Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
185. Bu Rosi


__ADS_3

Hari itu Klinik Bersalin Hilya kedatangan seorang wanita yang ingin mendaftar sebagai asisten Hilya. Wanita itu bernama Rosi berusia sekitar lima puluh tahun.


Ayu yang menerima Rosi nampak sedikit bingung. Karena usia Rosi sudah bisa dibilang hampir mendekati masa akhir produktif. Namun Ayu tak ingin gegabah. Ia mempersilakan Rosi duduk karena saat itu Hilya sedang menemui pasien.


"Maaf Bu Rosi. Saat ini Bu Hilya sedang ada pasien. Kalo Bu Rosi ga keberatan menunggu, silakan duduk di sofa dulu. Tapi kalo Bu Rosi keberatan, Bu Rosi boleh tinggalkan CVnya di sini biar nanti Saya sampaikan ke Bu Hilya," kata Ayu dengan santun.


"Oh gitu. Saya tunggu aja Mbak," sahut Rosi.


"Kalo lama gapapa ya Bu?" tanya Ayu.


"Gapapa. Saya bisa sekalian numpang istirahat karena perjalanan Saya lumayan jauh tadi," sahut Rosi santai.


Ayu pun tersenyum maklum. Sesaat kemudian ia melangkah menuju ruangan Hilya untuk memberikan proposal lamaran kerja milik Rosi.


Saat Ayu akan mengetuk pintu, bersamaan dengan keluarnya pasien dari ruangan.


"Ada apa Mbak ?" tanya Hilya.


"Ada yang datang ngelamar lagi Hil. Tapi sedikit beda sama yang yang lain," sahut Ayu sambil meletakkan CV milik Rosi di meja di hadapan Hilya.


"Beda gimana Mbak ?" tanya Hilya.


"Baca aja sendiri deh," sahut Ayu.


Hilya pun meraih map berisi berkas lamaran kerja Rosi dan membacanya dengan detail. Hilya mendes*ah kecewa karena kriteria yang ia harapkan tak tercantum di sana.


"Kenapa Hil ?" tanya Ayu.


"Ini cuma Bidan tradisional Mbak. Dia ga punya sertifikat atau sejenisnya yang menyatakan dia layak jadi Bidan secara profesional," sahut Hilya sambil memijit pelipisnya.


"Oh gitu. Mbak juga udah duga itu sejak awal. Tapi dia pede banget tadi. Dan dia masih nunggu di ruang tunggu seolah yakin Kamu akan bicara langsung sama dia nanti," kata Ayu.


"Kalo gitu sepuluh menit lagi tolong Mbak suruh ke sini ya. Kalo bisa Mbak ikut juga biar bisa bantu Aku menilai kepribadiannya nanti," pinta Hilya.

__ADS_1


"Ok. Aku keluar dulu ya Hil," kata Ayu yang diangguki Hilya.


Sepuluh menit kemudian Ayu kembali dengan membawa Rosi. Hilya yang baru saja selesai menunaikan sholat Dzuhur nampak tersenyum tulus kearah Rosi.


"Maaf mengganggu, mau sholat atau udah selesai ?" tanya Rosi basa basi.


"Gapapa Bu, Saya udah selesai kok. Silakan duduk Bu," kata Hilya setelah menjabat tangan Rosi.


Kemudian Rosi dan Hilya duduk berhadapan, sedangkan Ayu nampak duduk tak jauh dari Hilya sambil pura-pura mengerjakan sesuatu.


Sesi tanya jawab pun berlangsung. Saat itu dengan gamblang Rosi mengatakan jika dia adalah orang yang dipercaya membantu wanita melahirkan di kampungnya. Kemampuan yang ia miliki ia pelajari secara otodidak. Meski pun begitu Rosi telah berhasil menyelamatkan warga yang melahirkan. Banyak warga terbantu dengan kehadirannya.


"Terus kenapa Ibu ga lanjutin aja pekerjaan Ibu itu. Toh kemampuan Ibu juga udah diakui warga desa dan mendapat banyak penghargaan dari pemerintah setempat ?" tanya Hilya tak mengerti.


"Ada sedikit masalah pribadi yang ga bisa Saya ceritain. Tapi intinya Saya datang ke sini karena Saya ingin melanjutkan misi Saya membantu umat manusia. Saya sangat berterima kasih jika diberi kesempatan membantu Bu Bidan di sini," kata Rosi sungguh-sungguh.


Entah mengapa ucapan Rosi membuat Hilya tersentuh. Untuk sesaat ia menatap Rosi yang saat itu tengah menunduk sambil merem*as ujung blouse lengan panjang yang dikenakannya. Rosi terlihat cemas dan itu membuat Hilya iba.


"Tapi kerja di sini capek Bu. Klinik ini buka dua puluh empat jam. Khusus bidan yaitu Saya dan asisten Saya nanti akan ada dua shift, sedangkan karyawan lain seperti Perawat, Cleaning service dan Security dibagi tiga shift. Tapi khusus bagian adminitrasi bekerja dari jam delapan pagi sampe jam delapan malam dan posisi itu udah diisi sama Kakak Saya ini," kata Hilya menjelaskan.


Hilya menghela nafas berat karena bingung. Ayu pun nampak menggedikkan bahu karena tak tahu harus bicara apa.


"Jadi tukang cuci pakaian kotor pun Saya mau Bu. Yang penting Saya punya kerjaan dan dapat uang untuk bertahan hidup di sini," kata Rosi kemudian.


"Tapi Kami udah punya tukang cuci Bu, namanya Bu Reni," sahut Hilya.


Rosi kembali memperlihatkan raut wajah kecewa.


"Sebentar. Ngomong-ngomong Ibu tau dari mana kalo Klinik Kami buka lowongan untuk Asisten Bidan ?" tanya Hilya sambil menatap Rosi curiga.


"Saya ga sengaja denger omongan orang-orang waktu makan di warung nasi di depan sana Bu. Saya pikir kemampuan Saya yang biasa ngeliat darah saat membantu orang melahirkan bisa bermanfaat di sini. Tapi ternyata Saya salah. Pengalaman dan kemampuan Saya ga berarti apa-apa di sini karena Saya ga punya ijasah. Kalo Saya tau ijasah itu penting, pasti Saya bakal mati-matian sekolah dulu," sahut Rosi sedih.


Ucapan Rosi seakan menampar Hilya dan membuatnya tersadar bahwa Rosi juga berhak diberi kesempatan.

__ADS_1


"Bisa Bu Rosi tunggu di luar sebentar ?. Saya mau diskusi dulu sama Kakak Saya," pinta Hilya.


"Baik Bu," sahut Rosi sambil bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan itu.


Setelah Rosi menutup pintu, Hikya dan Ayu pun berdiskusi.


"Gimana Mbak ?. Aku jadi bingung nih ?" tanya Hilya sambil mengacak rambutnya.


"Kalo diliat dari sisi kemanusiaan sih Kita patut iba ya. Bu Rosi keliatan capek banget. Kayanya dia abis jalan jauh entah udah berapa lama dan sejak kapan. Tapi semua terserah Kamu Hilya. Kemampuan dan pengalamannya memang patut diperhitungkan karena sesuai sama yang Kita butuhkan. Tapi legalitas juga perlu supaya orang-orang percaya kalo Klinik ini punya tenaga yang handal dan teruji sesuai standart kesehatan yang berlaku," sahut Ayu.


"Kalo denger ceritanya tadi, keliatannya dia udah biasa menangani persalinan di setiap kondisi. Istilahnya jam terbangnya udah tinggi. Dan Aku butuh orang kaya gitu Mbak," kata Hilya.


Ayu berpikir sejenak kemudian mengangguk.


"Kalo gitu Kamu bisa jadikan Bu Rosi sebagai tenaga cadangan yang bisa membantu Kamu saat proses persalinan. Mungkin saran dan tenaganya bisa dipake saat genting. Tapi Kamu tetap harus mempekerjakan Bidan yang punya ijasah dan pengalaman di Rumah Sakit atau Klinik Bersalin. Gimana Hil ?" tanya Ayu.


"Setuju. Kayanya itu jalan terbaik untuk saat ini Mbak. Ok, sekarang bisa tolong panggilin Bu Rosi Mbak ?" tanya Hilya.


"Siap Bu Bidan !" sahut Ayu cepat hingga membuat Hilya tersenyum.


Tak lama kemudian Rosi pun kembali menghadap Hilya. Wajahnya berbinar bahagia saat Hilya memberinya kesempatan untuk bergabung di klinik itu. Meski gaji yang ditawarkan masih di bawah UMR, namun Rosi tak peduli.


"Maaf sebelumya. Saya harus liat kinerja Bu Rosi dulu untuk nentuin besaran gaji Bu Rosi. Saya ga mau terjadi kesenjangan sosial antara para karyawan karena Saya bertindak ga adil," kata Hilya memberi alasan.


"Gapapa Bu, Saya ngerti kok. Makasih ya Bu. Saya janji ga akan mengecewakan Bu Hilya nanti," kata Rosi dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Saya percaya. Dan karena Bu Rosi bilang ga punya tempat tinggal, untuk sementara Bu Rosi bisa nempatin kamar kosong di belakang. Sebenernya itu kamar untuk Security. Tapi karena Security jarang nempatin, untuk sementara Bu Rosi tinggal di sana ya," kata Hilya.


"Iya Bu. Makasih sekali lagi," sahut Rosi antusias.


Hilya pun mengangguk lalu meminta Ayu menunjukkan kamar untuk Rosi.


Rosi nampak bahagia. Berkali-kali ia mengusap matanya yang basah karena tak menyangka rasa lelahnya setelah berjalan jauh terbayar sudah. Diam-diam Ayu ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan Rosi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2