Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
213. Kalah Dan Meninggal


__ADS_3

Di saat keluarga Bayan sedang bahagia dengan berita kehamilan anak kembar Hilya dan Nathan, di saat yang sama Rosi justru sedang meraja lela di luar sana.


Rosi mulai merencanakan akan memangsa anak-anak batita yang tinggal di sekitar rumah kontrakannya.


Sebelumnya Rosi sengaja mendekatkan diri dengan lingkungan baru dimana ia tinggal. Entah kebetulan atau memang sengaja, Rosi mendapatkan rumah di perumahan padat penduduk yang sarat dengan anak-anak.


Dan bagi Rosi, ia bak masuk ke surga dunia. Rosi tak perlu capek berkeliling untuk mencari mangsa karena calon mangsanya ada di depan mata.


Penampilan Rosi yang kalem membuat semua orang segan padanya. Apalagi Rosi mengatakan dirinya hidup sebatang kara setelah kematian suami dan anaknya.


"Keluarga Bu Rosi yang lain dimana ?" tanya warga kala itu.


"Saya kan udah bilang ga punya keluarga," sahut Rosi cepat.


"Tapi Suami Bu Rosi kan pasti punya keluarga. Apa mereka ga mau menjalin silaturahmi sama Bu Rosi ?" tanya warga.


"Mereka membenci Saya. Mereka pikir Saya adalah penyebab kematian Suami dan Anak Saya. Jadi, setelah Suami Saya meninggal dan dikubur, Saya langsung pergi jauh dari sana. Saya ga bawa apa-apa selain uang yang memang hak Saya yang merupakan nafkah dari Suami Saya," sahut Rosi pura-pura sedih.


"Oh gitu. Tenang aja Bu Rosi. Di sini Bu Rosi ga bakal sendirian kok. Kami semua pasti bakal menemani dan membantu Bu Rosi. Jadi ga usah sungkan untuk minta tolong ya Bu," kata warga.


Rosi mengangguk sambil tersenyum. Ia senang karena akhirnya bisa membaur dengan warga. Bahkan Rosi pernah membantu warga yang hampir kehilangan anaknya karena diculik.


Rosi yang saat itu tengah duduk sambil mengamati anak-anak bermain pun terkejut saat melihat seorang pria mencurigakan datang mendekati anak-anak. Pria itu nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ingin memastikan jika tak seorang dewasa pun yang mengawasi anak-anak.


Lalu pria itu menarik seorang anak yang sedang bermain sepeda dan membawanya pergi begitu saja. Sang anak meronta dan menjerit. Namun pria itu membekap mulut sang anak dengan telapak tangannya.


Rosi pun bangkit lalu segera mengejar sambil menjerit memanggil warga.


"Culiiikk ...!. Ada Anak diculiikk !. Maliinnggg !" jerit Rosi sambil melempar benda apa pun yang ada di dekatnya kearah sang penculik.


Jeritan Rosi mengejutkan warga. Mereka keluar lalu mengejar pria itu. Dan berhasil. Pria itu tertangkap dan jadi bulan-bulanan warga yang marah. Sedangkan sang anak menangis di pelukan Rosi.

__ADS_1


Sang anak baru berhenti menangis saat ibunya datang. Warga pun mengucapkan terima kasih pada Rosi.


Dan sejak saat itu Rosi dipercaya mengawasi anak-anak yang tinggal di sekitar rumah. Selain karena Rosi tak memiliki pekerjaan, warga berpikir jika kehadiran anak-anak bisa menghibur Rosi. Warga pun tak segan menitipkan anak-anak mereka kepada Rosi. Tentu saja peluang seperti ini tak disia-siakan oleh Rosi.


Dengan mudah Rosi memanfaatkan situasi. Saat sedang sepi, ia menghirup darah anak-anak itu. Rosi hanya mengincar anak bayi dan batita. Selain karena darah mereka lebih nikmat, usia mereka tak memungkinkan mereka untuk 'mengadu' karena saat itu mereka masih dalam tahap belajar bicara.


Biasanya Rosi akan pura-pura menggendong salah satu anak lalu menancapkan gigi taringnya di kepala sang anak. Setelahnya Rosi akan menghirup darah mereka sepuasnya.


Anak atau bayi yang ada di gendongan Rosi biasanya akan terdiam. Mereka seperti dibius karena tak bisa bergerak atau menangis. Dan usai Rosi melancarkan aksinya, biasanya Rosi akan memberi korbannya makanan kesukaan mereka seperti es krim, sosis atau makanan lainnya.


Tak ada batasan berapa banyak darah yang akan ia konsumsi. Jika situasi memungkinkan, Rosi bisa menghirup darah dari tiga anak sekaligus.


Rosi akan 'menggilir' anak-anak agar tak menimbulkan kecurigaan warga. Dan itu berjalan lancar selama beberapa waktu.


Namun serapat-rapatnya menyimpan bang*kai, toh baunya akan tercium juga. Seperti itu lah yang terjadi dengan Rosi. Serapat apa pun Rosi menyimpan rahasia, akhirnya tercium juga.


Itu berawal dari Serena. Salah satu anak batita berusia dua puluh bulan yang seringkali sakit belakangan ini. Kedua orangtua Serena membawanya berobat ke Klinik Bersalin Hilya, tempat dimana Serena dilahirkan. Kedua orangtua Serena merasa cocok dengan resep yang diberikan Hilya. Karenanya mereka selalu ke sana untuk mengobati sakit Serena.


Bidan Intan nampak terkejut melihat kondisi Serena yang memburuk. Bayan dan Fikri yang sedang berada di sana pun terkejut melihat reaksi bidan Intan saat melihat Serena.


"Serena sakit lagi Bu ?" tanya bidan Intan tak percaya.


"Iya Bu Bidan," sahut Mama Serena sedih.


"Sakit apa lagi ?. Kan baru sepuluh hari yang lalu dibawa ke sini ?" tanya bidan Intan sambil meraih Serena dari gendongan sang Mama.


"Saya juga ga tau Bu Bidan. Badannya panas, mukanya pucat, terus ada lebam kebiruan di kulitnya. Saya takut, makanya langsung Saya bawa ke sini Bu Bidan," sahut Mama Serena cemas.


"Kalo gitu Kita masuk dan cek sekarang ya Bu," kata bidan Intan sambil membawa Serena.


Kedua orangtua Serena pun mengangguk lalu mengikuti bidan Intan yang masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Bayan dan Fikri saling menatap dengan tatapan penuh makna. Mereka curiga jika ada sesuatu tak wajar yang telah terjadi.


Tak lama kemudian terdengar jeritan dari ruangan bidan Intan. Rupanya Serena meninggal dunia karena terlambat mendapat pertolongan. Jeritan mama Serena menarik perhatian semua pengunjung klinik termasuk Bayan dan Fikri. Bahkan keduanya bergegas mendatangi ruangan bidan Intan untuk melihat apa yang terjadi.


"Kenapa Bu Intan, ada apa ?" tanya Fikri cemas.


"Pasien batita yang baru saja masuk tadi meninggal dunia Pak. Sebenernya sejak awal Saya udah khawatir. Apalagi saat sampe di sini kondisinya udah lemah dan nafasnya pendek. Saya baru aja mau ngecek tapi terlambat. Badan bayi ini mengejang sebentar lalu diam. Waktu Saya cek ternyata Serena udah meninggal. Saya udah upayakan untuk membantu tapi gagal," sahut bidan Intan dengan mata berkaca-kaca.


"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun ...," kata Bayan dan Fikri bersamaan.


"Yang sabar ya Pak Bu," kata Fikri mewakili Bayan.


"Iya, makasih Pak. Saya dan Istri Saya cuma ga habis pikir. Kenapa kondisi Serena jadi memburuk dengan cepat. Apalagi belakangan Serena seringkali sakit. Bulan ini aja udah tiga kali Serena dibawa ke sini. Saya bingung, soalnya kejadian kaya gini ga cuma menimpa Anak Saya Pak," kata papa Serena dengan suara bergetar.


"Maksudnya ada Anak lain yang mengalami kejadian serupa Pak ?" tanya Bayan.


"Betul Pak. Tapi kayanya cuma Serena yang terburuk karena dia akhirnya kalah dan meninggal," sahut papa Serena sambil mengusap matanya yang basah.


"Maaf kalo lancang. Boleh tau ciri-ciri umum Serena dan teman-temannya saat sakit Pak ?" tanya Bayan penasaran.


"Rata-rata sih mereka demam, wajah pucat, ga bisa ngomong atau emang ga mau ngomong padahal mereka udah bisa ngomong," sahut papa Serena.


"Kepala sakit dan kulit kebiruan ?" tanya Bayan.


"Betul Pak. Kok Bapak tau, apa Bapak dokter ?" tanya papa Serena.


"Bukan Pak. Saya cuma nebak aja. Kejadian kaya gini pernah terjadi dulu dan Saya tau bagaimana cara menanggulanginya," sahut Bayan sambil mengepalkan tangannya.


Ucapan Bayan mengejutkan semua orang kecuali Fikri. Dia tahu apa yang ada di kepala sang ayah. Namun di saat bersamaan Fikri juga khawatir jika kejadian serupa menimpa Afiah, Fahri dan Nira.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2