi, Mario dan Nathan bergantian.
Ucapan kedua polisi di hadapannya membuat Nathan tersenyum sambil menghela nafas lega. Ia berharap kematian Iis segera terungkap dan jasadnya bisa segera dikebumikan dengan layak.
"Alhamdulillah. Kami tunggu ya Pak, makasih," kata Ferdi mewakili kedua temannya.
Setelah membuat laporan, Nathan, Ferdi dan Mario pun meninggalkan kantor polisi.
Ketiganya berpisah persis di depan kantor polisi karena pergi kearah yang berbeda. Ferdi dan Mario menaiki angkutan umum sedangkan Nathan masih berdiri di halte bus.
Nathan merapatkan jaket yang ia kenakan karena angin malam berhembus lebih kencang. Saat itu lah Nathan melihat sosok wanita bergaun kuning yang mirip Iis berdiri di bawah pohon tak jauh dari halte. Wanita itu nampak diam sambil menundukkan kepalanya.
"Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Semoga ini bisa membantu Kamu Mbak Iis," kata Nathan dalam hati.
Dan usai Nathan mengucapkan kalimat itu dalam hati, sosok wanita bergaun kuning mirip Iis itu pun hilang tanpa jejak. Nathan menghela nafas panjang lalu mengayunkan langkahnya menuju pangkalan ojeg motor yang mangkal tak jauh dari halte.
\=\=\=\=\=
Setelah menerima informasi tambahan dan barang bukti yang diserahkan Nathan, Ferdi dan Mario, polisi pun bergerak cepat.
Dua hari kemudian dua mobil patroli polisi nampak mendatangi rumah kost berwarna orange itu hingga mengejutkan warga.
"Ada kasus apa lagi sih. Kenapa Polisi sering banget mondar mandir di rumah kost oren itu ?" tanya seorang warga.
"Iya. Kalo kaya gini bikin resah warga namanya," kata warga lainnya.
"Kalo udah meresahkan, harusnya ditutup aja !" tambah warga dengan emosi.
Ferdi dan Mario yang juga mengetahui kedatangan para polisi di rumah kost khusus wanita itu pun menghubungi Nathan. Tanpa membuang waktu Nathan pun datang ke TKP karena penasaran.
Nathan terlambat. Saat tiba di sana ia melihat rumah kost dan rumah pemilik kost sudah dipasangi Police line.
"Ada apa Fer ?. Kenapa jadi dua rumah yang dipasangi Police line ?" tanya Nathan saat bertemu Ferdi dan Mario.
"Gue juga ga tau. Kita tunggu aja sebentar lagi. Tadi Gue sempet liat Pak Ahmad ada diantara Polisi yang bertugas. Mungkin Kita bisa tanya sama Pak Ahmad nanti," sahut Ferdi.
Nathan nampak menghela nafas dengan kasar karena tak ada yang bisa ia lakukan di sana selain menunggu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=