Titisan Kuyang

Titisan Kuyang
169. Pernikahan Nathan dan Hilya


__ADS_3

Kini Fikri sedang duduk di hadapan Bayan dan menceritakan kondisi sang istri pasca menjalani ruqyah. Fikri juga menceritakan makhluk halus atau hantu perempuan yang merasuki Ayu.


"Oh jadi begitu ceritanya. Ayah juga sempet ngeliat hantu perempuan itu di pemakaman Arafah yang ke dua tempo hari," kata Bayan.


"Jadi Ayah juga ngeliat hantu itu. Gimana wujudnya Yah ?" tanya Fikri penasaran.


"Emangnya Ustadz Zulkifli ga bilang gimana wujudnya ?" tanya Bayan sambil mengerutkan keningnya.


Fikri pun menggeleng. Karena penasaran, ia meminta Bayan menceritakan bagaimana wujud hantu perempuan yang merasuki istrinya itu.


"Wujudnya mirip kuntilanak kaya di film-film horror itu lho. Cuma wajahnya tuh serem banget, hancur dan ga berbentuk. Ayah rasa cocok sama cerita Ustadz Zulkifli yang bilang dia meninggal karena dilindas truk," kata Bayan.


"Subhanallah. Pasti serem banget ya Yah. Apa Ayah ga takut ngeliatnya ?" tanya Fikri.


"Bukan sok berani, tapi emang saat itu Ayah ga punya kesempatan buat takut. Kan ada Bunda di sana. Bayangin gimana reaksinya kalo Ayah ketakutan. Padahal kan Bundamu itu selalu nempel sama Ayah," sahut Bayan sambil tersenyum.


"Iya Yah," kata Fikri.


"Selain itu, Ayah ga bilang karena Ayah kira itu ga penting. Apalagi Kita kan ada di area pemakaman, jadi hal kaya gitu wajar Kita jumpai. Ayah ga kepikiran kalo hantu perempuan itu bakal mengganggu Istrimu Fik. Maaf ya kalo Ayah ga tanggap sama kondisi Kamu dan Istrimu," kata Bayan dengan nada menyesal.


"Kenapa harus minta maaf Yah. Ini bukan salah Ayah kok. Memang kondisi Ayu dan kesamaan nasib lah yang bikin hantu itu merasuki Ayu. Tapi sekarang Ayu udah baik-baik aja Yah. Dia bahkan jadi malu kalo inget kelakuannya yang menurut dia norak karena selalu datang mengganggu Nira Anaknya Nicko," sahut Fikri sambil tersenyum kecut.


"Kalo masalah itu Kamu ga usah khawatir. Keliatannya Nicko dan Dhanti udah ngerti duduk persoalannya karena dikasih tau langsung sama Ustadz Zulkifli. Tadi pagi malah Nicko bilang kalo Dhanti pengen ketemu sama Ayu cuma malu dan ga tau gimana caranya," kata Bayan.


"Kok malu Yah ?" tanya Fikri tak mengerti.


"Iya. Rupanya beberapa hari kemarin Dhanti memang sengaja menghindari Ayu karena ga sanggup menghadapi sikap Ayu yang aneh itu. Dhanti ga ingin marah karena dia berusaha menjaga perasaan Ayu. Makanya dia memilih menyingkir sejenak supaya Ayu berhenti mengganggu Anaknya. Tapi setelah tau apa yang terjadi, Dhanti jadi ga enak hati," sahut Bayan.


"Oh gitu. Biar Aku ajak Ayu untuk berkunjung ke rumah Nicko nanti sore ya Yah. Aku yakin pasti banyak hal yang mau mereka omongin," kata Fikri.


"Boleh juga. Ayah pikir itu cara terbaik supaya kesalah pahaman diantara dua wanita hebat itu cepat berakhir," sahut Bayan sambil tersenyum.

__ADS_1


Fikri pun ikut tersenyum membayangkan moment pertemuan Ayu dan Dhanti nanti.


\=\=\=\=\=


Setelah bicara dari hati ke hati tentang masalah sebenarnya, hubungan Dhanti dan Ayu pun kembali harmonis. Apalagi saat ini keluarga Bayan tengah mempersiapkan pernikahan Nathan dan Hilya hingga membuat keduanya kerap bertemu.


Seperti kali ini Ayu dan Dhanti tampak datang bersama ke butik tempat Hilya memesan gaun pengantin. Di sana sudah ada Anna dan nenek Hilya yang menemani Hilya fitting gaun pengantin.


"Kok bisa barengan gini. Kalian janjian ya ?" tanya Anna saat kedua wanita cantik itu menyapanya.


"Iya Bund. Aku yang jemput Dhanti tadi. Kasian dia pasti kerepotan kalo harus bawa perlengkapan Nira sendirian," sahut Ayu sambil melirik kearah Dhanti.


"Betul Bund. Untung Mbak Ayu jemput. Kalo ga, mungkin Aku belum ada di sini sekarang karena ga ada yang bisa jagain Nira saat Aku siap-siap tadi," kata Dhanti sambil mengurai gendongannya.


Anna pun tersenyum mendengar celotehan kedua menantu cantiknya itu. Ia bersyukur karena keduanya telah kembali akur seperti semula.


"Masya Allah, cantik banget sih Kak. Iya kan Mbak ?" kata Dhanti sambil menatap takjub kearah Hilya yang sedang mengenakan gaun pengantinnya.


"Abis ini Kalian juga cobain gaunnya ya. Insya Allah Kita seragaman nanti," kata Anna sambil meraih Nira dari dekapan Dhanti.


"Siap Bund," sahut Ayu dan Dhanti bersamaan hingga membuat Anna dan nenek Hilya tersenyum.


"Mereka Anak yang manis ya, Saya terharu ngeliatnya," kata nenek Hilya.


"Iya Mak. Kehadiran mereka bikin hidup Saya berwarna. Saya yang ga punya Anak perempuan jadi bisa ikut merasakan gimana rasanya punya Anak perempuan," sahut Anna sambil tersenyum.


"Kalo gini Saya juga ikut tenang karena Hilya bakal punya Saudari yang menyenangkan nanti," kata nenek Hilya dengan mata berkaca-kaca.


Sadar jika ucapan nenek Hilya sedikit menyinggung kehidupan pribadi Hilya, Anna pun mengusap punggung nenek Hilya untuk memberikan suport.


"Mak ga usah khawatir. Hilya adalah Anak yang baik. Kami semua sayang sama dia," kata Anna.

__ADS_1


"Makasih Nak. Saya tau bersama Kamu Hilya bakal bisa menemukan kasih sayang seorang Ibu yang lama hilang dari hidupnya. Maafkan Hilya jika nanti jadi sedikit lebih manja sama Kamu," kata nenek Hilya sambil menggenggam tangan Anna dan menatanya dengan lembut.


"Siap Mak !" sahut Anna lantang sambil mengacungkan jempolnya.


Suara lantang Anna mengejutkan Nira yang ada dalam dekapannya. Bayi itu pun menangis hingga membuat perhatian semua orang teralihkan padanya. Mereka pun berusaha membujuknya namun bayi itu tetap menangis. Bayi itu baru berhenti menangis saat Dhanti menggendong dan memberinya ASI.


"Dasar bayi. Obat nangisnya ya cuma satu. ASI ...," kata Ayu sambil menggelengkan kepala.


"Iya. Sia-sia aja daritadi Kita menghibur dia kalo akhirnya Ibunya juga yang berhasil menghentikan tangisnya," sahut Anna sambil mengusap peluh di dahinya.


Ucapan Anna membuat semua orang tertawa. Apalagi saat itu Anna nampak kelelahan usai membujuk Nira yang menangis karena ulahnya.


\=\=\=\=\=


Acara pernikahan Nathan dan Hilya pun digelar dengan meriah. Bukan hanya karena Nathan anak pertama di keluarga Bayan yang pengusaha itu, tapi karena kakek nenek Hilya ingin memberikan pesta terbaik untuk cucu perempuannya itu.


"Selama ini Hilya udah banyak mengalah dan menderita. Dia bahkan kehilangan masa remajanya karena harus membantu Kami mengasuh ketiga sepupunya itu. Makanya Kami janji akan memberikan pesta yang meriah untuknya saat menikah dengan pasangan yang Kami sukai. Dan kebetulan Nathan adalah pria yang telah lama mengambil hati Kami. Jadi Kami punya alasan untuk mewujudkan keinginan Kami itu," kata Kakek Hilya sambil tersenyum bahagia.


Bayan dan Anna pun mengangguk tanda mengerti. Namun Anna sedikit terusik karena saat itu tak melihat kehadiran orangtua kandung Hilya. Meski pun rasa penasaran memenuhi benaknya, namun Anna sengaja menyimpannya karena tak ingin merusak pesta pernikahan Nathan dan Hilya dengan menanyakan keberadaan mereka.


Seolah mengerti apa yang ada di benak sang besan, nenek Hilya pun menjelaskan jika ia dan suaminya telah memberitahu kedua orangtua Hilya perihal pernikahan anaknya. Namun nenek Hilya terpaksa harus menelan kecewa karena keduanya nampak tak peduli dengan berita bahagia putri kandungnya itu.


"Oh gitu. Kasian banget Hilya ya Mak," kata Anna prihatin.


"Ga perlu dikasihani Nak. Hilya kan punya orangtua baru yang menyayanginya dengan tulus yaitu Kamu dan Suamimu. Jadi Kita ga perlu mengingat mereka yang ga pernah menyayangi Hilya," sela kakek Hilya.


"Iya Pak," sahut Anna dan Bayan bersamaan.


Sementara itu di pelaminan terlihat kebahagiaan Nathan dan Hilya yang sedang berfoto bersama dengan teman-temannya. Namun kebahagiaan mereka terusik dengan kehadiran seseorang.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2