
Setelah keluarga Bayan didera kesedihan akibat meninggalnya Arafah, kini keluarga Bayan tengah menyongsong bahagia. Bagaimana tidak, di usia kehamilan Ramadhanti yang memasuki usia persalinan kabar gembira lain pun datang menghampiri.
Nathan dan Hilya berencana menikah dua bulan lagi. Saat itu diperkirakan bayi Nicko dan Ramadhanti telah lahir.
"Usianya mungkin udah lebih dari empat puluh hari Bund. Jadi insya Allah ga masalah kalo diajak gabung ke dalam acara yang dihadiri banyak orang," kata Nicko sambil mengusap perut sang istri dengan lembut.
"Iya Bund. Lagian Kami ingin membiasakan Anak ini masuk ke lingkungan yang majemuk. Ya anggap aja acara pernikahan Bang Nathan sama Kak Hilya itu sebagai ajang untuk beradaptasi buat si kecil," kata Ramadhanti menambahkan.
"Ok deh. Kalo itu mau Kalian, Bunda ga bisa nolak kan ?" sahut Anna dengan mimik lucu.
Semua orang di ruangan itu pun tertawa melihat reaksi Anna.
"Terus Kamu udah siapin apa aja buat seserahan nanti Nath ?" tanya Ayu.
"Kalo itu Aku serahin ke Bunda aja Mbak. Aku udah kasih uangnya, ntar biar Bunda yang ngatur. Tolong dibantu ya Mbak biar ga salah pilih," kata Nathan sambil mengedipkan sebelah mata.
"Maksud Kamu apa ngomong begitu Nath. Kamu pikir Bunda ga tau barang bagus ya !" kata Anna lantang sambil menjewer telinga Nathan dengan gemas.
"Aduuhh ... ampun Bund. Aku cuma bercanda kok," kata Nathan sambil meringis kesakitan.
"Bercanda Kamu ga lucu tau ga ?!" kata Anna kesal.
"Iya iya, maaf ya Bunda Sayang," kata Nathan sambil memeluk sang Bunda dengan erat.
Anna nampak melengos sebal menerima perlakuan Nathan. Sedangkan semua orang kembali tertawa karena interaksi Anna dan Nathan itu.
\=\=\=\=\=
Waktu yang ditunggu pun tiba.
__ADS_1
Bayi Nicko dan Ramadhanti yang berjenis kelamin perempuan itu lahir di Rumah Sakit Bersalin tepat saat adzan Zuhur berkumandang.
Ayu yang turut menunggui proses persalinan bersama Anna pun nampak tak kuasa menahan tangis. Ia kembali teringat dengan dua anaknya yang telah pergi mendahului.
Ayu masih terus menangis meski pun Ramadhanti dan bayinya telah dipindahkan ke ruang rawat inap. Anna yang duduk di sampingnya pun berusaha menghibur Ayu.
Melihat kondisi Ayu yang kacau membuat Nicko dan Ramadhanti saling menatap sejenak dengan tatapan yang sulit dibaca. Sesaat kemudian Ramdhanti nampak menggelengkan kepala tanda ia menolak keinginan suaminya.
Rupanya Nicko berniat ingin 'meminjamkan' bayinya sebentar pada Ayu. Mengajak Ayu ikut mengasuh bayi itu lebih tepatnya. Nicko akan memberi akses penuh pada Ayu untuk mengasuh dan memanjakan bayinya nanti. Bahkan Nicko tak keberatan jika bayinya akan tinggal di rumah Ayu selama beberapa waktu.
Nicko hanya ingin agar Ayu tak lagi bersedih karena harus teringat Arafah saat melihat bayinya itu. Namun niat Nicko ditentang Ramadhanti. Wanita itu tentu saja tak rela berbagi Anak meski dengan saudari iparnya.
"Ga Mas. Jangan kaya gitu. Itu sama aja Kamu mendidik Mbak Ayu jadi sosok yang cengeng. Padahal Kita semua udah berhasil membuat Mbak Ayu kuat selama ini," bisik Ramadhanti gusar sambil memeluk erat bayinya.
"Ini cuma sementara aja Sayang. Aku cuma ingin menghibur Mbak Ayu sebentar. Nanti kalo dia udah cukup kuat, Kita bisa tegaskan lagi kalo bayi ini adalah Anak Kita," kata Nicko.
"Pokoknya jangan lakukan itu Mas !. Kalo Kamu berani lakukan itu, Aku ga akan segan lagi. Aku bersumpah akan bawa bayi ini pergi sejauh mungkin !" ancam Ramadhanti ketus sambil menatap tajam kearah Nicko.
"Jangan ribut lagi Anak-anak !. Apa Kalian ga malu ribut di hadapan bayi yang baru aja hadir di dunia ini ?" tanya Anna kesal.
Ucapan Anna menyadarkan Nicko dan Ramadhanti. Keduanya pun mengangguk lalu mengganti topik pembicaraan. Sedangkan Ayu terlihat lebih tenang. Ia kini bisa mengusai diri dan nampak tersenyum.
"Apa Kalian udah nyiapin nama untuk bayi cantik itu ?" tanya Ayu sambil bangkit dari duduknya.
"Udah Mbak," sahut Nicko dan Ramadhanti bersamaan.
"Oh ya. Siapa namanya ?" tanya Ayu penasaran.
"Namanya Nira Asshifa. Nira adalah singkatan nama Aku sama Dhanti, yaitu Nicko dan Ramadhanti. Nira juga berarti air yang manis. Sedangkan Asshifa artinya menyembuhkan luka, bisa luka hati atau luka badan. Jadi secara keseluruhan Nira Asshifa artinya Gadis manis yang menjadi penyembuh luka. Kami harap kehadiran Nira bisa membawa kebahagiaan dan bisa menyembuhkan luka hati semua orang," sahut Nicko dengan bangga.
__ADS_1
"Nama yang cantik. Bukan begitu Bund ?" tanya Ayu sambil menoleh kearah Anna.
"Betul. Bunda suka banget sama nama itu. Nira ..., boleh ga Bunda panggil begitu ?" tanya Anna sambil menatap bayi di pelukan Ramadhanti itu dengan tatapan sayang.
"Tentu boleh dong Bund. Kami juga berencana manggil dia Nira kok," sahut Nicko yang diangguki Ramadhanti.
Dan suasana di kamar siang itu semakin semarak dengan kehadiran Nathan, Bayan, Fikri dan kedua orangtua Ramadhanti. Semua orang nampak bahagia dengan kehadiran Nira Asshifa.
Namun diantara mereka nampak Ayu yang duduk sambil berusaha menahan getir. Ternyata kehadiran Nira Asshifa membuat rasa rindunya pada sang anak kembali berkobar. Dan tanpa Ayu sadari, air mata pun jatuh mengalir di pipinya.
\=\=\=\=\=
Sejak Nira Asshifa lahir, Ayu kerap berkunjung ke rumah Nicko dan Ramadhanti. Letak rumah mereka yang tak jauh dari klinik tempat Fikri bekerja, membuat Ayu punya seribu alasan agar bisa 'mampir' ke sana.
Seperti siang ini Ayu kembali datang berkunjung ke rumah Nicko dan Ramadhanti usai mengantar makan siang untuk suaminya. Hal yang pertama kali dilakukan saat tiba di rumah itu adalah menemui Nira Asshifa. Ayu akan mengusik bayi yang baru saja tidur usai mengonsumsi ASI itu hingga sang bayi menangis.
Sikap Ayu yang 'over acting' itu membuat Ramadhanti kesal. Karena ia tak bisa mengerjakan hal lain yang biasanya ia lakukan saat bayinya tertidur. Biasanya saat Nira Asshifa terjaga karena diusik, bayi itu akan rewel dan terus menangis. Bayi itu baru berhenti menangis jika sudah digendong dan disusui olehnya.
Kejadian itu terus berulang dan membuat Ramadhanti kesal hingga mengalami depresi. Itu karena Ramadhanti terus menahan kemarahan di dalam hatinya. Bahkan Ramadhanti hampir tak punya waktu untuk istirahat karena harus terus menggendong dan menyusui bayinya. Dan rasa kesalnya akan ia lampiaskan kepada suaminya saat Nicko pulang kerja nanti.
Melihat perubahan sikap istrinya membuat Nicko yang juga lelah tak bisa mengusai diri. Pertengkaran besar pun tak terelakkan dan berakhir dengan perginya Ramadhanti dari rumah.
Awalnya Nicko menduga jika istrinya itu hanya pulang ke rumah mertuanya yaitu Ustadz Zulkifli. Kebetulan rumah sang mertua juga tak terlalu jauh dari rumah mereka. Hanya sekitar sepuluh menit saja jika ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah.
Namun saat Nicko datang untuk menjemput ke sana, ia terkejut karena tak mendapati Ramadhanti dan Nira Asshifa di sana.
Bisa ditebak bagaimana reaksi ustadz Zulkifli dan istrinya saat mengetahui anak dan cucu mereka pergi tanpa pamit.
Nicko hanya bisa duduk sambil membisu mendengar omelan ibu mertuanya itu. Ia tak menyangka Ramadhanti akan membuktikan ancaman yang pernah diucapkannya dulu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=