Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
173. Jasad Heri


__ADS_3

Suasana bahagia yang semula menyelimuti keluarga Nathan dan Hilya pun musnah dalam sekejap akibat kabar duka yang dibawa opa Hilya.


Setelah menyampaikan kabar duka itu opa Hilya pamit undur diri karena harus segera mengurus jenasah anaknya.


Kakek dan nenek Hilya hanya membisu melepas kepergian mantan besannya itu. Rupanya luka yang ditorehkan opa Hilya terlalu dalam dan membuat keduanya sulit untuk memaafkan.


Di sisi lain terlihat Nathan yang menggendong Hilya lalu membawanya ke ruang ganti. Ia membaringkan tubuh sang istri perlahan di sofa bed yang tersedia di sudut ruangan.


Beberapa saat kemudian semua orang masuk untuk melihat kondisi Hilya.


"Gimana keadaan Hilya Nath ?" tanya Anna cemas.


"Masih pingsan Bund," sahut Nathan sambil menciumi kening sang istri.


"Ck, gimana mau siuman kalo diciumin terus Nath. Diobatin atau kasih sesuatu kek biar Hilya siuman. Kamu nih gimana sih ?!" kata Anna kesal namun membuat seisi ruangan tertawa.


Nathan nampak nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Aku pikir Hilya emang butuh istirahat Bund. Berita yang dia denger tadi bikin dia shock. Apalagi Hilya juga lelah usai menyambut tamu tadi. Makanya Aku sengaja ga bangunin Hilya dan berharap dia lebih siap menghadapi semuanya saat bangun nanti," kata Nathan.


"Betul juga sih. Tapi dibangunin aja dulu, kasih obat kalo perlu. Setelah itu baru disuruh istirahat," kata Anna setengah memaksa.


"Iya iya Bunda Sayang. Sabar yaaa ...," sahut Nathan gemas hingga membuat semua orang kembali tertawa.


Setelah Nathan mengusahakan beberapa cara, akhirnya Hilya pun siuman. Hilya menatap ke sekelilingnya dengan tatapan nanar seolah mencari sesuatu. Saat tatapannya membentur sang nenek, Hilya pun menangis.


"Neneeekkk ..., Ayah Neekk ...," rintih Hilya sambil memeluk sang nenek.


"Iya Nak. Yang sabar ya. Hilya pasti kuat kan," kata sang nenek sambil mengusap punggung Hilya dengan lembut.


"Tapi itu bohong kan Nek. Aku baru aja ketemu sama Ayah. Kami juga janjian mau ketemu lagi nanti ...," kata Hilya di sela tangisnya.

__ADS_1


"Opa Kamu ga bohong Hilya. Barusan juga ada Polisi yang datang dan ngasih tau berita yang sama," kata kakek Hilya.


Ucapan sang kakek membuat Hilya menangis lebih keras hingga suasana di dalam ruangan dipenuhi rasa sedih. Tiga sepupu Hilya yang biasa 'ramai' pun tampak membisu karena ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan Hilya.


"Ehm ..., maaf kalo terkesan lancang. Tapi sebaiknya Kita pulang dulu ke rumah. Di sana Kita bisa susun rencana lebih matang apa yang bakal Kita lakukan nanti. Kalo di sini ga enak, ga leluasa karena banyak orang mondar-mandir. Lagi pula gedung harus segera dibersihkan kan," kata Nathan tiba-tiba.


Bayan tersenyum bangga mendengar ucapan Nathan yang bisa menentukan sikap sedangkan yang lain nampak mengangguk setuju.


Tak lama kemudian mereka pun meninggalkan gedung tempat digelarnya pesta pernikahan Nathan dan Hilya itu. Sesuai kesepakatan bersama, mereka akan berkumpul di rumah Bayan.


Saat tiba di rumah, Hilya kembali digendong oleh Nathan karena terlalu lemas dan tak sanggup berjalan.


"Sayang, maafin Aku karena udah ngerepotin Kamu di hari pertama pernikahan Kita ya ...," bisik Hilya dalam dekapan Nathan.


"Sssttt ..., ga usah ngomong begitu. Kamu Istriku, tentu aja Aku akan melakukan banyak hal untuk meringankan bebanmu. Kamu tinggal bilang apa yang Kamu mau, insya Allah Aku bakal lakuin kalo Aku mampu," kata Nathan sambil mengecup kening Hilya beberapa saat hingga membuat sang istri tersenyum.


Kemudian Nathan membawa Hilya ke ruang keluarga karena Hilya tak mau diajak masuk ke dalam kamarnya.


"Tapi Aku ga tau dimana rumah Opa, Yah. Kalo Nenek dan Kakek ga mau ikut, terus siapa yang jadi penunjuk jalan ...," kata Hilya dengan mata berkaca-kaca


Sebenarnya bukan itu alasan utama Hilya. Ia ingin kakek dan neneknya memaafkan ayahnya sekaligus mengantar kepergiannya ke tempat peristirahatan terakhir.


Semua orang menatap kakek dan nenek Hilya hingga membuat kedua orang itu menghela nafas pasrah.


"Kakek sama Nenek bakal ikut besok Hilya," kata kakek Hilya kemudian.


Hilya dan semua orang tersenyum lalu mengangguk setuju. Setelahnya mereka pun mengatur tempat agar semua orang bisa istirahat malam itu.


Bayan dan Anna, juga Nathan dan Hilya menempati kamar masing-masing. Kakek dan nenek Hilya tidur di kamar Nicko sedangkan tiga sepupu Hilya tidur di ruang keluarga. Ayu mengajak Dhanti, Nicko dan bayinya istirahat di rumah supaya Nira bisa tidur lebih nyaman.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Pagi itu semua orang tampak bersiap pergi ke rumah orangtua Heri. Tapi Nicko melarang Dhanti ikut dan memintanya istirahat di rumah Fikri ditemani Ayu. Semua orang setuju karena saat itu Nira masih terlalu ringkih untuk diajak bepergian jauh.


Tak lama kemudian dua mobil itu pun bergerak menuju ke rumah opa Hilya di Karawang.


Di dalam perjalanan nenek Hilya menceritakan apa yang ia alami di toilet semalam. Bayan, Anna, Nathan, Hilya dan kakeknya nampak mendengarkan dengan serius.


"Jadi Heri ngasih tau sandi brankasnya sama Kamu. Apa itu bisa dipercaya Nek ?. Kita semua tau kalo Heri udah meninggal saat dia menemui Kamu," kata kakek Hilya gusar.


"Aku juga mikir begitu Kek. Jangan-jangan hantunya Heri bohong cuma untuk menyenangkan Aku," sahut nenek Hilya sedih.


"Tapi kalo Saya percaya sama Ayahnya Hilya itu Mak, Pak. Walau pun Saya belum kenal secara pribadi, tapi Saya yakin hantu Pak Heri mengatakan yang sebenarnya. Sekarang kalo dipikir-pikir mana mungkin Pak Heri datang menemui Mak, Hilya dan Nathan kalo bukan karena sesuatu yang diniatkan. Mungkin saat berangkat dari rumah, Pak Heri memang udah niat menemui Kalian bertiga. Tapi sayang malaikat maut keburu datang menjemput. Dan saat ruhnya pergi dari raganya, niat itu terus terbawa hingga Allah ijinkan untuk terwujud," kata Bayan.


"Masuk akal. Kan kadang orang yang meninggal ga sadar kalo dirinya udah meninggal. Sering juga kejadian mereka menampakkan diri untuk menyampaikan pesan terakhir atau minta tolong agar jasadnya disempurnakan," kata Nathan menambahkan.


Semua orang terdiam mengiyakan. Tak lama kemudian mobil mulai memasuki area perumahan tempat opa Hilya tinggal. Agak sulit menemukan rumah yang dimaksud karena kakek dan nenek Hilya lupa dimana letaknya. Selain itu sudah banyak perubahan di sana sini yang membuat kakek dan nenek Hilya bertambah bingung.


Setelah bertanya pada warga, mereka pun diarahkan ke sebuah rumah yang menjadi rumah duka tempat jenasah Heri dan istrinya disemayamkan.


Opa dan oma Hilya pun berdiri menyambut kedatangan Hilya, kakek dan neneknya. Oma Hilya bahkan menangis melihat cucu perempuan yang ditolaknya dulu kini telah tumbuh menjadi wanita cantik, pintar dan sukses.


Hilya tak merespon pelukan sang oma. Tatapan matanya tertuju pada sepasang peti meti di tengah ruangan. Rupanya kondisi tubuh Heri dan istrinya sangat tak memungkinkan untuk dikafani hingga Rumah Sakit meletakkan jasad keduanya di dalam peti mati.


Setelah sang oma mengurai pelukannya, Hilya pun masuk ke dalam rumah didampingi Nathan lalu disusul yang lainnya.


Hilya tak sanggup lagi menahan tangis saat melihat jasad ayahnya yang terbujur kaku di dalam peti. Wajah pria itu pucat, dari sela bibirnya tampak mengeluarkan darah, kepala terbalut perban dan kedua matanya terbuka seolah sedang menunggu sesuatu.


Nathan berusaha menenangkan Hilya dan berhasil. Setelah Hilya tenang, Bayan pun memimpin doa yang diaminkan oleh keluarganya. Setelahnya Bayan mengusap wajah Heri dengan lembut. Usapan telapak tangan Bayan mampu membuat mata Heri yang terbuka itu menutup bahkan senyum tipis nampak tersungging di bibirnya yang membiru.


Tentu saja apa yang dilakukan Bayan membuat kedua orangtua Heri terharu. Mereka mengucapkan terima kasih berkali-kali karena Bayan bisa menyempurnakan kondisi jasad Heri sebelum dimakamkan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2