
Hilya baru saja usai dengan tugasnya dan sedang duduk di ruang khusus karyawan. Sebagian rekannya kini bertugas membantu dokter sedangkan sebagian lainnya nampak baru saja tiba dan sedang berganti pakaian.
Hilya melirik jam di pergelangan tangannya dan mengerutkan keningnya seolah tak percaya jika saat itu jam menunjukkan pukul empat sore.
"Udah waktunya pulang tapi ga sekali pun dia ngechat atau nelephon," batin Hilya sambil menghela nafas panjang.
Dia yang dimaksud Hilya adalah Nathan. Pria itu biasanya tak pernah lupa menanyakan kabar atau sekedar mengucap salam melalui sambungan telephon. Tak jarang juga Nathan mengirimi kalimat motivasi yang membuat Hilya tersenyum.
Meski pun sapaan Nathan melalui telephon atau chat itu mampu membuatnya tersenyum bahagia, tapi tak sekali pun Hilya membalas pesan Nathan itu.
Dan sekarang adalah minggu ke dua Nathan absen dari rutinitasnya itu. Walau merasa sedikit kehilangan, namun Hilya masih mencoba berpikir positif dan menganggap sepele kebiasaan Nathan itu.
"Mungkin dia lagi sibuk. Namanya juga Anak pemilik perusahaan, pasti dia bisa bertindak semaunya. Kalo lagi senggang ngechat, giliran sibuk ya lupa waktu," gumam Hilya mencoba menghibur diri.
Kemudian Hilya mulai berkemas dan berganti pakaian karena shiftnya segera berakhir.
Hilya melangkah dengan ringan menuju parkiran Rumah Sakit. Saat melintas di loby, tak sengaja Hilya melihat Nathan di sana. Awalnya Hilya mengira jika Nathan akan menjemputnya. Karena itu Hilya pun melangkah kearah Nathan untuk menyapa.
Namun saat langkahnya hampir tiba di hadapan Nathan, pria itu justru melangkah kearah lain tanpa mengindahkan Hilya sedikit pun. Tentu saja hal itu membuat Hilya bingung dan mengerutkan keningnya.
Dan saat Hilya menoleh mengikuti arah langkah Nathan, ia terkejut melihat pria itu mendekati seorang gadis yang baru saja keluar dari ruangan dokter. Tangan gadis itu nampak dibalut perban dan digips. Setelah bicara sejenak keduanya nampak melangkah beriringan meninggalkan loby Rumah Sakit.
Hilya mendengus kesal melihat sikap Nathan yang terlihat peduli pada gadis itu.
"Pantesan ga ngechat atau telephon, ternyata udah punya gebetan baru ...," gumam Hilya sambil tersenyum getir.
Hilya pun berdiri mematung di loby Rumah Sakit sambil menatap kepergian Nathan dan gadis itu dengan tatapan sedih. Entah mengapa melihat Nathan bersama gadis lain membuat hati Hilya sakit.
"Gapapa Hilya. Cowok baik kan bukan cuma dia. Masih banyak cowok baik di dunia ini yang bisa ngerti dan nerima Kamu apa adanya," gumam Hilya menyemangati diri.
Setelah mengucapkan itu Hilya pun beranjak pergi. Ia melangkah menuju parkiran sambil merapatkan jaketnya.
Saat sedang menstarter motornya, Hilya melihat mobil Nathan melintas di depannya. Hilya mengerutkan keningnya saat Nathan tak menoleh kearahnya sedikit pun atau membunyikan klakson. Nathan seolah memang tak melihat Hilya di sana dan itu membuat gadis itu kesal bukan kepalang.
"Ck, sekali masih bisa dimaklumin. Tapi kalo sampe dua kali pura-pura ga liat kan artinya dia emang sengaja cari gara-gara," gumam Hilya sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Setelah berhasil menguasai diri Hilya pun melajukan motornya meninggalkan area Rumah Sakit.
Tiba di rumah Hilya bergegas masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tas dan berganti pakaian. Setelahnya Hilya keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam. Memang seperti itu rutinitas Hilya jika tiba di rumah lebih awal. Ia selalu berusaha membantu sang nenek memasak makan malam agar wanita itu tak terlalu lelah saat tiba di rumah nanti.
Satu jam kemudian Hilya telah selesai memasak. Hanya masakan sederhana berupa ayam sambal hijau dan nasi putih karena keluarga mereka memang tak rewel soal makanan.
Hilya tersenyum saat melihat kakek neneknya masuk ke dalam rumah.
"Hmmm ... pantesan baunya semerbak gini. Nenek udah bilang tadi kan Kek, pasti Hilya yang masak nih. Ga taunya bener kan," kata nenek Hilya sambil meletakkan tas besarnya di meja.
"Iya Nek," sahut kakek Hilya sàmbil tersenyum.
"Masak apa Nak ?" tanya nenek Hilya sambil melangkah ke ruang makan.
"Cuma masak nasi sama ayam sambel ijo aja Nek," sahut Hilya sambil menata piring di atas meja makan.
"Alhamdulillah ..., itu juga enak kok. Kita syukuri yang ada, insya Allah akan ditambah sama Allah nanti," kata nenek Hilya sambil mengusap kepala Hilya dengan lembut.
"Iya Nek, Alhamdulillah ...," sahut Hilya.
"Terus kemana tiga Adikmu ?" sela Kakek Hilya.
"Kalo gitu sekarang Kamu istirahat dan mandi. Biar sisanya mereka yang ngerjain nanti," kata kakek Hilya sambil menatap ke sekelilingnya.
Hilya pun mengangguk karena tahu sang Kakek tak suka tiga sepupu laki-lakinya itu mengabaikan tugas yang telah dia berikan.
Selama ini Hilya dan ketiga sepupunya memang berbagi tugas mengurus kebersihan rumah. Jika Hilya kebagian memasak dan cuci pakaian, maka tiga sepupunya berbagi tugas mencuci piring, menyapu rumah plus mengepel, menyapu halaman, menyiram tanaman dan buang sampah.
Hilya pun masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelah sholat Maghrib Hilya keluar dari kamar dan mendapati tiga sepupunya yaitu Varel, Angga dan Bima sedang bicara serius. Ketiganya bahkan tak menyadari kehadiran Hilya karena asyik membahas sesuatu. Di sana juga ada kakek dan nenek mereka yang nampak mendengar dengan seksama cerita tiga remaja itu.
"Ehm !. Ngobrolin apaan sih, segitu fokusnya sampe ga ngeliat Aku di sini !" tegyr Hilya lantang.
"Eh Kakak ...," sahut Varel, Bima dan Angga bersamaan.
"Nah karena yang ditunggu udah dateng, ayo Kita makan sekarang. Kakek udah ga sabar nyicipin masakan Kakak Kalian," kata kakek Hilya seolah ingin menutupi sesuatu.
__ADS_1
"Iya Kek," sahut nenek Hilya dan ketiga sepupunya sambil bangkit dari duduk masing-masing.
"Eh, mau kemana Kalian ?. Aku baru aja mau duduk !" protes Hilya.
"Makaann ...!" sahut tiga sepupu Hilya dengan cuek hingga membuat Hilya mendengus kesal.
Karena Hilya tak segera bergabung di ruang makan, nenek Hilya pun memanggil dengan lantang.
"Hilya !" panggil sang nenek.
"Iya Nek !" sahut Hilya sambil bergegas melangkah menuju ruang makan.
Makan malam pun berjalan normal seperti biasa. Namun sepandai apa pun menutupi, toh Hilya tahu jika tatapan semua orang tertuju padanya. Apalagi itu tatapan iba yang membuatnya tak nyaman.
"Kenapa ngeliatin Aku kaya gitu sih. Ada apa, apa yang Kalian sembunyiin ?" tanya Hilya.
"Ga ada apa-apa kok. Udah makan aja," sahut nenek Hilya.
Jawaban sang nenek tak membuat Hilya puas. Ia merasa ada sesuatu yang penting berkaitan dengan dirinya.
" Varel !" panggil Hilya sambil menatap Varel dengan tatapan tajam.
"I-iya Kak," sahut Varel gugup.
"Bilang sekarang, atau Kakak ga jadi bayarin seragam futsal Kamu," ancam Hilya.
"Eh jangan Kak. Itu ... ini ... mmm ... maksudku," Varel nampak salah tingkah.
Melihat Varel yang gugup membuat Bima tak tega. Ia pun menyela pembicaraan lalu menjelaskan semuanya.
"Biar Aku yang bicara. Begini Kak Hilya, tadi Kami ngeliat Bang Nathan lagi makan bareng sama perempuan. Dari gerak-geriknya sih kayanya mereka pacaran. Kami mau deketin tapi terlambat karena Bang Nathan sama cewek itu keburu pergi. Nah yang jadi pertanyaan Kami, bukannya Kak Hilya pacaran sama Bang Nathan ?. Terus kenapa Bang Nathan justru jalan sama cewek lain. Apalagi cewek itu juga beberapa kali pegang tangan dan sandarin kepalanya ke Bang Nathan. Emangnya Kakak sama Bang Nathan udah putus ?" tanya Bima mewakili semua orang di ruangan itu.
Suasana di ruang makan pun hening sejenak.
"Oh itu. Kakak udah tau kok, Kalian tenang aja. Lagian Kakak sama Bang Nathan itu ga pacaran, Kami hanya berteman. Jadi Kami bebas untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Kalo Kalian liat Bang Nathan jalan sama cewek selain Kakak, ya ga usah bingung. Kan Kakak juga begitu," kata Hilya sesantai mungkin.
__ADS_1
Ucapan Hilya membuat semua orang saling menatap bingung. Namun sesaat kemudian mereka mengangguk lalu melanjutkan makan malam mereka karena tak ingin mencampuri urusan pribadi Hilya.
\=\=\=\=\=