
Untuk merayakan keberhasilannya menjadi salah satu pemenang di lomba melukis yang diikutinya, Nicko meminta Nathan membawanya ke suatu tempat. Nathan pun mengajak sang adik mampir ke sebuah rumah makan lesehan.
"Daripada buang-buang uang ga karuan, mendingan Kita makan Nick," kata Nathan saat sang adik menanyakan alasannya pergi ke Rumah makan itu.
"Tapi maksud Aku bukan makan berat Bang. Ya Kita nyantai aja, ngopi kek atau apa gitu," protes Nicko.
"Udah ga usah cerewet. Kamu belum tau aja rasanya jadi Anak kost. Buruan pesen deh, Abang lapar nih. Kamu mau nraktir Abang kan, jadi terserah Abang makan apa," sahut Nathan.
Nicko nampak mendengus kesal mendengar ucapan sang kakak. Ia membayangkan akan dibawa ke suatu tempat yang menyenangkan dan bukan makan lesehan yang bisa dia nikmati dimana pun termasuk di Jakarta.
Melihat wajah Nicko yang ditekuk membuat Nathan tersenyum diam-diam. Ia memang sengaja membawa Nicko ke rumah makan itu karena ia ingin sang adik makan setelah seharian tak makan dengan baik. Dan saat melihat Nicko makan dengan lahap, Nathan pun tertawa.
"Kenapa ketawa, emang ada yang lucu Bang ?" tanya Nicko dengan mulut penuh.
"Iya, Kamu yang lucu," sahut Nathan di sela tawanya.
"Apaan sih, ga jelas banget," kata Nicko kesal.
"Kamu tuh kesel, marah waktu Abang ajak ke sini. Tapi pas tau makanannya enak, eh makannya lahap banget. Abang aja kalah sama Kamu," kata Nathan sambil tersenyum.
Mendengar ucapan sang kakak membuat Nicko tersipu malu. Ia memang lapar. Jatah makan siang yang diberikan pihak penyelenggara tadi siang memang tak sesuai dengan lidahnya. Jadi Nicko pun memberikan kotak makan siangnya kepada seorang pemulung yang kebetulan melintas di depannya tadi.
"Iya, Aku emang lapar karena ga makan siang tadi," kata Nicko malu-malu setelah menyelesaikan makannya.
"Ok. Setelah ini Kita pulang dan istirahat di rumah. Karena Kamu juga harus siapin stamina biar bisa ikutan wisata malam yang jadi hadiahmu tadi. Soal jalan-jalan, selagi Kamu masih disini insya Allah bakal Abang tunjukin tempat yang seru nanti," kata Nathan tegas.
Nicko pun mengangguk pasrah karena tahu tak mungkin membantah ucapan sang kakak.
\=\=\=\=\=
Saat tiba di depan rumah kost, Nathan dan Nicko disambut oleh seorang gadis cantik bernama Ira. Dia adalah kekasih Nathan.
"Udah lama nunggunya Ra ?" tanya Nathan.
"Lumayan," sahut Ira cepat sambil menatap Nicko lekat.
__ADS_1
"Oh iya. Ini kenalin Adikku Nicko, baru kemarin datang dari Jakarta," kata Nathan memperkenalkan adiknya.
"Hai Nicko, Aku Ira pacarnya Kakakmu. Salam kenal ya," sapa Ira dengan ramah.
"Hai Kak. Seneng bisa kenal langsung sama pacarnya Bang Nathan," sahut Nicko sambil melirik Nathan.
Nathan dan Ira pun tertawa mendengar ucapan Nicko. Setelah basa basi sejenak, Nicko pun pamit untuk istirahat di kamar.
Kemudian Nicko membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil meraih ponselnya yang berdering. Rupanya sang bunda yang menghubunginya dan menanyakan hasil lomba yang ia ikuti hari ini melalui sambungan video call.
Nicko pun menceritakan kemenangan yang ia peroleh dan itu membuat Anna bersorak bahagia. Melihat ekspresi sang bunda yang antusias membuat Nicko tersenyum.
"Cuma juara harapan satu Bund, bukan juara satu. Kenapa Bunda seneng banget sih ?" tanya Nicko.
"Itu kan juga prestasi Nak. Kamu harus sabar dan bersyukur karena semua orang pasti juga ngalamin prosesnya. Sesuatu yang didapat secara instan atau mudah ga akan berkesan karena biasanya akan hilang dengan cepat juga. Jadi nikmati prosesnya dan syukuri kemenanganmu. Bunda dan Ayah bangga sama Kamu Nak," kata Anna lembut.
Ucapan Anna membuat hati Nicko menghangat. Ia pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan sang bunda.
Saat Anna menanyakan keberadaan Nathan, dengan kesal Nicko menceritakan kehadiran Ira. Anna yang mendengar 'curahan hati' si bungsu pun tertawa keras hingga membuat Bayan yang duduk di depannya mengerutkan kening. Karena penasaran, Bayan pun duduk di samping istrinya untuk melihat si bungsu bicara.
"Siapa namanya ?" tanya Anna.
"Katanya sih Ira," sahut Nicko dengan enggan.
"Jangan terlalu benci sama orang. Siapa tau justru dia lah yang akan membantumu saat kesulitan nanti. Dan siapa tau Ira juga bakal jadi Kakak iparmu karena menikah sama Abang," kata Anna sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck, Bunda nih gimana sih. Bukannya marah malah ngedukung pacarnya Abang. Cewek itu bukan orang baik Bund !" kata Nicko gusar hingga membuat Anna terkejut.
"Darimana Kamu tau kalo Ira bukan orang baik ?" tanya Anna penasaran.
"Kalo dia orang baik, ga bakalan dia main ke kost-an cowok jam segini. Ini udah malam lho Bund, jam sembilan malam. Apa Abang ga takut dimarahin sama Ibu kost. Lagian Aku juga bingung sama temennya Abang. Ga satu pun yang ngingetin Abang kalo ga baik ngobrol sampe malam sama cewek. Yah, walau cuma di teras tetep aja ga pantes. Apalagi ini kan kost cowok Bund !" kata Nicko kesal namun kembali membuat Anna dan Bayan tertawa.
"Itu wajar. Karena ga bakal ada temen Abang yang berani negur Anak pemilik kost yang datang buat nagih uang kost Nick," kata Anna setelah tawanya mereda.
Ucapan sang bunda membuat Nicko terkejut. Bahkan Nicko merubah posisi berbaringnya menjadi duduk karena saking terkejutnya. Ia tak menyangka jika Ira adalah anak pemilik kost yang ditempati Nathan.
__ADS_1
Keterkejutan Nicko teralihkan saat Nathan masuk ke dalam kamar. Melihat sang adik sedang bicara dengan orangtuanya, Nathan pun ikut bergabung. Selesai bertegur sapa dengan orangtuanya, Nathan pun membersihkan diri dan berganti pakaian.
Saat menoleh kearah tempat tidur Nathan melihat sang adik yang terlelap.
"Udah tau capek masih aja pengen jalan-jalan. Dasar ABG labil," gumam Nathan sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah memadamkan lampu kamar, Nathan pun menggelar kasur lipat tepat di samping tempat tidur. Ia berbaring di sana dan sesaat kemudian Nathan ikut terlelap.
Namun baru saja terlelap Nathan merasa terganggu dengan suara gumaman Nicko. Nathan pun membuka mata lalu mengamati adiknya. Nathan melihat Nicko yang terus bicara sambil memejamkan mata. Tak hanya itu, Nicko juga nampak mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir sesuatu di udara.
Nathan yang mengerti jika adiknya bermimpi buruk pun bergegas membangunkannya. Ia mengguncang bahu Nicko dan menepuk pipinya beberapa kali hingga Nicko terbangun. Nicko nampak terkejut melihat ruangan yang gelap.
"Apaan Bang, mati lampu ya ?" tanya Nicko sambil mengucek matanya.
"Bukan mati lampu, Abang emang sengaja matiin lampu tadi. Kamu nih kenapa ?. Ngapain ngomong sambil tidur ?" tanya Nathan sambil berdiri lalu menyalakan lampu kamar.
Nicko nampak menghalangi kedua matanya dengan telapak tangan agar terbiasa dengan suasana kamar yang mendadak terang itu.
"Aku mimpi barusan," kata Nicko.
"Mimpi apaan ?" tanya Nathan.
Nicko pun menjelaskan jika ia baru saja bermimpi bertemu seorang wanita cantik. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang yang bagus layaknya seorang pengantin.
Awalnya semua baik-baik saja. Nicko melihat wanita itu berjalan menuju altar seorang diri sambil tersenyum. Saat itu Nicko berada di barisan para tamu yang bersiap menyaksikan sebuah prosesi pernikahan. Namun sesuatu terjadi dan mengejutkan semua orang.
Saat tiba di altar, wanita itu berdiri membelakangi tamu untuk beberapa detik. Lalu kepala wanita itu menoleh kearah para tamu sambil tersenyum. Para tamu menjerit karena menyaksikan gaun putih wanita itu berubah merah setelah dibasahi darah yang berasal dari lehernya. Nicko pun panik karena menyaksikan posisi tubuh wanita itu yang terlihat tak wajar.
"Ga wajar gimana ?" tanya Nathan penasaran.
"Badannya berdiri tegak menghadap ke depan, tapi wajahnya menghadap ke belakang. Abang paham kan maksudku ?" tanya Nicko gusar.
Ucapan Nicko sontak membuat bulu kuduk Nathan meremang. Ia terdiam karena tak menyangka sang adik mengalami mimpi buruk saat tidur di kamarnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1