Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
121. Jutek Amat


__ADS_3

Hari itu Usman datang mengunjungi Rosiana di penjara. Sendiri tanpa Mak Ejah. Tentu saja itu menimbulkan tanda tanya di benak Rosiana.


"Dimana Mak ?" tanya Rosiana sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.


"Aku ga tau Ci. Waktu Aku datang ke kontrakannya, Mak ga ada di sana. Aku udah tanya sama tetangganya tapi ga seorang pun yang tau Mak pergi kemana," sahut Usman.


"Masa sih. Ga ada gimana maksud Kamu?" tanya Rosiana tak mengerti.


"Iya Ci. Ada yang bilang kalo sebelumnya ada tiga pria bertamu ke rumah Mak. Nah sejak itu Mak ga keliatan lagi. Kayanya setelah mereka datang Mak pergi, entah ikut mereka atau justru kabur. Karena tetangga bilang tiga pria itu ngakunya keluarga Mak yang mau jemput Mak pulang," kata Usman.


Ucapan Usman membuat Rosiana terdiam. Ia tahu betul jika Mak Ejah tak punya keluarga. Karena selama hidup bersama, tak sekali pun mak Ejah mempertemukannya dengan keluarganya.


Seolah bisa membaca pikiran Rosiana, Usman pun mengatakan sesuatu yang membuat Rosiana mengerti.


"Mungkin bukan keluarga tapi mantan keluarga Ci. Mak Ejah kan pernah menikah, jadi mungkin keluarga mantan suaminya yang datang untuk mengabarkan sesuatu," kata Usman.


"Jadi ... sekarang Aku sendirian. Kan Mak udah pergi, balik sama keluarganya," gumam Rosiana.


"Ga Ci. Kamu ga sendirian. Ada Aku yang bakal nemenin Kamu dan nungguin Kamu pulang," sahut Usman sambil menggenggam jemari Rosiana erat.


"Tapi Aku masih lama di penjara Man. Apa Kamu ga bosen nanti. Lebih baik Kamu cari wanita lain aja untuk jadi Istrimu," kata Rosiana lirih.


"Aku ga peduli. Asal Kamu bilang Kamu mau jadi Istriku, selama apa pun Aku bakal nunggu Kamu," kata Usman sambil menatap Rosiana lekat.


"Iya Man, Aku mau jadi Istrimu ...," sahut Rosiana dengan suara bergetar.


Usman tersenyum kemudian memeluk Rosiana sebentar. Ia juga mengecup kening Rosiana sekilas hingga membuat hati wanita itu menghangat.


Kemudian Usman melepaskan cincin yang dipakainya lalu memberikannya kepada Rosiana.


"Aku ga bawa benda berharga sekarang. Jadi Aku kasih cincin ini untuk Kamu sebagai tanda pengikat. Aku harap tiap kali ngeliat cincin ini Kamu juga inget sama Aku," kata Usman sambil menyematkan cincin perak berhias batu panca warna kebanggaannya ke jari Rosiana.


"Tapi ini kan cincin kesukaan Kamu Man," kata Rosiana.


"Iya. Makanya Aku titip sama Kamu. Tolong jaga cincin ini seperti Kamu menjaga hatimu untukku," kata Usman sambil mengedipkan sebelah matanya hingga membuat Rosiana tertawa.

__ADS_1


Usman pun tersenyum melihat Rosiana tertawa. Ia berharap bisa melihat tawa Rosiana sepanjang sisa hidupnya nanti.


\=\=\=\=\=


Nathan sedang kesal karena harus menunda kepulangannya. Itu karena ia tak sengaja terlibat kecelakaan di jalan. Mobil yang Nathan kendarai tak sengaja menabrak motor hingga membuat tiga penumpangnya terhempas ke jalan beraspal.


Beruntung kondisi jalan yang Nathan lalui tak sepadat seperti biasanya hingga tiga orang pelajar SMA itu selamat dari maut.


Polisi nampak sedang menginterogasi ketiga pelajar itu sedang Nathan harus bersabar menunggu giliran. Berkali-kali ia melirik jam di pergelangan tangannya dengan kesal. Sadar jika tak akan bisa tiba tepat waktu, Nathan pun menghubungi sang adik.


"Assalamualaikum Bang, dimana ?. Sebentar lagi team Kita masuk lapangan nih," kata Nicko dari seberang telephon.


Saat itu club sepak bola yang Nathan dan Nicko ikuti akan bertanding dengan club lain. Nathan terpilih menjadi penyerang karena mahir menguasai bola.


"Wa Alaikumsalam. Tolong suruh yang lain ngisi posisi Abang ya Nick. Kayanya Abang ga bisa datang ke sana sekarang," kata Nathan.


"Lho kenapa Bang ?" tanya Nicko.


"Abang ga sengaja nabrak motor nih. Kayanya bakal panjang urusannya. Jadi tolong salam aja buat yang lain ya," sahut Nathan.


"Alhamdulillah Abang gapapa kok. Udah dulu ya Nick, Abang mau ditanyain Polisi nih," kata Nathan mengakhiri percakapan mereka.


Saat Nathan sedang ditanyai, tiba-tiba suara seorang wanita terdrngar menggelegar hingga mengejutkan semua orang terutama ketiga pelajar pria itu.


"Apalagi sih yang Kalian buat ?!. Kalian tuh bisanya emang bikin masalah terus ya !" kata seorang wanita sambil menampar ketiga pelajar itu satu per satu.


Nathan mengerutkan keningnya menyaksikan ketiga pelajar itu terdiam saat mendapat tamparan dari seorang wanita yang ukuran tubuhnya saja tak lebih tinggi dari mereka.


Saat wanita itu hendak menampar lagi, Nathan pun maju menghalangi. Ia mencekal tangan wanita itu hingga membuat wanita itu mendelik marah.


"Siapa Lo, ngapain megangin tangan Gue ?!" kata wanita itu sambil melotot.


"Gue yang nabrak mereka. Maksud Gue, ga sengaja nabrak," sahut Nathan cepat.


"Ooh ... jadi ini orang yang bikin tiga berandalan cilik ini jatuh. Bagus, makasih ya," kata wanita itu sambil tersenyum lalu menjabat tangan Nathan erat.

__ADS_1


Sikap wanita itu membuat Nathan bingung. Baru sesaat yang lalu marah namun sedetik kemudian tersenyum.


"Maaf. Maksudnya gimana ya ?" tanya Nathan tak mengerti.


Wanita itu mengabaikan pertanyaan Nathan. Ia membalikkan tubuhnya lalu melangkah mendekati polisi yang bertugas. Wanita itu nampak bicara beberapa hal lalu menemui tiga pelajar itu.


"Sekarang Kalian ikut sama Polisi ke kantor Polisi. Nginep aja di sel tahanan sampe urusannya selesai," kata wanita itu dengan ketus.


"Ga mau Kak. Tolong jangan suruh Polisi nangkep Kami. Kami janji ga akan bikin ulah lagi nanti," kata salah satu pelajar menghiba.


"Enak aja. Kalian udah melanggar aturan, kok mau kabur. Katanya udah dewasa, jadi tanggung jawab lah sama perbuatan Kalian," sahut wanita itu dengan ringan.


"Ampun Kak. Tolong jangan kaya gini Kak ...," kata ketiga pelajar itu bersamaan sambil mengguncang lengan wanita itu.


Nathan pun mengerti apa yang terjadi. Nampaknya wanita itu adalah kakak salah seorang diantara tiga pelajar itu. Sang kakak, yang kemudian diketahui bernama Hilya, tampaknya sudah lelah menasehati adiknya. Hingga saat mendengar kabar kecelakaan itu ia datang ke lokasi kecelakaan, bukan untuk menuntut sang penabrak tapi justru ingin mengucapkan terima kasih.


Hilya merasa kecelakaan itu adalah moment yang tepat untuk mendidik sang adik. Karenanya ia juga meminta polisi membawa sang adik ke kantor polisi. Setelah diusut, selain melanggar aturan berkendara karena menaiki motor bertiga tanpa helm, ternyata motor juga tanpa dokumen lengkap alias bodong.


Diam-diam Nathan tersenyum melihat bagaimana kerasnya Hilya menolak permintaan tiga pelajar itu.


"Kita selesaikan ini di kantor aja ya Pak. Kami akan bawa Anak-anak itu ke kantor dan Bapak silakan mengikuti Kami," kata polisi.


"Baik Pak," sahut Nathan.


Dan dengan tak tahu malunya ketiga pelajar pria itu menangis saat polisi menyuruh mereka naik ke mobil polisi. Hilya hanya menatap mereka dalam diam sambil bersedekap. Setelahnya ia menghela nafas panjang seolah beban berat di pundaknya terlepas begitu saja.


"Apa menyenangkan melihat mereka digelandang ke kantor Polisi ?" tanya Nathan hingga membuat Hilya menoleh.


"Ga usah ikut campur kalo ga tau masalah sebenernya," sahut Hilya ketus sambil melangkah ke motor miliknya yang terparkir di bahu jalan.


Sesaat kemudian Hilya nampak memacu motornya meninggalkan Nathan begitu saja.


"Jutek amat sih. Tapi lucu juga," gumam Nathan sambil tersenyum.


Tak lama kemudian Nathan masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju kantor polisi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2